Asy-Syafaat al-Udzma’, Syafa’at Nabi Muhammad – Iman Kepada Hari Akhir 16

Asy-Syafaat al-Udzma’, Syafa’at Nabi Muhammad

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Ada banyak perkara yang terjadi di padang mahsyar, di antaranya adalah yang telah kita sebutkan dalam pembahasan sebelumnya, tentang bagaimana manusia dikumpulkan oleh Allah ﷻ di padang mahsyar dengan kondisi yang berbeda-beda.

Di antara peristiwa dahsyat di padang mahsyar setelah manusia dibangkitkan, kemudian matahari diturunkan dalam jarak satu mil, yaitu peristiwa di mana manusia menunggu kedatangan Allah ﷻ untuk menghisab mereka. Ketika manusia dalam kondisi sulit, akhirnya mereka mendatangi para nabi agar memberikan syafaat kepada mereka untuk meminta agar Allah ﷻ segera datang memulai persidangan, karena hari penantian tersebut sangatlah berat. Dalam sebuah hadits yang panjang, Nabi ﷺ bersabda,

أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَهَلْ تَدْرُونَ بِمَ ذَاكَ؟ يَجْمَعُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَيُسْمِعُهُمُ الدَّاعِي، وَيَنْفُذُهُمُ الْبَصَرُ، وَتَدْنُو الشَّمْسُ فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَا لَا يُطِيقُونَ، وَمَا لَا يَحْتَمِلُونَ، فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ: أَلَا تَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيهِ؟ أَلَا تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ؟ أَلَا تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ؟ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ: ائْتُوا آدَمَ، فَيَأْتُونَ آدَمَ، فَيَقُولُونَ: يَا آدَمُ، أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ، خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ، وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ آدَمُ: إِنَّ رَبِّي غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ نَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ

Aku adalah penghulu seluruh manusia pada hari kiamat, tahukah kalian kenapa demikian? Allah mengumpulkan seluruh manusia yang terdahulu sampai yang akan datang pada satu dataran tanah, sehingga penyeru dapat memperdengarkan (suaranya) kepada mereka semuanya, dan pandangan dapat melihat mereka, serta matahari mendekat mereka. (Lalu manusia mengalami kesedihan dan kengerian pada batas yang mereka tidak mampu dan sabar menanggungnya), lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Apakah kalian tidak melihat keadaan yang kalian hadapi dan yang menimpa kalian ini? Tidakkah kalian memiliki melihat, siapa yang dapat memberikan syafaat untuk kalian kepada Rabb kalian?’ Sebagian lainnya menyatakan (kepada sebagian yang lain), ‘Datanglah kepada bapak kalian Adam’, Lalu mereka mendatanginya dan berkata, ‘Wahai Adam! Engkau adalah bapaknya seluruh manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan dari ruh-Nya kepadamu, serta memerintahkan para malaikat lalu mereka sujud padamu dan Allah juga menempatkanmu di surga, tidakkah engkau (bisa) memintakan syafaat untuk kami kepada Rabbmu? Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami dan yang menimpa kami?’ Lalu beliau menjawab, ‘Sungguh, pada hari ini Rabbku telah marah dengan kemarahan yang mana Dia belum pernah marah sebelum ini seperti itu, dan tidak juga marah setelahnya seperti itu. Allah melarangku dari suatu pohon, namun aku melanggarnya. Diriku sendiri butuh syafaat, diriku butuh syafaat. Silakan pergi menemui selainku, pergilah menemui Nuh’.” ([1])

فَيَأْتُونَ نُوحًا، فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى الْأَرْضِ، وَسَمَّاكَ اللهُ عَبْدًا شَكُورًا، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمْ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ قَدْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ دَعَوْتُ بِهَا عَلَى قَوْمِي، نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى إِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Lalu mereka menemui Nuh seraya berkata, ‘Wahai Nuh! Engkau adalah rasul pertama dari penduduk bumi, dan Allah telah menamakanmu sebagai hamba yang bersyukur. Tidakkah engkau dapat memintakan syafaat untuk kami kepada Rabbmu? Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami dan yang menimpa kami?’ Lalu beliau menjawab, ‘Sungguh, Rabbku sedang murka pada hari ini, yang mana Dia belum pernah murka seperti itu dan tidak juga marah setelah hari ini seperti itu. Sungguh, dahulu aku memiliki satu doa yang aku gunakan untuk menghancurkan kaumku([2]). Diriku sendiri butuh syafaat, diriku butuh syafaat. Pergilah menemui selainku, pergilah kalian menemui Ibrahim!’.”

فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ، فَيَقُولُونَ: أَنْتَ نَبِيُّ اللهِ وَخَلِيلُهُ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمْ إِبْرَاهِيمُ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَا يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَذَكَرَ كَذَبَاتِهِ، نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى مُوسَى

Lalu mereka menemui Ibrahim seraya berkata, ‘Wahai Ibrahim! Engkau adalah nabi Allah dan kekasih-Nya dari penduduk bumi, mintalah syafaat untuk kami kepada Rabbmu! Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami?’ Lalu beliau menjawab, ‘Sungguh, Rabbku sedang murka pada hari ini, yang mana Dia belum pernah murka seperti itu dan tidak juga marah setelah hari ini seperti itu. Aku dahulu pernah berdusta dengan tiga kedustaan -lalu beliau sebutkan hal tersebut-([3]), diriku sendiri butuh syafaat, diriku sendiri butuh syafaat. Pergilah menemui selainku, pergilah menemui Musa’.”

فَيَأْتُونَ مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولُونَ: يَا مُوسَى، أَنْتَ رَسُولُ اللهِ فَضَّلَكَ اللهُ بِرِسَالَاتِهِ، وَبِتَكْلِيمِهِ عَلَى النَّاسِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمْ مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنِّي قَتَلْتُ نَفْسًا لَمْ أُومَرْ بِقَتْلِهَا، نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى عِيسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Lalu mereka menemui Musa seraya berkata, ‘Wahai Musa! Engkau Rasulullah, Allah muliakan engkau atas manusia dengan kerasulan dan kalam Allah (engkau berbicara langsung dengan Allah), mintalah syafaat untuk kami kepada Rabbmu? Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami?’ Lalu beliau menjawab, ‘Sungguh, Rabbku sedang murka pada hari ini, yang mana Dia belum pernah murka seperti itu dan tidak juga marah setelah hari ini seperti itu. Aku pernah membunuh jiwa yang mana aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya([4]), maka diriku sendiri butuh syafaat, diriku butuh syafaat. Pergilah menemui selainku, pergilah menemui Isa’.”

فَيَأْتُونَ عِيسَى، فَيَقُولُونَ: يَا عِيسَى أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، وَكَلَّمْتَ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ، وَكَلِمَةٌ مِنْهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ، وَرُوحٌ مِنْهُ، فَاشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمْ عِيسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَلَمْ يَذْكُرْ لَهُ ذَنْبًا، نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى مُحَمَّدٍ

Lalu mereka menemui Isa seraya berkata, ‘Wahai Isa, engkau adalah Rasul Allah, kalimat-Nya, dan ruh dari-Nya yang diberikan kepada Maryam, dan engkau telah berbicara pada manusia dalam keadaan bayi. Maka mintalah syafaat untuk kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami?’ Lalu beliau menjawab, ‘Sungguh, Rabbku sedang murka pada hari ini, yang mana Dia belum pernah murka seperti itu dan tidak juga marah setelah hari ini seperti itu -dan beliau tidak menyebut satu dosa pun-([5]), diriku sendiri butuh syafaat, diriku butuh syafaat. Pergilah menemui selainku, pergilah menemui Muhammad’.”

فَيَأْتُونِّي فَيَقُولُونَ: يَا مُحَمَّدُ، أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، وَخَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ، وَغَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ، وَمَا تَأَخَّرَ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟ فَأَنْطَلِقُ، فَآتِي تَحْتَ الْعَرْشِ، فَأَقَعُ سَاجِدًا لِرَبِّي، ثُمَّ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيَّ وَيُلْهِمُنِي مِنْ مَحَامِدِهِ، وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ لِأَحَدٍ قَبْلِي، ثُمَّ يُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، سَلْ تُعْطَهْ، اشْفَعْ تُشَفَّعْ

Lalu mereka menemuiku seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah dan penutup para nabi, Allah telah mengampuni semua dosamu baik yang telah lalu atau yang akan datang, mintalah syafaat untuk kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami dan yang menimpa kami?’ Lalu aku pergi dan datang di bawah ‘Arsy, lalu aku bersujud kepada Rabbku kemudian Allah memberiku ilmu cara memuji Allah dengan sanjungan dan pujian-pujian  yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku. Kemudian diseru kepadaku, ‘Wahai Muhammad! Angkatlah kepalamu (bangunlah), mintalah pasti diberi, dan mintalah syafaat pasti dikabulkan syafaatnya”([6])

Syafaat yang dimintakan oleh Nabi ﷺ kepada Allah untuk umatnya inilah yang disebut oleh para ulama dengan الشَّفَاعَةُ الْعُظْمَى Asy-Syafa’at al-Úzhma, karena berkaitan dengan syafaat seluruh manusia, bukan hanya kepada umat Nabi ﷺ, akan tetapi juga kepada seluruh umat manusia yang mengalami kesulitan ketika itu. Oleh karena itulah sehingga Nabi ﷺ mengatakan bahwa beliau adalah pemimpin para manusia pada hari kiamat, yaitu karena tidak ada yang berani memberi syafaat kecuali Rasulullah ﷺ. Oleh karenanya itulah posisi atau kedudukan terpuji yang Allah berikan kepada Rasulullah ﷺ.

Setelah Nabi Muhammad ﷺ memohon syafaat kepada Allah ﷻ untuk segera memulai persidangan, maka datanglah Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan bumi (padang Mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya Tuhan-Nya; dan buku-buku (perhitungan perbuatan mereka) diberikan (kepada masing-masing), nabi-nabi dan saksi-saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil, sedang mereka tidak dirugikan.” (QS. Az-Zumar: 69)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

Dan datanglah Rabbmu dan malaikat berbaris-baris (bersaf-saf).” (QS. Al-Fajr: 22)

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

Tidak ada yang mereka (orang-orang kafir) tunggu-tunggu kecuali datangnya (azab) Allah bersama malaikat di atas awan([7]), sedangkan perkara (mereka) telah diputuskan. Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 210)

Setelah Allah ﷻ datang, maka dimulailah persidangan, dan orang-orang dihadirkan di hadapan Allah ﷻ. Kata Allah ﷻ,

وَعُرِضُوا عَلَى رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman), ‘Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (berbangkit untuk memenuhi) perjanjian’.” (QS. Al-Kahfi: 48)

Maka ketakutanlah orang-orang pendosa. Allah ﷻ berfirman,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya’, dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Saking takutnya manusia untuk berdiri ketika itu, sampai-sampai berlutut dan tidak mampu untuk berdiri. Allah ﷻ berfirman,

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan (pada hari itu) engkau akan melihat setiap umat berlutut. Setiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jatsiyah: 28)

Maka saat itulah terjadi hisab (perhitungan).

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Nabi Adam ‘Alaihissalam tentu sangat sayang kepada cucu-cucunya, akan tetapi hari itu sangatlah berat sehingga Nabi Adam ‘Alaihissalam tidak mau berbuat apa-apa. Nabi Adam ‘alaihissalam tidak percaya diri untuk memberi syafaat kepada manusia sementara Allah ﷻ sedang murka, dan sementara beliau pernah berbuat dosa, meskipun beliau telah bertaubat dari dosa tersebut dan taubatnya telah diterima oleh Allah ﷻ. Jika Nabi Adam ‘Alaihissalam yang hanya melakukan satu dosa, bagaimana lagi dengan kita yang begitu banyak dosa. Allahul musta’an. Meskipun demikian, Nabi Adam ‘Alaihissalam memberi arahan agar manusia pergi kepada Nabi Nuh ‘Alaihissalam.

([2]) Ibnu Hajar menyebutkan riwayat yang lain dari hadits Abu Hurairah dengan lafal :

إِنِّي دَعَوْتُ بِدَعْوَةٍ أَغْرَقَتْ أَهْلَ الْأَرْضِ

“Sesungguhnya aku berdoa dengan sebuah doa yang menenggelamkan penghuni bumi”

Sementara dalam hadits Ibnu Abbas dengan lafal  لَيْسَ ذَاكُمْ عِنْدِي “Ini (permohonan syafaat) bukan padaku”

Maka digabungkan dua riwayat di atas bahwasanya Nabi Nuh menolak dengan mengungkapkan dua udzur :

Pertama : Nuh pernah ditegur Allah karena meminta kepada Allah sesuatu yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya, sebagaimana dalam firman Allah :

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ، قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ، قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”

Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Hud: 45-47)

Karenanya Nuh kawatir jika berdoa kepada Allah (memberi syafaat bagi manusia) ternyata doanya termasuk doa yang ia tidak memiliki ilmunya tentangnya, sehingga permohonannya ditolak oleh Allah.

Kedua : Nabi Nuh telah memiliki sebuah doa yang pasti dikabulkan yang telah ia gunakan untuk berdoa agar Allah menenggelamkan penduduk bumi, maka ia kawatir jika berdoa lagi (dengan memberi syafaat) maka tidak dikabulkan. (Lihat : Fathul Baari 11/434)

Akhirnya ini membuat Nabi Nuh ‘Alaihissalam tidak percaya diri dan berani berbicara kepada Allah ﷻ dalam urusan syafaat ini. Maka kemudian Nabi Nuh ‘Alaihissalam menganjurkan mereka untuk pergi kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.

([3]) Nabi Ibrahim adalah salah satu dari kekasih Allah ﷻ selain Nabi Muhammad ﷺ. Akan tetapi meskipun begitu beliau juga tidak berani berbicara kepada Allah ﷻ yang mencintainya. Di antara alasan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam tidak berani berbicara kepada Allah ﷻ adalah karena beliau pernah berdusta tiga kali, padahal ketiga dusta tersebut bukanlah dusta yang jelas melainkan مَعَارِيضِ الْكَلَامِ (semacam tauriah), akan tetapi bentuknya seperti dusta.

Padahal tiga dusta tersebut jika diteliti adalah karena Allah ﷻ. Tiga kedustaan tersebut itu adalah ketika nabi Ibrahim ‘Alaihissalam diajak kaumnya untuk menghadiri hari perayaan kesyirikan, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya aku sakit”, lalu ketika beliau dituduh mengahancurkan berhala-berhala, maka beliau berkata “Justru yang melakukan adalah berhala yang paling besar” dan ketika beliau mengatakan bahwa istrinya adalah “saudara perempuanku”. Para ulama menjelaskan bahwa pada hakekatnya apa yang nabi Ibrahim ‘Alaihissalam  termasuk pada مَعَارِيْض الْكَلَام ‘tauriyah’ (yaitu suatu perkataan yang benar namun sengaja diutarakan denga ungkapan tertentu agar disalah pahami oleh pendengar, namun jika ditinjau dari conten lafalnya maka adalah benar dan jujur serta bukan kebohongan). Akan tetapi, karena bahasa tersebut seperti sebuah kebohongan, maka beliau merasa tidak kuasa untuk memberi syafaat. (Lihat: Tuhfatul Ahwadzi 7/105)

Beliau tetap menganggapnya sebagai perkara yang besar, sehingga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam tidak percaya diri dan berani berbicara kepada Allah ﷻ, karena siapa yang semakin mengenal Allah, semakin dekat denganNya, maka semakin takut kepadaNya (Lihat Fathul Baari 11/435). Maka Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam menganjurkan mereka agar menemui Nabi Isa.

([4]) Nabi Musa ‘Alaihissalam pernah membunuh seseorang yang Allah ﷻ tidak perintahkan dia untuk membunuhnya. Sebagaimana yang telah Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Qashash, di mana Allah ﷻ berfirman,

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ

Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir’aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (QS. Al-Qashash: 15)

Tentunya ini adalah kesalahan Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nabi Musa ‘Alaihissalam telah meminta ampun kepada Allah, dan Allah telah mengampuninya. Dan setelah itu Nabi Musa ‘Alaihissalam kemudian diangkat menjadi rasul. Namun ketika kondisi genting saat itu, sekecil apa pun kesalahan seseorang sudah cukup membuat seseorang tidak berani dan percaya diri untuk berbicara dengan Allah ﷻ. Padahal kita tahu bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam berbicara dengan Allah ﷻ di dunia, bahkan dalam Al-Quran Allah ﷻ menyebutkan tentang peristiwa tersebut, namun karena kondisi di padang mahsyar berbeda, sehingga beliau tidak berani berbicara dengan Allah ﷻ. Maka Nabi Musa ‘Alaihissalam kemudian menganjurkan mereka untuk menemui Nabi Isa ‘Alaihissalam

([5]) Nabi Isa ‘Alaihissalam tidak menyebutkan dosa sama sekali. Dan Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa dalam riwayat lain Nabi Isa ‘Alaihissalam berkata,

إِنِّي اتُّخِذْتُ إِلَهًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Saya di dunia dianggap Tuhan selain Allah.”( Fathul Baari 11/435)

Sebenarnya hal itu pun tidak menjadikan Nabi Isa ‘Alaihissalam berdosa, akan tetapi beliau menganggap bahwa hal itu adalah perkara yang besar, sehingga membuat Nabi Isa ‘Alaihissalam tidak percaya diri dan berani untuk berbicara kepada Allah ﷻ. Maka kemudian Nabi Isa ‘Alaihissalam memerintahkan untuk mereka pergi kepada Nabi Muhammad ﷺ.

([6])  HR. Muslim No. 194

([7]) Sebagian ulama mengatakan bahwa awan-awan tersebut telah muncul di padang mahsyar sebelum datangnya Allah ﷻ.