Alam Malaikat – Iman Kepada Malaikat 2

Mengenal Alam Malaikat

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Definisi malaikat

A. Secara bahasa

Secara bahasa, ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang asal kata malaikat.

Pendapat pertama mengatakan bahwasanya المَلَائِكَةُ (malaikat) merupakan bentuk plural, adapun bentuk singularnya adalah الْمَلَكُ. Adapun kata الْمَلَكُ terdiri atas م, ل, dan ك yang artinya adalah الْأَخْذُ بِالْقُوَّةِ (mengambil dengan kuat), sehingga maknanya kembali kepada makna “Kuat”. Oleh karenanya kata الملائكة kembali kepada makna “Makhluk yang kuat”([1]). Oleh karenanya ketika Allah ﷻ berbicara tentang neraka, Allah ﷻ berfirman,

عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Di neraka ada malaikat-malaikat yang kasar, dan kuat, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Demikian juga firman Allah tentang Jibril álaihis salam :

ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ

“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ´Arsy” (QS At-Takwir : 20)

Pendapat kedua mengatakan bahwa الْمَلَكُ berasal dari الْمَأْلَك yang merupakan wazan أَفعَلَ, dan kata tersebut berasal dari kata أَلَكَ-الْأَلُوكَ yang artinya adalah الرِّسَالَةُ (utusan)([2]). Oleh karenanya malaikat disebut sebagai malaikat karena mereka adalah para utusan Allah ﷻ. Contoh seperti firman Allah ﷻ,

إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya.” (QS. Al-An’am: 61)

Dalam ayat ini Allah ﷻ menamakan malaikat dengan رُسُلُنَا (utusan Kami). Contoh lagi seperti firman Allah ﷻ,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathir: 1)

Contohnya lagi seperti firman Allah ﷻ,

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Allah memilih para utusan-Nya dari para malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Hajj: 75)

Pendapat yang lebih kuat dari kedua pendapat di atas adalah pendapat kedua, yaitu bahwasanya kata malaikat maknanya adalah utusan.([3])

B. Secara istilah

Malaikat secara istilah adalah makhluk Allah yang tercipta dari cahaya([4]), tidak ada yang tahu jumlah mereka kecuali Allah, dan mereka ditugaskan untuk beribadah dan mengurus alam.([5])

Nama-nama malaikat([6])

Pembahasan mengenai nama-nama malaikat bisa kita klasifikasikan menjadi dua pembahasan:

A. Nama-nama umum

Contoh-contoh nama-nama secara umum ada banyak. Di antaranya:

  • Allah ﷻ menyebut malaikat dengan sebutan الملائكةُ sebagaimana datang dalam banyak ayat.
  • Allah ﷻ menyebut dengan sebutan المَلَكُ, seperti dalam firman-Nya,

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

Dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr: 22)

  • Allah ﷻ menyebut malaikat dengan sebutan الْمَلَأُ الْاَعلَى yang maksudnya adalah “Sekelompok yang tinggi”. Hal ini sebagaimana datang dalam hadis qudsi, di mana Allah ﷻ berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan (kelompok), maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan (kelompok) yang lebih baik daripada mereka.”([7])

Perkumpulan di sini maksudnya adalah perkumpulan malaikat, karena perkumpulan malaikat lebih baik daripada kelompok manusia.

  • Di antara nama malaikat adalah الْمُقَرَّبُوْنَ (yang didekatkan kepada Allah) sebagaimana firman Allah ﷻ,

لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا

Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan begitu pula para malaikat yang terdekat (kepada Allah). Dan barang siapa enggan menyembah-Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.” (QS. An-Nisa’: 172)

  • Allah ﷻ menyebut malaikat dengan sebutan السَّفَرَةُ yang artinya juga utusan.
  • Allah ﷻ menyebut malaikat dengan sebutan الْأَشْهَاد yang artinya menjadi saksi. Seperti firman Allah ﷻ,

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat).” (QS. Ghafir: 51)

Demikian juga firman Allah dalam ayat yang lain,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata, ‘Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap Tuhan mereka’. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim.” (QS. Hud: 18)

Para saksi yang dimaksud dalam dua ayat ini adalah para malaikat.

  • Malaikat juga disebut dengan sebutan الرُّسُلُ yang artinya juga para utusan. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) itu datang kepada Luth, dia merasa curiga dan dadanya merasa sempit karena (kedatangan)nya. Dia (Luth) berkata, ‘Ini hari yang sangat sulit’.” (QS. Hud: 77)

Inilah beberapa nama-nama umum dari malaikat.

Perhatian : Meskipun para malaikat dekat dengan Allah karena disifati dengan الْمَلَأُ الْاَعلَى (sekelompok yang tinggi) dan الْمُقَرَّبُوْنَ (yang didekatkan kepada Allah), bahkan ada malaikat yang ditugaskan mencatat taqdir manusia, akan tetapi asalnya malaikat tidak mengetahui ilmu ghaib kecuali yang diberitahu oleh Allah. Allah berfirman :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا، إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya” (QS Al-Jinn : 26-27)

Para rasul yang diberi tahu ilmu ghaib tersebut mencakup para rasul dari kalangan manusia dan kalangan malaikat([8]).

Allah juga berfirman :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ، وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ، قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ، قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? (QS Al-Baqoroh : 30-33)

Sangat jelas bahwa para malaikat tidak mengetahui apa yang diketahui oleh Adam berupa ilmu tentang nama-nama, terlebih lagi tentang apa yang diketahui oleh Allah. Karenanya malaikat tidak tahu apa hikmahnya Adam dan manusia diciptakan di atas muka bumi sementera mereka akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah.

Diantara dalil yang menunjukan bahwa malaikat tidak tahu ilmu ghaib adalah hadis tentang Jibril yang menemani Nabi untuk mikraj (naik ke langit). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :

فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: قِيلَ: مَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Akupun berangkat bersama Jibril, hingga kami tiba di langit dunia. Maka dikatakan, “Siapa ini?”. Jibril berkata, “Ini Jibril”. Dikatakan (oleh malaikat penjaga pintu langit), “Siapa yang bersamamu?”. Jibril berkata, “Muhammad”. Dikatakan, “Apakah telah ditutus kepadanya?”. Jibril berkata, “Iya” ([9]).

Lihatlah malaikat tidak tahu siapa yang bersama Jibril, dan juga tidak tahu apakah Nabi telah diutus atau belum. Al-Qurthubi berkata :

وَ(قَوْلُهُ: وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟) هُوَ اسْتِفْهَامٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ عَنْ بَعْثِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَإِرْسَالِهِ إِلَى الْخَلْقِ، وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ عِلْمٌ مِنْ وَقْتِ إِرْسَالِهِ؛ لِكَوْنِهِمْ مُسْتَغْرِقِيْنَ بِالْعِبَادَةِ لاَ يَفْتُرُوْنَ عَنْهَا

“Sabda Nabi (Apakah telah ditutus kepadanya?) merupakan pertanyaan dari para malaikat tentang diutusnya Nabi shallallahu álaihi wasallam dan diutusnya Nabi kepada manusia. Ini menunjukan bahwa mereka tidak memiliki ilmu tentang kapan diutusnya Nabi, karena mereka sedang sibuk beribadah yang dimana mereka tidak pernah lelah beribadah” ([10])

Demikian juga sabad Nabi berikut :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا، يَقُولُ: يَا رَبِّ نُطْفَةٌ، يَا رَبِّ عَلَقَةٌ، يَا رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ: أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى، شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ، فَمَا الرِّزْقُ وَالأَجَلُ، فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla menugaskan malaikat ke rahim. Malaikat berkata, “Ya Robbku, ada nuthfah di rahim, Ya Rabbku sudah menjadi ‘alaqoh, Ya Robbku sudah menjadi mudhghoh, maka ketika Allah hendak menetapkan penciptaannya maka malaikat bertanya, “Ya Rabb, lelaki apa wanita?, celaka apa bahagia?, apa rizkinya, kapan ajalnya?”, maka dicatat di perut ibunya” ([11])

b. Nama-nama khusus

Nama-nama khusus malaikat ada yang dalam bentuk jamak dan ada pula yang dalam bentuk mufrad (tunggal). Contoh jamak di antaranya:

  • Disebut الزَّبانِيَةُ. Sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,

سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ

Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniah.” (QS. Al-‘Alaq: 18)

Zabaniah artinya adalah malaikat yang menolak atau mendorong orang-orang pendosa dengan keras untuk masuk ke dalam neraka.

  • Disebut dengan الْمُعَقِّبَاتُ. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

  • Disebut juga dengan الْحَفَظَةُ, yaitu malaikat para pencatat.
  • Disebut juga dengan سَيَّاحُوْنَ, yaitu malaikat yang berjalan ke mana-mana (berkelana). Sebagaimana dalam hadis,

إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ، يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ

Sesungguhnya Allah U memiliki malaikat di bumi yang senantiasa berkeliling untuk menyampaikan kepadaku salam dari umatku.”([12])

  • Disebut juga dengan الرَّعْدُ. Hal ini sebagaimana datang dalam firman Allah ﷻ, dan diajarkan dalam hadis Nabi ﷺ sebagai doa yang dibaca ketika mendengar petir, yaitu Allah ﷻ berfirman

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ

Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 13)

Para ulama khilaf tentang nama ini, namun karena ini datang dalam Al-Qur’an maka kita sebutkan. Dan Wallahu a’lam, apakah nama ini merupakan bentuk jamak atau mufrad.

Adapun contoh-contoh bentuk mufrad di antaranya,

  • Ada yang bernama الْمُنكَرُ والنَّكِيرُ, yaitu sebutan untuk dua malaikat yang bertanya di alam kubur (barzakh). Selain nama ini, kedua malaikat ini juga disebut dengan Al-Fattan, yaitu malaikat pemberi fitnah (ujian) di alam barzakh.
  • Ada yang bernama هَارُوتَ ومَارُوت, yaitu sebutan untuk dua malaikat yang Allah ﷻ utus sebagai ujian, di mana mereka mengajarkan ilmu sihir, namun mengingatkan para manusia untuk tidak kufur kepada Allah ﷻ. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

Dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, sebab itu janganlah kafir’.” (QS. Al-Baqarah: 102)

  • Ada yang bernama مَالِكُ, yaitu sebutan bagi malaikat penjaga neraka. Dalam Al-Qur’an Allah ﷻ berfirman,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

Dan mereka berseru, ‘Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja’. Dia menjawab, ‘Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (QS. Az-Zukhruf: 77)

  • Ada yang bernama مَلَكُ الْمَوْتِ, yaitu sebutan bagi malaikat pencabut nyawa.
  • Di antara nama yang paling tidak asing adalah جِبْرِيْلٌ, yaitu malaikat pembawa wahyu. Selain nama ini, malaikat Jibril juga memiliki nama yang lain, di antaranya adalah ([13])جِبرَائِيل, ([14])رُوحُ القُدُس , dan juga الرُّوح ([15]). Sebutan Ar-Ruh bagi Jibril berdasarkan firman Allah ﷻ,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

Pada malam itu turun para malaikat dan Ar-Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.” (QS. Al-Qadr: 4)

  • Di antara nama malaikat adalah مِيْكَائِيْلٌ, yaitu malaikat yang ditugaskan untuk mengatur hujan.
  • Di antara nama malaikat adalah اِسْرَافِيْل, yaitu malaikat yang ditugaskan untuk meniup sangkakala.

Tiga nama malaikat terakhir, yaitu Jibril, Mikail, dan Israfil adalah malaikat spesial, karena mereka adalah malaikat-malaikat yang berkaitan langsung dengan kehidupan. Malaikat Jibril spesial karena membawah ruh, dan itulah mengapa dia disebut Ar-Ruh karena dia membawa ruh, yaitu dengan adanya Al-Qur’an dan wahyu, maka seseorang akan merasa bahwa hidup ini memiliki makna, adapun seseorang yang badannya sehat, namun tidak ada rohani atau wahyu, maka dia seperti hewan, hampa dan mati. Kemudian malaikat Mikail berhubungan dengan kehidupan karena tugasnya adalah untuk mengatur hujan, sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan juga memberi kehidupan kepada hewan-hewan. Adapun malaikat Israfil berkaitan dengan kehidupan karena tugasnya adalah membangkitkan seseorang dari kehidupan di alam barzakh, dimana ruh dikembalikan lagi ke jasad. Oleh karenanya ketika salat malam, Nabi ﷺ menyebutkan tiga nama malaikat ini. Dalam salatnya beliau berkata,

اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Maha pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku jalan keluar yang benar dari perselisihan mereka, sesungguhnya Engkau Maha pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki.”([16])

Ibnu Abil Ízz al-Hanafi mengomentari doa ini:

فَالتَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ بِرُبُوبِيَّةِ هَذِهِ الْأَرْوَاحِ الْعَظِيمَةِ الْمُوَكَّلَةِ بِالْحَيَاةِ، لَهُ تَأْثِيرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ الْمَطْلُوبِ

“Maka bertawassul kepada Allah dengan rububiyah (penguasa) tiga ruh yang agung ini (Jibril, Mikail, dan Israfil) yang ditugaskan membawa kehidupan, akan memberikan pengaruh yang besar untuk meraih yang dimohon” ([17])

c. Nama-nama yang tidak datang dalam dalil yang sahih

Terdapat nama-nama malaikat yang tidak datang dalam dalil-dalil yang sahih. Di antara nama-nama tersebut antara lain:

  • Malaikat رِضْوَان, yaitu nama bagi malaikat penjaga surga. Nama ini terkenal di kalangan umat Islam, akan tetapi hal ini tidak ada dalil yang sahih dari Nabi ﷺ. Adapun dalil yang menyebutkan tentang malaikat penjaga surga adalah firman Allah ﷻ yang berbunyi,

وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا…

Dan penjaga-penjaga pintu surga berkata…” (QS. Az-Zumar: 73)

  • Malaikat عِزْرَائِيْل, yaitu nama bagi malaikat maut. Nama ini juga tidak datang dalam ayat Al-Qur’an maupun dalil-dalil yang sahih, yang benar adalah مَلَكُ الْمَوْتِ, sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Katakanlah, ‘Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan’.” (QS. As-Sajdah: 11)

  • Ada yang mengatakan nama malaikat adalah اِسْمَاعِيلٌ, namun kita katakan pula bahwa nama ini tidak memiliki landasan dalil yang sahih. ([18])

Hukum memberi nama anak dengan nama malaikat

Para ulama khilaf dalam permasalahan ini. Namun secara umum, hukum memberi anak dengan nama malaikat terdiri dari dua kondisi,

Kondisi pertama: Memberi nama malaikat kepada wanita (anak perempuan).

Para ulama menyebutkan bahwasanya zahir dari perbuatan ini hukumnya haram([19]), karena menyerupai akidah kaum musyrikin, yang mereka menamakan malaikat sebagai putri-putri Allah ﷻ. Sebagaimana telah kita sampaikan di awal pembahasan bahwasanya Allah ﷻ telah berfirman,

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu sebagai anak perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka dan akan dimintakan pertanggungjawaban.” (QS. Az-Zukhruf: 19)

Maka jika kita menamakan anak perempuan dengan nama-nama malaikat, maka seakan-akan kita menyetujui orang-orang musyrikin yang menyatakan bahwa malaikat adalah putri-putri Allah.

Kondisi kedua: Memberi nama malaikat kepada laki-laki (anak laki-laki).

Memberi nama malaikat kepada anak laki-laki, maka ada khilaf dalam hal ini di kalangan para ulama.

Pendapat pertama: Makruh. Di antara ulama yang mengatakan bahwa hukum hal ini makruh adalah Imam Malik ﷺ dan ulama yang lainnya([20]). Mereka berdalil riwayat dari ‘Umar bin Khattab h([21]). Hukum hal ini menjadi makruh karena bisa jadi seseorang yang menamakan anaknya dengan nama malaikat, kemudian mungkin dia dicaci maki oleh orang lain, sehingga terjadilah pencacian terhadap malaikat. Oleh karenanya sebagian ulama seperti Imam Malik ﷺ mengatakan bahwa hendaknya perkara ini (menamakan anak laki-laki dengan nama malaikat) dijauhi.

Pendapat kedua: Boleh. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas para ulama([22]). Adapun dalil mereka cukup banyak. Di antaranya kias dengan bolehnya seseorang menamakan anaknya dengan nama para nabi dan orang saleh, bukankah Nabi ﷺ menamakan anaknya dengan nama Ibrahim? Bahkan Nabi ﷺ juga bersabda dalam riwayat yang lain,

تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلاَ تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي

Berikanlah nama dengan namaku dan jangan dengan berkunyah (berjulukan) dengan kunyahku([23]).”([24])

Demikian pula syariat terdahulu, di mana Bani Israil membolehkan menamakan anak-anak mereka dengan nama-nama orang saleh. Seperti firman Allah ﷻ,

يَاأُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

Wahai saudara perempuan Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.” (QS. Maryam: 28)

Kita tahu bahwasanya zaman Nabi Harun u jauh sebelum Nabi Isa u, namun ketika para sahabat bertanya tentang penamaan ini, maka Nabi ﷺ menjawab,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

Sesungguhnya dahulu mereka memberi nama dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang saleh dari kaum sebelum mereka.”([25])

Dari sini kita tahu bahwa jika kita boleh memberi nama anak dengan nama-nama para nabi, dan nama-nama tersebut juga masih memiliki kemungkinan untuk dicela, maka demikian juga dengan nama-nama malaikat.

Inilah sedikit pembahasan tentang hukum boleh atau tidaknya seseorang memberi nama anaknya dengan nama malaikat. Adapun yang rajih (lebih kuat) bahwasanya boleh seseorang menamakan anaknya dengan nama-nama malaikat. Akan tetapi kita katakan bahwa menamakan dengan ini bukanlah sesuatu yang utama, karena yang lebih utama adalah menamakan dengan nama-nama para nabi, dan itu pulalah kebiasaan para salaf.

Timbul pertanyaan, bukankah Imam Malik ﷺ berpendapat bahwa nama malaikat pada diri seseorang adalah makruh? Lantas kenapa Imam Malik menggunakan nama malaikat? Para ulama menjelaskan bahwasanya nama Malik pada nama Imam Malik bukanlah nama malaikat, akan tetapi kebetulan nama beliau adalah Malik, dan nama Malik juga suda ada dalam bahasa Arab sebelum datangnya Islam.([26])

hukum memberi nama anak dengan nama malaikat

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Lihat: Mu’taqad firaq al-Muslimin wa al-Yahud wa an-Nashara wa al-Watsaniyin fi Al-Malaikah Al-Muqarrabin karya Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil hal. 14

([2]) Lihat: Mu’taqad firaq al-Muslimin wa al-Yahud wa an-Nashara wa al-Watsaniyin fi Al-Malaikah Al-Muqarrabin karya Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil hal. 14 dan Tafsir Al-Qurthubi (1/262)

([3]) Menurut syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil bahwa makna ‘utusan’ lebih tepat dari sisi bahasa dan maknanya, adapun asal kata yang lainnya merupakan sifat dari malaikat dan bukan merupakan makananya [Mu’taqad firaq al-Muslimin wa al-Yahud wa an-Nashara wa al-Watsaniyin fi Al-Malaikah Al-Muqarrabin, hal. 15]

([4]) Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sahihnya no. 2996

([5]) Lihat: Mu’taqad firaq al-Muslimin wa al-Yahud wa an-Nashara wa al-Watsaniyin fi Al-Malaikah Al-Muqarrabin karya Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil hal. 15

([6]) Lihat: Mu’taqad firaq al-Muslimin wa al-Yahud wa an-Nashara wa al-Watsaniyin fi Al-Malaikah Al-Muqarrabin karya Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil hal. 30

([7])  HR. Bukhari No. 7405

([8])  Lihat Tafsir Ibn Katsir 8/247

([9])  HR Al-Bukhari no 3207

([10])  Al-Mufhim Limaa Asykala min  Talkhish Kitab Muslim 1/389

([11])  Al-Mufhim Limaa Asykala min  Talkhish Kitab Muslim 1/389

([12])  HR Al-Bukhari no 318. Lihat Fathul Baari 1/418

([13]) Lihat : Tafsir Al-Qurthubi (2/37)

([14]) Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahihnya no. 3212

([15]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi (18/281)

([16])  HR. Muslim No. 770

([17])  Syarh al-Áqidah at-Thohawiyah 1/248

([18]) Lihat: Mu’taqad firaq al-Muslimin wa al-Yahud wa an-Nashara wa al-Watsaniyin fi Al-Malaikah Al-Muqarrabin karya Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil hal. 55-56

([19]) Lihat: Mu’jam al-Manahy al-lafdziyah karya Bakr Abu Zaid hal. 546

([20]) Lihat: Al-Muntaqa  syarhu Al-muwattha’ karya Al-Baaji (7/296)

([21]) Lihat: Syarhu As-Sunnah karya Al-Baghawi (12/335-336)

([22]) Lihat: Al-Majmu’ karya An-Nawawi (8/436)

([23])  Yaitu Nabi r berkunyah Abul Qasim

([24])  HR. Bukhari No. 110

([25])  HR. Muslim No. 2135

([26]) Lihat: Mu’taqad firaq al-Muslimin wa al-Yahud wa an-Nashara wa al-Watsaniyin fi Al-Malaikah Al-Muqarrabin karya Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil hal. 55-56