Keagungan Allah ﷻ (BAB-66)

مَا جَاءَ فِي قَوْلِ اللهِ تَعَالَى {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ} الآيَةُ

Keagungan Allah ﷻ

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Syarah

Bab ini adalah bab terakhir yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala dengan penyusunan yang sangat indah dimana beliau menutup kitab tauhid yang berjumlah enam puluh enam bab ini dengan penjelasan sebab terjadinya kesyirikan yang tidak lain adalah perbuatan tidak mengagungkan Allah ﷻ sebagaimana mestinya. Seandainya seluruh manusia mengagungkan Allah ﷻ sebagaimana mestinya, maka tentu kesyirikan tidak akan pernah terjadi. Akan tetapi kenyataannya banyak manusia yang lalai dalam hal ini, sehingga mereka melakukan kesyirikan dengan menyamakan Allah ﷻ dengan makhluk. Maka pada bab ini akan dijelaskan bagaimana agungnya Allah ﷻ dan sebab terjadinya kesyirikan yaitu sikap tidak mengagungkan Allah ﷻ sebagaimana mestinya.

Matan

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” ([1])

Syarah

Pada ayat ini Allah ﷻ menyebutkan tentang sikap sebagian manusia yang tidak mengagungkan Allah ﷻ sebagaimana mestinya. Ayat seperti ini Allah ﷻ sebutkan juga di beberapa ayat yang lain. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia. katakanlah! Siapa yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagu manusia. Kalian jadikan kitab itu sebagai lembaran yang tercerai berai, kalian tamapkkan sebagian dan banyak yang kalian sembunyikan darinya. Padahal telah diajarkan kepada kalian apa-apa yang tidak diketahui oleh kalian dan nenek moyang kalian. Katakanlah Allah ‘Azza wa Jalla! Lalu biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan mereka.”([2])

Allah ﷻ juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ، مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”([3])

Bagaimana mungkin mereka ingin menyamakan sesembahan mereka dengan Allah ﷻ. Sesembahan mereka sangatlah hina, rendah dan penuh dengan kekurangan. Bahkan untuk menyelamatkan diri mereka dari curian lalat pun mereka tidak mampu. Maka sangat tidak mungkin jika sesembahan tersebut dibandingkan dengan Allah ﷻ Yang Maha Agung.  Allah berfirman:

آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

“Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)?”([4])

Matan

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: “Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah ﷻ seraya berkata:

يَا مُحَمَّدُ، إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللهَ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالأَرَضِيْنَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالمَاءَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ، وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ، فَيَقُوْلُ: أَنَا الْمَلِكُ، فَضَحِكَ النَّبِيُّ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيْقًا لِقَوْلِ الحَبْرِ، ثَمَّ قَرَأَ:

“Wahai Muhammad, sesungguhnya kami dapati (dalam kitab suci kami) bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Allah berfirman: “Akulah Penguasa (raja)”, maka Rasulullah tertawa sampai nampak gigi geraham beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu, kemudian beliau membacakan firman Allah:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat.” ([5])

Dan dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan:

وَالْجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى أُصْبُعٍ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُوْلُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا اللهُ

“Gunung-gunung dan pohon-pohon di atas satu jari, kemudian digoncangkannya seraya berfirman: “Akulah penguasa, Akulah Allah.” ([6])

Dan dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan:

يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ

“Allah letakkan semua langit di atas satu jari, air serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari.”

Syarah

Hadist ini menjelaskan tentang keagungan Allah ﷻ bahwasanya Allah ﷻ memiliki sifat tangan yang ada jari-jarinya. Tentu sebagaimana kaedah yang diyakini oleh ahlus sunnah wal jama’ah bahwasanya tidak ada suatu pun yang serupa dengan Allah ﷻ. Oleh karenanya jika Allah ﷻ menyebutkan bahwa dirinya memiliki tangan, maka tangan Allah ﷻ tidak seperti tangan makhluk. Kemudian juga jika Allah ﷻ menyebutkan bahwa pada tanganNya terdapat jari-jari, maka jari-jari Allah ﷻ tidak seperti jari-jari makhluk. Yang jelas Nabi ﷺ menjelaskan dalam banyak hadits bahwasanya Allah ﷻ memiliki tangan yang pada tangan tersebut terdapat jari-jarinya. ([7])

Dikisahkan suatu ketika datang seorang pendeta atau orang alim dari Yahudi kepada Nabi ﷺ. Ia datang untuk menjelaskan kepada Nabi ﷺ  bahwasanya ia mendapati keyakinannya yang terdapat di dalam taurat dan yang lainnya bahwa pada hari kiamat kelak Allah ﷻ akan meletakkan langit di satu jari, bumi di satu jari, makhluk-makhluk di satu jari, dan yang lainnya. Ketika Nabi ﷺ mendengar hal itu maka Nabi ﷻ pun tertawa. Mengapa nabi ﷺ tertawa? Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang meriwayatkan hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tertawa karena membenarkan perkataan sang pendeta. Kemudian Nabi ﷺ menekankan hal tersebut dengan membacakan firman Allah ﷻ:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”[8]

Hadits yang menceritakan kisah ini sangat jelas menunjukkan bahwasanya semua makhluk di alam semesta ini  sangatlah kecil hanya sebatas genggaman Allah ﷻ. Allah ﷻ sangatlah besar. Allah ﷻ Maha agung, mudah dan ringan bagi Allah ﷻ untuk menggoncangkan alam ini. Nabi ﷺ bersabda:

ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ

“Kemudian Allah menggoncangkannya (gunung-gunung dan pohon-pohon).”([9])

Allah ﷻ juga yang mengatur pergerakan seluruh alam semesta ini. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا

“Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.”([10])

Allah ﷻ juga yang mengatur orbit-orbit alam semesta, mengatur orbit matahari dan rembulan agar berjalan sesuai aturannya sehingga tidak saling bertabrakan. Semua yang ada di alam semesta ini Allah ﷻ atur dengan kehebatanNya sehingga begitu muhkam dan teratur. Akan tetapi semua pengaturan ini kelak akan dihancurkan oleh Allah  ﷻ di hari kiamat. Allah ﷻ akan goncang seluruh aturan ini. Allah ﷻ yang menciptakan dan mengatur, maka berhak bagi Allah ﷻ untuk menghancurkan seluruhnya.

Ahlul bid’ah ketika berhadapan dengan hadits seperti ini maka mereka kebingungan sebab hadist ini menjelaskan bahwa Allah ﷻ memiliki tangan dan jari, sedang mereka menolak adanya sifat-sifat Allah ﷻ. Yang menjadikan mereka lebih bingung lagi adalah hadits ini ternyata terdapat di dalam shahih Bukhori dan Muslim, yang berarti hadist ini adalah hadits yang shahih. Maka untuk membenarkan keyakinan mereka, jalan takwil pun dilakukan. Mereka melakukan takwil dengan mengatakan bahwa tertawanya Nabi ﷺ pada hadits ini bukanlah untuk membenarkan, akan tetapi untuk menyalahkan perkataan pendeta Yahudi tersebut. Ini adalah suatu takwil yang salah dan sangat jauh dari kebenaran. Oleh karenanya takwil ini dapat dibantah melalui berapa sisi:

  1. Jika saja perkataan pendeta Yahudi tersebut salah, tentu Nabi ﷻ akan marah. Sebagaimana yang telah disebutkan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwasanya Nabi ﷻ pernah marah kepada seorang baduwi karena ia mengatakan suatu perkataan yang batil yaitu

نَسْتَشْفِعُ بِاللهِ عَلَيْكَ

“Kami menjadikan Allah sebagai Pemberi syafa’at untuk engkau”([11])

Jika saja perkataan baduwi ini bisa membuat Nabi ﷺ begitu marah, bagaimana lagi kalau ternyata yang disampaikan oleh pendeta Yahudi adalah kesyirikan sebagaimana yang dipersangkakan oleh para ahlul bid’ah. Jika benar bahwasanya mengatakan Allah ﷻ memiliki tangan dan jari adalah kekufuran, tentu Nabi ﷺ akan marah. Kenyataannya, Nabi ﷻ malah tertawa setelah mendengar perkataan tersebut. Ini menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ membenarkan perkataan tersebut.

  1. Perkataan perawi hadits yaitu sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu تَصْدِيْقًا لِقَوْلِ الحَبْرِ “tertawa karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu” menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tertawa karena membenarkan perkataan pendeta Yahudi tersebut.

Para ahlul bid’ah ketika mendengar penjelasan ini mereka membantah dengan mengatakan bahwasanya Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu salah paham, yang sebenarnya tidaklah seperti itu.

Perkataan mereka ini sungguh menunjukkan akan kesombongan mereka terhadap sahabat Nabi ﷺ. Siapakah yang lebih paham tentang Nabi ﷺ, para ahlul bid’ah kah atau Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu?

Ibnu Mas’ud adalah seorang sahabat Nabi ﷻ yang Nabi ﷺ pernah bersabda tentang dirinya:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

“Barangsiapa ingin membaca Al Qur’an dengan benar sebagaimana ketika diturunkan, maka hendaklah ia membaca berdasarkan bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (Abdullah bin Mas’ud).”([12])

Keutamaan Ibnu Mas’ud ini membantahkan dan mematahkan akan tuduhan para ahlul bid’ah terhadap Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwasanya ia tidak memahami ucapan Nabi ﷺ.

  1. Jika ternyata perkataan pendeta Yahudi bahwasanya Allah ﷻ memiliki jari dan tangan adalah kekufuran, mengapa Nabi ﷺ justru membacakan ayat Al-Qur’an yang mengarah ke perkataan tersebut? Hal ini menunjukkan bahwa perkataan pendeta Yahudi tersebut adalah benar.
  2. Jika benar perkataan pendeta Yahudi adalah kesalahan atau kekufuran, tentu Nabi ﷺ pasti akan menyalahkannya, kemudian menjelaskan yang benar. Kenyataannya Nabi ﷺ malah tertawa kemudian pergi tanpa menyalahkan hal tersebut. Hal ini menyalahi sebuah kaidah di dalam ushul fiqh bahwasanya:

تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنِ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزُ

“Mengakhirkan penjelasan pada saat dibutuhkan tidak dibolehkan”.

Oleh karenanya, hal ini menunjukkan bahwa perkataan pendeta Yahudi tersebut adalah suatu kebenaran, sebab jika perkataan tersebut adalah kesalahan atau kekufuran, tentu Nabi ﷺ akan menjelaskan saat itu juga.

Intinya apa yang dikatakan oleh pendeta Yahudi tersebut adalah benar. Oleh karenanya Nabi ﷺ mendatangkan dalil dari Al-Qur’an untuk membenarkan perkataan tersebut.

Dari kisah di atas menunjukkan bahwasanya tidak semua yang terdapat pada Taurat dan Injil adalah salah. Walaupun dikatakan bahwa Taurat dan Injil telah mengalami perubahan, maka bukan berarti kemudian semua yang terdapat di dalam keduanya adalah salah. Oleh sebab itu menjadi sebuah aturan dalam syari’at islam adalah apa-apa yang diriwayatkan dari Taurat dan Injil jika sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits, maka kita benarkan. Begitupun sebaliknya, apa-apa yang diriwayatkan dari Taurat dan Injil jika bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist, maka kita salahkan. Adapun jika kita tidak mengetahui riwayat tersebut benar ataukah salah, maka tidak perlu kita benarkan dan juga tidak perlu untuk kita salahkan, Nabi ﷺ pernah bersabda:

حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ

“Ceritakanlah tentang Bani Israil, dan tidak mengapa”([13])

Nabi ﷺ juga pernah bersabda:

لاَ تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوهُمْ

“Janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka”[14]

Berdasarkan ini, maka jika datang penukilan dari kitab-kitab orang Yahudi dan Nasrani yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka kita benarkan hal tersebut. Seperti halnya pada hadits ini, seorang pendeta menukil kepada Nabi ﷺ bahwasanya Allah ﷻ akan menggoncang bumi dalam genggamanNya pada hari kiamat, maka Nabi ﷺ pun membenarkannya, sebab hal tersebut sesuai dengan Al-Qur’an.

Hal ini perlu menjadi perhatian bagi kita mengingat ada sebagian orang yang menolak sifat-sifat Allah ﷻ dengan mengait-ngaitkan apa yang diyakini oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Misalnya perkataan mereka bahwasanya keyakinan bahwa Allah di atas adalah keyakinan Yahudi, berarti orang-orang yang meyakini hal tersebut sama seperti orang-orang Yahudi.

Maka kita katakan kalau semua yang diyakini Yahudi dan Nashrani tidak boleh kita yakini maka tentu kita tidak boleh meyakini Tuhan kita adalah Allah, karena mereka (Yahudi dan Nashoro) pun meyakini bahwa tuhan mereka adalah Allah. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwasanya tidak semua keyakinan Yahudi dan Nasrani adalah salah, dan di antara keyakinan mereka yang benar adalah pencipta alam semesta adalah Allah ﷻ. Dalam perjanjian lama dan perjanjian baru disebutkan hal tersebut. Maka jika mereka meyakini bahwasanya Allah ﷻ di atas, maka kita benarkan, sebab hal tersebut sesuai dengan dalil. Dan tidak ada masalah, meskipun Yahudi dan lainnya meyakini yang demikian, karena yang kita jadikan acuan adalah syariat kita, dan kita tidak memperdulikan agama manapun yang menyamai syariat kita. Dan sangat banyak ibadah-ibadah yang juga dilakukan orang Yahudi dan lainnya, dan tidak ada satupun kaum muslimin yang menolaknya hanya karena orang Yahudi melakukannya juga. Yang terlarang adalah: Mengikuti adat atau keyakinan khusus orang kafir yang yang terlarang dalam syariat kita. Jika di dalam syariat kita diperintahkan, maka tidak perlu lagi memikirkan adanya orang kafir yang menyamai. Demikian juga Yahudi dan Nashoro meyakini banyak nabi-nabi bani Israil, sebagaimana kita juga meyakini karena syariát kita membenarkan akan hal tersebut.

Bahkan sebaliknya justru banyak ulama yang menjadikan keyakinan Yahudi ini adalah dalil bahwasanya Allah ﷻ di atas karena sesuai dengan fitrah manusia. Tidak hanya kaum Yahudi dan Nasrani, seluruh penganut-penganut agama meyakini hal tersebut. Ini menunjukkan keberadaan Allah ﷻ di atas Maha tinggi dan Maha agung adalah fitrah manusia. Adapun Ahlul bid’ah malah mengatakan sebaliknya, bahwa keyakinan Allah berada di atas adalah keyakinan kufur sebagaimana yang diyakini oleh Yahudi.

Matan

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷻ bersabda:

يَطْوِي اللهُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ اليُمْنَى، ثُمَّ يَقُوْلُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الجَبَّارُوْنَ؟ أَيْنَ المُتَكَبِّرُوْنَ؟ ثُمَّ يَطْوِي الأَرَضِيْنَ السَّبْعَ، ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ يَقُوْلُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الجَبَّارُوْنَ؟ أَيْنَ المُتَكَبِّرُوْنَ؟

“Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari kiamat, lalu diambil dengan tangan kanan-Nya, dan berfirman: ‘Akulah penguasa, mana orang-orang yang berlaku lalim? Mana orang-orang yang sombong? Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi, lalu diambil dengan tangan kiri-Nya dan berfirman: ‘Aku lah Penguasa, mana orang-orang yang berlaku lalim? Mana orang-orang yang sombong?” ([15])

Syarah

Hadits ini juga menceritakan tentang agungnya Allah ﷻ serta menguatkan ayat dan hadist sebelumnya bahwa pada hari kiamat Allah ﷻ akan melipat langit, kemudian Allah ﷻ menggoyangkannya, kemudian Allah ﷻ mengambil langit tersebut dengan tangan kananNya, kemudian berkata “Akulah Raja, dimanakah orang-orang yang sombong dan angkuh?”. Dalam riwayat yang lain Allah ﷻ berkata:

أَيْنَ مُلُوْكُ الأَرْضِ

“Dimana raja-raja dunia?”([16])

Pada saat itu tidak ada satupun yang dapat berbicara, semua rendah dan hina di hadapan Allah ﷻ. Terlebih orang-orang yang sombong mereka akan dihinakan oleh Allah ﷻ. Nabi ﷻ bersabda:

يُحشَرُ المتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ في صُوَرِ الرِّجالِ يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ من كلِّ مَكانٍ

“Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah”([17])  

Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ini terdapat pembahasan tentang sifat Allah ﷻ bahwasanya Allah ﷻ memiliki dua tangan yaitu kiri dan kanan. Disebutkan bahwasanya Allah ﷻ memegang langit dengan tangan kananNya dan Allah ﷻ memegang bumi dengan tangan kiriNya. Pembahasan ini di bahas oleh para ulama di pembahasan asma’ wa sifat. Mereka berselisih apakah hadits ini shahih ataukah tidak. ([18]) Sebab pada riwayat lain dalam shahih Muslim Nabi mengatakan bahwasanya:

كِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ

“Kedua tangan Allah adalah kanan”.([19])

Wallahu a’lam yang benar adalah kedua tangan Allah adalah kanan, sebab banyak para ulama yang mendhoifkan riwayat Ibnu Umar ini yaitu mendhoifkan riwayat tangan kiri Allah ﷻ.

Hal ini semakin menunjukkan bahwasanya Allah ﷻ tidak bisa dibayangkan seperti halnya makhluk. Kita sebagai makhluk selalu membayangkan adanya kanan dan kiri. Adapun Allah ﷻ kedua tangannya adalah kanan. Bagaimananya, tidak bisa kita cerna dan pahami. Yang jelas Allah memiliki tangan, yang tangan tersebut tidak seperti tangan makhluk. Dengan tangan itulah Allah ﷻ menggenggam, Allah ﷻ menciptakan Adam ‘alaihissalam, Allah ﷻ melipat langit, dan yang lainnya sebagaimana yang datang pada hadits-hadist Nabi ﷺ dan Al-Quran Al-Karim.

Matan

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرَضُوْنَ السَّبْعُ فِيْ كَفِّ الرَّحْمَنِ إِلاَّ كَخَرْدَلَةٍ فَيْ يَدِ أَحَدِكُمْ

“Tidaklah langit tujuh dan bumi tujuh di Telapak Tangan Allah Ar Rahman, kecuali bagaikan sebutir biji sawi diletakkan di telapak tangan seseorang di antara kalian.” ([20])

Syarah

Hadits ini menjelaskan betapa kecilnya langit dan bumi yang tujuh jika dibandingkan dengan Allah ﷻ. Sebagaimana kecilnya biji sawi jika dibandingkan dengan tubuh manusia, maka seperti itulah langit dan bumi yang tujuh jika dibandingkan dengan besarnya Allah ﷻ. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu pada riwayat ini tidak sedang menyamakan tangan Allah dengan tangan makhluk, akan tetapi hanya ingin menjelaskan betapa kecilnya langit dan bumi di hadapan Allah ﷻ. ([21]) Artinya, Allah ﷻ Maha besar, Allah ﷻ  tidak bisa dibandingkan dengan makhluk. Allah ﷻ berfirman:

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Kami benar-benar meluaskannya.”([22])

Lihatlah betapa luasnya langit, sampai-sampai kita tidak akan pernah tahu seberapa luasnya langit. Langit pertama, langit kedua, langit ketiga, dan seterusnya hingga langit ketujuh. Kita tidak akan pernah tahu dimana pangkal dan ujung dari langit. Akan tetapi seluruh langit ternyata kecil di tangan Allah ﷻ, ibarat seseorang yang memegang biji kecil ditangannya.

Matan

Ibnu Jarir berkata: “Yunus meriwayatkan kepadaku dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin Aslam), ia berkata: Rasulullah ﷻ bersabda:

مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِيْ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَدَرَاهِمَ سَبْعَةٍ أُلْقِيَتْ فِيْ تِرْسٍ

“Ketujuh langit berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagaikan tujuh keping Dirham yang diletakkan di atas perisai.” ([23])

Syarah

Riwayat ini adalah riwayat yang mursal, sebab Zaid bin Aslam adalah seorang tabi’in, ia tidak bertemu dengan Rasulullah ﷺ. Dan lebih bermasalah lagi adalah: ternyata periwayatan ini melalui jalur ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan beliau adalah perowi yang dhoif, bahkan Ibnu Al-Madini sangat mendhoifkan haditsnya. ([24]) Akan tetapi makna dari riwayat ini adalah benar.

Matan

Kemudian Ibnu Jarir berkata: “Dan Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷻ bersabda:

مَا الكُرْسِيُّ فِيْ العَرْشِ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مِنْ حَدِيْدٍ أُلْقِيَتْ بَيْنَ ظَهْرَيْ فَلاَةٍ مِنَ الأَرْضِ

“Kursi yang berada di Arsy tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dibuang ditengah tengah padang pasir.” ([25])

Syarah

Kursi Allah ﷻ sangatlah luas, Allah ﷻ berfirman:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi”([26])

Langit dan bumi yang begitu besar jika dibandingkan dengan kursi Allah ﷻ maka seperti cincin yang diletakkan di padang pasir. Adapun kursi Allah ﷻ sendiri jika dibandingkan dengan Arsy Allah ﷻ maka seperti cincin yang diletakkan di padang pasir. Jika saja luas kursi dan Arsy Allah ﷻ tidak mampu untuk kita bayangkan, bagaimana lagi dengan besarnya Allah ﷻ. Sungguh Allah Maha besar, Maha Agung dan Maha perkasa.

Matan

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

بَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِيْ تَلِيهَا خَمْسُمِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ وَسَمَاءٍ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَالْكُرْسِيِّ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ الْكُرْسِيِّ وَالْمَاءِ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ فَوْقَ المَاءِ، وَاللهُ فَوْقَ الْعَرْشِ، لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ أَعْمَالِكُمْ

“Antara langit yang paling bawah dengan yang berikutnya jaraknya 500 tahun, dan antara setiap langit jaraknya 500 tahun, antara langit yang ketujuh dan Kursi jaraknya 500 tahun, antara Kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun, sedang Arsy itu berada di atas samudra air itu, dan Allah berada di atas Arsy, tidak tersembunyi bagi Allah suatu apapun dari perbuatan kalian.” (HR. Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah, dari Aisyah, dari Zarr, dari Abdullah bin Mas’ud). ([27])

Atsar ini diriwayatkan dari berbagai macam jalur sanad, demikian yang dikatakan oleh imam Ad Dzahabi.

Syarah

Disini menjelaskan tentang bagaimana luasnya alam semesta ini. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwasanya jarak antara langit dunia dan langit berikutnya adalah jarak lima ratus tahun perjalanan. Hal ini menunjukkan betapa tingginya Allah ﷻ. Allah ﷻ Maha tinggi di atas arsyNya. Meskipun begitu tingginya Allah ﷻ, tidak satupun amalan manusia yang samar bagi Allah ﷻ. Inilah makna dari firman Allah ﷻ:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin”.([28])

Dan juga sabda Nabi ﷺ:

وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ

“Dan Engkau (Allah) Zahir, maka tidak ada satupun di atasMu, dan Engkau Maha Bathin, tidak ada satupun yang tersembunyi bagiMu”.([29])

Allah ﷻ meskipun Dia adalah Maha tinggi dari segalanya, akan tetapi Dia ﷻ Maha mengetahui tidak ada satupun yang samar bagiNya, sebab Dia ﷻ adalah Maha Bathin.

Matan

Al Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷻ bersabda:

هَلْ تَدْرُوْنَ كَمْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ؟ قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: بَيْنَهُمَا مَسِيْرَةُ خَمْسُمِائَةِ سَنَةٍ، وَمِنْ كُلِّ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ مَسِيْرَةُ خَمْسُمِائَةِ سَنَةٍ، وَكَثْفُ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيْرَةُ خَمْسُمِائَةِ سَنَةٍ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَالْعَرْشِ بَحْرٌ بَيْنَ أَسْفَلِهِ وَأَعْلاَهُ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، وَاللهُ فَوْقَ ذَلِكَ، وَلَيْسَ يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ أَعْمَالِ بَنِيْ آدَمَ

“Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bum? Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”,  beliau bersabda: “Antara langit dan bumi itu jaraknya perjalanan 500 tahun, dan antara langit yang satu dengan yang lain jaraknya perjalanan 500 tahun, sedangkan tebalnya setiap langit adalah  perjalanan 500 tahun, antara langit yang ketujuh dengan Arsy ada samudra, dan antara dasar samudra dengan permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi, dan Allah I di atas itu semua, dan tiada yang tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak Adam.” ( HR. Abu Daud dan ahli hadits yang lain). ([30])

Syarah

Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an:

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا

““Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?”([31])

Berikut adalah gambaran alam semesta secara sederhana untuk memberikan penjelasan bahwasanya alam semesta ini sangatlah luas.

gambaran alam semesta

Kalau saja makhluk Allah ﷻ seperti langit sangatlah luas dan besar, lalu bagaimana lagi dengan pencipta langit tersebut. Allah ﷻ sungguh Maha besar dan Maha Agung. Oleh karenanya manusia sangatlah kecil jika dibandingkan dengan luasnya langit. Jika demikian, lalu apa yang mau disombongkan oleh manusia.

Ini semua menunjukkan bahwa Allah ﷻ الظَّاهِرُ tidak ada satupun di atas Allah ﷻ, dan Allah ﷻ adalah الْبَاطِنُ Maha mengetahui apa yang dilakukan oleh makhlukNya di bumi. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا

“Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahuiNya”.([32])

Tatkala kita mengetahui betapa agungnya Allah ﷻ yang kita sembah, maka kita pun mengetahui bahwasanya orang-orang yang menyembah kepada selain Allah ﷻ adalah orang-orang yang telah berbuat zhalim. Allah ﷻ mengatakan:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.([33])

Allah ﷻ menyebut mereka dengan orang-orang yang zhalim sebab mereka tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.”([34])

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas tentang Maha besar dan Agungnya Allah ﷻ, maka bagaimana kemudian mereka orang-orang kafir dan musyrik menyamakan Allah dengan makhluk. Perbuatan tersebut sungguh tidak pantas dilakukan terhadap Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka”.([35])

Allah ﷻ juga berfirman tentang perkataan orang-orang kafir kelak di hari kiamat:

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ، إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”.([36])

Inilah yang terjadi saat ini, betapa banyak orang yang terjerumus pada kesyirikan. Miliaran orang melakukan kesyirikan, menyembah batu, menyembah berhala, menyembah pohon, menyembah nabi, menyembah matahari, menyembah gunung, menyembah dewa, menyembah mayat, dan yang lainnya. Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya. Allah ﷻ berfirman:

آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

“Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)?”([37])

Allah ﷻ juga berfirman:

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa?”([38])

Tentu ini adalah bentuk kezhaliman yang sangat besar tatkala seseorang melakukan kesyirikan kepada Allah ﷻ. Maka tidaklah seseorang melakukan kesyirikan kepada Allah ﷻ kecuali karena keyakinannya terhadap rububiyah dan asma’ wa sifat Allah ﷻ sangatlah kurang, sehingga ia tidak mengagungkan uluhiyah Allah ﷻ, ia tidak mengetahui tentang agungnya Allah ﷻ, ia tidak mengetahui tentang bagaimana Maha dahsyatnya Allah ﷻ, sehingga berani melakukan kesyirikan, tunduk dan menghinakan diri dihadapan mayat, patung dan berhala.

Penutup

Inilah akhir dari pembahasan Kitab Tauhid. Alhamdulillah atas berkat karunia dari Allah ﷻ penulis dapat menyelesaikan penjelasan dari kitab ini.

Wasiat untuk penulis dan juga untuk para pembaca agar terus belajar tentang tauhid. Bukan berarti jika kita telah mempelajari kitab tauhid berarti kita telah pakar tentang tauhid. Tauhid adalah ilmu yang harus dimurojaah (diulang-ulang), ilmu yang membutuhkan penerapan, sebab kita akan dihadapkan dengan kejadian-kejadian yang membutuhkan penerapan dari ilmu ini.

Sederhana untuk sebagai contoh, di dalam kitab tauhid ada pembahasan tentang bahaya riya’, akan tetapi terkadang justru kita terjatuh pada riya’. Kemudian juga dalam kitab tauhid ada pembahasan tentang sabar, tetapi ternyata kita tidak sabar. Di dalam kitab tauhid juga ada pembahasan masalah takdir, ternyata terkadang kita suudzon kepada Allahﷻ.

Oleh karenanya ilmu yang telah kita dapati setelah mempelajari kitab tauhid ini, tidak menjadikan kita sebagai orang yang pakar dalam masalah tauhid sehingga menjadi jaminan untuk masuk surga. Akan tetapi ini adalah karunia dari Allah ﷻ yang harus kita syukuri dan kita jaga, kemudian kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Girah terhadap tauhid harus kita tumbuhkan pada diri kita. Kita harus mengingatkan kaum muslimin saudara-saudara kita yang terjerumus pada praktik-praktik kesyirikan, baik itu syirik besar maupun kecil. Keadaan seperti ini masih banyak kita jumpai di sekitar kita, syaithan belum berhenti dari tugasnya. Kalaupun kaum muslimin selamat dari kesyirikan, masih banyak orang-orang musyrik di alam semesta ini. Sebagaimana penulis sebutkan di atas bahwasanya masih banyak para penyembah matahari, bulan, bintang, malaikat, jin, mayat, wali-wali, hewan dan yang lainnya. Dan masih banyak juga orang-orang yang menghina agama ini, menghina Al-Qur’an dan menghina syari’at Nabi ﷺ.

Demikianlah Allah ﷻ menakdirkan yang hak dan yang batil. Maka jika Allah ﷻ telah memberikan nikmat untuk mengenal tauhid kepada kita, maka kita harus menyerukan tauhid tersebut. Benar begitu besar cobaan di luar sana terhadap orang-orang yang mendakwahkan tauhid. Mereka difitnah, dipojokkan, dicela, dikatakan wahabi dan seterusnya. Akan tetapi apapun perkataan atau celaan yang mereka lontarkan, kita harus tetap sabar dan tegar dalam mendakwahi tauhid. Tidak perlu peduli dengan tuduhan-tuduhan mereka. Berjalanlah terus di atas tauhid sampai kita bertemu dengan Allah ﷻ. Betapa banyak di saat ini orang-orang yang melalaikan hal tersebut, tidak mengingkari adanya kemungkaran dalam tauhid, membiarkan orang-orang meminta kepada mayat-mayat, membiarkan orang-orang menggunakan jimat, membiarkan orang-orang meramal tentang hal yang gaib. Tidak ada orang-orang yang paling serius dalam memperingatkan manusia dari masalah ini kecuali orang-orang yang dituduh sebagai wahabi.

Semoga Allah ﷻ memberikan ganjaran yang besar terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang telah menulis kitab tauhid. Kitab yang kecil akan tetapi berisikan ilmu yang sangat dalam sehingga membuka pintu cakrawala bagi kaum muslimin. Tidaklah beliau menulis buku ini kecuali karena kebutuhan. Di zaman beliau banyak terjadi kesyirikan, banyak perdukunan, banyak manusia yang meminta kepada kuburan. Bahkan disebutkan pada pada biografi beliau, ada orang-orang yang datang pada kuburan Zayd bin Al-Khattab, kemudian mereka meminta-minta pada Zayd bin Al-Khattab. Maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menegur mereka dengan berkata:

اللهُ خَيْرٌ مِنْ زَيْدٍ

“Allah lebih baik dari Zayd”([39])

Melihat keadaan sekitar beliau seperti itu, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab akhirnya menulis buku yang menggoncangkan dunia ini dengan tujuan untuk mengembalikan manusia kepada tauhid.

Berkat dakwah beliau akhirnya kerajaan Arab Saudi berdiri tegak dengan mendirikan syariat islam, menegakkan tauhid, sehingga kesyirikan tidak bisa berjalan dan juga tidak ditemukan para pelaku maksiat secara terang-terangan. Para pencuri akan dipotong tangannya, para pezina akan di rajam, hukum qisas di tegakkan siapa yang membunuh maka dia akan terbunuh, keamanan menjadi terjaga. Itulah di antara buah dari dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah yang menegakkan tauhid dan mengagungkan Allah ﷻ.

Akan tetapi sangat disayangkan, di saat ini datang orang-orang yang mencela dan memaki-maki beliau rahimahullah, sementara mereka para pemaki dan pencaci ini tidak memiliki sumbangsih dalam Islam. Mereka para pencela dan pemaki akan dihadapkan kelak di hari kiamat dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang telah banyak berjasa dalam Islam mengeluarkan umat dari kesyirikan dan kebid’ahan menuju jalan hidayah yang terang benderang dengan izin Allah ﷻ. Berapa ratus tahun Kerajaan Saudi telah merasakan kenikmatan tauhid, kenikmatan persatuan setelah sebelumnya mereka tercerai-berai, banyak terjadi kesyirikan. Oleh karena itu mereka yang selalu melancarkan lisan mereka untuk mencela Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab baik dalam ceramah ataupun tulisan akan disidang oleh Allah ﷻ. Maka wahai para pencela persiapkanlah jawaban untuk menghadapi persidangan tersebut.

Matan

Kandungan bab ini:

  1. Penjelasan tentang ayat tersebut di atas.
  2. Pengetahuan tentang sifat-sifat Allah ﷻ, sebagaimana yang terkandung dalam hadits pertama, masih dikenal di kalangan orang-orang Yahudi yang hidup pada masa Rasulullah ﷺ, mereka tidak mengingkarinya dan tidak menafsirkannya dengan penafsiran yang menyimpang dari kebenaran.
  3. Ketika pendeta Yahudi menyebutkan tentang pengetahuan tersebut kepada Rasulullah ﷺ, beliau membenarkannya, dan turunlah ayat Al-Qur’an menegaskannya.
  4. Rasulullah ﷺ tersenyum ketika mendengar pengetahuan yang agung ini disebutkan oleh pendeta Yahudi.
  5. Disebutkan dengan tegas dalam hadits ini adanya dua tangan bagi Allah, dan bahwa seluruh langit itu diletakkan di tangan kanan-Nya, dan seluruh bumi diletakkan di tangan yang lain pada hari kiamat.
  6. Dinyatakan dalam hadits bahwa tangan yang lain itu adalah tangan kiri-Nya.
  7. Disebutkan dalam hadits keadaan orang-orang yang berlaku lalim, dan berlaku sombong pada hari kiamat.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab At-Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Q.S. Az-Zumar:67

([2]) QS. Al-An’am: 91

([3]) QS. Al-Haj: 73-74

([4]) QS. An-Naml: 59

([5]) H.R. Bukhori, No.4811, Muslim, No.2786

([6]) H.R. Muslim, No.19(2768)

([7]) Hal ini karena dzat Allah tidak seperti dzdat makhluq sehingga wujud Allah tidak seperti wujud makhaluk. Ibnu Taimiyyah berkata :

وَإِذَا كَانَ مِنْ الْمَعْلُومِ بِالضَّرُورَةِ أَنَّ فِي الْوُجُودِ مَا هُوَ قَدِيمٌ وَاجِبٌ بِنَفْسِهِ وَمَا هُوَ مُحْدَثٌ مُمْكِنٌ يَقْبَلُ الْوُجُودَ وَالْعَدَمَ: فَمَعْلُومٌ أَنَّ هَذَا مَوْجُودٌ وَهَذَا مَوْجُودٌ وَلَا يَلْزَمُ مِنْ اتِّفَاقِهِمَا فِي مُسَمَّى الْوُجُودِ أَنْ يَكُونَ وُجُودُ هَذَا مِثْلَ وُجُودِ هَذَا بَلْ وُجُودُ هَذَا يَخُصُّهُ وَوُجُودُ هَذَا يَخُصُّهُ وَاتِّفَاقُهُمَا فِي اسْمٍ عَامٍّ: لَا يَقْتَضِي تَمَاثُلَهُمَا فِي مُسَمَّى ذَلِكَ الِاسْمِ عِنْدَ الْإِضَافَةِ وَالتَّخْصِيصِ وَالتَّقْيِيدِ

“Jika sudah diketahui secara pasti, bahwa yang ada itu ada yang qodim wajibun binafsihi (ada dan tidak dihaului oleh ketiadaan) dan ada yang muhdats dan mumkin (yaitu yang didahului ketiadaan) yang menerima shifat ada dan tidak ada: maka diketahui bahwa ini ada sebagaimana yang itu juga ada, dan samanya nama keduanya (sama-sama ada) tidaklah mengharuskan adanya (wujudnya) ini sama hakikatnya dengan adanya (wujud) yang itu, akan tetapi, adanya hal ini adalah shifat ada yang khusus baginya dan begitu juga dengan yang lainnya. Dan samanya mereka pada nama yang umum (yaitu sama-sama wujud) tidak mengharuskan keduanya itu sama pada hakikat dzatnya jika sudah disandarkan kepada dzat tertentu dan dikhususkan, dan diikat” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 3/10)

[8] QS. Az-Zumar: 67

[9] HR. Muslim No. 7513

[10] QS. Fathir: 41

[11] HR. Abu Daud No. 4726, didhaifkan oleh Al-Albani Shahih Wa Dhaif Sunan Abi Daud 1/2

([12]) HR. Ibnu Majah No. 138, dishahihkan oleh Al-Albani Silsillah Al-hadis Ash-Shahihah No. 2301 5/379

([13]) HR. Bukhori No. 3461

([14]) HR. Bukhori No. 4485

([15]) H.R. Muslim, No.2788, Ibnu Majah, No.4275, AbuDawud, No.4732

([16]) HR. Bukhori: 4812

([17]) HR. at-Tirmidzi No. 2492, dihasankan Al-Albani Ash-Shahih Wa Adh-Dhaif Sunan Tirmidzi No. 2492 5/492

([18]) Dan di antara ‘ulama yang menshohihkan dan berpendapat bahwa tangan Allah ‘Azza wa Jalla kanan dan kiri adalah imam Ad-Darimi (Lihat : Naqdhu Ad-Darimi ‘Ala Al-Marisi, 2/698), Abu Ya’la Al-Farro’ (Lihat Ibtholu At-Ta’wilat, 176), Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (Di dalam masail).

Dan mereka mengatakan bahwa penyebutan keduanya kanan adalah untuk pensucian dan pengagungan, bukan penetapan.

Dan di antara yang mendho’ifkan, dan menetapkan bahwa kedua tangan Allah ‘Azza wa Jalla keduanya kanan adalah: Ibnu Khuzaimah (At-Tauhid, 1/159)

([19]) HR. Muslim No. 1827

([20]) H.R. Abdullah bin Ahmad, As-Sunnah, No.1090

([21]) Sama halnya dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, kalian tidak berdesak-desakkan dalam melihatnya” (H.R. Bukhori, No.554, Muslim, No.633)

Di dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sedang menyamakan Allah ‘Azza wa Jalla dengan bulan, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyamakan cara memandangnya. Begitu juga atsar di atas, Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu tidak sedang menyamakan tangan Allah ‘Azza wa Jalla dengan makhluk, akan tetapi hanya ingin menyamakan kedudukan alam semesta ini di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.

([22]) QS. Adz-Dzariyat: 47

([23]) Tafsir At-Thobari, 5/399, Al-‘Azhomah, Abu As-Syaikh Al-Ashbahani, 2/587

([24]) Sangat didhoifkan oleh Ibnu Al-Madini (Lihat At-Tarikh Al-Kabir, Al-Bukhori, 5/284), didhoifkan oleh An-Nasai (Lihat Ad-Dhu’afa Wa Al-Matrukin, An-Nasai, 1/66), Abu Hatim (Al-Jarhu Wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 5/233-234, Ibnu Hibban (Lihat Al-Majruhin, Ibnu Hibban, 2/57), Ahmd, Abu Dawud (Lihat Ad-Dhu’afa Wa Al-Matrukin, Ibnu Al-Jauzi, 2/95), Ibnu Hajar Al-‘Asqolani (Lihat Taqrib At-Tahdzib, Ibnu Hajar, No.3865)

([25]) Al-‘Azhomah, Abu As-Syaikh Al-Ashbahani, 2/587

([26]) QS. Al-Baqarah: 255

([27]) H.R. Ad-Darimi, Ar-Rod ‘Ala Al-Jahmiyyah, No.81, At-Thobaroni, Al-Mu’jam Al-Kabir, No.8987, Abu As-Syaikh, Al-‘Azhomah, 2/688, Al-Baihaqi, Al-Asma Wa Ash-Shifat, No.851

([28]) QS. Al-Hadid: 3

([29]) HR. Muslim No.2713

([30]) H.R. Ahmad, No.1770, Hakim, No.3137, Abu Ya’la, Musnad, No.6713.

Hanya saja hadits ini dho’if. Dikarenakan hadits ini diriwayatkan melalui jalur Yahya bin Al-‘Ala.

Imam Al-Bukhori menyebutkannya dalam kitab Ad-dhu’afa As-Shoghir, 1/140, dan dinyatakan matruk oleh An-Nasai dalam Ad-Dhu’afa Wa Al-Matrukin, 1/107, begitu juga dinyatakan matruk oleh ‘Amr bin ‘Ali, dan Abu zur’ah mengatakan bahwa pada haditsnya (periwayatan) ada kelemahan (Lihat Al-Jarhu Wa at-Ta’dil, 9/180), Ibnu Hibban menyatakan bahwa tidak boleh boleh berhujjah dengannya di dalam kitab Al-Majruhin, 3/116, imam Ahmad menyatakan bahwa dia kadzzab dan membuat hadits maudhu’ (Lihat Ad-Dhu’afa Wa Al-Matrukin, Ibnu Al-Jauzi, 3/200, dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa dia tertuduh memalsukan hadits (Lihat Taqrib At-Tahdzib, No.7618).

([31]) QS. Nuh: 15

([32]) QS. Al-An’am: 59

([33]) QS. Luqman: 13

([34]) QS. Az-Zumar: 67

([35]) QS. Al-An’am: 1

([36]) QS. Asy-Syu’ara’: 97-98

([37]) QS. An-Naml: 59

([38]) QS. Yusuf: 39

([39]) Lihat Al-Jawab Al-Mufid: 65