TANDA-TANDA BESAR HARI KIAMAT – Iman Kepada Hari akhir 9

TANDA-TANDA BESAR HARI KIAMAT

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA. 

Ciri-ciri tanda-tanda besar hari kiamat

Tanda-tanda besar hari kiamat memiliki dua ciri:

Pertama, tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya hari kiamat

Kedua, peristiwa-peristiwa di luar normal (kebiasaan manusia).

Di dalam hadis Hudzaifah Al-Ghifari, beliau berkata,

اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ، فَقَالَ: مَا تَذَاكَرُونَ؟ قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ، قَالَ: ” إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ – فَذَكَرَ – الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

“Nabi datang kepada kami, sedangkan kami sedang berbincang-bincang. Maka beliau bertanya: ‘Apa yang kalian perbincangkan?’ Para sahabat berkata: ‘Kami sedang membincangkan tentang hari kiamat.’ Beliau bersabda: ‘(Ketahuilah) bahwasanya hari kiamat tidak akan tegak sampai kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda (besar).’ Maka beliau menyebutkan: Dukhan (asap), Dajjal, Dabbah (hewan yang bisa berbicara), terbitnya matahari dari barat, turunnya nabi ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, tiga pembenaman (amblasnya bumi): amblasnya bumi di bagian timur, amblasnya bumi di bagian barat, amblasnya bumi di Jazirah Arab dan tanda terakhirnya adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia menuju mahsyar. ([1])

Sepuluh tanda yang disebutkan di dalam hadis inilah yang disebut oleh para ulama dengan tanda-tanda besar hari kiamat. Di antara sepuluh tanda tersebut adalah:

  • Keluarnya Dajjal
  • Turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam
  • Munculnya Ya’juj dan Ma’juj
  • Amblasnya (bumi) di belahan Timur. خَسْفٌ bermakna terbenam atau amblas, bukan gempa. Seperti halnya Qarun yang ditenggelamkan oleh Allah ﷻ ke dasar bumi,

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ

“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)

  • Amblasnya (bumi) di belahan barat
  • Amblasnya (bumi) di Jazirah Arab.
  • Terbitnya matahari dari barat
  • Keluarnya Dabbah (binatang besar) yang dapat berbicara
  • Dukhan (asap)
  • Keluarnya api yang berasal dari Yaman.

Inilah sepuluh perkara yang Nabi ﷺ sebutkan sebagai tanda-tanda besar hari kiamat. Para ulama khilaf tentang urutan kejadian sebagian tanda-tanda ini. Tetapi, secara umum para ulama menyatakan bahwa keluarnya Dajjal, turunnya nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj terjadi dalam satu masa. Begitu juga dengan terbitnya matahari dari arah barat dan keluarnya Dabbah, terjadi dalam satu masa([2]). Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ الْآيَاتِ خُرُوجًا، طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى، وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا، فَالْأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيبًا

“Sesungguhnya tanda-tanda (hari kiamat) yang pertama kali terjadi adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya Dabbah di tengah-tengah manusia pada waktu duha. Mana saja yang terjadi terlebih dahulu di antara keduanya, maka yang satunya muncul (segera) dalam waktu dekat.” ([3])

Seandainya tanda yang terjadi terlebih dahulu adalah terbitnya matahari dari arah barat, maka Dabbah akan keluar di waktu duha, yaitu setelah matahari terbit. Para ulama juga sepakat bahwa tanda terakhir yang terjadi adalah keluarnya api yang berasal dari Yaman dan mengusir manusia ke arah Mahsyar atau negeri Syam([4]). Rasulullah ﷺ bersabda,

وَيَحْشُرُ بَقِيَّتَهُمُ النَّارُ، تَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا، وَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا

“Dan yang tersisa dari manusia, mereka dikumpulkan oleh api. Api tersebut  istirahat saat manusia juga istirahat (di siang hari) dan dia juga istirahat ketika mereka beristirahat (di waktu malam).” ([5])

Api tersebut juga bergerak mendorong manusia setiap kali manusia juga bergerak. Api tersebut selalu mengikuti keadaan manusia, hingga mereka pergi dan berkumpul ke daerah Syam.

Di antara tanda-tanda yang menjadi perselisihan yang kuat oleh para ulama adalah letak terjadinya tanda-tanda amblas di timur, di barat dan di Jazirah Arab dan terjadinya Dukhan([6]). Adapun letak khilafnya adalah apakah tanda itu terjadi sebelum keluarnya Dajjal atau setelah terbit matahari dari barat dan ataupun sebaliknya.

Amblas di timur maksudnya adalah suatu kejadian besar di daerah timur. Bukan hanya amblas yang kecil. Akan tetapi, mungkin suatu negeri amblas dan hilang tenggelam di bumi dengan serentak. Sehingga, dunia menjadi heboh tatkala itu. Begitu juga halnya terjadinya amblas di barat. Selain itu terdapat kejadian lainnya yang berada di suatu daerah di Jazirah Arab, yang mana hal ini menjadi tanda-tanda besar hari kiamat.

Tanda lainnya yang berupa Dukhan adalah kejadian yang besar berupa asap besar yang mengepul dari langit ke bumi, sehingga semua orang, baik mukmin maupun kafir benar-benar merasakannya. Seorang mukmin merasakannya seakan dia terkena flu. Adapun orang kafir merasakannya dengan penuh kesakitan, karena asap yang kuat tersebut masuk ke dalam tubuhnya hingga membuat tubuhnya mekar dan sakit. ([7])

Mungkin sekarang di berbagai tempat terjadi longsor, namun ini adalah kejadian kecil. Atau dukhan/asap yang berada di suatu daerah akibat kebakaran hutan, maka ini bukanlah dukhan yang dimaksud sebagai tanda besar hari kiamat.

Dari situlah, Al-Hafiz Ibnu Hajar berpendapat bahwasanya Dukhan terjadi setelah matahari terbit([8]). Karena, pada saat itulah terlihat mana orang yang beriman dan yang kafir. Dan itu sudah berlangsung saat matahari terbit dari barat. Ketika orang berbondong-bondong untuk bertobat dan beriman, namun tobat dan iman mereka tidak bermanfaat sama sekali. Kemudian, keluarlah Dabbah yang memberi tanda bagi orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Ketika Dukhan datang menimpa seluruh manusia, maka orang-orang yang beriman hanya merasakan sekedar flu dan orang-orang kafir akan merasakan penderitaan akibat dukhan yang memasuki tubuh mereka. Inilah urutan tanda-tanda besar hari kiamat.

Sebelum membahas tentang tanda-tanda besar hari kiamat, maka perlu bagi kita untuk membahas tentang imam Mahdi, karena meskipun imam Mahdi bukanlah termasuk tanda-tanda besar hari kiamat, akan tetapi kemunculannya bersamaan dengan munculnya tanda-tanda hari kiamat.

Imam Mahdi

Ada keterkaitan yang erat antara munculnya Imam Mahdi dengan tanda-tanda besar hari kiamat, seperti Dajjal, nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan Ya’juj Ma’juj. Karena mereka berada di dalam satu zaman. Hadis-hadis yang menjelaskan tentang Imam Mahdi adalah hadis mutawatir([9]). Di antaranya diisyaratkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim yang berbunyi,

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ، وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

“Bagaimana kondisi kalian tatkala ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam turun kepada kalian dan ada pemimpin kalian.” ([10])

Para ulama mengatakan bahwa pemimpin yang dimaksud di dalam hadis adalah Imam Mahdi. Sebagaimana juga dijelaskan di dalam beberapa lafaz hadis bahwa ketika nabi ‘Isa ‘alaihissalam turun ke bumi, pemimpin kaum muslimin saat itu adalah Imam Mahdi. ([11])

Namanya

Ada dua kemungkinan nama dari Imam Mahdi, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي، وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي

 “Namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku.” ([12])

Bisa jadi nama beliau adalah Ahmad bin Abdullah atau Muhammad bin Abdullah. Dari keturunan ‘Ali bin Abu Thalib dan Fatimah radhiallahu ‘anhuma([13]). Ada dua pendapat dalam hal ini. Pertama, Ahlussunnah wal jamaah mengatakan bahwa beliau dari keturunan Al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib. Adapun yang kedua, adalah Syi’ah Rafidhah yang mengatakan bahwa beliau merupakan keturunan dari Al-Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib([14]).

Kaum Syiah mempunyai dua belas imam yang harus diimani. Imam terakhir yang mereka yakini bernama Muhammad bin Al-Hasan Al-‘Askar. Masalahnya, adalah namanya tidak sesuai dengan yang ada di dalam hadis Nabi ﷺ, yaitu Muhammad bin Abdullah. Imam Mahdi mereka sudah muncul sejak sekitar tahun 260 H([15]) dan sembunyi di Sirdab, Samirra’([16]). Artinya sudah sekitar 1200 tahun dia telah bersembunyi dan akan muncul lagi menjelang terjadinya hari kiamat.

Kemudian menurut orang-orang Syi’ah di dalam literatur-literatur mereka menyebutkan bahwa jika Imam Mahdi muncul, maka dia akan masuk ke kota Madinah, lalu menggali kuburan Abu Bakr dan ‘Umar dan menyalibnya. Di samping itu, dia juga akan membunuh orang-orang Arab dengan sadis karena dia membenci mereka. Begitulah Imam Mahdi versi orang-orang Syi’ah([17]).

Adapun Imam Mahdi sebagaimana yang diyakini oleh Ahlussunah wal jamaah memiliki ciri-ciri tertentu. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ,

الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، أَقْنَى الْأَنْفِ، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا، كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا، يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ

“Al-Mahdi (berasal) dari keturunanku, dahinya lebar, hidungnya mancung, dia akan memenuhi bumi dengan penuh keadilan, sebagaimana telah dipenuhi kekejaman dan kezaliman. Dia akan menjadi raja selama tujuh tahun.” ([18])

Adapun di antara ciri-ciri fisik Imam Mahdi, adalah([19]):

  • أَجْلَى الْجَبْهَةِ , yaitu memiliki dahi yang lebar (botak bagian depan) dan sedikitnya rambut yang tumbuh di sekitar dahi hingga ke atas([20]).
  • أَقْنَى الْأَنْفِ , yaitu memiliki hidung yang mancung, berujung lancip dan sedikit bengkok([21]).

Tatkala anak-anak khalifah sedang bertengkar. Setelah itu, datanglah Imam Mahdi. Allah ﷻ mengeluarkan Imam Mahdi dan dalam waktu yang singkat, beliau memenuhi dunia dengan keadilan, setelah sebelumnya dunia penuh dengan kezaliman dan kekejaman.

Di Arab Saudi pernah terjadi kasus besar pada waktu sekitar tahun 1970-an, tatkala musim haji. Ada seseorang yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Dengan serta merta orang tersebut merebut microphone yang ada di Masjidil Haram saat imam shalat meninggalkan tempatnya. Orang tersebut mengatakan bahwa dia adalah Imam Mahdi. Sedangkan, sesuai aturan syariat adalah jika muncul Imam Mahdi, maka kaum muslimin harus membaiatnya. Kemudian, orang tersebut menyuruh orang-orang untuk membaiat dirinya. Namun, dari kejadian itu orang-orang tidak menerimanya. Sempat ditanyakan kepada ulama-ulama pada zaman itu pun, namun tidak ada yang menerimanya, bahkan membantah dan menolaknya karena tidak sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan. Akan tetapi banyak orang yang mempercayainya. Sebagaimana penulis diceritakan oleh guru penulis bahwa di antara sebab mereka percaya adalah karena ketika itu sebagian besar orang-orang bermimpi di waktu yang sama bahwa si Fulan adalah Imam Mahdi. Sehingga, ketika dia mengaku sebagai Imam Mahdi, banyak orang yang percaya dengannya. Kemudian, saat itulah terjadi pertempuran di antara pemerintah Arab Saudi selama beberapa waktu, hingga orang yang mengaku sebagai Imam Mahdi pun tewas. Hal itu membuat tanda tanya bagi banyak orang, kenapa Imam Mahdi tewas? Justru, Imam Mahdi harus menang. Dari situ lah, terbukti bahwa dia bukan Imam Mahdi yang sesungguhnya.

Maka dari itu, sangat membahayakan bagi kita jika asal dalam mencocok-cocokkan sesuatu (cocoklogi), namun ternyata salah. Bayangkan, jika seseorang meyakini bahwa orang itu adalah Imam Mahdi, maka dia akan rela untuk mati. Karena, dia merasa akan berjihad membela Imam Mahdi dan ternyata bukan.

Begitupula tahun lalu ada dai (cocoklogi) dengan terang-terangan mengatakan di salah satu media sosial bahwasanya gurunya, yakni si Fulan telah bertemu dengan Imam Mahdi di Madinah. Umurnya sekitar 39 tahun. Ma sya Allah, berarti pada tahun ini -yakni 2020- umurnya 40 tahun dan sebentar lagi kita harus membaiatnya. Karena, Imam Mahdi di baiat pada umur  40 tahun. Dia bisa memastikan bahwa Imam Mahdi sudah ada dan berada di Madinah. Sementara di antara kita ada yang tinggal di Madinah selama 15 tahun tidak ada yang kenal keberadaan Imam Mahdi. Barangkali bisa ditanyakan kepada orang-orang yang tinggal di Madinah, apakah ada Imam Mahdi disana? Jika memang ada, pasti akan ada kehebohan di sana. Apalagi, pada zaman sekarang banyak sekali hal-hal yang langsung heboh di media sosial. Dengan beraninya membuat berita di suatu negeri bahwa telah muncul Imam Mahdi dan umurnya sudah mencapai 39 tahun. Apa tujuannya membuat berita seperti itu? Jika Imam Mahdi sudah keluar, maka sebentar lagi Dajjal akan muncul. Kenapa seakan mereka ingin disegerakan hari kiamat? Sedangkan, masih banyak orang yang ingin berbuat kebaikan dan amal saleh. Padahal, hari kiamat adalah hari huru-hara. Akan tetapi, kenapa mereka ingin ada keributan dengan adanya Dajjal yang muncul dan terjadi peperangan? Kenapa membuat orang gelisah?. Ternyata tahun 2020 telah berlalu dan sang Imam Mahdi belum muncul juga.

Sampai sebagian mereka pernah berdakwah di suatu tempat di mana penulis juga berdakwah di tempat tersebut. Salah seorang dari tempat tersebut bercerita bahwa beberapa hari lalu ada dai yang berceramah, dalam ceramahnya dia berkata bahwa persediaan minyak akan habis yang mengakibatkan alat transportasi akan tidak berguna. Sehingga, masa itu akan kembali ke zaman dahulu orang-orang berkendara menggunakan kuda. Akhirnya, ada sebagian penduduk yang membeli kuda. Ini perbuata menakut-nakuti orang yang mengakibatkan kegelisahan dan kekhawatiran serta menimbulkan kesulitan.

Bayangkan, seandainya Imam Mahdi sekarang sudah berumur 39 tahun, artinya pada umur 40 tahun beliau harus dibaiat dan sebentar kemudian dari masa itu manusia akan menghadapi peperangan. Kemudian, disusul dengan dukhan. Akhirnya, merepotkan banyak orang. Mungkin ada di antara mereka yang ingin membangun rumah atau membuat proyek. Namun, akhirnya tidak jadi dilaksanakan. Artinya jika orang suka dengan metode mencocok-cocokan, akhirnya ia akan membangun amalannya di atas khayalan-khayalan tadi.

Intinya, jika ada orang yang mengaku sebagai Imam Mahdi, hendaknya kita jangan langsung percaya begitu saja.

Adapun perincian ke-sepuluh tanda-tanda besar hari kiamat adalah sebagaimana berikut ini :

DAJJAL

Secara bahasa berasal dari bahasa arab  دَجْلٌ, yang memiliki arti dusta. Sedangkan Dajjal atau دَجَّال artinya adalah pendusta([22]). Dikatakan sebagai pendusta, karena dia mengaku sebagai Tuhan.

Gelarnya adalah  الْمَسِيْحُ الدَّجَّالُ. Ada dua alasan kenapa Dajjal disebut dengan Al-Masih. Pertama, karena dia مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى , mata kanannya tertutup. Seakan bagian mata yang selah kanan berupa kulit saja dan tidak ada bentuk mata sama sekali. Jadi, Dajjal adalah sosok makhluk yang cacat, karena bagian mata sebelah kanannya berupa kulit dan bagian kirinya adalah matanya yang tidak normal. Sehingga bagian sebelah kanannya seakan-akan tertutup berupa kulit dan tidak ada matanya sama sekali. Atau, alasan yang kedua, adalah karena dia يَمْسَحُ الْأَرْضَ , yaitu yang berkelana di atas muka bumi([23]).

Waktu munculnya Dajjal

Dahulu di zaman Nabi ﷺ, ada seorang yang bernama Abdullah bin Shayyad. Sebagian ulama khilaf tentangnya, ada yang mengatakan bahwa dia dari kalangan Yahudi. Ada juga yang mengatakan dia dari kaum Anshar. Dia adalah seorang dukun dan peramal, bahkan Rasulullah ﷺ sendiri meragukannya, apakah dia Dajjal atau bukan. Hingga terjadi khilaf di kalangan para sahabat, apakah dia Dajjal atau bukan. Jika benar dia adalah Dajjal, maka dia sudah ada sejak zaman Nabi ﷺ. Khilaf itu semakin kuat, tatkala ada hadis dari Tamim Ad-Dari di dalam Shahih Muslim. Dimana saat itu Tamim Ad-Dari berlabuh bersama sebagian sahabat, hingga akhirnya mereka terdampar pada sebuah pulau. Kemudian di situ mereka bertemu dengan Dajjal, makhluk yang besar dalam kondisi tangannya terbelenggu dan mengatakan,

أَخْبِرُونِي عَنْ نَبِيِّ الْأُمِّيِّينَ مَا فَعَلَ؟ قَالُوا: قَدْ خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ وَنَزَلَ يَثْرِبَ، قَالَ: أَقَاتَلَهُ الْعَرَبُ؟ قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: كَيْفَ صَنَعَ بِهِمْ؟ فَأَخْبَرْنَاهُ أَنَّهُ قَدْ ظَهَرَ عَلَى مَنْ يَلِيهِ مِنَ الْعَرَبِ وَأَطَاعُوهُ، قَالَ لَهُمْ: قَدْ كَانَ ذَلِكَ؟ قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: أَمَا إِنَّ ذَاكَ خَيْرٌ لَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ، وَإِنِّي مُخْبِرُكُمْ عَنِّي إِنِّي أَنَا الْمَسِيحُ، وَإِنِّي أُوشِكُ أَنْ يُؤْذَنَ لِي فِي الْخُرُوجِ

“Ceritakanlah kepadaku tentang Nabinya orang-orang Arab, apa yang telah dia lakukan?” Para sahabat berkata: “Nabi itu telah keluar dan tinggal di Yatsrib (Madinah)”. Dia bertanya lagi: “Apakah orang-orang Arab memeranginya?” Kami menjawab: “Ya”. Dia bertanya lagi: “Bagaimana dia memperlakukan mereka?” Maka kami menceritakan bahwa nabi tersebut membuat orang-orang taat kepadanya”. Dia bertanya lagi: “Apakah hal itu telah terjadi?” Kami mengatakan: “Ya”. Dia berkata: “Ingatlah bahwa sebaiknya mereka mematuhinya dan sesungguhnya aku adalah Al-Masih (Dajjal). Aku hampir diizinkan untuk keluar (suatu hari).” ([24])

Di dalam hadis tersebut Tamim Ad-Dari menjelaskannya seakan-akan dia tahu tentang kabar Nabi ﷺ. Seandainya yang ditemuinya adalah Dajjal, maka tentunya Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal. Karena Ibnu Shayyad juga tahu tentang Nabi ﷺ. Akan tetapi, bagaimanapun para sahabat ragu tentang Ibnu Shayyad. Karena, Ibnu Shayyad pernah berhaji/umrah bersama Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Dijelaskan di dalam riwayat suatu hadis bahwa mereka berjalan dari Madinah menuju kota Makkah. Namun, karena begitu banyak cerita tentang Ibnu Shayyad, maka Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu merasa takut dengannya. Sampai ketika mereka tiba pada suatu tempat dan berpencar mencari tempat persinggahan masing-masing, Ibnu Shayyad singgah bersama Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu merasa takut, lalu dia berkata kepadanya: “Hari sangat panas, seandainya kau memindahkan barangmu di bawah pohon.” Maksudnya adalah agar Ibnu Shayyad tidak duduk di dekat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Lalu, Ibnu Shayyad menuruti perintah Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan memindahkan barangnya ke bawah sebuah pohon. Setelah itu, Ibnu Shayyad mengambilkan segelas susu untuk diberikan kepada Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Ketika sampai di hadapannya, Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu tidak ingin meminum susu dari tangan Ibnu Shayyad, karena dia merasa khawatir jika terbukti Ibnu Shayyad benar-benar Dajjal. Lalu, Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengatakan: “Sungguh panas hari ini, begitu juga dengan susu ini yang panas, tidak baik jika meminum sesuatu yang panas dalam keadaan yang panas.” Akhirnya Ibnu Shayyad mengetahui maksud Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu seraya berkata,

أَبَا سَعِيدٍ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آخُذَ حَبْلًا فَأُعَلِّقَهُ بِشَجَرَةٍ، ثُمَّ أَخْتَنِقَ مِمَّا يَقُولُ لِي النَّاسُ، يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ خَفِيَ عَلَيْهِ حَدِيثُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا خَفِيَ عَلَيْكُمْ مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَسْتَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِحَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هُوَ كَافِرٌ» وَأَنَا مُسْلِمٌ، أَوَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هُوَ عَقِيمٌ لَا يُولَدُ لَهُ وَقَدْ تَرَكْتُ وَلَدِي بِالْمَدِينَةِ؟ أَوَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَدْخُلُ الْمَدِينَةَ وَلَا مَكَّةَ» وَقَدْ أَقْبَلْتُ مِنَ الْمَدِينَةِ وَأَنَا أُرِيدُ مَكَّةَ؟ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ: حَتَّى كِدْتُ أَنْ أَعْذِرَهُ، ثُمَّ قَالَ: أَمَا، وَاللهِ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ وَأَعْرِفُ مَوْلِدَهُ وَأَيْنَ هُوَ الْآنَ، قَالَ: قُلْتُ لَهُ: تَبًّا لَكَ، سَائِرَ الْيَوْم

“Wahai Abu Sa’id, Seandainya dibolehkan, maka Aku akan mengambil tali dan menggantung diri karena (aku) terganggu dengan perkataan mereka kepadaku. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak tahu hadis Rasulullah , tidak ada yang tersembunyi dari kalian wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang yang paling banyak mengetahui hadis Rasulullah ? Bukankah Rasulullah telah bersabda: ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sedangkan aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah bersabda: ‘Dia adalah orang yang tidak memiliki anak’, sedangkan aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah pernah bersabda: ‘Dia tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah’, sedangkan aku datang dari Madinah menuju Makkah?” Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah , sesungguhnya aku mengenalnya (Dajjal) dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’” ([25])

Dalam riwayat lain dikatakan kepada Ibnu Shayyad, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia (Dajjal)? Dia menjawab: “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak membencinya.” ([26])

Ibnu Shayyad berujar apabila orang-orang mengira bahwa dia adalah Dajjal, maka hal itu tidaklah menjadi masalah baginya.

Inilah yang membuat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bimbang. Begitu pula, setelah Rasulullah ﷺ meninggal dunia. Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bertemu dengan Ibnu Shayyad, dimana pada suatu hari mata Ibnu Shayyad menunjukkan keanehan, yaitu adanya kulit yang menutupi matanya. Maka, Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bertanya,

مَتَى فَعَلَتْ عَيْنُكَ مَا أَرَى؟ قَالَ: لَا أَدْرِي، قَالَ: قُلْتُ: لَا تَدْرِي وَهِيَ فِي رَأْسِكَ؟ قَالَ: إِنْ شَاءَ اللهُ خَلَقَهَا فِي عَصَاكَ هَذِهِ، قَالَ: فَنَخَرَ كَأَشَدِّ نَخِيرِ حِمَارٍ سَمِعْتُ، قَالَ: فَزَعَمَ بَعْضُ أَصْحَابِي أَنِّي ضَرَبْتُهُ بِعَصًا كَانَتْ مَعِيَ حَتَّى تَكَسَّرَتْ، وَأَمَّا أَنَا فَوَاللهِ مَا شَعَرْتُ، قَالَ: وَجَاءَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَحَدَّثَهَا، فَقَالَتْ: مَا تُرِيدُ إِلَيْهِ؟ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ قَالَ: «إِنَّ أَوَّلَ مَا يَبْعَثُهُ عَلَى النَّاسِ غَضَبٌ يَغْضَبُه

“Sejak kapan matamu berubah seperti yang aku lihat (sekarang)?” Dia menjawab: “Aku tidak tahu.” (Ibnu ‘Umar) berkata, aku berkata: “Bagaimana engkau tidak tahu, padahal ia berada di kepalamu?” Dia berkata: “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikannya di tongkatmu ini.” (Ibnu ‘Umar) berkata: “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah Aku dengar. Lalu sebagian sahabat-sahabatku mengira bahwa Aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera, demi Allah , Aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).” Perawi berkata: “(Ibnu ‘Umar) datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya.” Maka beliau bertanya: “Apa yang engkau inginkan terhadapnya? Tidakkah engkau tahu bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya yang menyebabkan dia dibangkitkan pertama kali kepada manusia adalah kemarahan yang (menyebabkan) dia marah.” ([27])

Akhirnya, Ibnu Shayyad menghilang dari peredaran, entah dimana dikuburkan. Akan tetapi dia memiliki seorang anak bernama ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad. Dia merupakan seorang tabi’in yang tsiqah, yang menjadi guru dari Imam Malik rahimahullah. Sehingga masalah tentang Ibnu Shayyad memang menjadi khilaf di kalangan para ulama. Sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa dia adalah Dajjal dan ada pula yang mengatakan sebaliknya. Bahkan khilaf ini juga terjadi di kalangan para sahabat. Yang menguatkan bahwasanya Ibnu Shayyad bukan Dajjal adalah hadis Tamim Ad-Dari yang menceritakan bahwa dia bertemu dengan makhluk yang sangat besar di suatu pulau. Kemudian makhluk tersebut bertanya beberapa hal kepada Tamim Ad-Dari tentang Nabi ﷺ yang keluar di jazirah Arab, sebagaimana hadis yang telah berlalu penjelasannya. Seandainya dia Dajjal, maka dia tidak perlu bertanya-tanya tentang Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar mengompromikan kedua masalah ini dengan berpendapat bahwa sejatinya Ibnu Shayyad merupakan setan jelmaan dari Dajjal. Namun, hal ini cenderung tidak tepat. Karena, Ibnu Shayyad melaksanakan haji dan umrah. Apapun jati diri Dajjal yang sebenarnya, apakah makhluk yang berada di suatu pulau yang dijelaskan di dalam hadis Tamim Ad-Dari, atau Ibnu Shayyad yang hidup di zaman Nabi ﷺ dan telah mengalami perubahan pada zaman sahabat?, wallahu a’lam, intinya, dia akan keluar menjelang hari kiamat dan mengaku sebagai Tuhan([28]).

Keberadaan Dajjal

Jika merujuk berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Tamim Ad-Dari di dalam Shahih Muslim, maka Dajjal sudah ada dan terbelenggu, namun Allah ﷻ belum mengizinkannya untuk keluar.

Maka dari itu, hendaknya kita janganlah mendengar perkataan sebagian orang yang mengatakan bahwa Dajjal sudah lahir berupa seorang anak yang hanya memiliki mata satu. Subhanallah, padahal anak tersebut hanya cacat, namun dikatakan sebagai Dajjal. Menurut hadis Tamim Ad-Dari disebutkan bahwa Dajjal sudah ada dan hanya menunggu kapan diizinkan baginya untuk keluar dari tempatnya tersebut.

Tempat Keluarnya Dajjal

Terdapat hadis-hadis yang menunjukkan bahwa Dajjal akan keluar dari dua tempat. Pertama, adalah Khurasan. Kedua, Asbahan. Dia akan muncul dari daerah timur, yaitu Khurasan. Adapun Khurasan dan Asbahan terdapat di daerah Iran. Di dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا

 “Dajjal diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Ashbahan.” ([29])

Sekarang di Iran banyak komunitas orang-orang Yahudi dan mereka akan selalu ada hingga nanti menjelang hari kiamat. Sebanyak tujuh puluh ribu dari mereka akan menjadi pengikut Dajjal. Dari situlah Dajjal akan bertolak dan berkeliling di atas muka bumi.

Masa Dajjal Di Atas Muka Bumi

Disebutkan di dalam hadis bahwa Dajjal berada di atas muka bumi selama 40 hari. Pada saat itu, lamanya sehari sama dengan satu tahun. Artinya Allah ﷻ  melambatkan gerakan matahari. Padahal, mudah bagi Allah ﷻ  untuk menerbitkan matahari dari barat, apalagi hanya melambatkannya. Akhirnya, masa satu hari tersebut sama dengan masa 355-360 hari, kemudian satu hari sama dengan satu bulan, yaitu 30 hari, kemudian satu hari seperti satu pekan, yaitu 7 hari, kemudian sisanya adalah 37 hari sebagaimana hari-hari yang biasanya manusia rasakan. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ، وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ، أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاةُ يَوْمٍ؟ قَالَ: لَا، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ

“Dimana satu harinya bagaikan satu bulan. Satu harinya lagi bagaikan satu bulan. Satu harinya lagi seperti satu pekan dan sisa harinya seperti hari-hari yang kalian. Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, jika sehari itu sama dengan satu tahun, apakah shalat satu hari cukup bagi kami?” Beliau bersabda: “Tidak, (akan tetapi) perkirankanlah waktunya.”  ([30])

Artinya selama 24 jam, hendaknya seseorang tetap mengerjakan shalat lima waktu. Maka dari itu, sebagaimana disebutkan di dalam hadis, diperkirakan Dajjal berada di atas muka bumi selama 400 hari lebih. Selama itu cukup untuk berkelana di atas muka bumi, sedangkan Dajjal bergerak dengan cepat seperti angin yang bergerak di atas muka bumi. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيحُ

“Seperti hujan yang ditiup oleh angin.”  ([31])

Hadis ini menjelaskan bahwa Dajjal bergerak dengan sangat cepat. Oleh karenanya, dia bisa singgah ke berbagai penjuru belahan di atas muka bumi ini. Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلَّا مَكَّةَ وَالمَدِينَةَ

“Tidak ada satupun tempat kecuali akan disinggahi Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah.” ([32])

Semua tempat akan dihampiri oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Dan selama masa 400 hari lebih beserta kecepatannya berada di atas muka bumi, Dajjal berdakwah agar manusia mengikutinya([33]).

Kesaktian Dajjal

Di antara kesaktian yang dimiliki oleh Dajjal, adalah([34]):

  • Bisa menurunkan hujan dan menjadikan tanah tandus menjadi subur. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ، وَالْأَرْضَ فَتُنْبِتُ

“(Jika) dia (Dajjal) memerintahkan langit (agar hujan), maka turunlah hujan dan memerintahkan tanah (untuk tumbuh), maka tumbuh tetumbuhan.”  ([35])

  • Tempat orang-orang yang beriman kepada Dajjal menjadi berkah. Disebutkan di dalam hadis riwayat An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

فَتَرُوحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ، أَطْوَلَ مَا كَانَتْ ذُرًا، وَأَسْبَغَهُ ضُرُوعًا، وَأَمَدَّهُ خَوَاصِرَ، ثُمَّ يَأْتِي الْقَوْمَ، فَيَدْعُوهُمْ فَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ، فَيَنْصَرِفُ عَنْهُمْ، فَيُصْبِحُونَ مُمْحِلِينَ لَيْسَ بِأَيْدِيهِمْ شَيْءٌ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Lalu, binatang ternak mereka pergi dengan punuk yang panjang, kantong susu yang berisi dan lambung yang lebar. Kemudian dia datang kepada suatu kaum, lalu menyeru kepada mereka dan mereka menolak seruannya, lalu dia meninggalkan mereka. Maka kaum tersebut dilanda kekeringan tidak memiliki harta sama sekali. ”  ([36])

Fitnahnya sangat luar biasa, karena disamping itu dia mengaku sebagai Tuhan.

  • Mengeluarkan harta dari dalam tanah. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis Nabi ﷺ, diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu,

وَيَمُرُّ بِالْخَرِبَةِ، فَيَقُولُ لَهَا: أَخْرِجِي كُنُوزَكِ، فَتَتْبَعُهُ كُنُوزُهَا كَيَعَاسِيبِ النَّحْلِ

“(Ketika) melewati (suatu tempat) tanah yang rusak, maka dia akan berkata: ‘Keluarkanlah hartamu!’. Lalu tiba-tiba harta-harta keluar dari tanah, lalu mengikutinya seperti lebah-lebah jantan yang mengikuti ratunya.”  ([37])

Artinya kemanapun Dajjal berjalan, maka harta itu mengikutinya.

 

  • Menghidupkan orang yang mati. Sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنْ يَقُولَ لِأَعْرَابِيٍّ: أَرَأَيْتَ إِنْ بَعَثْتُ لَكَ أَبَاكَ وَأُمَّكَ، أَتَشْهَدُ أَنِّي رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، فَيَتَمَثَّلُ لَهُ شَيْطَانَانِ فِي صُورَةِ أَبِيهِ، وَأُمِّهِ، فَيَقُولَانِ: يَا بُنَيَّ، اتَّبِعْهُ، فَإِنَّهُ رَبُّكَ

“Di antara fitnahnya (Dajjal) adalah dia berkata kepada seorang arab badui: ‘Apakah jika Aku hidupkan ayah dan ibumu, kamu akan bersaksi (beriman) bahwa Aku adalah Tuhanmu?’. Lalu, dia berkata: ‘Iya’. Maka, tiba-tiba ada dua setan yang datang menjelma dalam bentuk ayah dan ibunya dan berkata: ‘Wahai putraku, ikutilah dia, sesungguhnya dia adalah Tuhanmu.” ([38])

Fitnahnya sangat luar biasa.

  • Dia dapat berjalan secepat angin. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيحُ

“Seperti hujan yang ditiup oleh angin.”  ([39])

Penulis tidak dapat membayangkan, bagaimana orang tidak terperdaya dengan Dajjal yang mengerikan ini. Namun, hal ini tidaklah mengherankan, karena pada beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang disebut dengan Kanjeng Dimas yang dengan tipu dayanya banyak orang terperdaya karenanya. Maka, bagaimana dengan Dajjal yang memiliki kesaktian sedemikian rupa. Tidak perlu jauh-jauh mengatakan bahwa Dajjal menggunakan kendaraan berupa piring terbang (UFO), Karena Dajjal memiliki kesaktian tersendiri bahwa dia mampu berjalan dengan cepat.

  • Dajjal selalu disertai dua sungai. Satu sungai berupa api dan sungai lainnya berupa air. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

لَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا مَعَ الدَّجَّالِ مِنْهُ، مَعَهُ نَهْرَانِ يَجْرِيَانِ، أَحَدُهُمَا رَأْيَ الْعَيْنِ، مَاءٌ أَبْيَضُ، وَالْآخَرُ رَأْيَ الْعَيْنِ، نَارٌ تَأَجَّجُ، فَإِمَّا أَدْرَكَنَّ أَحَدٌ، فَلْيَأْتِ النَّهْرَ الَّذِي يَرَاهُ نَارًا وَلْيُغَمِّضْ، ثُمَّ لْيُطَأْطِئْ رَأْسَهُ فَيَشْرَبَ مِنْهُ، فَإِنَّهُ مَاءٌ بَارِدٌ

“Sungguh Aku tahu apa yang ada bersama Dajjal, bersamanya dua sungai yang mengalir. Salah satu dari keduanya secara kasat mata adalah air yang putih dan sungai yang lain secara kasat mata adalah api yang bergejolak. Apabila ada yang menjumpainya, hendaklah mendatangi sungai yang ia lihat berupa api dan hendaklah menutup matanya. Kemudian, hendaknya dia menundukkan kepalanya, lalu meminumnya. Karena sesungguhnya itu adalah air dingin.” ([40])

Orang-orang yang beriman kepadanya, diperintahkan untuk datang menuju sungai air dan meminumnya. Adapun orang-orang yang kafir kepadanya, diperintahkan untuk datang kepada sungai api yang menyala-nyala. Maka dari itu, Nabi ﷺ berkata kepada umatnya, jika bertemu dengan Dajjal, maka hendaklah dia pergi ke sungai yang berupa api. Jika, dia tidak mampu, maka hendaklah dia menutup matanya dan mendorong kepalanya ke dalam sungai api tersebut. Karena, sesungguhnya itu adalah air surga. Hal ini sangat mengerikan, karena orang yang melihatnya masuk ke dalam sungai api tersebut akan mati. Akan tetapi, sejatinya dia masuk ke dalam surga.

Bentuk Fisik Dajjal

Disebutkan di dalam sebuah riwayat bahwa Dajjal:

  • Memiliki tubuh yang besar dan memiliki mata yang cacat. Rasulullah ﷺ bersabda,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ ، فَإِذَا رَجُلٌ آدَمُ سَبْطُ الشَّعَرِ يَنْطُفُ – أَوْ يُهَرَاقُ – رَأْسُهُ مَاءً قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا ابْنُ مَرْيَمَ . ثُمَّ ذَهَبْتُ أَلْتَفِتُ ، فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ أَحْمَرُ جَعْدُ الرَّأْسِ أَعْوَرُ الْعَيْنِ ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ قَالُوا هَذَا الدَّجَّالُ . أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ » . رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ

“Ketika aku tidur, aku bermimpi thawaf di ka’bah, tak tahunya ada seseorang yang rambutnya lurus, kepalanya meneteskan atau mengalirkan air. Maka saya bertanya, ‘Siapakah ini? ‘ Mereka mengatakan, ‘Ini Isa bin Maryam’. Kemudian aku menoleh, tak tahunya ada seseorang yang berbadan besar, warnanya kemerah-merahan, rambutnya keriting, matanya buta sebelah kanan, seolah-olah matanya anggur yang menjorok. Mereka menjelaskan, ‘Sedang ini adalah Dajjal. Manusia yang paling mirip dengannya adalah Ibnu Qaththan, laki-laki dari bani Khuza’ah.’”([41])

Meskipun dia memiliki tubuh yang besar, Allah ﷻ  dengan segala rahmat-Nya membuat tubuhnya ada cacatnya, yaitu buta salah satu matanya. Di tengah-tengah kesaktian luar biasa yang dimilikinya, dia tidak bisa memperbaiki dirinya. Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadis yang diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari,

أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

“Ingatlah bahwa dia (Dajjal) buta sebelah mata. Dan sesungguhnya Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” ([42])

Dan disebutkan di dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَخْفَى عَلَيْكُمْ، إِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى عَيْنِهِ – وَإِنَّ المَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ العَيْنِ اليُمْنَى، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ

“Sesungguhnya Allah I  tidak samar bagi kalian. Sesungguhnya Allah I  tidak buta sebelah. Dan sesungguhnya Al-Masih Dajjal buta mata sebelah kanannya.” ([43])

Hadis ini menunjukkan bahwa Dajjal bukanlah Tuhan.

  • Kedua pahanya saling menjauh. Tabiatnya, orang yang normal memiliki paha yang lurus. Akan tetapi, Dajjal memiliki kedua paha yang saling menjauh. Rasulullah ﷺ bersabda

إِنَّ مَسِيْحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيْرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدُ، أَعْوَرٌ، مَطْمُوْسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلاَ جَحْـرَاءَ، فَإِنْ أَلْبَسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوْا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ.

“Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan, keriting, buta sebelah, mata yang terhapus tidak terlalu menonjol, tidak pula terlalu ke dalam, maka jika dia melakukan kerancuan (mengaku sebagai Rabb) kepadamu, maka ketahuilah sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah.”([44])

  • Memiliki rambut ikal atau keriting. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جُفَالُ الشَّعَرِ، مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ، فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ

“Dajjal itu buta sebelah mata kirinya, berambut ikal, bersamanya surga dan neraka, nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” ([45])

Fitnah Dajjal

Dajjal berkeliling di atas muka bumi, berdakwah dan mengajak orang-orang untuk mengakuinya sebagai Tuhan. Sampai akhirnya, dia pergi ke kota Madinah, sedangkan dia tidak mampu masuk ke kota tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا، ثُمَّ تَرْجُفُ المَدِينَةُ بِأَهْلِهَا ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، فَيُخْرِجُ اللَّهُ كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ

“Tidak ada satu lorongpun dari lorong-lorongnya (kota Madinah), kecuali ada malaikat yang menghalanginya. Kemudian dia akan mengguncangkan penduduknya dengan tiga kali guncangan, lalu Allah mengeluarkan setiap orang kafir dan munafik darinya ” ([46])

Akhirnya, Dajjal pergi ke suatu tempat yang disebut dengan Sabkhah di daerah Jurf, yang jaraknya hanya beberapa kilo dekat dengan kota Madinah. Di situlah Dajjal bermarkas.

Sebagian orang bersikap kurang ajar mengatakan bahwa markas Dajjal sudah disiapkan oleh raja Fahd. Rumah yang berada di atas gunung itu adalah istana Dajjal. Subhanallah, bagaimana bisa seseorang dengan seenaknya sendiri, menuduh raja Fahd telah membuat istana untuk Dajjal. Padahal, sejatinya beliau adalah raja yang banyak memiliki jasa. Di antaranya beliau membangun masjid di banyak tempat, membuat Mujamma’ Al-Quran (pusat percetakan al-Qur’an) untuk mencetak al-Qur’an yang sebagiannya dibagikan kepada orang-orang secara gratis ke penjuru dunia. Akan tetapi, dengan cadasnya sebagian mereka menuduhkan sesuatu yang tidak layak kepada raja Fahd. Apakah mereka tidak tahu bahwa segala ucapan dan tuduhan mereka akan dicatat oleh Allah ﷻ  dan dimintai pertanggung jawaban pada hari kiamat. Jika seseorang menuduh orang lain bahwa dia telah mempersiapkan istana untuk Dajjal, maka secara tidak langsung dia telah kafir, sebagaimana pengikut Dajjal.

Ketika Dajjal sudah berada di luar kota Madinah, maka saat itu terjadi kehebohan. Orang-orang munafik berbondong-bondong keluar dari kota Madinah ingin bertemu dengan Dajjal. Di antaranya adalah kaum wanita yang imannya lemah, mereka keluar menuju Dajjal([47]). Sehingga, Nabi ﷺ menyebutkan,

يَنْزِلُ الدَّجَّالُ فِي هَذِهِ السَّبَخَةِ بِمرقَنَاةَ، فَيَكُونُ أَكْثَرَ مَنْ يَخْرُجُ إِلَيْهِ النِّسَاءُ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَرْجِعُ إِلَى حَمِيمِهِ وَإِلَى أُمِّهِ وَابْنَتِهِ وَأُخْتِهِ وَعَمَّتِهِ، فَيُوثِقُهَا رِبَاطًا، مَخَافَةَ أَنْ تَخْرُجَ إِلَيْهِ

“Dajjal akan turun di daerah Mirqanah, mayoritas orang keluar menuju tempatnya adalah para wanita, sehingga seseorang pergi ke tempat istrinya, ibunya, anak perempuannya, saudara perempuannya dan bibinya, lalu mengikatnya, karena khawatir akan keluar menuju Dajjal,” ([48])

Karena, sejatinya perempuan itu lemah. Bayangkan, seandainya kabar yang ada di zaman tersebut banyak tersebar di media sosial, pasti hal itu membuat mereka ingin mengetahuinya. Padahal, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ، فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ، مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَات

“Barang siapa yang mendengar tentang Dajjal, maka menjauhlah darinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang mendatanginya dalam keadaan dia mengira bahwasanya dia beriman, namun akhirnya dia mengikutinya disebabkan syubhat-syubhat yang disampaikannya.” ([49])

Fitnahnya sangat luar biasa dan mengerikan. Apalagi di zaman tersebut mungkin banyak ilmu yang tidak tersebar. Akhirnya, banyak orang yang tidak memiliki barometer di dalam pengetahuannya yang terbatas. Sehingga, banyak dari orang-orang yang beriman mengikat ibu, istri dan sanak saudaranya untuk menghindar dari fitnah Dajjal. Dan salah satu akibatnya banyak orang-orang yang beriman kepada Dajjal.

Setelah masa itu, muncul seorang pemuda dari golongan orang-orang saleh di zaman tersebut. Dia bertemu dengan Dajjal, lalu berkata,

أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثَهُ، فَيَقُولُ الدَّجَّالُ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا، ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ، هَلْ تَشُكُّونَ فِي الأَمْرِ؟ فَيَقُولُونَ: لاَ، فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ مَا كُنْتُ فِيكَ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّي اليَوْمَ، فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلاَ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ

“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang pernah dikabarkan oleh Nabi kepada kami.” Maka, Dajjal berkata (kepada para pengikutnya), ‘Bagaimana jika aku membunuh orang ini, kemudian aku menghidupkannya, apakah kalian meragukan aku?’. Mereka mengatakan: ‘Tidak’. Lalu, dia membunuhnya, kemudian menghidupkannya kembali. (Saat pemuda tersebut dihidupkan) lalu dia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah lebih memahamimu melebihi saat ini.’ lalu Dajjal ingin membunuhnya tapi ia tidak mampu mengusainya’.”([50])

Pemuda tersebut mempunyai ilmu tentang Dajjal. Disebutkan dalam riwayat lain: “kemudian Dajjal menyuruh anak buahnya untuk menggergaji orang tersebut. Maka, dia digergaji dari ujung kepalanya hingga terbelah menjadi dua bagian. Setelah itu, Dajjal menghempaskan belahan tubuhnya sejauh anak panah yang dilepaskan. Kemudian, Dajjal berjalan di tengah-tengah dua tubuh yang telah terhempas, kemudian belahan dua tubuh tersebut menyatu dan hidup kembali. Kemudian Dajjal bertanya: “Apakah sekarang engkau beriman bahwa aku adalah Tuhanmu?”. Pemuda tersebut berkata: “Demi Allah , aku bertambah yakin bahwa kau adalah Dajjal.” Kemudian Dajjal hendak membunuhnya yang kedua kalinya, namun tidak mampu. Tiba-tiba Allah membuat semacam lempengan di lehernya hingga Dajjal tidak mampu menyembelihnya. Kemudian, pemuda tersebut dilemparkan ke dalam sungai api yang pada hakikatnya adalah surga. Namun, bagi orang-orang yang menyaksikannya, pemuda tersebut telah tewas.” ([51])

Di tengah-tengah kehebohan munculnya Dajjal pada zaman tersebut. Maka, Imam Mahdi menyiapkan pasukan untuk berperang melawan Dajjal. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ

“Akan senantiasa ada suatu kelompok dari umatku yang selalu unggul (di atas kebenaran).” ([52])

Di antara mereka adalah pasukan dari Imam Mahdi. Ketika Imam Mahdi hendak melaksanakan salat subuh, beliau mengumpulkan pasukan. Kemudian, salat ditegakkan. Ketika beliau hendak maju memimpin salat. Tiba-tiba turunlah nabi ‘Isa ‘alaihissalam ke bumi.

TURUNNYA NABI ‘ISA ‘ALAIHISSALAM

Arti Al-Masih

Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dikenal dengan ‘Isa Al-Masih. Sama dengan sebutan Al-Masih Dajjal. Namun, yang dimaksud Al-Masih adalah yang mengusap penyakit, lalu sembuh atau di antara mukjizat nabi ‘Isa ‘alaihissalam adalah menyembuhkan penyakit. Ketika ada seseorang yang berpenyakit kusta, kemudian diusap oleh nabi ‘Isa ‘alaihissalam, akhirnya sembuh. Ketika ada seorang yang buta, kemudian di sentuh dan diusap matanya oleh nabi ‘Isa ‘alaihissalam, akhirnya sembuh. Beliau adalah  مَسِيْحُ الْهُدَى / مَسِيْحُ الْحَقّ  yang akan melawan dan membunuh مَسِيْحُ الضَّلَالَة (Dajjal).

Tempat keluarnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam

Nabi ‘Isa ‘alaihissalam keluar dari الْمَنَارَةُ الْبَيْضَاءُ, sebuah menara putih di Damaskus. Beliau turun di waktu subuh, tatkala Imam Mahdi hendak menegakkan shalat subuh([53]). Maka, disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمَشْقَ، بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ، وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ،

“Maka beliau (‘Isa ‘alaihissalam) turun di menara putih di sebelah timur Damaskus, memakai dua baju yang berwarna dengan meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap-sayap kedua malaikat.” ([54])

Di antara sifat nabi ‘Isa ‘alaihissalam([55])

  • Beliau memiliki rambut yang lurus jatuh ke bawah mendekati bahu, tidak keriting maupun bergelombang, dan basah seakan-akan baru keluar dari kamar mandi. Bahkan, disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا طَأْطَأَ رَأْسَهُ قَطَرَ، وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ، فَلَا يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلَّا مَاتَ، وَنَفَسُهُ يَنْتَهِي حَيْثُ يَنْتَهِي طَرْفُهُ

“Apabila dia menundukkan kepalanya, maka air pun menetes. Dan apabila beliau mengangkat kepala, maka air bercucuran seperti mutiara. Tidak ada seorang kafir pun yang mendapatkan bau dari hembusan nafasnya kecuali dia akan mati, sedangkan hembusan nafasnya sejauh mata memandang.” ([56])

  • Beliau tidak tinggi dan tidak pendek.
  • Badannya padat, kuat dan kokoh hingga otot-ototnya terlihat.
  • Disebutkan di dalam sebuah riwayat bahwa menjelaskan bahwa warna kulit beliau merah dan putih. Sehingga, sebagian ulama menjelaskan warna kulitnya adalah putih kemerah-merahan atau sebaliknya. ([57])

Sifat Turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam

Nabi ‘Isa ‘alaihis salam turun dari langit dan sampai di atas muka bumi, tatkala dikumandangkan iqamah untuk ditegakkan salat. Imam Mahdi mempersilahkan kepada beliau untuk memimpin salat. Namun, nabi ‘Isa u mengedepankan Imam Mahdi untuk memimpin salat, sebagai bentuk pemuliaan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis,

فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ، إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ، فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ، يَمْشِي الْقَهْقَرَى، لِيَتَقَدَّمَ عِيسَى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيمَتْ، فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ،

“Ketika pemimpin (Imam) mereka hendak maju untuk memimpin salat subuh bersama mereka. Tiba-tiba turunlah ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam kepada mereka. Lalu, pemimpin tersebut  mundur ke belakang agar ‘Isa u maju untuk memimpin salat dengan mereka. Maka, ‘Isa ‘alaihissalam meletakkan tangan di antara kedua bahunya, kemudian berkata: “Majulah dan pimpinlah salat, karena sesungguhnya ia ditegakkan untukmu”. Akhirnya, pemimpin mereka memimpin salat.” ([58])

Apa yang dilakukan oleh nabi ‘Isa u  adalah sebagai bentuk pemuliaan kepada umat nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، قَالَ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُولُ: لَا، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ

Akan senantiasa ada suatu golongan dari umatku yang berperang di atas kebenaran dan meraih kemenangan hingga hari kiamat.” Nabi pun mengatakan, “Lalu ‘Isa bin Maryam u  turun ke muka bumi. Lalu pemimpin mereka mengatakan (kepada Isa), “Jadilah imam shalat bersama kami.”Lalu beliau menjawab “Tidak. Sesungguhnya di antara kalian sudah menjadi pemimpin bagi yang lain, bentuk pemuliaan Allah kepada umat ini.”([59])  

Ternyata, arti dari hadis ini adalah nabi ‘Isa ‘alaihissalam  bermakmum kepada salah seorang dari umat Nabi ﷺ dan dari keturunan beliau, yaitu Imam Mahdi, sebagai bentuk pemuliaan Allah ﷻ kepada umat Nabi ﷺ. ([60])

Tugas nabi ‘Isa ‘alaihissalam

Di antara tugas nabi ‘Isa ‘alaihissalam adalah adalah:

  • Nabi ‘Isa ‘alaihissalam memimpin pasukan dan membunuh Dajjal. Ketika nabi ‘Isa ‘alaihissalam mengejar Dajjal, saat itulah terjadi pertempuran antara kaum muslimin dan pengikut-pengikut Dajjal, hingga peperangan terjadi di mana-mana.

فَإِذَا انْصَرَفَ، قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: افْتَحُوا الْبَابَ، فَيُفْتَحُ، وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ، كُلُّهُمْ ذُو سَيْفٍ مُحَلًّى وَسَاجٍ، فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ، كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ، وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا، وَيَقُولُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّ لِي فِيكَ ضَرْبَةً، لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا، فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ، فَيَقْتُلُهُ، فَيَهْزِمُ اللَّهُ الْيَهُودَ، فَلَا يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللَّهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلَّا أَنْطَقَ اللَّهُ ذَلِكَ الشَّيْءَ، لَا حَجَرَ، وَلَا شَجَرَ، وَلَا حَائِطَ، وَلَا دَابَّةَ، إِلَّا الْغَرْقَدَةَ، فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ، لَا تَنْطِقُ، إِلَّا قَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ الْمُسْلِمَ هَذَا يَهُودِيٌّ، فَتَعَالَ اقْتُلْه

“Ketika (pemimpin) salat telah selesai (dari salatnya), ‘Isa ‘alaihissalam berkata: ‘Bukalah pintu, lalu dibukakan pintu. Di belakang pintu tersebut ada Dajjal disertai tujuh puluh ribu orang Yahudi, tiap-tiap dari mereka membawa pedang berhias emas dan berjubah besar berwarna hijau. Apabila beliau melihatnya, maka Dajjal pun meleleh, sebagaimana garam yang meleleh di dalam air. Akhirnya Dajjal lari, ‘Isa ‘alaihissalam berkata: ‘Sesungguhnya aku akan memukulmu dengan pukulan yang tidak pernah kamu mendahuluinya’, lalu beliau menghadangnya di pintu timur kota Ludd, lalu beliau membunuhnya. Maka Allah menjadikan kekalahan terhadap orang-orang Yahudi, tidak ada satu pun makhluk ciptaan Allah yang dijadikan tempat berindung oleh orang yahudi, kecuali Allah akan menjadikannya makhluk itu berbicara, entah batu, pohon, dinding ataupun binatang ternak, kecuali pohon ‘gharqad’, sesungguhnya ia termasuk pohon mereka yang tidak mau berbicara, melainkan (makhluk-makhluk itu) berbicara, ‘Wahai hamba Allah yang muslim, inilah orang yahudi, kemarilah dan bunuhlah dia!.” ([61])

Di antara faedah di dalam hadis tersebut menyebutkan bahwa musuh orang Islam hingga akhir zaman adalah orang Yahudi. Nabi ‘Isa ‘alaihissalam mengejar Dajjal, hingga di pintu Ludd, yaitu daerah dekat dengan Baitul Maqdis. Begitu Dajjal melihat nabi ‘Isa ‘alaihissalam, maka dia meleleh seperti garam yang meleleh di dalam air([62]). Seandainya nabi ‘Isa ‘alaihissalam membiarkannya saja tanpa memukulnya, maka dia akan meleleh dengan sendirinya. Akan tetapi, Allah ﷻ  hendak memuliakan nabi ‘Isa ‘alaihissalam, bahwa Dajjal akan mati di tangan beliau ‘alaihissalam. مَسِيْحُ الْحَقّ, yakni nabi ‘Isa ‘alaihissalam membinasakan مَسِيْحُ الضَّلَالَة, yaitu Dajjal.

  • Menghancurkan salib. Berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الجِزْيَةَ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya sungguh telah dekat masa ‘Isa bin Maryam akan turun di antara kalian sebagai hakim yang adil, lalu memusnahkan salib, membunuh babi dan menghilangkan jizyah.” ([63])

Di antara hikmah diangkatnya nabi ‘Isa ‘alaihissalam ke langit lalu diturunkan kembali ke atas muka bumi adalah menyelesaikan kontroversial. Sesungguhnya manusia di alam semesta ini sedang khilaf tentang nabi ‘isa ‘alaihissalam. Tiga kelompok dari umat ini berselisih tentang nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Kaum Yahudi mengatakan  bahwa nabi ‘Isa ‘alaihissalam adalah anak zina. Mereka mengatakan bahwa Maryam telah berzina dengan seorang lelaki yang bernama Yusuf An-Najjar, lalu lahirlah ‘Isa, sehingga mereka menuduh nabi ‘Isa ‘alaihissalam sebagai anak zina. Bahkan, mereka mengatakan bahwa mereka telah berhasil membunuh nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah ﷻ ,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ

“Dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” (QS. An-Nisa’ : 157)

Mereka merasa bangga, karena mampu membunuh nabi dan utusan Allah ﷻ.

Berbeda dengan kaum Nashara, mereka mengatakan bahwa nabi ‘Isa  ‘alaihissalam adalah anak Tuhan. Adapun kaum muslimin mereka mengatakan bahwa nabi ‘Isa ‘alaihissalam bukan anak zina, bahkan beliau adalah seorang nabi Allah ﷻ  yang mulia, dan bukan anak Allah ﷻ . Beliau adalah hamba dan nabi Allah ﷻ , sebagaimana nabi-nabi yang lainnya. Beliau diutus oleh Allah ﷻ  kepada manusia, diberikan kitab suci berupa Injil sebagaimana rasul-rasul yang lain. Seandainya beliau adalah Tuhan, lantas untuk apa Tuhan membawa kitab suci? Kenapa Tuhan tidak berbicara secara langsung kepada manusia, akan tetapi dengan bantuan kitab suci?

Dengan turunnya nabi ‘Isa ‘alaihissalam ke bumi, maka segala kontroversial tentang beliau akan selesai dan hilang. Sementara kaum yang senantiasa berada di dalam kebenaran (haq) adalah kaum muslimin. Di antara buktinya adalah bahwa nabi ‘Isa ‘alaihissalam turun untuk menghancurkan salib-salib. ([64])

  • Memusnahkan babi-babi. Di antara tanda-tanda akhir zaman sebagaimana disebutkan dalam hadist yang telah lalu adalah masih ada babi-babi di atas muka bumi, kemudian akan dimusnahkan setelah turunnya nabi ‘Isa ‘alaihissalam.
  • Mengangkat Jizyah. Jizyah adalah sejenis upeti yang dibayarkan oleh orang-orang kafir yang tinggal di dalam kekuasaan kaum muslimin. Tatkala nabi ‘Isa ‘alaihissalam turun, aturan tersebut diangkat dan semua tunduk kepada aturan nabi ‘Isa ‘alaihissalam, sehingga saat itu kaum muslimin tidak memerlukan jizyah.
  • Menjadi hakim yang adil. Setelah Dajjal dibunuh, nabi ‘Isa ‘alaihissalam menjadi hakim yang adil. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan berapa lama beliau hidup di atas muka bumi. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa beliau hidup selama empat puluh tahun dan sebagian riwayat lain menyebutkan selama tujuh tahun. Yang benar adalah bahwa nabi ‘Isa ‘alaihissalam hidup selama tujuh tahun. Adapun maksud dari empat puluh tahun adalah bahwa nabi ‘Isa ‘alaihissalam menyempurnakan umurnya selama empat puluh tahun. Karena pada saat beliau diutus dan hendak dibunuh oleh kaumnya, lalu beliau diangkat (diwafatkan) oleh Allah ﷻ  ke langit, tatkala berusia 33 tahun, kemudian beliau diturunkan di atas muka bumi menjelang hari kiamat dan melanjutkan kehidupannya selama tujuh tahun. Setelah itu, beliau diwafatkan pada saat usia berusia 40 tahun([65]). Seperti halnya manusia yang lain, beliau diwafatkan, maka hal ini menunjukkan bahwa beliau bukan Tuhan. Kaum muslimin pun mensalatkan nabi ‘Isa ‘alaihissalam.  Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

“Beliau (‘Isa ‘alaihissalam) akan tinggal di muka bumi selama empat puluh tahun, kemudian Allah akan mewafatkannya, lalu kaum muslimin menyalatinya.” ([66])

  • Membinasakan Yakjuj dan Makjuj

YAKJUJ dan MAKJUJ

Yakjuj dan Makjuj adalah keturunan anak-anak Adam ‘alaihissalam([67]) dari keturunan nabi Nuh ‘alaihissalam yang muncul di zaman nabi ‘Isa ‘alaihissalam setelah diturunkan di atas muka bumi. Yakjuj dan Makjuj sudah ada sejak zaman Zulkarnain  yang telah disebutkan di dalam surat Al-Kahfi, dimana dia membuat bendungan dari besi yang bercampur tembaga untuk menghalangi mereka.

Suatu ketika Zulkarnain bertemu dengan suatu kaum yang terletak di antara dua gunung yang sangat tinggi, mereka hampir-hampir tak mampu memahami apa yang dibicarakan oleh Zulkarnain,

حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا. قَالُوا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

“Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan. Mereka berkata, “Wahai Zulkarnain! Sungguh, Yakjuj dan Makjuj itu (makhluk yang) berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?” (QS. Al-Kahfi: 93-94)

Kaum tersebut mengeluhkan kepada Zulkarnain tentang Yakjuj dan Makjuj yang melakukan kerusakan di atas muka bumi. Mereka meminta agar Zulkarnain  menolong dan membangunkan bendungan atau dinding yang menjadi penghalang antara mereka dengan Yakjuj dan Makjuj dengan sebuah imbalan([68]). Akan tetapi, Zulkarnain  menolak imbalan tersebut,

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا. آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا. فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا

Dia (Zulkarnain) berkata, “Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu). Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 95-97)

Dia menolak pemberian mereka, akan tetapi dia hendak memberikan kerjasama dengan saling tolong menolong antara dia dan kaum tersebut. Hal itu dilakukan agar mereka saling merasakan adanya kegiatan dan manfaat dari perbuatan tersebut. Akhirnya, Zulkarnain menjelaskan kepada mereka untuk membuat benteng yang terletak di antara dua gunung yang saling berhadap-hadapan. Kemudian Zulkarnain  memerintahkan untuk meletakkan potongan-potongan besi untuk disusun di antara dua gunung tersebut. Potongan besi-besi tersebut ditumpuk hingga sejajar dengan kedua puncak gunung yang tinggi tersebut dan menutupinya.

Setelah itu, dia memerintahkan untuk menyalakan api dan membakar potongan-potongan besi tersebut dengan api yang sangat membara,

قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا

“Dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api.” (QS. Al-Kahfi: 96)

Saking panasnya api tersebut membuat besi-besi tersebut ikut menyala, lalu Zulkarnain  berkata,

قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا

“Dia (Zulkarnain) pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” (QS. Al-Kahfi: 96)

Perhatikan !, setelah besi-besi tersebut terkumpul, Zulkarnain  memerintahkan untuk membakarnya hingga besi-besi tersebut menyala sampai derajat panas tertinggi dan meleleh. Ketika besi-besi tersebut panas dan menyala, dia memerintahkan lagi untuk meletakkan dan memenuhinya dengan cairan tembaga yang panas. Untuk menjadikan tembaga cair, maka perlu untuk dibakar dan dipanaskan juga.

Sama sekali tidak terbayangkan bagi kita, bagaimana mereka memanaskan besi-besi yang memenuhi celah dua gunung tersebut dan memenuhinya dengan cairan tembaga yang sangat panas? Hal ini tidaklah mudah. Sebagian ulama mengatakan belum tentu di dalam segala sisi teknologi orang-orang sekarang lebih baik dari teknologi orang-orang terdahulu. Bisa jadi mereka memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada masa kini. Contohnya, ketika membuat piramida, sphinx, dinding Zulkarnain  ataupun istana raja Namrud yang konon katanya tingginya adalah lima ribu hasta yang setara dengan 2,5 KM. Artinya teknologi yang dilakukan oleh raja Zulkarnain adalah teknologi yang luar biasa, hingga mampu menjadikan dinding besar menutupi celah-celah kedua gunung yang besar lagi tinggi dengan cairan besi dan tembaga yang sangat panas.

Ini menunjukkan teknologi yang canggih pada zaman tersebut. Karena untuk membakar gunung besi tersebut tidaklah mudah, sehingga semua partikel tersebut menyala dengan nyala yang luar biasa. Entah alat apa yang digunakan untuk membakar tumpukan besi-besi tersebut dan dengan alat apa untuk mengangkut cairan tembaga yang sudah sangat panas itu. Tentunya, tembaga tidak mungkin melebur kecuali dengan dipanaskan api yang bersuhu ratusan hingga ribuan derajat.

Setelah tembaga tersebut mencair, lalu ditumpahkan ke dalam tumpukan besi yang panas tersebut. Ini menunjukkan teknologi pada zaman tersebut sudah sangat maju, sehingga potongan besi-besi tersebut bercampur dengan cairan tembaga dan menjadi dinding yang kokoh dan kuat.

Jika di zaman sekarang saja -dengan teknologi yang canggih dan modern- tidaklah mudah menyusun besi hingga sejajar dengan dua gunung, apalagi di zaman tersebut?.

Lalu jadilah dinding campuran besa dan tembaga tersebut menjadi sangat kuat yang tidak bisa ditembusi atau dipanjat oleh Yakjuj wa Makjuj.

Allah ﷻ berfirman,

فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا

“Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 97)

Dinding besar, tebal, dan kokoh tersebut menjadikan Yakjuj dan Makjuj tidak mampu untuk menaiki atau melewatinya dan melubanginya.

Setelah itu, Zulkarnain  berkata dengan perkataan yang diabadikan di dalam firman Allah ﷻ,

قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

“Dia (Zulkarnain) berkata, “(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar.” (QS. Al-Kahfi: 98)

Dinding itu bisa berdiri karena rahmat dari Allah ﷻ. Zulkarnain  sama sekali tidak merasa sombong ataupun angkuh. Dia tidak mengatakan dinding tersebut dapat berdiri megah karena kecerdasan atau kepandaiannya. Bahkan, dia mengakui bahwa itu semua dari Allah ﷻ semata. Jika telah datang janji Allah ﷻ, maka kapan saja dinding tersebut akan dilebur oleh Allah ﷻ dan saat itulah Yakjuj dan Makjuj keluar.

Sebagian ulama berpendapat bahwasanya Zulkarnain hidup di zaman nabi Ibrahim u, dimana beliau hidup ribuan tahun sebelum zaman masehi([69]). Intinya, hal ini menunjukkan bahwa terdapat suatu zaman yang sudah sangat lama dan saat itu sudah ada Yakjuj dan Makjuj. Mereka terjebak di dalam dinding tersebut, hingga menyebabkan mereka beranak pinak. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,

إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَقَلُّ مَا يَتْرُكُ أَحَدُهُمْ لِصُلْبِهِ أَلْفًا مِنَ الذُّرِّيَّةِ

“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu paling sedikit  di antara mereka mampu meninggalkan ribuan keturunan.”([70])

Artinya mereka telah diberikan suatu batas umur dan tidaklah satu orang di antara mereka meninggal, kecuali meninggalkan anak yang sangat banyak. Mereka cepat sekali tumbuh dan berkembang biak di dalam kediaman mereka.

Pengertian Yakjuj dan Makjuj

Secara bahasa arab berasal dari kata أَجَّجَ يُؤَجِّجُ  dengan bermacam-macam makna. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah تَأَجَّجَ يَتَأَجَّجُ yaitu ‘api yang menyala-nyala’. Ada pula yang mengatakan maksudnya adalah شِدَّةُ الْمُلُوحَة   yaitu ‘asin (air laut) yang berlebihan’. Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah الْمَوْجُ  yaitu ‘gelombang yang sangat besar’ ([71]). Dilihat dari namanya yang berasal dari bahasa arab menunjukkan bagaimana sifat-sifat mereka begitu liar dan ganas.

Keberadaan Dinding Yakjuj dan Makjuj (Sadd)

Tidak ada yang mengetahui posisi dinding Yakjuj dan Makjuj tersebut. Sampai saat ini pun dinding tersebut tidak ditemukan ([72]). Sebagian orang mengingkarinya, mereka menganggap bahwa hal itu hanyalah khayalan belaka atau sebuah simbol dimana Allah ﷻ hendak menunjukkan kekuatan tertentu, yaitu dengan menampakkannya sebagai simbol Yakjuj dan Makjuj. Anggapan tersebut muncul, lantaran di alam semesta ini tidak ada hal yang menunjukkan tentang keberadaan dinding Zulkarnain. Ahlussunnah wal jama’ah meyakini bahwa Allah ﷻ memiliki kuasa untuk menutupi penglihatan manusia dari melihat itu semua, sehingga mereka tidak mampu melihat lokasi benteng yang menutupi keberadaan Yakjuj dan Makjuj.

Meskipun sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa terdapat kemungkinan daerah-daerah pegunungan tersebut terletak di daerah sekitar Kazakhstan, Uzbekistan dan daerah semisalnya, di mana penampilan orang-orang yang tinggal di sana mirip dengan orang-orang Monggol atau Turki. Terlebih lagi, pada zaman dahulu sejarah mengatakan bahwa terdapat suku yang bernama Gog Magog([73]), yang mungkin jika bahasa tersebut diarabkan menjadi Yakjuj dan Makjuj. Namun, ini hanya sekedar persangkaan belaka,  entah lokasinya di tempat tersebut atau tidak, manusia sama sekali tidak mengetahuinya. Wallahu a’lam.

Ciri-ciri Fisik Yakjuj dan Makjuj

Di antara ciri-ciri Yakjuj dan Makjuj yaang disebutkan di dalam Hadits adalah:

  • (صِغَارُ الْعُيُوْن) bermata sipit.
  • (عِرَاَضُ الْوُجُوه) berwajah lebar
  • (صُهُبُ الشُّعُوْر) rambutnya berdiri
  • (كَأَنَّ وُجُوْهَهُم المَجَانُ المُطْرَقَة) wajah mereka seperti perisai yang berkulit, artinya gempal

Disebutkan juga di dalam sebagian riwayat bahwa hidung mereka kecil. Jika dikaitkan dengan zaman sekarang, secara fisik ciri-ciri itu sama seperti orang-orang Mongolia, ada juga yang mengatakan seperti orang Turki. Disebutkan pula di dalam sebagian riwayat bahwa rambut mereka pirang.

Adapun ciri-ciri fisik lainnya yang telah disebutkan di dalam buku-buku tafsir bahwasanya tubuh mereka ada yang setinggi pohon, ada juga yang mengatakan bahwa ukuran tubuh mereka hanya sejengkal, ada juga yang mengatakan bahwa telinga mereka lebar, satu telinga mereka gunakan untuk alas tidur dan telinga yang lain digunakan untuk selimut([74]). Namun, semua ciri-ciri yang disebutkan tersebut tidaklah berdasarkan dalil. Yang benar mereka adalah manusia-manusia biasa, akan tetapi mereka memiliki sifat-sifat yang bengis.

Allah ﷻ menyebutkan di dalam firman-Nya bahwa suatu saat mereka akan keluar dari dinding tersebut. Allah ﷻ berfirman,

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

“Hingga apabila (tembok) Yakjuj dan Makjuj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya’: 96)

Ayat ini menjelaskan tentang tanda-tanda hari kiamat, dimana pada suatu hari dibukalah benteng yang menghalangi Yakjuj dan Makjuj dan mereka akan keluar dengan jumlah yang banyak ([75]). Mereka turun dari setiap tempat yang tinggi, seperti kumpulan semut-semut hitam yang turun dari tempat yang tinggi, kemudian mendatangi mangsanya. Yakjuj dan Makjuj keluar dari segala arah dengan jumlah yang sangat banyak. Jika suatu negeri berpenduduk satu milyar lebih, maka bisa jadi jumlah Yakjuj dan Makjuj lebih banyak dari mereka. Wallahu a’lam. Yang jelas, mereka disertai keturunan-keturunannya berjumlah sangat banyak seperti ombak yang datang menghantam bumi.

Pada zaman Nabi ﷺ dinding tersebut mulai terbuka, sebagaimana sabda beliau ﷺ,

وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ اليَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ، وَحَلَّقَ بِإِصْبَعَيْهِ الإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا

“Celakalah kepada orang-orang Arab dari keburukan yang semakin mendekat, (sesungguhnya) pada hari ini telah terbuka benteng akibat Yakjuj dan Makjuj dengan seukuran ini, sementara beliau (menggambarkan sebuah lubang) melingkarkan ibu jari dan jari lainnya).” ([76])

Waktu dibuka Dinding Yakjuj dan Makjuj

Dinding Yakjuj dan Makjuj akan dibuka pada hari kiamat, yaitu pada zaman diturunkannya nabi ‘Isa u. Tidak diketahui tinggi, lebar dan ketebalan dinding tersebut. Setiap hari Yakjuj dan Makjuj berusaha melubangi dinding tersebut. Setiap kali melubangi dinding itu dan melihat cahaya matahari dari lubang tersebut, maka mereka berkata kepada temannya agar melanjutkan pekerjaannya pada esok hari. Artinya hal ini menunjukkan bahwa mereka seakan-akan berada di tempat tertutup yang tidak terkena cahaya matahari. Setelah mereka berhenti dari melubangi dinding tersebut, kemudian Allah ﷻ menutupnya kembali. Begitulah setiap hari kejadian tersebut berulang-ulang. Namun, mereka tidak pernah putus asa untuk melubangi dinding tersebut, hingga akhirnya salah seorang dari mereka mengatakan, ‘Kita berhenti dan melanjutkan lagi pada esok hari, in sya Allah’. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah t, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ يَأْجُوجَ، وَمَأْجُوجَ يَحْفِرُونَ كُلَّ يَوْمٍ، حَتَّى إِذَا كَادُوا يَرَوْنَ شُعَاعَ الشَّمْسِ، قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ: ارْجِعُوا فَسَنَحْفِرُهُ غَدًا، فَيُعِيدُهُ اللَّهُ أَشَدَّ مَا كَانَ، حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ مُدَّتُهُمْ، وَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَهُمْ عَلَى النَّاسِ، حَفَرُوا، حَتَّى إِذَا كَادُوا يَرَوْنَ شُعَاعَ الشَّمْسِ، قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ: ارْجِعُوا، فَسَتَحْفِرُونَهُ غَدًا، إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، وَاسْتَثْنَوْا، فَيَعُودُونَ إِلَيْهِ، وَهُوَ كَهَيْئَتِهِ حِينَ تَرَكُوهُ، فَيَحْفِرُونَهُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى النَّاسِ فَيُنْشِفُونَ الْمَاءَ، وَيَتَحَصَّنُ النَّاسُ مِنْهُمْ فِي حُصُونِهِمْ، فَيَرْمُونَ بِسِهَامِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ، فَتَرْجِعُ عَلَيْهَا الدَّمُ الَّذِي اجْفَظَّ، فَيَقُولُونَ: قَهَرْنَا أَهْلَ الْأَرْضِ، وَعَلَوْنَا أَهْلَ السَّمَاءِ، فَيَبْعَثُ اللَّهُ نَغَفًا فِي أَقْفَائِهِمْ، فَيَقْتُلُهُمْ بِهَا

“Sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj melubanginya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat sinar matahari, pemimpin mereka berkata, ‘Pulanglah, kita akan melubanginya besok’, lalu Allah mengembalikan lubang tersebut lebih kuat dari sebelumnya, Tatkala masa mereka telah tiba dan Allah hendak mengeluarkannya kepada manusia, maka mereka melubanginya, sampai ketika mereka hampir melihat sinar matahari, pemimpin mereka berkata, ‘Pulanglah, kalian akan melubanginya lagi besok in sya Allah Ta’ala’, mereka mengucapkan in sya Allah, lalu mereka kembali ke tempat mereka melubangi, sedangkan lubang tersebut seperti keadaan terakhir ketika mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka melubanginya dan keluar kepada manusia. Mereka meminum air hingga mengering, manusia berlindung diri di benteng-benteng mereka, lalu mereka melemparkan panah-panah mereka ke langit, lalu panah-panah tersebut kembali dalam keadaan penuh berlumuran darah, lalu mereka berkata, ‘Kita telah menguasai penduduk bumi dan kita telah mengungguli penghuni langit. Maka Allah pun mengirim ulat-ulat yang menempel di leher-leher mereka, lalu ulat-ulat menghabisi mereka dengan serentak.” ([77])

Yakjuj dan Makjuj keluar menghadapi manusia dengan begitu dahsyat, kemudian melakukan kerusakan. Mereka tidak menemukan satu makhluk pun kecuali mereka merusaknya. Tidaklah mereka melewati sumber air pun di atas muka bumi, kecuali mereka habiskan. Dikarenakan mereka memiliki jumlah yang sangat banyak. Ketika kelompok dari mereka yang berada di depan melewati sungai Thabariyah/Tiberias, maka air sungai tersebut habis, hingga kelompok yang di belakang tidak mendapatkan bagian air sungai tersebut. Setelah itu, Allah ﷻ memberikan wahyu kepada nabi ‘Isa u. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis panjang yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam’an t, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى: إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي، لَا يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ، فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ، فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا، وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ: لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ

“Ketika Allah memberikan wahyu kepada nabi ‘Isa, ‘Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang mana tidak ada seorang pun yang mampu memerangi mereka, maka bawalah hamba-hamba-Ku yang saleh ke Thur’. Allah mengeluarkan Yakjuj dan Makjuj dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi, lalu kelompok dari mereka yang terdepan melewati danau Thabariyah/Tiberias, lalu mereka meminumnya, hingga kelompok yang di belakang berkata, ‘Tadi disini ada airnya’.”([78])

Thur secara bahasa memiliki makna ‘gunung yang menumbuhkan pepohonan’. Berbeda dengan جِبَال ‘gunung-gunung tanpa pohon’. Setelah itu, nabi ‘Isa u membawa semua kaum muslimin ke Thur. Jika nabi ‘Isa u  mampu melawan Dajjal, maka dengan Yakjuj dan Makjuj, beliau tidak mampu melawannya. Karena Dajjal hanya seorang diri, sedangkan Yakjuj dan Makjuj adalah sekelompok pasukan yang berjumlah sangat banyak.

Yakjuj dan Makjuj menguasai dunia. Segala yang ada di muka bumi dihancurkan oleh mereka. Mereka semakin sombong dan angkuh, karena menyangka mampu membunuh seluruh penghuni langit. Sehingga mereka berkata,

فَيَرْمُونَ بِسِهَامِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ، فَتَرْجِعُ عَلَيْهَا الدَّمُ الَّذِي اجْفَظَّ، فَيَقُولُونَ: قَهَرْنَا أَهْلَ الْأَرْضِ، وَعَلَوْنَا أَهْلَ السَّمَاءِ، فَيَبْعَثُ اللَّهُ نَغَفًا([79]) فِي أَقْفَائِهِمْ، فَيَقْتُلُهُمْ بِهَا

“Mereka melemparkan panah-panah mereka ke langit, lalu panah-panah tersebut kembali dalam keadaan penuh berlumuran darah, lalu mereka berkata, ‘Kita telah menguasai penduduk bumi dan kita telah mengungguli penghuni langit. Maka Allah pun mengirim ulat-ulat yang menempel di leher-leher mereka, lalu ulat-ulat menghabisi mereka dengan serentak.” ([80])

Tatkala mereka berada di tengah-tengah kepongahan mereka. Allah ﷻ mengirimkan ulat begitu banyak yang kemudian mengenai mereka dan dengan serentak mereka mati saat itu juga. Mereka tewas di puncak-puncak kesombongan mereka. Allah ﷻ tidak mengirimkan halilintar ataupun besi untuk menghancurkan mereka. Allah ﷻ hanya mengirimkan ulat, makhluk kecil. Mereka yang begitu pongahnya dengan kesombongan mereka, ternyata tewas akibat seekor makhluk kecil, yaitu ulat.

Begitu mereka binasa, bangkai mereka berhamburan di atas muka bumi. Hal itu membuat kaum muslimin mengeluhkannya kepada nabi ‘Isa u  agar beliau berdoa kepada Allah ﷻ, lantaran mereka tidak tahan dengan bau busuk yang bersumber dari bangkai Yakjuj dan Makjuj. Setelah itu, nabi ‘Isa u  berdoa kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ mengirimkan burung-burung yang memiliki leher seperti leher-leher unta, kemudian burung-burung tersebut membawa bangkai Yakjuj dan Makjuj dan membuangnya ke lautan. Saat itu, bumi masih kotor dengan darah dan bau busuk mereka. Nabi ‘Isa u  berdoa lagi kepada Allah ﷻ, lalu dikirimkanlah hujan oleh Allah ﷻ untuk membersihkan bumi dari kotoran-kotoran sisa bangkai dari Yakjuj dan Makjuj. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam’an t,

ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الْأَرْضِ، فَلَا يَجِدُونَ فِي الْأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلَّا مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ، فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ، فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ مَطَرًا لَا يَكُنُّ مِنْهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ، فَيَغْسِلُ الْأَرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَفَةِ

“Kemudian nabi Allah ‘Isa dan para sahabatnya turun, mereka tidak mendapati sejengkal tempat pun, melainkan telah dipenuhi bangkai dan bau busuk mereka, lalu nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada Allah, lalu Allah mengirimkan burung seperti leher unta. Burung tersebut membawanya, lalu melemparkannya seperti yang dikehendaki Allah, kemudian Allah mengirimkan hujan, tidak ada rumah dari tanah atau bulu pun yang menghalanginya, hujan tersebut membasahi bumi hingga tergenang bagaikan kaca (karena jernihnya).”([81])

Sejatinya saat ini Yakjuj dan Makjuj belum muncul, karena menurut riwayat hadis yang disebutkan bahwa mereka akan muncul setelah turunnya nabi ‘Isa u ([82]). Adapun yang mengatakan bahwa Yakjuj dan Makjuj adalah orang-orang Cina, maka itu tidaklah benar. Karena di antara mereka ada orang muslim, dan dai muslim.

Setelah itu, nabi ‘Isa u membawa kaum muslimin dan hidup selama tujuh tahun. Beliau menunaikan haji dan umrah, berhukum dengan hukum yang adil. Setelah memimpin selama tujuh tahun, beliau wafat dan disalatkan oleh kaum muslimin. Setelah beliau meninggal dunia, kerusakan-kerusakan dan kemaksiatan-kemaksiatan di atas muka bumi yang dilakukan oleh manusia terjadi kembali. Ilmu dilupakan dan terjadi tanda-tanda hari kiamat yang lain.

PERISTIWA LONGSOR / AMBLAS (الْحُسُفَاتُ الثّلَاثَة)

Adalah sebuah peristiwa amblasnya bumi atau longsor yang sangat besar. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ – فَذَكَرَ – الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

“‘(Ketahuilah) bahwasanya hari kiamat tidak akan tegak sampai kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda (besar).’ Maka beliau menyebutkan: Dukhan (asap), Dajjal, Dabbah (hewan yang bisa berbicara), terbitnya matahari dari barat, turunnya nabi ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, tiga pembenaman (amblasnya bumi): amblasnya bumi di bagian timur, amblasnya bumi di bagian barat, amblasnya bumi di Jazirah Arab dan tanda terakhirnya adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia menuju mahsyar.” ([83])

Disebutkan di dalam hadis yang lain diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

سَيَكُونُ بَعْدِي خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُخْسَفُ بِالْأَرْضِ وَفِيهِمُ الصَّالِحُونَ؟ قَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ إِذَا كَانَ أَكْثَرُ أَهْلِهَا الْخَبَثِ

“‘Akan ada setelahku (peristiwa) longsor di daerah timur, longsor di daerah barat dan longsor di daerah jazirah Arab’, lalu aku berkata, ’Wahai Rasulullah, apakah bumi akan dilongsorkan, sedangkan di dalamnya ada orang-orang saleh?’ beliau bersabda, ‘Iya, apabila penghuni buminya lebih banyak melakukan kemaksiatan’.” ([84])

Apabila sudah banyak kemaksiatan, maka akan terjadi peristiwa longsor besar yang menjadi tanda-tanda hari kiamat. Terkadang orang-orang saleh pun tertimpa dampak dari peristiwa tersebut, karena mereka tinggal di sekitar orang-orang yang berbuat kemaksiatan, namun mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya masing-masing. Akhirnya, ketika terjadi peristiwa itu, orang-orang yang berbuat maksiat tenggelam dalam peristiwa tersebut disertai orang-orang saleh di antara mereka.

Ini menjadi dalil bahwa musibah atau peristiwa-peristiwa alam yang terjadi dengan kemaksiatan sangat berkaitan. Semua peristiwa alam terjadi atas perintah Allah, Allah ﷻ berfirman,

وَما تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُها وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُماتِ الْأَرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يابِسٍ إِلاَّ فِي كِتابٍ مُبِينٍ

“Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59)

Allah sudah mengatur semua peristiwa alam yang terjadi, bahkan daun yang jatuh sekalipun, Allah telah mencatatnya di Lauhul-Mahfudz. Maka, bagaimana dengan alam semesta yang sangat besar ini? Tidak mungkin semuanya terjadi di luar kehendak Allah. Tidak mungkin pula terjadi dengan tiba-tiba tanpa ada sebab. Semuanya terjadi atas kehendak Allah. Seperti peristiwa banjir yang terjadi, wabah yang menyebar, tsunami yang menghantam atau tanah longsor atau wabah virus yang terjadi pun semua tidak sekedar kejadian alam. Semuanya telah diatur dan berjalan atas kehendak Allah, bukan kebetulan. Seluruh umat Islam mengetahui bahwa itu semua adalah kejadian alam. Akan tetapi, setiap kejadian itu pasti disertai penyebab-penyebabnya. Salah satunya adalah apabila sudah banyak orang yang melakukan kemaksiatan, maka Allah akan menimpakan azab kepada mereka.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Longsor yang terjadi bukanlah bencana longsor biasa, akan tetapi kejadian yang sangat dahsyat dan menggemparkan dunia, sehingga semua orang mengetahuinya, baik yang terjadi di daerah timur, barat atau jazirah Arab. Bisa jadi dalam satu kota atau daerah hilang akibat bencana longsor tersebut. Manusia beserta tempat tinggalnya akhirnya terbenam. Adapun bencana longsor yang terjadi pada zaman sekarang adalah bencana kecil yang bukan termasuk di antara tanda-tanda hari kiamat.

ASAP (DUKHAN)

Terdapat khilaf di antara para ulama tentang dukhan yang dimaksud.

Pertama, dukhan yang dimaksud adalah dukhan yang menimpa orang-orang Quraisy ketika Nabi ﷺ masih berada di Makkah, sedangkan orang-orang Quraisy mengintimidasi Nabi ﷺ dan para sahabat, lalu Nabi ﷺ berdoa,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ فَأَخَذَتْهُمْ سَنَةٌ حَتَّى هَلَكُوا فِيهَا، وَأَكَلُوا المَيْتَةَ وَالعِظَامَ، وَيَرَى الرَّجُلُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ

“‘Wahai Allah, tolonglah aku melawan mereka dengan (menimpakan) tujuh tahun kemarau seperti tujuh tahun kemarau yang terjadi pada zaman nabi Yusuf u,’ lalu Allah pun menimpakan kepada mereka musim kemarau sehingga mereka binasa pada tahun tersebut, mereka memakan bangkai dan tulang belulang dan sampai seseorang melihat antara langit dan bumi seakan-akan ada asap.”([85])

Peristiwa ini terjadi pada zaman Nabi r.

Kedua, Dukhon yang dimaksud yang merupakan tanda besar hari kiamat adalah dukhan yang terjadi pada hari kiamat sebagaimana firman Allah I,

يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ. يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas. Yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan: 10-11)

Ayat ini menjelaskan tentang dukhan yang akan terjadi pada hari kiamat. Karena pada ayat ini Allah menjelaskan dengan berfirman, بِدُخَانٍ مُبِينٍ ‘asap yang tampak jelas’, artinya dukhan yang akan muncul pada hari kiamat. Inilah pendapat yang benar dan dipilih oleh mayoritas ulama. Sedangkan, dukhan yang terjadi pada zaman Nabi ﷺ adalah khayalan yang dialami oleh orang-orang kafir Quraisy akibat musibah kelaparan yang menimpa mereka antara hidup dan mati, sehingga salah seorang di antara mereka seakan-akan melihat asap di antara langit dan bumi, namun sejatinya tidak ada. ([86])

Di antara sifat-sifat dukhan yang muncul pada hari kiamat adalah sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah I,

يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءِ بِدُخَانٍ مُبِينٍ. يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas. Yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan: 10-11)

Asap tersebut tampak jelas dan nyata. Di samping itu, dukhan tersebut menimpa seluruh umat manusia, dari langit sampai bumi berisi penuh dengan dukhan. Adapun dukhan yang selama ini terjadi akibat dari kebakaran hutan atau yang sejenisnya, bukanlah dukhan yang merupakan tanda-tanda hari kiamat.

Begitu juga sifat-sifat dukhan lainnya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis, bahwa Rasulullah r bersabda,

ورَبُّكُمْ أَنْذَرَكُمْ ثَلَاثًا: الدُّخَانَ، يَأْخُذُ الْمُؤْمِنَ مِنْهُ كَالزَّكْمَةِ، وَيَأْخُذُ الْكَافِرَ فَيَنْتَفِخُ وَيَخْرُجُ مِنْ كُلِّ مَسْمَعٍ مِنْهُ، وَالثَّانِيَةُ الدَّابَّةُ، وَالثَّالِثَةُ الدَّجَّالُ

“Rabb kalian telah memperingatkan kepada kalian tiga perkara: (Pertama) Dukhan yang menimpa orang yang beriman bagaikan demam (flu) dan menimpa orang kafir lalu (tubuhnya) membengkak dan keluar dari setiap telinganya. (Kedua) binatang melata yang mampu berbicara dan (ketiga) dajjal.”([87])

Demikianlah sifat dukhan yang terdapat di dalam hadis. Seluruh manusia merasakannya, termasuk orang-orang yang beriman, namun mereka hanya merasakan seperti demam atau flu biasa([88]).

TERBITNYA MATAHARI DARI BARAT

Allah berfirman,

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah, “Tunggulah! Kami pun menunggu.” (QS. Al-An’am: 158)

Ayat ini menjelaskan bahwa akan datang suatu hari, di mana iman seseorang yang sebelumnya tidak beriman maupun tidak pernah melakukan kebajikan sedikitpun, tidak berguna sama sekali. Saat itu adalah ketika matahari telah terbit dari arah barat dan pintu tobat telah ditutup. Banyak orang yang beriman, akan tetapi imannya tidak berguna. Padahal, sebelum waktu itu tiba Allah selalu membuka pintu tobat bagi siapa saja yang hendak bertobat kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari t, dari Nabi ﷺ,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang bermaksiat di siang hari bertobat dan membentangkan tangan-Nya di siang hari, agar orang yang bermaksiat di malam hari bertobat kepada-Nya, hingga matahari terbit dari arah barat.”([89])

Para ulama menjelaskan bahwa Allah menerima tobat, kecuali dalam dua keadaan, dimana Allah tidak akan menerima tobat hamba-Nya. Pertama, ketika ruh berada di kerongkongan. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ، مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama ruhnya masih berada di kerongkongan.”([90])

Ketika seseorang meninggal dan ruhnya melewati kerongkongannya, maka tidak ada lagi tobat baginya. Kedua, yaitu ketika matahari terbit dari arah barat, maka tobat seseorang tidak bermanfaat dan tidak akan diterima oleh Allah([91]).

Terbitnya matahari dari arah barat adalah kejadian yang sangat dahsyat yang menandakan bahwa langit akan mengalami perubahan. Para ulama menyebutkan bahwa munculnya Dajjal dan turunnya nabi ‘Isa u menunjukkan perubahan di atas muka bumi. Sedangkan, terbitnya matahari dari barat menunjukkan perubahan besar di langit.

HEWAN YANG MAMPU BERBICARA (DABBAH)

Allah I  berfirman,

وَإِذا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كانُوا بِآياتِنا لا يُوقِنُونَ

“Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk bergerak yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (QS. An-Naml: 82)

Ketika ancaman Allah tiba kepada orang-orang kafir, maka Allah akan mengeluarkan hewan tersebut. Tidak ada satupun dari manusia yang mengetahui bagaimana hewan-hewan tersebut berbicara kepada manusia. Hewan-hewan tersebut akan keluar ketika terjadi kerusakan di tengah-tengah manusia, karena mengabaikan ayat-ayat Allah I ([92]). Disebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah r bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ الْآيَاتِ خُرُوجًا، طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى، وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا، فَالْأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيبًا

“Sesungguhnya tanda yang pertama kali keluar adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya hewan pada waktu dhuha, mana saja di antara keduanya yang keluar lebih dahulu, maka akan disusul tanda lainnya dengan masa yang sangat dekat.”([93])

Bisa jadi yang akan keluar lebih dahulu adalah hewan yang dapat berbicara, kemudian disusul munculnya matahari dari barat atau sebaliknya, akan muncul matahari dari barat terlebih dahulu, kemudian pada waktu dhuha muncul hewan tersebut. Ketika matahari muncul dari barat, orang-orang banyak yang beriman, kemudian hewan tersebut muncul dan berbicara,

أَنَّ النَّاسَ كانُوا بِآياتِنا لا يُوقِنُونَ

“Manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.”

Artinya saat itu iman mereka tidak bermanfaat ataupun berguna sama sekali. Keadaan saat itu sangat rusak. Di antara tugas hewan tersebut adalah berbicara dan memberi tanda atau cap kepada manusia. Sebagaimana hadis riwayat Abu Umamah t, Rasulullah ﷺ bersabda,

تَخْرُجُ الدَّابَّةُ فَتَسِمُ النَّاسَ عَلَى خَرَاطِيمِهِمْ، ثُمَّ يَغْمُرُونَ فِيكُمْ حَتَّى يَشْتَرِيَ الرَّجُلُ الْبَعِير فَيَقُولُ مِمَّنْ اشْتَرَيْتَهُ؟ فَيَقُولُ: اشْتَرَيْتُهُ مِنْ أَحَدِ الْمُخَطَّمِينَ

“Dabbah akan keluar, lalu memberi tanda kepada manusia pada hidung-hidung mereka, kemudian mereka akan memenuhi kalian, sehingga seseorang membeli unta dan berkata, ‘Dari mana kau membelinya?’ lalu dia berkata, ‘Aku membelinya dari salah satu orang yang memiliki tanda pada hidungnya’.” ([94])

Adapun mengenai bentuknya, tempat keluarnya atau sifat-sifat secara detailnya tidak ada dalil shahih yang menjelaskan tentang hal itu.

API YANG MENGGIRING MANUSIA ([95])

Ketika telah banyak kerusakan di tengah-tengah manusia dengan kemaksiatan-kemaksiatannya dan keburukan yang tersebar dimana-mana. Akhirnya, keluarlah api menjelang hari kiamat. Sebagaimana hadis,

وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

“Yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman, mendorong manusia menuju tempat berkumpul mereka.”([96])

Disebutkan di dalam riwayat yang lain, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنِ تُرَحِّلُ النَّاسَ

“Api keluar dari dalam kota ‘Adn yang menggiring manusia.” ([97])

Api yang keluar ini merupakan tanda-tanda yang terakhir menjelang hari kiamat sebelum ditiupkannya sangkakala. Adapun bagaimana gambaran manusia berkumpul di tempat mereka berkumpul (mahsyar([98])), ada beberapa golongan.

  • Pertama, kelompok yang semangat dan gembira menuju tempat tersebut, di antara mereka ada yang menaiki kendaraan.
  • Kedua, kelompok yang terkadang berjalan dan terkadang naik kendaraan
  • Ketiga, kelompok yang enggan berjalan, bisa jadi mereka adalah para pelaku maksiat. Karena mereka tidak mau beranjak untuk pergi, maka api yang akan mendorong mereka untuk menuju tempat berkumpul.

Berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah t, dari Nabi ﷺ bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى ثَلاَثِ طَرَائِقَ: رَاغِبِينَ رَاهِبِينَ، وَاثْنَانِ عَلَى بَعِيرٍ، وَثَلاَثَةٌ عَلَى بَعِيرٍ، وَأَرْبَعَةٌ عَلَى بَعِيرٍ، وَعَشَرَةٌ عَلَى بَعِيرٍ، وَيَحْشُرُ بَقِيَّتَهُمُ النَّارُ، تَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا، وَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا، وَتُصْبِحُ مَعَهُمْ حَيْثُ أَصْبَحُوا، وَتُمْسِي مَعَهُمْ حَيْثُ أَمْسَوْا

“Manusia akan dikumpulkan menjadi tiga golongan, (golongan pertama) semangat berharap (surga) dan takut (neraka), (golongan kedua) dua orang menaiki satu unta, tiga orang menaiki satu unta, empat orang menaiki satu unta dan sepuluh orang menaiki satu unta, (golongan ketiga) adalah orang-orang yang tersisa yang digiring oleh api, dia selalu bersama mereka setiap kali mereka berhenti/istirahat di siang hari, malam hari, pagi hari dan sore hari.” ([99])

Hadis ini menjelaskan bahwa api tersebut selalu menempel dan menggiring mereka terus menerus. Setiap kali mereka berhenti untuk istirahat ataupun tidur di waktu malam, maka api tersebut juga ikut berhenti mengejar mereka dan kemanapun mereka pergi. Api tersebut selalu mengikutinya, baik di waktu siang, malam, pagi maupun petang, hingga mereka tiba di tempat berkumpul mereka.

Sebelum tiba hari kiamat, Allah I  akan mengirimkan angin. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam’an t, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذْ بَعَثَ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ، يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

“Tiba-tiba Allah mengirimkan angin yang baik, lalu angin tersebut masuk ke bawah ketiak-ketiak orang-orang beriman, lalu mengambil ruh dari setiap orang yang beriman dan setiap muslim. Yang tersisa adalah orang yang paling buruk, mereka berbuat kerusakan/huru-hara layaknya keledai, di tengah-tengah merekalah hari kiamat terjadi.” ([100])

Maka dari itu tidaklah tegak hari kiamat, kecuali di tengah-tengah orang-orang yang paling buruk. Setelah itu, ditiupkan sangkakala dan mereka semua menyaksikan bagaimana hari kiamat ditegakkan. Itulah tanda-tanda besar hari kiamat hingga tiba waktu ditiupkan sangkakala.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________
([1]) HR. Muslim no. 2901

([2]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 246-247

([3]) HR. Muslim no. 2941

([4]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 417-418

([5]) HR. Bukhari no. 6522

([6]) Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Hajar 13/84

([7]) Lihat: At-Tadzkirah karya Al-Qurthubi 1/1267

([8]) Fath al-Bari karya Ibnu Hajar 11/352-353

([9]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 259

([10]) HR. Bukhari no. 3449 dan Muslim no. 155

([11]) Lihat: Fath al-Bari Li Ibnu Hajar 6/494

([12]) HR. Abu Daud no. 4282, hadis hasan sahih menurut Al-Albani.

([13]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 249

([14]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 270

([15])  Menurut mereka Imam mahdi lahir pada tahun 255 H dan keimamahan beliau dimulai sejak tahun 260 H sampai saat ini. [lihat: https://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/index.php/s13-berita/kabar-gembira-kemunculan-imam-mahdi-as-dalam-hadis-6-6/ ]

([16]) Tempat untuk persembunyian Imam Mahdi menurut orang-orang Syi’ah (lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 251)

([17]) Lihat penjelasan akan hal ini di buku penulis yang lain “33 Banyolan Aqidah Syiáh”

([18]) HR. Abu Daud no. 4285 dan dihasankan oleh Al-Albani

([19]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 250

([20]) Lihat: An-Nihayah Fi Gharib Al-Hadits 1/290

([21]) Lihat: An-Nihayah Fi Gharib Al-Hadits 4/116

([22]) Lihat: An-Nihayah Fi Gharibil Hadits karya Ibnu Al-Atsir 2/102

([23]) Lihat: An-Nihayah Fi Gharibil Hadits karya Ibnu Al-Atsir 4/326-327

([24]) HR. Muslim no. 2942

([25]) HR. Muslim no. 2927

([26]) HR. Muslim no. 2927

([27]) HR. Muslim no. 2932

([28]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 298-305

([29]) HR. Muslim no. 2944

([30]) HR. Muslim no. 2937

([31]) HR. Muslim no. 2937

([32]) HR. Bukhari no. 1881 dan Muslim no. 2943

([33]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 314

([34]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 313

([35]) HR. Muslim no. 2937

([36]) HR. Muslim no. 2937

([37]) HR. Muslim no. 2937

([38]) HR. Ibnu Majah no. 4077 dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 7875

([39]) HR. Muslim no. 2937

([40]) HR. Muslim no. 2934

([41]) HR.  Bukhari no. 7128

([42]) HR. Bukhari no. 7131

([43]) HR. Bukhari no. 7407

([44]) HR.  Abu Dawud no. 4320,  dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar dalam Hidayah ar-Ruwat (5/137) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih sunan Abi Dawud.

([45]) HR. Muslim no. 2934

Ketika penulis masih duduk di bangku SMA (sekitar tahun 95-an) pernah muncul seseorang bernama Saibaba dari India. Sehingga, sebagian orang pernah membuat sebuah buku bahwa Dajjal telah muncul di India, yang membuat kepanikan. Dia memiliki rambut kribo seperti Dajjal. Ia memiliki kesaktian bisa mengeluarkan emas dari tangannya atau dari mulutnya. Namun, tidak sepantasnya hanya karena bentuk rambutnya yang kribo, kemudian dikatakan sebagai Dajjal. Di samping itu, sebagian orang ada yang saling membantah, kenapa matanya tidak buta. Lalu, sebagian yang lain tetap bersikukuh menyatakan Shaibaba adalah Dajjal meski matanya normal dengan berkilang mengatakan bahwa hal itu (cacat matanya) masih dalam proses. Ternyata sekarang Saibaba telah meninggal (pada tanggal 24 April 2011), sehingga bisa dipastikan ia bukanlah Dajjal.

([46]) HR. Bukhari no. 1881

([47]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 312

([48]) HR. Ahmad no. 5353 dan Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan

([49]) HR. Abu Daud no. 4319 dan Ahmad no. 19875 dan disahihkan oleh Al-Albani

([50]) HR. Bukhari no. 7132 dan Muslim no. 2938

([51]) Lihat redaksi hadis lengkapnya di Shahih Musim no. 2938

([52]) HR. Bukhari no. 7311

([53]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 340

([54]) HR. Muslim no. 2937

([55]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 337-340

([56]) HR. Muslim no. 2937

([57]) Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda,

رَأَيْتُ عِيسَى ومُوسَى وَإِبْرَاهِيمَ، فَأَمَّا عِيسَى فَأَحْمَرُ جَعْدٌ عَرِيضُ الصَّدْرِ

“Aku melihat ‘Isa, Musa dan Ibrahim ‘alaihimussalam. Adapun ‘Isa, dia adalah seseorang yang kemerah-merahan, tegap (padat) serta bidang dadanya.” (HR. Bukhari no. 3438)

Disebutkan juga di dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda,

لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ – يَعْنِي عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ: رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ، بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ، كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ، وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ، فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الْإِسْلَامِ، فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ، وَيُهْلِكُ اللَّهُ فِي زَمَانِهِ الْمِلَلَ كُلَّهَا إِلَّا الْإِسْلَامَ، وَيُهْلِكُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ، فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

“Tidak ada nabi antara masa kenabianku dengannya -yaitu ‘Isa ‘alaihissalam-. Sesungguhnya dia akan turun. Jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia. Beliau adalah seorang lelaki yang sedang (tidak terlalu tinggi ataupun pendek), berkulit kemerah-kemerahan dan keputih-putihan, memakai dua baju yang berwarna sedikit kuning, seakan-akan (rambut) meneteskan (air), meskipun tidak basah. Beliau akan memerangi manusia agar mereka masuk Islam, menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti). Pada masa beliau, Allah akan menghancurkan semua agama kecuali agama Islam, beliau akan membunuh Dajjal, lalu tinggal di muka bumi selama empat puluh tahun, kemudian Allah akan mewafatkannya, lalu kaum muslimin mensalatinya.” (HR. Abu Dawud no. 4324 dan Ahmad no. 9632 dan disahihkan oleh Al-Albani)

([58]) HR. Ibnu Majah no. 4077 dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 7875

([59]) HR. Muslim no. 156

([60]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 340-341

([61]) HR. Ibnu Majah no. 4077 dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 7875

([62]) Lihat : Faidh al-Qadir karya Al-Munawi (6/463).

([63]) HR. Bukhari no. 3448

([64]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 355-357

([65]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 363-364

([66]) HR. Abu Dawud no. 4324 dan Ahmad no. 9632 dan disahihkan oleh Al-Albani

Maksudnya 40 tahun beserta umur beliau ketika diangkat ke langit oleh Allah.

([67]) Ada yang mengatakan bahwa Ya’juj dan Ma’juj bukan dari Hawa’. Akan tetapi mereka berasal dari air mani nabi Adam yang telah mimpi basah dan bercampur dengan pasir. Ini adalah cerita yan tidak benar. (Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 366)

([68]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 375-376\

([69]) Lihat : Taj al-Arus karya Murtadho Az-Zabidi (35/537)

([70]) HR. Ibnu Hibban no. 6828 dan dinyatakan dhaif oleh Al-Albani dalam Ad-dhaifah no. 4142

([71]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 365-366

([72]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 375-376

([73]) Kisah Gog dan Magog maupun legenda Gerbang Aleksander juga muncul dalam Roman Aleksander. Menurut salah satu versi Roman Aleksander, “Goth dan Magothi” adalah raja-raja pemimpin bangsa-bangsa najis yang dihalau Aleksander ke daerah di balik sebuah celah gunung. Aleksander kemudian menemboki celah gunung itu untuk mencegah mereka keluar dan menganiaya bangsa-bangsa lain. Di dalam Roman Aleksander dan karya-karya sastra turunannya, Gog dan Magog dicitrakan sebagai bangsa-bangsa pemangsa manusia. [https://id.wikipedia.org/wiki/Gog_dan_Magog]

([74]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 368-369

([75]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 370

([76]) HR. Bukhari no. 7135

([77]) HR. Ibnu Majah no. 4080 dan disahihkan oleh Al-Albani

([78]) HR. Muslim no. 2937

([79]) Naghaf adalah semacam ulat yang ada di hitung unta dan mengakibatkan penyakit bagi unta tersebut. (Lihat: Syarh An-Nawawi ‘Ala Muslim 18/69)

([80]) HR. Ibnu Majah no. 4080 dan disahihkan oleh Al-Albani

([81]) HR. Muslim no. 2937

([82]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 379

([83]) HR. Muslim no. 2901

([84]) HR. Ath-Thabrani no. 3647 di dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Ausath

([85]) HR. Bukhari no. 4774

([86]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 383-385

([87]) Al-Mu’jam Al-Kabir Li Ath-Thabrani no. 3440, diriwayatkan juga oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Hibban dan disebutkan juga oleh Al-Albani di Ash-Shahihah no. 1331

([88]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 386

([89]) HR. Muslim no. 2759

([90]) HR. Ahmad no. 6160, Tirmidzi no. 3537 dan Ibnu Majah no. 4253 dan dihasankan oleh Al-Albani

([91]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 399-402

([92]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 403

([93]) HR. Muslim no. 2941

([94]) HR. Ahmad no. 22308 dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah 1/639

([95]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 417

([96]) HR. Muslim no. 2901

([97]) HR. Ahmad no. 16143 dan Ath-Thabrani no. 3048 di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir

([98]) Mahsyar yaitu tempat berkumpulnya manusia karena didorong oleh api sebelum tibanya hari kiamat, bukan padang mahsyar, sebagaimana pendapat yang benar dari para ulama.

([99]) HR. Bukhari no. 6522

([100]) HR. Muslim no. 2937. Disebutkan di dalam riwayat lain dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ

“Kemudian Allah mengutus angin yang baik, lalu wafatlah setiap orang yang di dalam hatinya terdapat iman meskipun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 2907)