Tauhid Al-Asma’ wa Ash-Shifat dan Kaidah-kaidah dalam Memahami Nama-nama Allah – Al-Asma’ wa Ash-Shifat (1)

تَوْحِيْدُ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ

Tauhid Al-Asma’ wa Ash-Shifat

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc.MA.

Mengenal al-Asma’ wa ash-Shifat (nama-nama dan sifat-sifat) Allah ﷻ merupakan pembahasan yang sangat penting dan sangat berpengaruh dalam kehidupan dan ibadah seorang hamba([1]). Semakin dia mengenal Allah ﷻ maka dia akan semakin bertakwa dan semakin khusyuk dalam beribadah kepada Allah ﷻ. Sebagaimana dikatakan,

مَنْ كَانِ بِاللهِ أَعْرَفَ كَانَ مِنْهُ أَخْوَفَ وَلِعِبَادَتِهِ أَطْلَبَ وَعَنْ مَعْصِيَتِهِ أَبْعَدَ

“Barang siapa yang semakin mengenal Allah maka ia semakin takut kepada Allah , semakin semangat untuk beribadah, dan semakin jauh dari maksiat.”

Karenanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا

“Sesungguhnya yang paling bertakwa di antara kalian dan yang paling berilmu tentang Allah adalah aku.” ([2])

Pembahasan ini juga merupakan pembahasan yang paling agung, sebagaimana kata para ulama,

شَرَفُ الْعِلْمِ بِشَرَفِ مَعْلُوْمِهِ

“Kemuliaan suatu ilmu berdasarkan kemuliaan yang dipelajari (diilmui).”([3])

Karenanya surat Al-Ikhlas sangat agung karena isinya murni tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ, dan ayat teragung di Al-Qur’an adalah Ayat kursi karena kandungannya semuanya tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ.([4])

Lebih dari itu, urgensi mempelajarinya semakin tampak setelah diketahui akan banyaknya firkah-firkah yang menyimpang di dalam pembahasan al-Asma’ wa ash-Shifat ini, mulai dari Jahmiyah, Muktazilah, Kullabiyah, Asya’irah, dan seterusnya, dimana mereka berbicara tentang Allah ﷻ dengan pembicaraan yang batil. Oleh karena itu, agar seorang muslim tidak tergelincir di dalam pembahasan ini maka perlu ditelusuri bagaimana manhaj Ahlusunah yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para Sahabatnya radhiallahu ‘anhum serta para Imam rahimahumullah yang mengikuti jalan mereka. Sehingga dia bisa mengenal penyimpangan-penyimpangan mereka dan membantahnya dalam rangka untuk menjaga keutuhan Akidah Ahlusunah terutama dalam pembahasan Tauhid Al-Asma’ wa ash-Shifat.([5])

Berikut ini kaidah-kaidah penting untuk memudahkan memahami tentang nama-nama Allah ﷻ dan sifat-sifat-Nya.

قَوَاعِدُ فِي أَسْمَاءِ اللهِ الْحُسْنَى

Kaidah-kaidah dalam Memahami Nama-nama Allah

Kaidah Pertama

أَسْمَاءُ اللهِ تَوْقِيْفِيَّةٌ

Nama-nama Allah tauqifiyyah (harus dengan dalil)

Nama-nama Allah ﷻ dibangun di atas dalil yang valid dari Al-Qur’an dan hadis, akal manusia tidak boleh berperan untuk menentukannya. Allah ﷻ berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ

“Hanya milik Allah Al-Asma’ al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma’ al-Husna itu.” (QS Al-A’raf : 180)

Dari ayat ini, para ulama mengatakan bahwa Allah ﷻ tidak bisa diberi nama dengan nama sembarangan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى الْمَعْرُوْفَةُ هِيَ الَّتِي يُدْعَى اللهُ بِهَا، وَهِيَ الَّتِي جَاءَتْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَهِيَ الَّتي تَقْتَضِي الْمَدْحَ وَالثَّنَاءَ بِنَفْسِهَا

“al- Asma’ al-Husna yang makruf adalah (1) yang berdoa kepada Allah dengan nama-nama tersebut, (2) yang datang di al-Kitab dan as-Sunnah, serta (3) yang mengonsekuensikan pujian dan sanjungan dengan sendirinya.” ([6])

Pada definisi al-Asma’ al-Husna di atas disebutkan 3 persyaratan:

  • Bisa berdoa dengan Nama tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah ﷻ فَادْعُوهُ بِهَا (maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma’ al-Husna itu). Seperti berdoa, “Ya Rahim, Irhamni!” (Wahai Yang Maha Pengasih, berikanlah rahmat-Mu!), “Ya Ghafur, ighfir li!” (Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku!), “Ya Razzaq, urzuq ni!” (Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki, anugerahkanlah rezeki-Mu kepadaku!)
  • Harus dengan dalil sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah ﷻ وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ (Hanya milik Allah ﷻ Al-Asma’ al-Husna), sehingga nama-nama tersebut telah ditentukan oleh Allah ﷻ.([7])
  • Nama tersebut indah dengan sendirinya, tidak mengandung kemungkinan makna yang buruk sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah ﷻ الْحُسْنَىٰ (Yang terindah).

Berdasarkan 3 syarat di atas bisa diambil faedah bahwasanya tidak semua sifat Allah bisa dijadikan nama Allah. Sebagai contoh :

Pertama : Di antara sifat Allah ﷻ yaitu الإِرَادَةُ (maha berkehendak), tetapi الْمُرِيْدُ (Yang berkehendak) bukan merupakan nama Allah ﷻ, karena yang berkehendak itu -jika selain Allah ﷻ- bisa berkehendak baik namun bisa juga berkehendak buruk. Demikian pula sifat Allah ﷻ الْكَلَامُ (maha berbicara), tetapi الْمُتَكَلِّمُ (Yang berbicara) bukan merupakan nama-nama Allah ﷻ, karena yang berbicara itu -jika selain Allah ﷻ- bisa berbicara baik namun bisa juga berbicara buruk([8]). Berbeda dengan sifat Al-Ghafur, Ar-Rahim, dan seterusnya, tidak mungkin mengandung makna yang buruk. Secara lansung “sifat memaafkan” dan “sifat menyayangi” adalah sifat yang terpuji secara mutlak.

Kedua : Ad- Dahru (الدَّهْرُ) -yang artinya adalah zaman/waktu- bukanlah termasuk nama-nama Allah ﷻ, karena Ad-Dahru berasal dari isim Jaamid dan bukan musytaq. Isim (kata benda) jaamid adalah kata benda yang tidak menunjukkan atas sifat, karena ia tidak diambil dari sifat. Sementara nama-nama Allah ﷻ disifati dengan الحُسْنَى (yang terindah), dan tidaklah disifati dengan terindah kecuali karena mengandung makna sifat.

Peringatan :

Pertama : Hadis tentang penentuan 99 nama-nama Allah ﷻ adalah hadis yang dha’if, karenanya para ulama tidak menjadikan hadis tersebut sebagai sandaran dalam menentukan أَسْمَاءُ اللهِ الْحُسْنَى, sehingga penentuan nama-nama tersebut kembali kepada ijtihad masing-masing ulama. Karenanya, dijumpai adanya perbedaan pandangan di dalam penentuan nama-nama tersebut. Walaupun begitu, mayoritas nama-nama Allah ﷻ disepakati oleh para ulama, hanya sebagian kecil dari nama-nama Allah ﷻ yang diperselisihkan oleh para ulama([9]).

Berikut ini nama-nama Allah ﷻ yang dipilih oleh Asy-Syaikh al-‘Utsaimin dalam kitabnya al-Qawaa’id al-Mutsla:

Dari Al-Qurán (81 nama) :

  1. اللهُ (Yang Maha disembah), 2. الأَحَدُ(Yang Maha Esa), 3. الأَعْلَى (Yang Maha Tinggi), 4. الأَكْرَمُ (Yang Maha Mulia), 5. الِإلَهُ, 6. الأَوَّلُ (Yang Maha Pertama), 7. الآخِرُ (Yang Maha terakhir), 8. الظَّاهِرُ (Yang Maha Dzhahir), 9. البَاطِنُ (Yang Maha Bathin), 10. البَارِئُ (Yang Maha Pencipta), 11. البَرُّ (Yang Maha Baik), 12. البَصِيْرُ (Yang Maha Melihat), 13. التَّوَّابُ (Yang Maha Menerima taubat), 14. الْجَبَّارُ (Yang Maha Kuasa), 15. الحَافِظُ (Yang Maha Menjaga), 16.  الْحَسِيْبُ (Yang Maha Menghisab/menghitung), 17. الحَفِيْظُ (Yang Maha Menjaga), 18. الحَفِيُّ (Yang Maha memperhatikan), 19. الحَقُّ (Yang Maha Benar), 20. الْمُبِيْنُ (Yang Maha Menjelaskan), 21. الحَكِيْمُ (Yang Maha Bijak), 22. الحَلِيْمُ (Yang Maha Santun), 23. الحَمِيْدُ (Yang Maha Terpuji), 24. الحَيُّ (Yang Maha Hidup), 25. القَيُّوْمُ (Yang Maha Menegakkan), 26. الخَبِيْرُ (Yang Maha Mengetahui Perkara Yang Detail), 27. الخَالِقُ (Yang Maha Mencipta), 28. الخَلاَّقُ (Yang Maha Mencipta), 29. الرَّؤُوْفُ (Yang Maha Pengasih), 30. الرَّحْماَنُ (Yang Maha Penyayang), 31. الرَّحِيْمُ (Yang Maha Penyayang), 32. الرَّزَّاقُ (Yang Maha Pemberi Rizki), 33. الرَّقِيْبُ (Yang Maha Mengawasi), 34. السَّلاَمُ (Yang Maha Selamat), 35. السَّمِيْعُ (Yang Maha Mendengar), 36. الشَّاكِرُ (Yang Maha Berterimakasih), 37. الشَّكُوْرُ (Yang Maha Berterimakasih), 38. الشَّهِيْدُ (Yang Maha Menyaksikan), 39. الصَّمَدُ (Yang Maha tidak membutuhkan kepada yang lain), 40. العَالِمُ (Yang Maha Mengetahui), 41. العَزِيْزُ (Yang Maha Perkasa), 42. العَظِيْمُ (Yang Maha Agung), 43. العَفُوُّ (Yang Maha Memaafkan), 44. العَلِيْمُ (Yang Maha Mengetahui), 45. العَلِيُّ (Yang Maha Tinggi), 46. الغَفَّارُ (Yang Maha Mengampuni), 47. الغَفُوْرُ (Yang Maha Mengampuni), 48. الغَنِيُّ (Yang Maha Kaya), 49. الفَتَّاحُ (Yang Maha Membuka), 50. القَادِرُ (Yang Maha Kuasa), 51. القَاهِرُ (Yang Maha Memaksa), 52. القُدُّوْسُ (Yang Maha Suci), 53. القَدِيْرُ (Yang Maha Kuasa), 54. القَرِيْبُ (Yang Maha Dekat), 55. القَوِيُّ (Yang Maha Kuat), 56. القَهَّارُ (Yang Maha Menguasai), 57. الكَبِيْرُ (Yang Maha Besar),  58. الكَرِيْمُ (Yang Maha Baik), 59. اللَّطِيْفُ (Yang Maha Lembut), 60. الْمُؤْمِنُ (Yang Maha Membenarkan), 61. الْمُتَعَالِي (Yang Maha Tinggi), 62. الْمُتَكَبِّرُ (Yang Maha Sombong), 63. الْمَتِيْنُ (Yang Maha Kokoh), 64. الْمُجِيْبُ (Yang Maha Mengabulkan doa), 65. الْمَجِيْدُ (Yang Maha Agung), 66. الْمُحِيْطُ (Yang Maha Meliputi), 67. الْمُصَوِّرُ (Yang Maha Membentuk), 68. الْمُقْتَدِرُ (Yang Maha Kuasa), 69. الْمُقِيْتُ (Yang Maha Kuasa), 70. الْمَلِكُ (Maha Raja), 71. الْمَلِيْكُ (Yang Maha Memiliki), 72. الْمَوْلَى (Yang Maha Pelindung), 73. الْمُهَيْمِنُ (Yang Maha Memelihara), 74. النَّصِيْرُ (Yang Maha Penolong), 75. الوَاحِدُ (Yang Maha Memberi Esa), 76. الوَارِثُ (Yang Maha Tetap Ada setelah yang lainnya sirna), 77. الوَاسِعُ (Yang Maha Luas), 78. الوَدُوْدُ (Yang Maha Mencintai), 79. الوَكِيْلُ (Yang Maha Pengurus), 80. الوَلِيُّ (Yang Maha Pelindung), 81. الوَهَّابُ (Yang Maha Pemberi anugrah),

Dari hadis (18 nama):

  1. الجَمِيْلُ (Yang Maha Indah), 83. الجَوَّادُ (Yang Maha Dermawan), 84. الحَكَمُ (Yang Maha Memutuskan hukum), 85. الحَيِيُ (Yang Maha Hidup), 86. الرَّبُّ (Yang Maha Mengatur alam semesta), 87. الرَّفِيْقُ (Yang Maha Lembut), 88. السُّبُّوْحُ (Yang Maha Suci), 89. السَّيِّدُ (Yang Maha Memimpin), 90. الشَّافِي (Yang Maha Menyembuhkan), 91. الطَّيِّبُ (Yang Maha Baik), 92. القَابِضُ (Yang Maha Mengenggam), 93. البَاسِطُ (Yang Maha Membentangkan), 94. الْمُقَدِّمُ (Yang Maha Memajukan), 95. الْمُؤَخِّرُ (Yang Maha Mengakhirkan), 96. الْمُحْسِنُ (Yang Maha Baik), 97. الْمُعِطِي (Yang Maha Memberi), 98. الْمَنَّانُ (Yang Maha Memberi anugrah), 99. الوِتْرُ (Yang Maha Tunggal/Esa)

Adapun makna dan kandungan dari nama-nama tersebut insya Allah akan penulis khususkan dalam buku tersendiri.

 

Kedua : Bisa jadi dari satu sifat Allah ﷻ diambil menjadi 2 atau 3 nama Allah ﷻ, maka kedua atau ketiga nama tersebut tidaklah dianggap sebagai satu nama, akan tetapi tetap dianggap 2 atau 3 nama, karena adanya perbedaan makna secara spesifik di antara nama-nama tersebut.

Contoh :

Antara الغَفَّارُ dan الغَفُوْرُ. Nama الغَفَّارُ disebutkan 5 kali dalam Al-Qur’an dan الغَفُوْرُ disebutkan di Al-Qur’an 91 kali. Kedua nama ini diambil dari sifat Allah ﷻ الْمَغْفِرَةُ atau الغُفْرَانُ. Meskipun secara umum makna kedua nama tersebut adalah sama -yaitu maha pengampun-  akan tetapi ada perbedaan pada keduanya secara spesifik.

الغَفَّارُ adalah mubaalaghah (sangat berlebih-lebihan) dalam mengampuni dosa-dosa para hamba meskipun sebanyak apa pun. Adapun الغَفُوْرُ adalah maha mengampuni dosa meskipun sebesar apa pun.

Al-Ghazali berkata,

فَإِنَّ الْغَفَّارَ مُبَالَغَةٌ فِي الْمَغْفِرَةِ بِالإِضَافَةِ إِلَى مَغْفِرَةٍ مُتَكَرِّرَةٍ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى، فَالْفَعَّالُ يُنْبِئُ عَنْ كَثْرَةِ الْفِعْلِ، وَالفَعُوْلُ يُنْبِئُ عَنْ جَوْدَتِهِ وَكَمَالِهِ وَشُمُوْلِهِ، فَهُوَ غَفُوْرٌ بِمَعْنَى أَنَّهُ تَامُّ الْغُفْرَانِ كَامِلَهُ حَتَّى يَبْلُغَ أَقْصَى دَرَجَاتِ الَمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Al-Ghaffaar adalah mubaalaghoh (berlebih-lebihan) dalam mengampuni disertai dengan ampunan yang berulang-ulang, mengampuni setelah mengampuni. Maka timbangan (kata kerja) الْفَعَّالُ mengisyaratkan akan banyaknya perbuatan, dan timbangan (kata kerja) الفَعُوْلُ mengisyaratkan akan kualitas, kesempurnaan, dan cakupan yang luas. Maka Allah adalah Al-Ghaafuur maknanya yaitu Allah sempurna dalam mengampuni hingga mencapai derajat tertinggi dalam pengampunan.” ([10])

Pentingnya mengenali perbedaan spesifik antara nama Allah الغَفَّارُ dan الغَفُوْرُ karena model para pendosa bermacam-macam, bisa jadi:

  • Banyak melakukan dosa akan tetapi yang ia lakukan dosa-dosa kecil. Setiap kali ia berhenti ia melakukannya lagi. Maka ia sangat membutuhkan sifat yang terkandung dalam nama Allah الغَفَّارُ
  • Hanya melakukan satu/sedikit dosa akan tetapi dosa yang ia lakukan adalah dosa besar, seperti zina, riba, membunuh, dll. Maka ia sangat membutuhkan sifat yang terkandung dalam nama Allah الغَفُوْرُ.
  • Melakukan banyak dosa-dosa besar, maka ketika itu ia sangat membutuhkan kepada sifat Allah ﷻ yang terkandung pada kedua nama tersebut الغَفَّارُ dan الغَفُوْرُ.

Contoh lain antara الرَّحْمَانُ dan الرَّحِيْمُ.

Nama Ar-Rahmaan disebutkan 57 kali, sementara nama Ar-Rahiim disebutkan lebih dari 100 kali, keduanya bersumber dari satu sifat yaitu الرَّحْمَةُ (kasih sayang).

Adapun perbedaan di antara keduanya, maka Ar-Rahmaan berkaitan dengan sifat dzatiah Allah ﷻ yaitu ditinjau dari sifat rahmat Allah ﷻ yang merupakan maha rahmat. Adapun Ar-Rahim berkaitan dengan sampainya sifat rahmat tersebut kepada para makhluk-Nya.

Contoh-contoh lain seperti:

Dari sifat القُدْرَة Al-Qudrah ada nama-nama Allah ﷻ القَادِرُ, الْقَدِيْرُ, dan الْمُقْتَدِرُ.

Dari sifat العُلُوُّ Al-‘Uluw ada nama-nama Allah ﷻ  الْعَلِيُّ, الأَعْلَى, dan الْمُتَعَال.

Dari sifat الْكَرَمُ Al-Karom ada nama-nama Allah ﷻ الْكَرِيْمُ dan الأَكْرَمُ. ([11])

 

Ketiga : Boleh mengabarkan tentang Allah ﷻ meski tanpa nama dan sifat-Nya, akan tetapi dengan syarat dikabarkan dengan pengabaran yang tidak mengandung perendahan terhadap Allah ﷻ. Misalnya mengabarkan Allah ﷻ dengan الْقَدِيْمُ “al-Qodim” (yang artinya adalah azali, yang mirip dengan nama Allah الأَوَّلُ). Demikian juga mengabarkan Allah ﷻ dengan وَاجِبُ الْوُجُوْدِ “wajibul wujud” (yang wujudnya harus ada, karena semua wujud selain-Nya hanya bisa wujud jika ada wujud-Nya). Atau juga menyebut Allah ﷻ dengan الذَّاتُ atau بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ (terpisah dari makhluknya). Bolehnya pengabaran dengan hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah ﷻ,

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ

“Katakanlah: ‘Apakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah’. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu.” (QS. Al-An’am : 19)

Dalam ayat ini Allah ﷻ disebut dengan شَيْءٍ (sesuatu). Ini merupakan pengabaran tentang Allah ﷻ dengan pengabaran yang tidak mengandung perendahan kepada Allah ﷻ.

 

 

Kaidah Kedua

أَسْمَاءُ الِله مُتَرَادِفَةٌ وَمُتَبَايِنَةٌ

Nama-nama Allah dari satu sisi adalah sinonim, dan dari sisi yang lain berbeda

Setiap nama Allah ﷻ menunjukkan atas Dzat Allah ﷻ dan juga sekaligus menunjukkan akan sifat Allah ﷻ.

Contoh :

Pertama : Nama Allah  الرَّحِيْمُ (Ar-Rahiim) mengandung sifat الرَّحْمَةُ (ar-Rahmah). Nama الرَّحِيْمُ banyak Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an, disamping itu di dalam Al-Qur’an Allah ﷻ juga mengabarkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat الرَّحْمَةُ (ar-Rahmah). Allah ﷻ berfirman,

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

“Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat.” (QS Al-An’am : 133).

Allah ﷻ juga berfirman,

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

“Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat.” (QS Al-Kahfi: 58).

Kedua : Nama Allah الْغَفُوْرُ (Al-Ghafuur) mengandung sifat الْمَغْفِرَةُ (al-Magfirah). Nama الْغَفُوْرُ banyak Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an, dan disamping itu di dalam Al-Qur’an Allah ﷻ juga mengabarkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat الْمَغْفِرَةُ (al-Magfirah). Allah ﷻ berfirman,

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim.” (QS. Ar-Ra’du: 6)

Allah ﷻ juga berfirman,

إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ

“Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan.” (QS. Fushhilat: 43)

Allah ﷻ juga berfirman,

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32)

Ketiga : Nama Allah ﷻ الْعَزِيْزُ (Al-‘Aziiz) mengandung sifat الْعِزَّةَ (al-‘Izzah). Nama الْعَزِيْزُ banyak Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an, disamping itu di dalam Al-Qur’an Allah ﷻ juga mengabarkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat الْعِزَّةَ (al-‘Izzah). Allah ﷻ berfirman,

فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Maka sesungguhnya semua keperkasaan kepunyaan Allah .” (QS An-Nisa : 139)

Allah ﷻ juga berfirman,

إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Sesungguhnya keperkasaan seluruhnya milik Allah .” (QS. Yunus: 65),

Allah ﷻ juga berfirman,

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.” (QS. As-Shaffat: 180).

Keempat : Nama Allah ﷻ القَوِيُّ (Al-Qawiy)  mengandung sifat الْقُوَّةِ (al-Quwwah). Nama القَوِيُّ banyak Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an, disamping itu di dalam Al-Qur’an Allah ﷻ juga mengabarkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat الْقُوَّةِ (al-Quwwah). Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Sesungguhnya Rabbmu Dialah Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS. Hud: 66).

Allah ﷻ juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

Kelima : Nama Allah ﷻ العَلِيْمُ (Al-‘Alim) mengandung sifat ilmu. Nama العَلِيْمُ banyak Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an, disamping itu di dalam Al-Qur’an Allah ﷻ juga mengabarkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat ilmu. Allah ﷻ berfirman,

وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ

“Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan ilmu-Nya.” (QS. Faathir: 11)

Allah ﷻ juga berfirman,

أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ

“Allah menurunkan Al-Qur’an dengan ilmu-Nya.” (QS. An-Nisa: 166)

Allah ﷻ juga berfirman,

فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ

“Maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah.” (QS Hud: 14)

Keenam : Nama Allah ﷻ الحِكِيْمُ (Al-Hakim) mengandung sifat الحُكْمُ (al-Hukmu). Nama الحِكِيْمُ banyak Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an, disamping itu di dalam Al-Qur’an Allah ﷻ juga mengabarkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat الحُكْمُ (al-Hukmu). Allah ﷻ berfirman,

فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

“Maka hukum adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Ghafir: 12)([12])

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa setiap Nama Allah ﷻ pasti menunjukkan sifat Allah ﷻ yang ditunjukkan oleh nama tersebut. Maka nama Allah ﷻ berfungsi sebagai penunjuk Dzat (yang bernama dengan nama tersebut, yaitu Dzat Allah ﷻ) dan juga sebagai penunjuk sifat yang dikandung oleh nama tersebut.

Maka dari sini bisa disimpulkan bahwa :

Pertama : Apabila ditinjau sebagai penunjuk nama, maka nama-nama Allah ﷻ itu mutaraadifah (sinonim) satu dengan yang lainnya (أَسْمَاءُ اللهِ مُتَرَادِفَةٌ). Artinya, Allah sama dengan Al-Khaliq, sama juga dengan Al-Ghafur, sama juga dengan Ar-Rahim, dan seterusnya (الرَّحِيْمُ = الْغَفُوْرُ = الْخَالِقُ = اللهُ). Hal ini karena Ar-Rahiim menunjukkan yang punya nama tersebut yaitu Allah ﷻ, demikian juga Al-Ghafuur menunjukkan yang punya nama yaitu Allah ﷻ, dst. Semua nama-nama tersebut menunjukkan kepada Dzat yang sama yang satu yaitu Allah ﷻ. Dari sini, maka hakikat nama-nama yang beragam tersebut adalah sama ditinjau dari penunjukannya yang sama kepada Dzat yang satu yaitu Allah ﷻ.

Kedua : Apabila ditinjau sebagai penunjuk sifat maka nama-nama Allah ﷻ itu mutabaayinah (berbeda) satu dengan yang lainnya (أَسْمَاءُ اللهِ مُتَبَايِنَةٌ). Artinya, Ar-Rahim bukan Al-Ghafur dan juga bukan Al-Khaliq (الرَّحِيْمُ ≠ الْغَفُوْرُ ≠ الْخَالِقُ), sebab Ar-Rahim menunjukkan sifat rahmat, Al-Ghafur menunjukkan sifat ampunan, Al-Khaliq menunjukkan sifat mencipta (rahmat bukan ampunan dan juga bukan mencipta). Dari sini, jika ditinjau dari berbedanya sifat yang ditunjukkan oleh masing-masing nama maka nama-nama Allah ﷻ itu berbeda dan tidak sinonim.

Kaidah ini ditetapkan untuk membantah sekte Muktazilah yang mengatakan bahwa nama-nama Allah ﷻ itu tidak mengandung makna dan sifat([13]), akan tetapi hanya sekadar nama yang kosong dari sifat dan makna.

Kaidah Ketiga

Penunjukan Nama-nama Allah terhadap Dzat dan Sifat-Nya dapat dilakukan dengan cara دَلاَلَةُ الْمُطَابَقَةِ muthabaqah (selaras),  دَلاَلَةُ التَّضَمُّنِtadhammun (kandungan), dan دَلاَلَةُ الِالْتِزَامِ iltizam (konsekuensi)([14])

Tiga cara penunjukan ini bisa diterapkan dalam segala hal, semisal kita terapkan pada kata “rumah”, maka:

  • Dengan cara muthabaqah menunjukkan akan rumah itu sendiri secara utuh yang tersusun dari semua bagian, mulai dari fondasi hingga atap.
  • Dengan cara tadhammun menunjukkan akan fondasi saja, atau menunjukkan akan pintu saja, atau menunjukkan akan tiang saja dari rumah tersebut.
  • Dengan cara ilitizam menunjukkan bahwa rumah tersebut ada yang membangunnya atau ada yang memilikinya. Yaitu menunjukkan sesuatu yang bukan bagian dari rumah, akan tetapi merupakan konsekuensi dari rumah, yaitu yang membangun atau yang memiliki rumah.

Kesimpulannya, penunjukan dengan al-Mutabaqah yaitu penunjukan lafaz pada seluruh maknanya. Adapun dalaalah at-Tadhammun adalah penunjukan kepada sebagian dari makna yang ditunjukkan oleh lafaz tersebut. Adapun dalalah al-Iltizam yaitu penunjukan lafaz kepada makna yang berada di luar lafaz tersebut, akan tetapi merupakan kelaziman dari lafaz tersebut.

Jika kita terapkan (misalnya) pada nama Allah ﷻ “Al-Khaliq” (sang Pencipta), maka:

  • Dengan cara muthabaqah (selaras) menunjukkan akan Dzat Allah ﷻ dan sifat “al-Khalq” (menciptakan).
  • Dengan cara tadhammun menunjukkan akan Dzat Allah ﷻ saja atau menunjukkan akan sifat “al-Khalq” (sifat menciptakan) saja.
  • Dengan cara ilitizam menunjukkan sifat “al-‘Ilmu” (mengetahui)([15]), “al-Qudrah” (mampu), dan “al-‘Iradah” (berkehendak). Hal ini karena Allah ﷻ tidak mungkin menciptakan kecuali dengan tiga sifat tersebut.

Faedah dari kaidah ini :

Pertama : Kita mengetahui bahwa dalil untuk menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ bisa secara nas (tekstual dalil secara langsung) dan bisa juga dengan dalil iltizam (kelaziman). Dalil iltizam merupakan salah satu dalil akli (akal) yang sejalan dengan dalil naqli (dalil nas Al-Qur’an dan al-Hadis)

Kedua : Kita dapati sebagian salaf tatkala menafsirkan sebagian sifat-sifat Allah ﷻ, ternyata mereka menafsirkannya dengan dalil al-Iltizam.

Contoh:

Pertama : Sebagian salaf menafsirkan firman Allah ﷻ,

تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا

“Kapal (Nabi Nuuh) tersebut berlabuh dengan mata Kami” (QS. Al-Qamar: 14)

At-Thabari berkata بِمَرْأًى مِنَّا وَمَنْظَرٍ “Berlabuh dengan pandangan kami dan perhatian Kami.”([16]) Muqatil bin Hayyan berkata, بِحِفْظِنَا “Dengan penjagaan Kami” ([17])

Ini adalah tafsir dengan kelaziman, yaitu “pandangan Kami” adalah kelaziman dari “mata Allah ﷻ” yang memperhatikan mereka, dan juga melazimkan “penjagaan Allah ﷻ”. Tatkala mereka menafsirkan dengan “pandangan” dan “penjagaan” bukan berarti mereka menolak sifat “mata” Allah ﷻ, akan tetapi ini adalah tafsir dengan kelaziman. ([18])

Buktinya di ayat yang lain At-Thabari menetapkan sifat mata bagi Allah ﷻ dan berdalil dengan perkataan para salaf. At-Thabari berkata,

وَقَوْلُهُ {بِأَعْيُنِنَا} يَقُولُ: بِعَيْنِ اللَّهِ وَوَحْيِهِ كَمَا يَأْمُرُكَ… عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ” {وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا} قَالَ: بِعَيْنِ اللَّهِ… عَنْ قَتَادَةَ، فِي قَوْلِهِ: ” {بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا} قَالَ: بِعَيْنِ اللَّهِ وَوَحْيِهِ

“Dan firman Allah ﷻ بِأَعْيُنِنَا “dengan mata Kami” (QS Hud : 37), Allah ﷻ berkata, ‘Dengan mata Allah ﷻ dan wahyu-Nya sebagaimana Allah ﷻ memerintahkanmu’…. Dari Ibnu Abbas ia berkata tentang firman Allah ﷻ وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا ‘Dan buatlah kapal dengan mata Kami dan wahyu Kami’ (QS Hud : 37), ‘Dengan mata Allah ﷻ’…. dari Qatadah tentang firman Allah ﷻ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا “dengan mata Kami dan wahyu Kami” (QS Hud : 37), ia berkata, ‘Dengan mata Allah ﷻ dan wahyu-Nya’.” ([19])

Kedua : Sebagian salaf menafsirkan firman Allah ﷻ,

يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“Kedua tangan-Nya terbentang.” (QS Al-Maidah 64)

Yaitu بِجُودٍ وَكَرَمٍ “kedermawanan” danالْعَطَاءُ  “pemberian”, sebagaimana yang disebutkan oleh At-Thabari dalam tafsirnya. Beliau berkata,

وَإِنَّمَا وَصَفَ تَعَالَى ذِكْرُهُ الْيَدَ بِذَلِكَ، وَالْمَعْنَى: الْعَطَاءُ، لِأَنَّ عَطَاءَ النَّاسِ وَبَذْلَ مَعْرُوفِهِمُ الْغَالِبَ بِأَيْدِيهِمْ

“Hanyalah Allah ﷻ menyifati tangan dengan demikian (yaitu terbentang) dan maknanya adalah pemberian, karena orang-orang tatkala memberi dan melakukan kebaikan biasanya dengan tangan mereka” ([20])

Yaitu At-Thabari menafsirkan dengan kelaziman, bahwa tangan Allah ﷻ yang terbentang menunjukkan Maha Dermawannya Allah ﷻ. Tatkala At-Thabari menafsirkan dengan “kedermawanan” bukanlah berarti beliau menafikan/menolak sifat tangan Allah ﷻ, tapi justru ini melazimkan bahwa beliau menetapkan sifat tangan Allah ﷻ. Buktinya setelah itu At-Thabari menetapkan sifat tangan Allah ﷻ secara hakikat.([21])

Ketiga : Imam Bukhari rahimahullah berkata,

{كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ} إِلَّا مَلِكَهُ، وَيُقَالُ: إِلَّا مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ

“Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” (QS. Al-Qashash: 88) yaitu إِلَّا مَلِكَهُ “Kecuali Raja segala sesuatu”, dan dikatakan (pendapat yang lain) yaitu “Kecuali apa yang diinginkan darinya wajah Allah .” ([22])

Di sini, Imam Bukhari rahimahullah menafsirkan sifat wajah dengan Allah ﷻ itu sendiri yaitu sang Raja dari segala sesuatu. Artinya, kelaziman dari sifat wajah adalah adanya Dzat Allah ﷻ yang memiliki sifat dzat tersebut, karena mustahil ada wajah tanpa dzat pemilik sifat wajah tersebut. Ini adalah bentuk menafsirkan dengan kelaziman.

Perhatian :

Imam Bukhari rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah ﷻ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ , beliau menafsirkan dengan menukil perkataan para salaf tentang makna ayat ini, karena ternyata pendapat para salaf tentang ayat ini kembali pada dua pendapat([23]):

Pertama : إِلَّا وَجْهَهُ (kecuali wajah-Nya) yaitu إِلَّا مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ (kecuali amal yang ikhlas yang mengharapkan wajah Allah ﷻ). ([24])

Kedua : إِلَّا وَجْهَهُ (kecuali wajah-Nya) yaitu إِلاَّ هُوَ (kecuali Allah ﷻ)

Karenanya, yang benar kita membawakan perkataan Imam Bukhari rahimahullah إِلاَّ ملكَه kepada makna yang sesuai dengan tafsir para salaf yaitu إِلاَّ هُوَ (kecuali Dia), maka perkataan Imam Bukhari rahimahullah dibaca إِلَّا مَلِكَهُ (Kecuali Raja segala sesuatu) bukan dengan إِلَّا مُلْكَهُ (kecuali kerajaan-Nya), Wallahu a’lam.

Hal ini dikuatkan dengan penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah bahwasanya dalam riwayat An-Nasafi (salah seorang yang meriwayatkan Shahih Bukhari) Imam Bukhari rahimahullah berkata,

{كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ} وَقَالَ مَعْمَرٌ إِلَّا مَلِكَهُ

“Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya”, dan berkata Ma’mar (yaitu Abu Úbaidah bin Al-Mutsanna) إِلَّا مَلِكَهُ (Kecuali Raja-nya).”

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa perkataan Ma’mar ini terdapat dalam kitabnya Majaz al-Quráan akan tetapi dengan lafaz إِلَّا هُوَ (kecuali Dia). ([25])

Ini menunjukkan bahwa إِلَّا مَلِكَهُ sama maknanya dengan إِلَّا هُوَ , yaitu sama-sama kembali maknanya kepada Dzat Allah ﷻ itu sendiri, hanya saja Imam Bukhari menyebutkan perkataan Ma’mar secara maknanya bukan lafaznya. Dengan demikian yang benar perkataan Imam Bukhari dibaca dengan إِلَّا مَلِكَهُ (yang artinya : Kecuali Raja segala sesuatu yaitu Allah ﷻ) bukan dibaca dengan  إِلَّا مُلْكَهُ (yang artinya : Kecuali kerajaan-Nya).([26])

Peringatan :

Sebagian orang menyangka bahwa Imam Bukhari rahimahullah menakwil ayat sifat. Mereka berdalil dengan membaca penafsiran Imam Bukhari tentang إِلَّا وَجْهَهُ (kecuali wajah-Nya) dengan إِلَّا مُلْكَهُ “Kecuali kerajaan-Nya”. Sehingga makna yang terkandung adalah Imam Bukhari menafsirkan wajah dengan kerajaan. Dengan demikian mereka menganggap bahwa Imam Bukhari mengikuti mazhab mereka yaitu menolak sifat-sifat Allah ﷻ.

Namun persangkaan ini tidaklah benar, karena kalau seseorang meneliti bagaimana akidah Imam Bukhari maka dia akan tahu bahwasanya Imam Bukhari menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ (yang ditolak oleh kaum Asya’irah dan Jahmiyah), di antaranya beliau menetapkan sifat wajah bagi Allah ﷻ. Berikut beberapa sifat Allah ﷻ yang ditetapkan oleh Imam Bukhari:

  • Sifat suara, yaitu Allah ﷻ berbicara dengan suara([27]).
  • Sifat mata bagi Allah ﷻ.([28])
  • Sifat kedua tangan([29]).
  • Sifat ketinggian Allah ﷻ di atas langit([30])
  • Sifat wajah([31])

Dari sini, kita bisa ketahui bahwasanya kalaulah memang Imam Bukhari menafsirkan إِلَّا وَجْهَهُ (kecuali wajah-Nya) dengan إِلَّا مُلْكَهُ (kecuali kerajaan-Nya) -sebagaimana yang dipahami oleh mereka-, maka tidaklah melazimkan bahwa Imam Bukhari menolak sifat wajah Allah ﷻ. Telah jelas ternyata beliau menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ (di antaranya sifat wajah) yang ditolak oleh Jahmiyah, Muktazilah, Asya’irah, dan Maturidiyah. Akan tetapi tafsir Imam Bukhari tersebut adalah tafsir dengan kelaziman.

Selain itu juga, jika dibaca dengan إِلَّا مُلْكَهُ (kecuali kerajaan-Nya/milik-Nya) maka berarti tidak ada yang binasa, karena semua makhluk adalah milik dan di bawah kerajaan Allah ﷻ. Ini semakin menguatkan bahwa bacaan yang benar adalah إِلَّا مَلِكَهُ (kecuali Raja segala sesuatu).

Kaidah Keempat

Nama-nama Allah tidak terbatas dengan jumlah tertentu

 

Sebagian ulama berpendapat bahwa nama-nama Allah ﷻ terbatas dengan jumlah tertentu,([32]) namun yang benar adalah tidak terbatas dengan jumlah tertentu sebagaimana pendapat jumhur ulama.([33])

Sebagian ulama menyebutkan nama-nama Allah ﷻ lebih dari 99 nama. Seperti Ibnu Mandah dalam At-Tauhid menyebutkan 148 nama, Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa ash-Shifat menyebutkan 154 nama, Ibnul ‘Arabi dalam Ahkam al-Qur’an menyebutkan 141 nama.

Dalil-dalil yang menunjukkan nama-nama Allah ﷻ tidak terbatas pada jumlah tertentu adalah:

Pertama : Hadis tentang doa untuk menghilangkan kesedihan, yaitu,

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“Ya Allah , sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, keputusan-Mu kepada telah berlaku, ketetapan-Mu terhadapku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan seluruh nama yang Engkau sendiri tetapkan nama bagi-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib yang ada pada-Mu.” ([34])

Hadis ini menunjukkan bahwa nama-nama Allah ﷻ ada 3 macam:

  • Pertama : Nama-nama yang Allah ﷻ menamakan dirinya dengan nama-nama tersebut, lalu Allah ﷻ menampakkannya kepada siapa saja yang Allah ﷻ kehendaki, baik kepada malaikat atau selainnya, dan Allah ﷻ tidak menurunkannya di Al-Qur’an.
  • Kedua : Nama-nama yang Allah ﷻ turunkan di Al-Qur’an untuk mengenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
  • Ketiga : Nama-nama yang hanya Allah ﷻ simpan dalam ilmu gaib-Nya, tidak seorang pun dari makhluknya (baik para nabi atau para malaikat) yang mengetahuinya.([35])

Bagian ketiga menunjukkan ada nama-nama Allah ﷻ yang disembunyikan dan dirahasiakan oleh Allah ﷻ, yang ini menunjukkan bahwa nama-nama Allah ﷻ tidak terbatas jumlah bilangan tertentu.

Kedua : Hadis panjang tentang syafaat ketika para Nabi menolak untuk memberikan syafaat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda -sebagaimana dalam potongan hadis tersebut-,

فَيَأْتُونِي فَأَقُولُ أَنَا لَهَا، فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِي وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِي الآنَ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا

“… Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafaat tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” ([36])

Pujian Nabi Muhammad ﷺ kepada Allah ﷻ adalah dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ. Ini mengisyaratkan bahwasanya nama-nama Allah ﷻ tidak terbatas pada jumlah tertentu, karena pada saat itu Nabi Muhammad ﷺ memuji Allah ﷻ dengan menyebut-nyebut nama-nama Allah ﷻ yang baru Allah ﷻ ajarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ pada saat itu (di padang mahsyar).

Ketiga : Doa Nabi ketika beliau sujud,

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan penyelamatan-Mu dari hukuman-Mu, aku berlindung dengan-Mu dari-Mu, aku tidak bisa menguasai pujian terhadap-Mu, Engkau sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu sendiri.” ([37])

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi tidak bisa menguasai seluruh puji-pujian dan sanjungan kepada Allah ﷻ, padahal Allah ﷻ dipuji dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Ini menunjukkan bahwa ada nama-nama Allah ﷻ yang belum dikuasai oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Adapun hadis Nabi Muhammad ﷺ,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menghitungnya dia masuk surga.” ([38])

Tidak lantas menunjukkan bahwa nama Allah ﷻ hanya berjumlah 99. Jika diperhatikan hadis tersebut lebih lanjut, di situ ada kataاسْمًا  (nama) yang berupa isim nakirah, lalu setelahnya ada jumlah مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ (siapa yang menghitungnya dia masuk surga) yang berfungsi sebagai na’at (sifat) dari kata اسْمًا (nama), sehingga maksudnya adalah Allah ﷻ mempunyai 99 nama yang barang siapa menghafal dan memahami 99 nama tersebut maka dia akan masuk surga. Artinya di sana masih ada nama yang lain selain 99 nama tersebut. Hal ini sama halnya dengan perkataan, “Zaid punya 100 dinar yang dia gunakan untuk berinfak”, kalimat ini tidak berkonsekuensi Zaid hanya punya uang sejumlah 100 dinar. Akan tetapi 100 dinar tersebut digunakan oleh Zaid untuk berinfak, dan bisa jadi Zaid masih punya banyak dinar yang lain tapi tidak ia gunakan untuk berinfak.

Faedah dari kaidah ini:

Pertama : Kita harus mengakui bahwa Allah ﷻ maha indah dan kita tidak akan mampu mengetahui seluruh keagungan dan keindahan Allah ﷻ. Jika keagungan setiap sifat Allah ﷻ -yang telah kita ketahui saja – tidak bisa kita pahami secara sempurna, maka bagaimana lagi jika ditambah dengan nama-nama Allah ﷻ yang tidak kita ketahui, demikian juga sifat-sifat yang dikandung oleh nama-nama yang tidak kita ketahui tersebut? Maka sungguh benar firman Allah ﷻ,

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi Nya.” (QS. Thaha: 110)

Kedua : Kaidah ini membantah sebagian kelompok yang membatasi sifat-sifat Allah ﷻ pada bilangan tertentu,  seperti membatasi hanya 7 atau 8 sifat saja.

Yang benar, jika nama-nama Allah ﷻ tidak terbatas pada bilangan tertentu maka demikian pula sifat-sifat Allah ﷻ tidak terbatas pada bilangan tertentu, karena setiap nama mengandung sifat Allah ﷻ.

Kaidah Kelima

Nama-nama Allah ada yang datang dengan bentuk mufrad (tunggal), bergandengan dengan nama lain, dan bergandengan dengan lawannya

Di dalam Al-Qur’an maupun hadis akan dijumpai beberapa bentuk bagaimana datangnya  nama Allah ﷻ dalam lafaz.

Di dalam Al-Qur’an maupun hadis akan dijumpai beberapa bentuk lafaz  penyebutan nama-nama Allah ﷻ.

Pertama : Mufrad (bersendirian), yaitu penyebutan nama Allah ﷻ dalam nas secara bersendirian. Seperti nama الْقَادرُ (Al-Qadir) dalam ayat,

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

“Katakanlah, ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain’.” (QS. Al-An’am: 65)

Atau nama الْقَاهِرُ (Al-Qahir) dalam ayat,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am: 18)

Nama-nama yang datang dalam bentuk seperti ini banyak dijumpai dalam nas-nas.

Kedua : Bergandengan, yaitu nama Allah ﷻ yang datang secara bersendirian dan juga bergandengan dengan nama lain.

Seperti nama السَّمِيعُ  (As-Sami’) bergandengan الْبَصِيرُ (Al-Bashir) dalam ayat,

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Nama-nama seperti ini yang paling banyak dalam Al-Qur’an, seperti nama Al-‘Aziiz digandengkan dengan banyak nama-nama Allah ﷻ yang lain : العَزِيْزُ الْحَكْيِمُ, الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ, الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ, الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ, الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ, الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ, الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ ,الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ , dan الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.

Dalam ayat-ayat yang lain nama-nama tersebut juga datang secara bersendirian dan tidak bergandengan. Contoh firman Allah ﷻ,

إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allah maha melihat atas apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 110)

إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Sesungguhnya Engkau maha pemberi anugerah.” (QS. Ali Ímran: 8)

Untuk nama-nama Allah ﷻ seperti ini, maka boleh seseorang berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebut nama-nama tersebut secara bersendirian dan juga secara bergandengan. Seperti berdoa dengan berkata, “Ya Aziz” atau “Ya Hakim”.

Ketiga : Bergandengan dengan lawannya, yaitu nama Allah ﷻ yang datang bergandengan dengan lawan dari nama tersebut

Seperti nama اَلْقَابِضُ (Al-Qabidh) dan الْبَاسِطُ (Al-Basith).

Suatu ketika para sahabat mengeluh kepada Rasulullah ﷺ tentang mahalnya harga barang-barang dengan berkata, “Ya Rasulullah ﷻ, tetapkanlah harga untuk kami.” Rasulullah kemudian bersabda,

إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، اَلْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ وَإِنِّي لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِي بِمَظْلَمَةٍ فِي دَمٍ وَلاَ مَالٍ

 “Sesungguhnya Allah -lah yang membuat ketetapan harga, Dia adalah Al-Qabidh (Maha menahan/menyempitkan rezeki), Al-Basith (Maha membentangkan/meluaskan rezeki), Ar-Raziq (Maha menganugerahkan rezeki). Dan sesungguhnya aku berharap menjumpai Allah dalam keadaan tiada seorang pun yang menuntut kepadaku (di hadapan Allah ) karena suatu kezaliman yang aku lakukan, baik berkaitan dengan darah maupun harta.” ([39])

Nama-nama Allah ﷻ yang seperti ini disebut dengan الأَسْمَاءُ الْمُزْدَوِجَةُ (al-Asma’ al-Muzdawijah/sepasang). Contoh yang lain,  الْمَانِعُ الْمُعْطِي (Al-Mani’ Al-Mu’thi) yaitu yang Maha menghalangi, Yang Maha memberi.  النَّافِعُ الضَّارُّ (An-Nafi’ Ad-Dhar) yaitu Yang Maha memberi manfaat, Yang Maha memberi mudarat. الْمُنْتَقِمُ الْعَفُوُّ (Al-Muntaqim Al-‘Afuw) yaitu Yang Maha membalas, Yang Maha memaafkan. الْمُحْيِي الْمُمِيْتُ (Al-Muhyi Al-Mumit) yaitu Yang Maha menghidupkan, Yang Maha mematikan. الرَّافِعُ الْخَافِضُ (Ar-Rafi’ Al-Khafid) yaitu Yang Maha mengangkat, Yang Maha merendahkan. الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ (Al-Mu’iz Al-Mudzil) yaitu Yang Maha memuliakan, Yang Maha menghinakan.

Ibnul Qayyim  rahimahullah berkata,

فَهِذِهِ الْأَسْمَاءُ الْمُزْدَوِجَةُ تَجْرِي الَأسْمَاءُ مِنْهَا مَجْرَى الاِسْمِ الْوَاحِدِ الَّذِي يَمْتَنِعُ فَصْلُ بَعْضِ حُرُوْفِهِ عَنْ بَعْضٍ

“Maka ini adalah nama-nama yang sepasang disikapi seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan huruf-hurufnya.”([40])

Nama-nama Allah ﷻ yang datang sepasang seperti ini (berlawanan satu sama lain) harus disebutkan secara bersamaan. Hal ini karena “kekuatan” masing-masing nama ini akan sempurna bila disebutkan secara bersama-sama, yaitu untuk menunjukkan rububiyah Allah ﷻ, bahwasanya yang mengatur di alam semesta ini hanyalah Allah ﷻ semata. Jika disebutkan salah satunya saja, maka akan mengurangi kesempurnaan. Maka tidak boleh seseorang mengatakan, “Ya Dhaar…(Wahai Maha Pemberi kemudaratan)”, “Ya Maani’…(Wahai Maha Penghalang)”, “Ya  Mudzil…(Wahai Maha Yang menghinakan makhluk-Nya)”. Karena jika disebutkan sisi ini saja maka ada kesan sifat buruk bagi Allah ﷻ, maka tidak boleh disebut kecuali dengan menyebutkan lawannya. Ketika seseorang berkata, “Yaa Naafi’ Dhaar (Wahai maha pemberi manfaat dan maha pemberi kemudaratan)”, maka akan memunculkan makna yang sempurna akan rububiyah Allah ﷻ, yaitu hanya Allah ﷻ yang mengatur alam semesta.

Faedah dari kaidah ini:

Pertama : Tidak boleh seseorang bernamakan عَبْدُ الضَّارِّ (hamba Dzat Yang Memberi kemudharatan), atau عَبْدُ الْمَانِعِ (hamba Dzat Yang Menahan), atau عَبْدُ الْمُمِيْتِ (hamba Dzat Yang mematikan), atau عَبْدُ الْمُذِلِّ (hamba Dzat Yang Menghinakan), atau عَبْدُ الْخَافِضِ (hamba Dzat Yang Merendahkan), atau عَبْدُ الْقَابِضِ (hamba Dzat Yang Menahan), karena nama-nama ini memberi kesan makna negatif (tidak sempurna) bagi Allah ﷻ.

Adapun jika penamaan dengan melihat sisi yang menunjukkan sisi positif dan sempurna maka tidak mengapa. Seperti عَبْدُ الْمُعْطِي (hamba Dzat Yang Maha Pemberi), atau Abdul ‘Afuwwu (hamba Dzat Yang Maha Pemaaf), atau عَبْدُ الْبَاسِطِ (hamba Dzat Yang Maha Membentangkan rezeki), atau عَبْدُ الْمُعِزِّ (hamba Dzat Yang Maha Memuliakan), karena nama-nama Allah ﷻ tersebut tidak memberikan kesan negatif. Bahkan sebagian nama-nama tersebut telah datang secara bersendirian. Seperti Al-Mu’thi, dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَاللَّهُ المُعْطِي

“Dan Allah maha pemberi.” ([41])

Demikian juga Al-‘Afuwwu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah maha memaafkan, Engkau mencintai pemaafan maka maafkanlah aku.” ([42])

Kedua : Setiap nama Allah ﷻ pada asalnya memiliki makna yang sempurna, ketika digandengkan dengan nama Allah ﷻ yang lain maka akan memunculkan makna sempurna yang lain.

Contoh  seperti nama Allah  الْعَزِيْزُ (Al-Aziz) yang digandengkan dengan الْحَكِيْمُ (Al-Hakim). Nama Allah الْعَزِيْزُ (Al-Aziz) sendiri mengandung makna yang sempurna yaitu sempurnanya sifat ‘izzah (kekuasaan) Allah ﷻ, dan nama الْحَكِيْمُ (Al-Hakim) menunjukkan kesempurnaan sifat hikmah bagi Allah ﷻ dan kesempurnaan hukum Allah ﷻ. Ketika kedua nama ini digabung maka akan menunjukkan makna yang baru yaitu :

Bahwasanya kekuasaan Allah ﷻ bergandengan dengan hikmah, maka kekuasaan-Nya tidak menimbulkan kezaliman, ketidakadilan, dan buruknya tindakan sebagaimana yang sering timbul dari orang-orang yang berkuasa. Sesungguhnya seorang penguasa sering mengantarkannya melakukan dosa, maka ia pun berbuat zalim, tidak adil, dan buruk dalam mengambil tindakan.

Demikian pula hukum Allah ﷻ dan hikmah Allah ﷻ bergandengan dengan kekuasaan yang sempurna, berbeda dengan hukum makhluk dan hikmah makhluk yang keduanya masih terkontaminasi dengan kerendahan/kehinaan. ([43])

Contoh lain nama الغَنِيُّ (yang maha kaya) digandengkan dengan الكَرِيْمُ (yang maha baik), seperti firman Allah ﷻ,

فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40)

Digandengkannya dua nama ini maka memunculkan sisi pujian dan kesempurnaan yang lain. Pada manusia, bisa jadi ada seseorang yang kaya namun si miskin tidak mendapatkan faedah dari kekayaannya karena ternyata si kaya adalah orang yang bakhil (pelit) dan tidak karim. Demikian juga, ada orang yang karim akan tetapi ia tidak kaya (miskin), dan ini pun tidak ada faedahnya bagi si miskin. Berbeda dengan Allah ﷻ, Allah ﷻ menggabungkan dua sifat ini secara sempurna, yang berarti Allah ﷻ Maha kaya sekaligus Maha baik/dermawan.

Contoh lain, digabungkan dua nama Allah العَفُوُّ (Maha memaafkan) dan القَدِيْرُ (Maha kuasa) dalam firman-Nya,

فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

“Maka sesungguhnya Allah maha pemaaf dan maha kuasa.” (QS. An-Nisa: 149)

Digandengkannya dua nama ini memunculkan kesempurnaan makna yang lain, yaitu Allah ﷻ memaafkan bukan karena kelemahan, akan tetapi meskipun Allah ﷻ mampu membalas dengan kekuasaan-Nya namun Allah ﷻ tetap maha memaafkan,([44]) dan ini adalah bentuk memaafkan yang sempurna. Tidak sebagaimana pada sebagian manusia yang mana mereka memaafkan karena ketidakmampuan untuk membalas.

Contoh lain, digabungkannya nama الْغَفُورُ (Yang Maha mengampuni) dengan nama الْوَدُودُ (Yang Maha mencintai) dalam firman Allah ﷻ,

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

“Dan Dialah yang maha mengampuni dan maha mencintai.” (QS. Al-Buruj: 14)

Digandengkannya dua nama ini memunculkan makna yang sangat indah yaitu menunjukkan bahwasanya para pendosa jika bertobat kepada Allah ﷻ dan kembali kepada-Nya maka Allah ﷻ akan mengampuni mereka dan akan mencintai mereka. Bahkan Allah ﷻ begitu sangat gembira dengan hamba-Nya tatkala bertaubat kepada-Nya.([45]) Dari sini, tidaklah dikatakan bahwa “Allah ﷻ hanya mengampuni mereka namun kecintaan Allah ﷻ kepada mereka tidak kembali lagi” sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang yang keliru.

Contoh lain digabungkannya nama الوَاسِعُ (Yang Maha luas) dengan nama العَلِيْمُ (Yang Maha mengetahui) dalam firman Allah ﷻ,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Yaitu janganlah seseorang merasa aneh jika saja amal sedikit bisa dilipat gandakan pahalanya dengan penggandaan yang sangat banyak, karena di antara nama Allah ﷻ adalah الوَاسِعُ (Al-Wasi’) yang artinya adalah yang maha luas karunia-Nya. Begitu juga, jangan seseorang menyangka bahwa setiap orang yang berinfak pasti dilipat gandakan pahalanya, karena di antara nama Allah ﷻ adalah العَلِيْمُ  (Al-‘Alim) yang artinya adalah Yang Maha mengetahui), yang berarti Allah ﷻ mengetahui isi hati seseorang apakah ia ikhlas ataukah tidak.

Inilah makna kesempurnaan akan sifat Allah ﷻ yang tampak tatkala digandengkan kedua nama tersebut. Allah ﷻ melipat gandakan pahala bagi orang yang Allah ﷻ kehendaki yang memang pantas untuk dilipat gandakan pahalanya([46]).

Inilah beberapa kaidah yang penting yang berkaitan dengan nama-nama Allah, tentu masih banyak kaidah yang lain, tapi penulis hanya mencukupkan dengan kaidah-kaidah di atas yang menurut penulis urgen untuk diketahui.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Di antara perkara-perkara yang menunjukkan urgensinya mempelajari tauhid al-Asmaa’ wa as-Shifat adalah :

Pertama : Pembahasan ini termasuk pembahasan tentang beriman kepada Allah ﷻ. Dan iman kepada Allah ﷻ pembahasannya berkaitan dengan (1) Beriman tentang wujud Allah ﷻ, (2) Beriman dengan rububiyah Allah ﷻ, (3) Beriman dengan uluhiyah-Nya, dan (4) Beriman dengan al-Asma’ wa ash-Shifat-Nya

Kedua : Dengan mendalami al-Asma’ wa ash-Shifat maka seorang akan semakin mengenal Rabbnya, sehingga akan semakin mencintainya. Sebagaimana perkataan pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”. Jika seseorang semakin mencintai Allah ﷻ maka ini sangat berdampak dalam ibadahnya, karena ia beribadah dengan penuh kecintaan kepada Rabbnya. Jadilah mudah baginya untuk khusyuk dan ikhlas dalam ibadahnya, karena perhatiannya terfokus kepada Rabbnya yang ia cintai.

Ketiga : Barangsiapa yang mengenal Allah ﷻ maka akan meningkat kualitas ibadahnya, sehingga ia akan mencapai derajat ihsan. Ia akan tahu bahwasanya:

  • Allah ﷻ adalah Al-Jamiil (Maha indah) yang suka akan keindahan, maka ia akan suka melakukan keindahan.
  • Allah ﷻ adalah Al-Muhsin dan Allah ﷻ mencintai orang-orang yang muhsin (berbuat baik kepada orang lain), maka ia pun akan mudah untuk berbuat baik kepada orang lain.
  • Allah ﷻ adalah Al-Ghafuur (Maha Pengampun), maka ia tidak pernah ragu untuk memohon ampunan kepada Allah ﷻ.
  • Allah ﷻ adalah At-Tawwaab (Maha Menerima taubat), maka ia akan selalu bertaubat kepada Allah ﷻ.
  • Allah ﷻ adalah Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) dan kasih sayang Allah ﷻ melebihi kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Tentu hal ini menjadikannya selalu berbaik sangka kepada Rabbnya.
  • Allah ﷻ adalah Asy-Syakuur (Yang Maha Membalas kebaikan), maka ia tidak akan ragu untuk melakukan kebajikan karena ia yakin bahwa Allah ﷻ pasti membalas kebaikannya tersebut dengan pembalasan yang terbaik.
  • Dan seterusnya…

Keempat : Pembahasannya menjadi semakin urgen karena banyak penyimpangan dalam tauhid al-Asma’ wa ash-Shifat. Sehingga mengenal kaidah-kaidah tentang hal ini sangat penting agar tidak salah dalam memahami pembahasannya.

([2]) HR. Bukhari No. 20.

Nabi Muhammad ﷺ mengucapkan sabdanya tersebut disebabkan persangkaan sebagian sahabat memandang bahwa ibadah Nabi Muhammad ﷺ kurang karena Nabi Muhammad ﷺ telah diampuni dosa-dosanya, sehingga para sahabat ingin ibadah mereka lebih banyak dari ibadah Nabi, karena tidak dijaminnya ampunan bagi mereka. Nabi Muhammad ﷺ pun mengingatkan kepada mereka bahwa pemahaman mereka itu keliru, karena ibadah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah yang terbaik, karena Nabi yang paling mengenal Allah ﷻ [Lihat: Fath al-Baari, Ibnu Rajab al-Hanbali (1/91)].

([3]) Ibnu Abil Ízz al-Hanafi berkata,

فَإِنَّهُ لَمَّا كَانَ عِلْمُ أُصُولِ الدِّينِ أَشْرَفَ الْعُلُومِ، إِذْ شَرَفُ الْعِلْمِ بِشَرَفِ الْمَعْلُومِ. وَهُوَ الْفِقْهُ الْأَكْبَرُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى فِقْهِ الْفُرُوعِ، وَلِهَذَا سَمَّى الْإِمَامُ أَبُو حَنِيفَةَ – رَحْمَةُ الله تعالى – مَا قَالَهُ وَجَمَعَهُ فِي أَوْرَاقٍ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ “الْفِقْهَ الْأَكْبَرَ” وَحَاجَةُ الْعِبَادِ إِلَيْهِ فَوْقَ كُلِّ حَاجَةٍ، وَضَرُورَتُهُمْ إِلَيْهِ فَوْقَ كُلِّ ضَرُورَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَا حَيَاةَ لِلْقُلُوبِ، وَلَا نَعِيمَ وَلَا طُمَأْنِينَةَ، إِلَّا بِأَنْ تَعْرِفَ رَبَّهَا وَمَعْبُودَهَا وَفَاطِرَهَا، بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، وَيَكُون مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ أَحَبَّ إِلَيْهَا مِمَّا سِوَاهُ، وَيَكُون سَعْيُهَا فِيمَا يُقَرِّبُهَا إِلَيْهِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ سَائِرِ خَلْقِهِ

“Sesungguhnya ketika ilmu tentang ushuluddin (pokok-pokok agama) merupakan ilmu yang termulia, karena mulianya ilmu sesuai dengan kemuliaan yang dipelajari. Ia merupakan al-Fiqh al-Akbar dibandingkan dengan al-Fiqh al-Furu’ (perkara-perkara cabang). Karenanya Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah menamakan perkara-perkara ushul yang ia sampaikan dan ia kumpulkan dalam beberapa lembaran dengan nama al-Fiqh al-Akbar. Kebutuhan para hamba kepada fikih ini melebihi seluruh kebutuhan, dan keharusan/daruratnya mereka untuk mendapatkannya lebih dari segala darurat, karena tidak ada kehidupan bagi hati, tidak ada kebahagiaan dan ketenteraman kecuali jika hati tersebut mengenal pengaturnya, sembahannya, dan penciptanya, dengan mengenal nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Maka dengan ini jadilah Allah ﷻ yang paling dicintainya, dan jadilah perjuangannya dan usahanya adalah untuk bisa mendekatkan dirinya kepada Allah ﷻ bukan kepada selain Allah ﷻ dari kalangan makhluk-Nya” (Muqaddimah Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah)

([4]) Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

والقُرآن فيه مِن ذِكْر أسماء الله وصفاته وأفعاله أكثرُ ممَّا فيه مِن ذكْر الأكْل والشُّرب والنكاح في الجنَّة، والآيات المتضمِّنة لذكر أسماء الله وصفاته أعظم قدرًا مِن آيات المَعاد، فأعظمُ آيةٍ في القرآن آيةُ الكرسي المتضمِّنة لذلك، … وأفضلُ سورةٍ سورةُ أمّ القرآن، … وفيها مِن ذكْر أسماء الله وصفاته أعظم ممَّا فيها مِن ذكْر المَعاد

“Dan di dalam Al-Qur’an penyebutan nama-nama Allah ﷻ dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan Allah ﷻ lebih banyak dari pada penyebutan tentang makan, minum, dan menikah di surga. Dan ayat-ayat yang mengandung penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ lebih agung kedudukannya dari pada ayat-ayat tentang hari akhirat. Dan ayat teragung di Al-Qur’an adalah ayat kursi yang mengandung tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya….dan surat termulia adalah surat Al-Fatihah…padanya penyebutan nama-nama Allah ﷻ dan sifat-sifatNya lebih banyak daripada penyebutan tentang hari akhirat.” [Majmu’ al-Fatawa (5/310-311)].

([5]) Pada dasarnya pembahasan tauhid al-Asma’  wa ash-shifaat, yaitu mengenali nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ adalah pembahasan yang mudah. Begitu mudahnya hingga orang-orang arab badui di zaman Nabi Muhammad ﷺ pun bisa memahaminya. Hampir setiap lembaran Al-Qur’an berisikan nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ. Akan tetapi pembahan tauhid al-Asma’ wa ash-Shifat menjadi rumit karena banyaknya penyimpangan dan syubhat-syubhat yang dihembuskan oleh firkah-firkah yang menyimpang dalam hal ini. Akhirnya para ulama menuliskan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan tauhid al-Asma’ wa ash-Shifat dalam rangka membantah kerancuan-kerancuan tersebut, akhirnya pembahasannya menjadi seakan-akan sangat rumit.

([6]) Syarh al-Aqidah al-Ashfahaniyah (31) .

([7]) karenanya ال yang ada pada الْأَسْمَاءُ adalah  al-‘Ahdiyah

([8]) Lihat penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah di Syarh al-Áqidah al-Ashfahaniyah (hal 31) dan penjelasan Ibnul Qayyim di Badaai’ al-Fawaaid (1/161).

([9]) Di antara nama-nama Allah ﷻ yang diperselisihkan oleh para ulama seperti :

Pertama : المُحْسِنُ Al-Muhsin (Yang maha berbuat baik kepada yang lain), karena para ulama berselisih tentang keabsahan Hadis إِنَّ اللهَ مُحْسِنٌ يُحِبُّ الإِحْسَانَ “Sesungguhnya Allah ﷻ maha berbuat kebaikan dan Allah ﷻ mencintai perbuatan berbuat baik (kepada orang lain)”. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Shahihah No. 470

Kedua : الطَّيِّبُ At-Thayyib (Yang maha suci), karena sabda Nabi Muhammad ﷺ, إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ  “Sesungguhnya Allah ﷻ suci” (HR. Muslim No. 1015) diperselisihkan oleh para ulama, apakah itu merupakan pengabaran tentang sifat Allah ﷻ yang maha suci ataukah nama Allah ﷻ طّيِّبٌ?.

Ketiga : الوِتْرُ Al-Witr (Yang maha ganjil), para ulama juga berselisih apakah sabda Nabi Muhammad ﷺ وَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ “Sesungguhnya Allah ﷻ maha ganjil” (HR. Muslim No. 2677) merupakan pengabaran tentang sifat Allah ﷻ atau tentang nama Allah ﷻ? Terlebih lagi nama وِتْرٌ tersebut datang bukan dalam makrifah akan tetapi nakirah.

([10]) Lihat : al-Maqshad al-Asna (95).

([11]) Lihat: Asmaa Allah , al-Ghushn (134) dan Manhaj Ibn Hajr fi al-Áqidah (1/526).

([12]) Demikian juga dalam hadis-hadis, banyak disebutkan tentang sifat-sifat Allah ﷻ.

Di antaranya sabda Nabi Muhammad ﷺ,

حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

“Hijab-Nya adalah cahaya, seandainya Allah ﷻ menyingkapnya maka cahaya wajahnya akan membakar seluruh makhluk yang sampai padanya penglihatan/pandangan Allah ” (HR. Muslim No. 179).

Pada Hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan sifat “penglihatan” Allah ﷻ, yang darinya ditetapkan nama Allah ﷻ البَصِيْرُ (yang Maha melihat).

Juga sabda Nabi tentang doa istikharah :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ

“Ya Allah ﷻ sesungguhnya aku meminta-Mu untuk memilihkan bagiku dengan ilmu-Mu, dan aku memohon menguatkan aku dengan kekuasaan-Mu” (HR. Bukhari No. 6382)

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah berkata,

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الأَصْوَاتَ

“Segala puji bagi Allah ﷻ yang pendengaran-Nya meliputi seluruh suara” [Shahih al-Bukhari (9/117)]

([13]) Al-Alusi berkata,

“Sebagian orang menghikayatkan bahwasanya Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi menyeru orang-orang kepada mazhabnya yang batil yaitu bahwasanya Allah ﷻ adalah Al-‘alim namun tanpa memiliki sifat ilmu, Allah ﷻ adalah Al-Qadir akan tetapi tanpa memiliki sifat qudrah, dan demikianlah pada seluruh sifat-sifat Allah ﷻ. Pada suatu hari ia duduk dan mengajak orang-orang kepada mazhabnya, dan di sekeliling beliau banyak orang berkumpul. Lalu datanglah seorang arab badui dan berhenti seraya mendengarkan penjelasan Jahm bin Shafwan. Lalu Allah ﷻ membimbingnya hingga ia mengetahui batilnya mazhabnya Jahm. Orang arab badui tersebut lalu menyatakan syairnya,

أَلاَ إِنَّ جَهْمًا كَافِرٌ بَان َكُفْرُهُ … وَمَنْ قَالَ يَوْماً قَوْلَ جَهْمٍ فَقَدْ كَفَرْ

Ketahuilah bahwasanya Jahm kafir, telah jelas kekafirannya….barang siapa yang suatu hari berpendapat dengan pendapat Jahm maka ia sungguh telah kafir.

لَقَدْ جُنَّ جَهْمٌ إِذْ يُسَمِّي إِلَهَهُ … سَمِيْعاً بِلاَ سَمْعٍ بَصِيْراً بِلاَ بَصْرْ

Sungguh telah gila Jahm, ketika ia menamakan tuhannya….dengan “maha mendengar” namun tanpa pendengaran, “maha melihat” namun tanpa penglihatan,

عَلِيْماً بِلاَ عِلْمٍ رَضِيًّا بِلاَ رِضَا … لَطِيْفاً بِلاَ لُطْفٍ خَبِيْراً بِلاَ خَبَرْ

“maha berilmu” namun tanpa ilmu, “Yang rida” namun tanpa meridai….”Yang maha lembut” namun tanpa kelembutan, “maha mengetahui” namun tanpa pengetahuan,

أَيُرْضِيْكَ أَنْ لَوْ قَالَ يَا جَهْمُ قَائِلٌ … أَبُوْك امْرُؤٌ حُرٌّ خَطِيْرٌ بِلاَ خَطَرْ

Apakah engkau -wahai Jahm- suka jika ada seseorang berkata….”Ayahmu seorang yang merdeka dan mulia, namun tanpa kemuliaan”

مَلِيْحٌ بِلاَ مِلْحٍ بَهِيٌّ بِلاَ بَهَا … طَوِيْلٌ بِلاَ طُوْلٍ يُخَالِفُهُ الْقِصَرْ

“tampan” namun tanpa ketampanan,…”tinggi” namun tidak tinggi yaitu pendek…

حَلِيْمٌ بِلاَ حَلْمٍ وَفِيٌّ بِلاَ وَفَا … فَبِالْعَقْلِ مَوْصُوْفٌ وَبِالْجَهْلِ مُشْتَهِرْ

“ayahmu bijak” namun tanpa kebijakan, “setia” namun tanpa kesetiaan….ayahmu disifati dengan “berakal” akan tetapi terkenal dengan kebodohan…

جَوَّادٌ لاَ جُوْدَ قَوْيٌّ بِلاَ قِوَى … كَبِيْرٌ بِلاَ  كِبْرٍ صَغِيْرٌ بِلاَ صِغَرْ

“ayahmu dermawan” namun tanpa kedermawanan, “yang kuat” namun tanpa kekuatan….”besar” tanpa ada sifat besar, “kecil” tanpa ada sifat kecil…

أَمَدْحًا تَرَاهُ أَمْ هِجَاءً وُسَبَّةً … وَهَزْأً  كَفَاكَ اللهُ يَا أَحْمَقَ الْبَشَرِ

Apakah menurutmu ini adalah pujian ataukah penghinaan dan ejekan serta celaan?…..Semoga Allah ﷻ mengenyahkanmu wahai manusia terbodoh

فَإِنَّكَ شَيْطَانٌ بُعِثْتَ لِأُمَّةٍ … تُصَيِّرُهُمْ عَمَّا قَرِيْبٍ إِلَى سَقَرْ

Sesungguhnya engkau adalah setan yang diutus untuk umat….engkau mengantarkan mereka sebentar lagi ke neraka Saqor….

Maka Allah ﷻ pun mengilhamkan kepada arab badui ini tentang hakikat mazhab Ahlusunah, dan dengan sebab keberkahan syairnya tersebut banyak orang yang kembali kepada kebenaran. Abdullah bin al-Mubaarok berkata, إِنَّ اللهَ تَعَالَى بَعَثَ الأَعْرَابِيَّ رَحْمَةً لِأُولَئِكَ “Sesungguhnya Allah ﷻ telah mengirim arab badui ini sebagai rahmat untuk mereka” (Jalaau al-‘Ainain fi Muhaakamat al-Ahmadain hal 151)

([14]) Lihat pembahasan kaidah ini di al-Kaafiyah asy-Saafiyah (atau Nuuniah) Ibnul Qayyim. Beliau berkata :

وَدَلاَلَةُ الأَسْمَاءِ أَنْوَاعُ ثَلاَ … ثٍ كُلُّهَا مَعْلُوْمَةٌ بِبَيَانِ

Penunjukan lafaz dari nama-nama Allah ﷻ ada 3, semuanya diketahui dengan penjelasan

دَلَّتْ مُطَابَقَةً كَذَاكَ تَضَمُّنًا … وَكَذَا الْتِزَامًا وَاضِحَ الْبُرْهَانِ

Penunjukan dengan cara muthabaqah,tadhammun, dan iltizaam, jelas penjelasannya.

أَمَّا مُطَابَقَةُ الدَّلاَلَةِ فَهِيَ أَنَّ … الاِسْمَ يُفْهَمُ مِنْهُ مَفْهُوْمَانِ

Adapun dalalah muthabaqah yaitu dipahami dari nama Allah ﷻ dua perkara

ذَاتُ الِإلَهِ وَذَلِكَ الْوَصْفُ الَّذِي … يُشْتَقُّ مِنْهُ الاِسْمُ بِالْمِيْزَانِ

Dzatnya Allah ﷻ dan sifat yang diambil dari nama tersebut sesuai dengan wazannya

لَكِنْ دَلاَلَتُهُ عَلَى إِحْدَاهُمَا … بَتَضَمُّنٍ فَافْهَمْهُ فَهْمَ بَيَانِ

Akan tetapi penunjukan nama Allah ﷻ kepada salah satu dari keduanya maka ditunjukan dengan dalalah tadhammun, maka pahamilah dengan pemahaman yang jelas.

وَكَذَا دَلاَلَتُهُ عَلَى الصِّفَةِ الَّتِي … مَا اشْتُقَّ مِنْهَا فَالْتِزَامٌ دَانِ

Demikian pula penunjukannya kepada sifat yang tidak diambil dari nama tersebut, maka penunjukannya dengan dalalah iltizam

وَإِذَا أَرَدْتَ لِذَا مِثَالاً بَيَّنَّا … فَمِثَالُ ذَلِكَ لَفْظَةُ الرَّحْمَنِ

Dan jika engkau ingin permisalan maka kami akan jelaskan. Maka contohnya nama Allah ﷻ : Ar-Rohman.

ذَاتُ الإِلَهِ وَرَحْمَةٌ مَدْلُوْلُهَا … فَهُمَا لِهَذَا اللَّفْظِ مَدْلُوْلاَنِ

Maka dzat Allah ﷻ dan sifat rahmat, maka keduanya ditunjukan dengan nama ini (secara muthabaqah)

إِحْدَاهُمَا بَعْضٌ لِذَا الْمَوْضُوْعِ فَـ … ـهِيَ تَضَمَّنُ ذَا وَاضِحَ التِّبْيَانِ

Salah satu dari keduanya (dzat atau rahmat) maka ditunjukan dengan dalalah tadhammun dengan jelas

لَكِنْ وَصْفُ الْحَيِّ لاَزِمُ ذَلِكَ الْمَـ … ـعْنَى لُزُوْمَ الْعِلْمِ لِلرَّحْمَنِ

Akan tetapi sifat al-Hayyu (maha hidup) ditunjukan dengan kelaziman dari sifat rahmat, sebagaimana juga sifat al-ílmu juga ditunjukan dengan iltizam

فَلِذَا دَلاَلَتُهُ عَلَيْهِ بِالْتِزَا … مٍ بَيِّنٍ وَالْحَقُّ ذُو تِبْيَانِ

Karenanya penunjukannya kepada sifat ilmu adalah jelas dengan dalalah iltizam, dan al-Haq (kebenaran) itu bisa dijelaskan.

Dalam bait-bait di atas Ibnul Qayyim memberi contoh ke-3 dalalah tersebut dengan nama Allah ﷻ Ar-Rahman :

  • Dengan muthabaqah maka menunjukkan dzat Allah ﷻ dan sifat rahmat.
  • Dengan tadhammun menunjukkan dzat Allah ﷻ saja atau menunjukkan sifat rahmat saja.
  • Dengan iltizam menunjukkan sifat di luar dari sifat rahmat tapi merupakan kelaziman dari sifat rahmat, yaitu menunjukkan sifat maha hidup dan sifat maha ilmu.

([15]) Karenanya Allah ﷻ berfirman,

أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ

Apakah Allah ﷻ Yang menciptakan itu tidak mengetahui? (QS. Al-Mulk: 14)

Ini menunjukkan bahwa yang mencipta tentu tahu apa yang ia ciptakan. Allah ﷻ juga berfirman,

فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 29)

Allah ﷻ menyebutkan luasnya ilmu Allah ﷻ  setelah menyebutkan tentang penciptaan langit. Ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ Maha mengetahui tentang seluruh perihal langit, karena tidak mungkin Allah ﷻ menciptakan tanpa ilmu [Lihat: Al-Qawaaíd al-Hisaan fi Tafsiir Al-Qur’an, As-Sa’di (53)].

Allah ﷻ juga berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah ﷻ-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah ﷻ berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah ﷻ Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ﷻ ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu (QS At-Thalaq: 12)

([16]) Tafsir at-Thabari (22/126).

([17]) Tafsir al-Baghawi (7/429).

([18]) Karenanya ketika Nabi Musa dan Harun takut untuk menemui Firaun, maka Allah ﷻ menenangkan mereka berdua dengan menyatakan bahwa Allah ﷻ akan bersama mereka dan melihat mereka, karena jika Allah ﷻ melihat mereka melazimkan bahwa Allah ﷻ akan menjaga mereka. Allah ﷻ berfirman,

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى، فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى، قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى، قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

“Pergilah kamu berdua kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. Keduanya berkata, Ya Tuhan kami, sungguh, kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Dia (Allah) berfirman, Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 43-46)

([19]) Tafsir at-Thabari (12/392-393).

([20]) Tafsir at-Thabari (8/552).

([21]) Ibnu Jarir At-Thabari setelah itu dengan tegas menyatakan bahwa tafsir yang benar dari firman Allah ﷻ,

يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“Dua tangan Allah ﷻ terbentang” (QS. Al-Maidah: 64)

adalah dengan menetapkan sifat dua tangan Allah ﷻ yang hakiki. [Lihat: Tafsir at-Thabari (8/555-557)]. Beliau menyebutkan beberapa alasan yang menguatkan bahwa tangan Allah ﷻ adalah sifat Allah ﷻ yang hakiki:

Pertama : Jika tangan ditafsirkan dengan qudrah atau nikmat maka Adam ‘alaihissalam menjadi tidak spesial dan istimewa, karena semua makhluk selain Adam ‘alaihissalam juga diciptakan dengan qudrah Allah ﷻ.

Kedua : Allah ﷻ menggunakan lafaz التَّثنِيَةُ (tatsniah) yang menunjukkan bilangan dua, maka jika tangan diartikan nikmat maka menjadi “dua nikmat”, padahal nikmat Allah ﷻ tidak terbatas. Jika tangan ditafsirkan dengan qudrah (kemampuan) maka maknanya menjadi “dua kemampuan”, padahal kemampuan Allah ﷻ tidak terbatas.

Ketiga : Jika maksud tangan adalah jenis kenikmatan atau jenis qudrah maka seharusnya dengan lafaz mufrad (tunggal) yang menunjukkan jenis dan bukan dengan lafaz at-tatsniah (yang menunjukkan dua).

Setelah beliau menjelaskan dalil-dalilnya kemudian At-Thabari menutup penjelasannya dengan berkata,

وَمَعَ مَا وَصَفْنَا مِنْ أَنَّهُ غَيْرُ مَعْقُولٍ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ أَنَّ اثْنَيْنِ يُؤَدِّيَانِ عَنِ الْجَمِيعِ، مَا يُنْبِئُ عَنْ خَطَأِ قَوْلِ مَنْ قَالَ: مَعْنَى الْيَدِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ: النِّعْمَةُ، وَصِحَّةُ قَوْلِ مَنْ قَالَ: إِنَّ يَدَ اللَّهِ هِيَ لَهُ صِفَةٌ قَالُوا: وَبِذَلِكَ تَظَاهَرْتِ الْأَخْبَارُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ بِهِ الْعُلَمَاءُ وَأَهْلُ التَّأْوِيلِ

“Dan bersama penjelasan kami bahwa tidak masuk akal dalam bahasa Arab bahwasanya lafaz dua (at-Tatsniah) mewakili keseluruhan, yang ini semua menunjukkan akan salahnya orang yang berkata bahwa “tangan” pada ayat ini maknanya adalah nikmat. Dan juga menunjukkan akan benarnya orang yang berkata bahwa tangan Allah ﷻ adalah sifat baginya, mereka berkata, ‘Dan telah banyak hadis-hadis dari Nabi Muhammad ﷺ yang menunjukkan akan hal itu, dan inilah pendapat para ulama dan para ahli tafsir” [Lihat: Tafsir at-Thabari (8/557)].

Demikian pula Al-Baghawi dalam tafsirnya [Lihat: Tafsir al-Baghawi (3/76-77)].

([22]) Shahih al-Bukhari (6/112), Kitab Tafsir Al-Qur’an, surat Al-Qashash

([23])Imam Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini beliau hanya menyebutkan 2 pendapat [Lihat: Tafsir At-Thabari (18/358)].

([24]) Ini adalah pendapat Mujahid dan At-Tsauri rahimahumallah  [Lihat: Tafsir Ibn Abi Haatim (9/3028)].

([25]) Lihat: Fath al-Baari (8/505).

Apa yang dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahullah persis sebagaimana yang terdapat dalam kitab Majaz al-Qur’an. Abu Úbaidah Mámar bin al-Mutsanna berkata,

«كُلُّ شَيْءٍ هالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ» مجازه: إلّا هُوِ … وَهَذَا الْمَعْنَى بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ، فَإِذَا هَلَكَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ جَنَّةٍ وَنَارٍ وَمَلَكٍ وَسَمَاءٍ وَأَرْضٍ وَمَلَكِ الْمَوْتِ فَإِذَا بَقِيَ وَحْدَهُ نُفِخَ فِي الصُّوْرِ النَّفْخَةَ الآخِرَةَ وَأَعَادَ كُلَّ جَنَّةٍ وَنَار ٍوَمَلَكٍ وَمَا أَرَادَ

Firman Allah ﷻ كُلُّ شَيْءٍ هالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ majaz (tafsir) nya adalah إلّا هو “Kecuali Dia (Allah ﷻ)”… dan makna ini terjadi antara dua tiupan sangkakala. Jika telah binasa segala sesuatu, termasuk surga, neraka, malaikat, langit, bumi, dan malaikat maut, maka jika tersisa Allah ﷻ sendirian ditiupkanlah sangkakala tiupan yang terakhir, dan Allah ﷻ mengembalikan kembali, surga, neraka, malaikat, dan apa yang Allah ﷻ kehendaki.” [Majaz al-Qur’an (2/212)].

([26]) Lihat penjelasan Syaikh Abdul Muhsin al-Ábbaad dalam Syarh Sunan Abi Daud pada dars No. 573

Peringatan : Kalaupun dibaca dengan إِلَّا مُلْكَهُ, maka maksudnya adalah sifat Al-Mulk (maha memiliki) nya Allah ﷻ, bukan Al-Mulk yang berarti ciptaan Allah ﷻ yang merupakan makhluk. Karena kalau artinya demikian maka akan terjadi kontradiktif, sehingga makna ayat menjadi, “ Semuanya akan hancur kecuali semua ciptaan Allah ﷻ”. Akan tetapi makna ayat adalah, “ Semua akan binasa kecuali sifat kepemilikan Allah ﷻ”, sebagai kelaziman dari tetap kekalnya wajah Allah ﷻ, yang melazimkan kekalnya dzat Allah ﷻ, dan melazimkan kekalnya sifat-sifat dzat Allah ﷻ di antaranya sifat Al-Mulk (Maha memiliki).

([27])  Imam Bukhari (wafat 256 H) berkata,

وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَادِي بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ، فَلَيْسَ هَذَا لِغَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرُهُ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: ” وَفِي هَذَا دَلِيلٌ أَنَّ صَوْتَ اللَّهِ لَا يُشْبِهُ أَصْوَاتَ الْخَلْقِ، لِأَنَّ صَوْتَ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ يُسْمَعُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يُسْمَعُ مِنْ قُرْبِ، وَأَنَّ الْمَلَائِكَةَ يُصْعَقُونَ مِنْ صَوْتِهِ، فَإِذَا تَنَادَى الْمَلَائِكَةُ لَمْ يُصْعَقُوا، وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {فَلَا تَجْعَلُوا لِلِّهِ أَنْدَادًا} فَلَيْسَ لِصِفَةِ اللَّهِ نِدٌّ، وَلَا مِثْلٌ، وَلَا يوجدُ شَيْءٌ مِنْ صِفَاتِهِ فِي الْمَخْلُوقِينَ “

“Dan sesungguhnya Allah ﷻ menyeru dengan suara yang didengar orang yang jauh sama sebagaimana didengar oleh orang yang dekat. Dan seperti ini tidak bisa bagi selain Allah ﷻ. Dan ini adalah dalil bahwasanya suara Allah ﷻ tidak seperti suara-suara makhluk, karena suara Allah ﷻ didengar oleh orang yang jauh sebagaimana pendengaran orang yang dekat. Jika para malaikat mendengar suara Allah ﷻ maka mereka pingsan, dan jika para malaikat –di antara mereka- saling memanggil maka mereka tidak pingsan. Allah ﷻ telah berfirman,

فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا

“Karena itu janganlah kamu Mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah ﷻ.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Maka tidak ada tandingan bagi sifat Allah ﷻ, dan juga tidak ada yang menyamai, dan tidak ada satu sifat Allah ﷻ pun yang ada pada para makhluk.” [Khalqu Af’al al-‘Ibaad (91-92)].

Imam Bukhari menjelaskan poin perbedaan suara Allah ﷻ dengan suara makhluk, di antaranya:

  • Suara Allah ﷻ didengar sama bagi orang yang jauh maupun yang dekat, dan ini berbeda dengan suara manusia.
  • Malaikat akan pingsan jika mendengar suara Allah ﷻ. Berbeda dengan suara malaikat, mereka saling mendengar suara di antara mereka ketika berbicara (tidak pingsan).

([28]) Imam Bukhari rahimahullah berkata,

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي}

“Bab firman Allah ﷻ“, dan agar engkau (wahai Musa) dipelihara di atas mata-Ku”

Lalu Imam Bukhari membawakan 2 Hadis tentang Dajal yang matanya buta sebelah sementara Allah ﷻ tidak buta sebelah,

«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَخْفَى عَلَيْكُمْ، إِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى عَيْنِهِ – وَإِنَّ المَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ العَيْنِ اليُمْنَى، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ»

“Sesungguhnya Allah ﷻ tidaklah samar bagi kalian, sesungguhnya Allah ﷻ tidaklah buta sebelah -dan Nabi mengisyaratkan dengan tangannya ke mata beliau-, dan sesungguhnya Dajal mata kanannya buta, seakan-akan matanya seperti buah anggur yang muncul.”

«مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَنْذَرَ قَوْمَهُ الأَعْوَرَ الكَذَّابَ، إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ»

“Tidaklah Allah ﷻ mengutus seorang nabi-pun kecuali ia akan memperingatkan umatnya dari sang buta sebelah, yaitu sang pendusta. Sesungguhnya ia (Dajal) buta sebelah, dan sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah. Tertulis كَافِر “Kafir” Di antara kedua mata Dajal” [Shahih al-Bukhari (9/121)].

([29])Imam Bukhari rahimahullah berkata,

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ}

“Bab firman Allah ﷻ “Kepada Adam yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku”

Lalu Imam Bukhari menyebutkan hadis-hadis tentang sifat tangan Allah ﷻ. Ibnu Batthal menjelaskan bahwa maksud Imam Bukhari adalah menetapkan sifat dua tangan Allah ﷻ.

Beliau rahimahullah berkata,

اِسْتِدْلاَلُهُ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: (لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ)، وَسَائِرِ أَحَادِيْثِ الْبَابِ عَلَى إِثْبَاتِ يَدَيْنِ اللهِ هُمَا صِفَتَانِ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ… لَمْ يَجُزْ أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُمَا قُدْرَتَانِ، وَلاَ إِنَّهُمَا نِعْمَتَانِ

“Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah ﷻ “Kepada Adam yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” dan seluruh hadis-hadis yang beliau sebutkan dalam bab ini untuk menetapkan sifat dua tangan bagi Allah ﷻ, yang keduanya adalah dua sifat dari sifat-sifat dzat Allah ﷻ….tidak boleh dikatakan keduanya adalah dua qudrah, dan tidak boleh juga dikatakan keduanya adalah dua nikmat” [Syarh Sahih al-Bukhari (10/436)].

([30]) Imam Bukhari dalam shahih-nya berkata  “Kitab bantahan terhadap Jahmiyah” (dan judul seperti ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dalam riwayat Al-Mustamli, dan juga terdapat pada nuskhah Ibnu Batthal dan Ibnu At-Tiin, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar [Lihat: Fath al-Baari (13/344)].

Dalam kitab tersebut Imam Bukhari juga membawakan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah ﷻ berada di atas langit sebagai bantahan kepada akidah Jahmiyah yang mengingkari adanya Allah ﷻ di atas langit. Imam Bukhari rahimahullah berkata,

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {تَعْرُجُ المَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ}، وَقَوْلِهِ جَلَّ ذِكْرُهُ: {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الكَلِمُ الطَّيِّبُ} وَقَالَ أَبُو جَمْرَةَ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، بَلَغَ أَبَا ذَرٍّ مَبْعَثُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لِأَخِيهِ: اعْلَمْ لِي عِلْمَ هَذَا الرَّجُلِ، الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ يَأْتِيهِ الخَبَرُ مِنَ السَّمَاءِ

“Bab firman Allah ﷻ ‘Para malaikat dan Jibril naik ke Allah ﷻ.’ (QS. Al-Ma’arij: 4), dan firman Allah ﷻ, ‘Kepada Allah ﷻ lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amalan saleh dinaikkan-Nya.’ (QS. Fathir: 10). Abu Hamzah berkata, ‘Dari Ibnu Abbas, bahwasanya pada saat kabar tentang diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sampai kepada Abu Dzar radhiallahu ‘anhu maka Abu Dzar berkata kepada saudaranya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ilmu orang ini (yaitu Nabi Muhammad ﷺ) yang menyangka bahwa telah datang kepadanya kabar dari langit!’.” [Shahih al-Bukhari (99/126)].

Pendalilan Imam Bukhari ini telah diisyaratkan juga oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dalam perkataannya,

حَدِيث أخرجه البُخَارِيّ فِي كتاب الرَّد على الْجَهْمِية من صَحِيحه فِي بَاب قَوْله {إِلَيْهِ يصعد الْكَلم الطّيب} عَن ابْن عَبَّاس قَالَ بلغ أَبَا ذَر مبعث النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَقَالَ لِأَخِيهِ اعْلَم لي علم هَذَا الرجل الَّذِي يزْعم أَنه يَأْتِيهِ الْخَبَر من السَّمَاء

“Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab shahih-nya, yaitu pada Bab firman Allah ﷻ, “Kepada Allah ﷻ-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amalan saleh dinaikkan-Nya.” [Al-’Uluw li al-’Aliy al-Ghaffaar (65)].

([31]) Imam Bukhari rahimahullah berkata,

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ}

“Bab firman Allah ﷻ “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya.”

Lalu beliau membawakan hadis dari Jabir bin Ábdillah beliau berkata,

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {قُلْ هُوَ القَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ}، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعُوذُ بِوَجْهِكَ»، فَقَالَ: {أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ}، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعُوذُ بِوَجْهِكَ»، قَالَ: {أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا}، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَذَا أَيْسَرُ»

“Tatkala turun firman Allah ﷻ, (Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu dari atas kamu), Nabi Muhammad ﷺ berkata, “Aku berlindung dengan wajah-Mu”, maka Allah ﷻ berfirman,  (atau dari bawah kakimu), maka Nabi Muhammad ﷺ berkata, ‘Aku berlindung dengan wajah-Mu’, Allah ﷻ berfirman, (atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) (QS Al-Anáam : 65), maka Nabi Muhammad ﷺ berkata, ‘Ini lebih ringan’.” (HR. Bukhari No. 7406)

Ibnu Batthal berkata,

اِسْتِدْلاَلُهُ مِنْ هَذِهِ الآيَةِ وَالْحَدِيْثِ عَلَى أَنَّ لله ِتعالى وَجْهًا هُوَ صِفَةُ ذَاتِهِ … فَثَبَتَ أَنَّ لَهُ وَجْهًا لاَ كَالْوُجُوْهِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.

“Imam Bukhari berdalil dengan ayat ini dan hadis tersebut atas bahwasanya Allah ﷻ memiliki wajah yang merupakan sifat dzat-Nya….maka tetaplah bahwasanya Allah ﷻ memiliki wajah yang tidak seperti wajah-wajah yang ada, karena Allah ﷻ tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya” [Syarh Shahih al-Bukhari (10/431)].

Karena jika doa Nabi Muhammad ﷺ dalam hadis ini “Aku berlindung dengan wajah-Mu” lantas wajah ditakwil dengan makna kerajaan Allah ﷻ maka berarti Nabi Muhammad ﷺ telah berlindung dengan makhluk, yang hal itu adalah kesyirikan, karena kita hanya boleh berlindung dengan sifat Allah ﷻ.

([32]) Ini merupakan pendapat Ibnu Hazm rahimahullah, beliau berkata,

وَأَنَّ لَهُ عَزَّ وَجَلَّ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، وَهِيَ أَسْمَاؤُهُ الْحُسْنَى، مَنْ زَادَ شَيْئًا مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ فَقَدْ أَلْحَدَ فِي أَسْمَائِهِ… وَمَنْ أَجَازَ هَذَا فَهُوَ كَافِرٌ

“Dan bahwasanya Allah ﷻ memiliki 99 nama, dan itulah al-Asma’ al-Husna. Barang siapa yang menambah satu nama pun dari dirinya sendiri maka ia telah berbuat ilhaad (penyimpangan)…dan barang siapa yang membolehkan menambah satu nama Allah ﷻ saja dari 99 nama maka ia kafir.” [Al-Muhalla bil Atsar (1/50)].

([33]) Bahkan An-Nawawi rahimahullah menghikayatkan kesepakatan para ulama akan hal itu. Beliau berkata,

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ هَذَا الْحَدِيثُ لَيْسَ فِيهِ حَصْرٌ لِأَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ

“Para ulama telah sepakat bahwa hadis ini (hadis 99 nama Allah ﷻ-pen) tidak menunjukkan pembatasan nama-nama Allah ﷻ pada jumlah tertentu.” [Al-Minhaj (5/17)].

([34]) HR. Ahmad No. 3704.

([35]) Lihat: Badaí al-Fawaid, Ibnul Qayyim (1/166).

([36]) HR. Bukhari No. 7510 dan Muslim No. 193.

([37]) HR. Muslim No. 486.

([38]) HR. Bukhari No. 2736 dan Muslim No. 2677.

([39]) HR. Abu Dawud No. 3451.

([40]) Lihat Badaai’ al-Fawaaid1/167

([41]) HR. Bukhari No. 3116.

([42]) HR. At-Tirmidzi No. 3513.

([43]) Lihat: Al-Qawaaíd al-Mutslaa (8).

([44]) Lihat: Fath al-Qadiir (1/612-613), Adwa’ al-Bayaan (5/488).

([45]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (918).

([46]) Lihat: Thariqot al-Hijratain, Ibnul Qayyim (364).