Ucapan Seseorang “Atas Kehendak Allah dan Kehendakmu” (BAB-43)

 قَوْلُ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ

Ucapan Seseorang “Atas Kehendak Allah dan Kehendakmu”

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA

Syarah

Pada bab sebelum-sebelumnya telah kita sebutkan berbagai macam bentuk orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan bagi Allah. Di antara bentuk mengambil tandingan bagi Allah adalah dengan mengatakan, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”.

Sebelum jauh kita membahas hal-hal yang berkaitan dengan perkataan ini, ada beberapa jenis tingkatan perkataan semacam ini yang kita harus ketahui.

Pertama, yaitu perkataan,  مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ “Atas kehendak Allah semata”. Perkataan semacam ini adalah perkataan yang disunnahkan.

Kedua, yaitu perkataan, مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ “Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu”. Hukum perkataan jenis kedua ini adalah dibolehkan namun tidak dianjurkan. Meskipun perkataan ini disebutkan dalam hadits, namun akan kita sebutkan bahwa terdapat dalam riwayat yang lain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk mengucapkan jenis perkataan yang pertama.

Ketiga, yaitu perkataan, مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Jenis kata ketiga ini terlarang karena mengandung kesyirikan dalam lafal. Letak kesyirikannya ada pada huruf وَ (dan) yang maknanya adalah menyetarakan makhluk dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. ([1]) Jenis perkataan ketiga inilah yang akan menjadi pembahasan kita pada bab ini.

Matan

Dari Qutailah, dia berkata:

أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَتَقُولُونَ: وَالْكَعْبَةِ؟ فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا: وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، وَأَنْ يَقُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ

Bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya kalian telah mengambil tandingan-tandingan dan kalian telah berbuat kesyirikan. Kalian berkata: Atas kehendak Allah dan kehendakmu, dan kalian juga berkata: Demi Ka’bah’. Maka Nabi memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah agar mengucapkan ‘Demi Rabb, pemilik Ka’bah’, dan mengucapkan ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu’.” (HR. An-Nasai dan dia menyatakan bahwa hadits ini sahih)

Syarah

Orang-orang musyrik asalnya terdiri dua, yaitu orang musyrik ahli kitab, dan orang musyrik penyembah berhala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.” (QS. Al-Bayyinah : 6).

Dalam riwayat ini, orang Yahudi tersebut menuduh kaum muslimin telah berbuat kesyirikan dan mengambil tandingan bagi Allah Subhanahu wa ta’ala. Meskipun dia adalah termasuk orang musyrik, dia tahu bahwasanya kaum muslim masih melakukan kesyirikan. Oleh karena itu, orang Yahudi tersebut datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menegur bahwasanya kaum muslimin telah mengambil tandingan-tandingan bagi Allah dan telah berbuat kesyirikan.

Maka, riwayat ini mengajarkan bahwasanya ketika kita hendak bersumpah dengan sesuatu, hendaknya kita ganti dengan mengatakan “Demi Tuhannya si fulan”. Maka tidak boleh kita mengatakan seperti “Demi Rasulullah”, akan tetapi kita hendaknya mengatakan “Demi Tuhannya Rasulullah”.

Bantahan terhadap Qadariyah dan Jabariyah

Dalam riwayat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk seseorang mengatakan kalimat,

مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ

Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu”.

Pada lafal ini, terdapat bantahan terhadap Qadariyah dan Jabariyah.

  1. Bantahan terhadap Qadariyah

Qadariyah merupakan kelompok yang meyakini bahwa manusia punya kehendak yang merdeka, dan kehendaknya tidak di bawah kehendak Allah, Allah hanya sekadar mengetahui. Mereka beranggapan bahwa tidak masuk akal jika kehendak manusia di bawah kehendak Allah. Mereka berpendapat bahwa jika kehendak manusia di bawah kehendak Allah, maka untuk apa Allah Subhanahu wa ta’ala mengazab manusia yang berbuat dosa sementara semuanya atas kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala? Karena keyakinan mereka inilah yang membuat mereka menolak kehendak manusia di bawah naungan kehendak Allah, dan manusia menciptakan perbuatan mereka sendiri di luar dari kehendak Allah.

Tentunya, bantahan terhadap mereka adalah Allah punya kehendak dan manusia juga punya kehendak. Sesungguhnya kita merasakan bahwa kita memiliki kehendak, akan tapi kita tahu persis bahwa kehendak kita di bawah kehendak Allah. Buktinya adalah betapa sering kita ingin sesuatu namun tidak pernah berhasil meraihnya. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir : 29)

Artinya, kita memiliki kehendak, hanya saja tidak mungkin kehendak kita keluar dari kehendak Allah. Jika Allah tidak berkehendak maka kehendak kita tidak akan jadi, dan jika Allah berkehendak maka akan terjadi apa yang kita kehendaki. Bukankah kita telah sering mendengar pepatah Arab mengatakan,

أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ

Aku punya keinginan, kamu punya keinginan, dan Allah memutuskan apa yang dia inginkan.”

Berarti manusia punya kehendak atau qudrah, hanya saja kehendak manusia tersebut di bawah kehendak dan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Di antara penyimpangan masalah takdir, sebagian da’i terjerumus dalam pemahaman Qadariyah. Qadariyah ada dua model:

Pertama : Ghulatul Qadariyah (Qadariyah yang ekstrem). Mereka adalah kelompok Qadariyah yang mengingkari ilmu Allah yang azali. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah sesuatu itu terjadi. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui masa depan. Penyimpangan jenis ini terjadi di zaman Ibnu ‘Umar, sebagaimana kita ketahui bahwa Qadariyah yang pertama bernama Ma’bad Al-Juhani, dan keyakinan seperti ini hukumnya adalah kafir. ([2])

Kedua : Qadariyah yang tidak ekstrem. Kelompok kedua ada kelompok Qadariyah yang tidak ekstrem, dimana mereka menetapkan ilmu Allah yang azali, namun mereka mengingkari bahwa Allah menciptakan hamba beserta beserta pembuatannya. Maksudnya adalah mereka berkeyakinan bahwa hamba menciptakan perbuatannya sendiri, dan Allah Subhanahu wa ta’ala tidak memiliki campur tangan atas perbuatan hambanya. ([3]) Dari situ kemudian ada di antara mereka yang membagi takdir menjadi dua: takdir yang mutlak (terpaksa) dan takdir ikhtiari (pilihan). Takdir terpaksa seperti warna rambut, bentuk wajah, dan yang lainnya, sedangkan takdir pilihan adalah hamba memilih apa yang mereka akan lakukan. Sehingga, bagi mereka Allah Subhanahu wa ta’ala hanya mengetahui apa yang mereka akan lakukan, namun Allah tidak campur tangan dalam perbuatan sang hamba tersebut. Ibaratnya adalah seperti seorang guru yang memiliki 10 orang murid. Guru tersebut tidak ikut campur tangan dengan keberhasilan murid-muridnya, akan tetapi setelah dia mengajar maka dia bisa mengetahui bahwa siapa di antara murid-muridnya yang akan mendapat peringkat satu, dua, dan seterusnya, bahkan yang tidak lulus pun dia tahu. Demikianlah pemahaman Qadariyah yang membatasi Allah dengan hanya sekadar mengetahui, padahal yang benar adalah semua yang terjadi dalam alam semesta ini terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala. Lihatlah Iblis, dia bisa hidup lama dan masuk ke dalam neraka karena kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala. bukankah Iblis juga punya kehendak? Tentu, akan tetapi kehendak Iblis berada di bawah kehendak Allah. Oleh karena itu, hendaknya berhati-hati dengan orang yang membagi-bagi takdir dengan model seperti ini, karena hal tersebut merupakan pemahaman Qadariyah.

Maka dari itu, dalam lafal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bantahan kepada Qadariyah yang meyakini bahwasanya manusia memiliki kehendak yang merdeka dan Allah hanya sekadar mengetahui. Keyakinan Qadariyah adalah keyakinan yang salah, karena yang benar adalah semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan surga dan neraka beserta penghuninya masing-masing, hanya saja berbicara tentang siapa yang menjadi penghuni surga dan neraka itu adalah rahasia Allah Subhanahu wa ta’ala.

  1. Bantahan terhadap Jabariyah

Jabariyah adalah kelompok yang mereka menolak qudrah seorang hamba. Mereka berpendapat bahwa seorang tidak memiliki qudrah, sehingga setiap gerakan seluruh hamba di alam semesta ini seluruhnya terjadi dengan terpaksa, diluar dari kehendak hamba tersebut. Ibaratnya adalah seperti bulu yang tertiup angin, bulu tersebut tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga dia akan bergerak kemana pun arah angin bertiup. Intinya, Jabariyah menganggap bahwa semua kita di dunia ini telah di atur oleh Allah dan tidak punya qudrah, sehingga tidak bisa berbuat apa-apa, dan semua gerakan adalah gerakan terpaksa. Oleh karenanya mereka dinamakan Jabariyah karena kata itu sendiri artinya adalah terpaksa.

Adapun bantahan terhadap kelompok Jabariyah ini adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam lafal ini sendiri menyebutkan bahwa manusia itu memiliki kehendak. Dan kita Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini akan hal tersebut bahwa kita manusia memiliki kehendak. Bukankah saat ini kita memiliki pilihan? Kita bisa memilih untuk belajar atau tidak. Bahkan kita punya pilihan apakah kita mau berdiri atau duduk. Kalau kita mau berdiri maka kita bisa berdiri, dan jika kita memilih untuk duduk maka kita bisa duduk. Ini artinya kita memiliki kehendak dan kita bisa memilih. Demikianlah bantahan bagi orang-orang Jabariyah.

Bantahan terhadap kelompok Jabariyah ini juga menjadi bantahan terhadap orang-orang Asya’irah yang mereka memiliki Al-Kasb Al-Asy’ari, yaitu akidah bahwa seorang hamba memiliki qudrah namun tidak memberikan pengaruh. ([4])([5]) Semua yang terjadi tidak memberikan pengaruh, tidak ada sebab menimbulkan akibat, yang ada hanyalah tanda akan munculnya akibat. Contohnya mereka mengatakan bahwasanya pisau yang digunakan untuk memotong roti asalnya tidak bisa memotong, adapun roti dipotong oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Pisau mempunyai kemampuan untuk memotong, namun tapi memiliki pengaruh untuk memotong. Artinya, roti yang terbelah itu bukan karena pisau yang digerakkan untuk memotong, akan tetapi Allah yang memotong roti tersebut dengan tanda pisau yang digerakkan tersebut. Demikian pula dengan api, mereka mengatakan bahwasanya api tidak memiliki kemampuan untuk membakar, akan tetapi kebakaran terjadi karena Allah yang ditandai dengan munculnya api. Padahal di antara bukti bahwasanya api memiliki kemampuan untuk membakar adalah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dilemparkan ke dalam api. Ketika itu Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَانَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’ : 69)

Jika sekiranya Allah tidak memerintahkan api tersebut untuk dingin, tentulah api tersebut akan membakar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sehingga ini menunjukkan bahwa api memiliki kemampuan untuk membakar dengan izin Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah bahwa akidah mereka ini adalah salah satu dari tiga hal yang ditertawakan oleh orang selain mereka dan dianggap tidak masuk akal. ([6]) Tentunya benar bahwa kita bingung dengan akidah mereka seperti ini, adapun kita Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa pisau ataupun api memiliki kemampuan. Mereka berpendapat demikian karena mereka meyakini bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala, dan tidak boleh ada yang berkuasa di dalam alam semesta ini kecuali Allah, sehingga manusia memang memiliki kemampuan namun tidak memiliki pengaruh. ([7]) Kalau dikatakan bahwa manusia memiliki kemampuan yang berpengaruh, maka yang berkata demikian menurut mereka telah berbuat syirik. Oleh karena itu, inilah bantahan bagi mereka, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menetapkan adanya kehendak manusia, sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki kehendak dan manusia juga memiliki kehendak.

Oleh karena itu, berbicara masalah takdir memang memerlukan ketundukan akal, kalau orang pakai akal dalam berbicara masalah takdir maka dia akan terjerumus kepada kelompok Jabariyah atau Qadariyah.

Matan

Diriwayatkan Ahmad, bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم: مَا شَاءَ الله وَشِئْتَ. فَقَال: أَجْعَلْتَنِيَ لله نِدًّا؟ بَلْ مَا شَاءَ الله وَحْدَه

Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’. Maka Nabi bersabda: ‘Apakah kamu menjadikan diriku sebagai tandingan bagi Allah? Sebaliknya, atas kehendak Allah semata’.”

Syarah

Kita tidak ragu bahwa para sahabat sangat mencintai nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mereka lebih cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam daripada orang tua mereka, daripada kerabat mereka, dan lebih dari diri mereka sendiri. Akan tetapi terkadang mereka salah dalam pengagungan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dalam riwayat ini. Saking mereka mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai-sampai mereka mengatakan “Karena kehendak Allah dan kehendak engkau wahai Muhammad”. Akan tetapi karena ungkapan tersebut salah, maka beliau menegur dan membenarkannya.

Para sahabat tidak meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ikut menciptakan bersama Allah, sahabat tidak meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ikut mengatur alam semesta bersama Allah, akan tetapi mereka meyakini bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah. Hanya saja karena sekadar mereka mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka ungkapkan dengan kata-kata yang terkadang berlebihan, yang kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tegur karena perkataan tersebut termasuk syirik kecil.

Jadi, tidak semua hal bisa kita ungkapkan secara serampangan dengan alasan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh seorang yang kagum kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memuji beliau dengan seenaknya saja. Kalau mengatakan “Karena kehendak Allah dan kehendak engkau wahai Muhammad” saja sudah termasuk syirik, maka bagaimana lagi dengan ungkapan yang lebih daripada itu? Seperti orang yang datang ke kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian meminta kepada beliau. Atau seperti perkataan seorang penyair,

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا … وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

Di antara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat-Nya, dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhil Mahfudzh dan pena

Kalimat seperti ini jelas-jelas salah. Kalau sekiranya dunia dan akhirat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka apa yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala? Kemudian bagaimana bisa di antara ilmu beliau adalah ilmu lauhil Mahfudzh? Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak riwayat tidak mengetahui hal-hal gaib.

Demikian pula seperti perkataan yang meriwayatkan hadits palsu berbunyi bahwa Allah berfirman

لَوْلَاكَ لَمَا خُلِقَت الأَفْلَاكُ

Jika bukan karena engkau Muhammad, aku tidak akan menciptakan alam semesta ini.”([8])

Subhanallah, sungguh perkataan mereka seperti ini sangat berbahaya, karena asalnya Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan alam semesta untuk bertauhid kepada-Nya.

Pada suatu kesempatan juga penulis pernah mendapati seseorang yang berkata bahwa Allah menciptakan nur Muhammad, dan nur Muhammad berasal dari nur Allah. Subhanallah, jika demikian maka zat Nabi Muhammad bagian dari zat Allah Subhanahu wa ta’ala. ketahuilah bahwa orang yang tidak sengaja mengucapkan yang seperti ini maka itu adalah kesyirikan, adapun kalau dia mengucapkan dengan sengaja maka itu adalah kekufuran. Demikianlah bentuk orang-orang yang cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam namun dengan berlebihan. Padahal Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata,

مَا كَانَ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ رُؤْيَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا إِلَيْهِ، لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ

Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para sahabat) cintai selain dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila melihat beliau, mereka tidak bangkit karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukai yang demikian.”([9])

Lihatlah, para sahabat sangat cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi ketika mereka Ingin ungkapkan cinta mereka, maka mereka akan menimbang dengan timbangan syariat. Lantas bagaimana dengan sebagian orang yang melakukan acara maulid, kemudian meyakini bahwa ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hadir sehingga mereka berdiri menyambut kedatangannya? Bukankah yang demikian adalah khurafat? Imam Asy-Syaukani memiliki buku tentang hukum maulid, dan di dalam buku tersebut beliau menjelaskan bahwa di antara kemungkaran dalam maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hadir dalam acara tersebut([10]). Ketahuilah bahwa bukan seperti itu bentuk cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang benar.

Matan

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari sahabat Thufail -saudara seibu ‘Aisyah- dia berkata,

رَأَيْتُ كَأَنِّيْ أَتَيْتُ عَلَى نَفر مِنَ الْيَهُوْد قُلْتُ: إِنَّكُمْ لَأَنْتُمُ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ: عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ، قاَلٌوْا: وَإِنَّكُمْ لَأَنْتُمْ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ. ثُمَّ مَرَرْتُ بِنَفَرٍ مِنِ النَّصَارَى فَقُلْتُ: إِنَّكُمْ لَأَنْتُمُ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ: الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ. قَالُوْا: وَإِنَّكُمْ لَأَنْتُمْ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ. فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَخْبَرْتُ بِهَا مَنْ أَخْبَرْتُ، ثُمّ أَتَيْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ، قاَلَ: هَلْ أَخْبَرْتَ بِهَا أَحَدًا؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ فَحَمِدَ الله وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ طُفَيْلًا رَأَى رُؤْيَا أَخْبَرَ بِهَا مَنْ أَخْبَرَ مِنْكُمْ، وَإِنَّكُمْ قلتم كَلِمَةً كَانَ يَمْنَعُنِي كَذَا وَكَذَا أَنْ أَنْهَاكُمْ عَنْهَا، لَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوا: مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ

Aku bermimpi seolah-olah aku mendatangi sekelompok orang Yahudi, dan aku berkata kepada mereka, ‘Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan: Uzair putra Allah’. Mereka menjawab, ‘Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan: Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad’. Kemudian aku melewati sekelompok orang Nasrani, dan aku berkata kepada mereka, ‘Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan: Al-Masih putra Allah’. Mereka pun balik berkata, ‘Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan: Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad’. Maka pada keesokan harinya aku memberikan mimpiku tersebut kepada yang aku beritahu, setelah itu aku mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku beritahukan hal itu kepada beliau. Kemudian beliau berkata, ‘Apakah engkau telah memberitahukannya kepada seseorang?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Maka Nabi bersabda yang diawalinya dengan memuji Allah, kemudian berkata, ‘Amma ba’du, sesungguhnya Thufail bermimpi tentang sesuatu, dan telah mengabarkannya kepada sebagian dari kalian. Dan sesungguhnya kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang ketika itu saya tidak sempat melarangnya karena disibukkan dengan ini dan itu. Oleh karena itu, janganlah kalian mengatakan: Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad, akan tetapi ucapkanlah: Atas kehendak Allah semata’.”

Syarah

Riwayat ini merupakan mimpi dari seorang sahabat, yang mimpi tersebut dibenarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya dalam mimpi tersebut sahabat ini ditegur oleh Yahudi dan Nasrani yang mengatakan bahwa para sahabat salah ketika mengucapkan “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Telah berlalu pula sebelumnya, riwayat yang menyebutkan bahwa orang Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menegur beliau bahwa perkataan kaum muslimin “Atas kehendak Allah dan kehendakmu” adalah perkataan syirik.

Kalimat “Atas kehendak Allah dan kehendakmu” adalah di antara bentuk syirik kecil dalam Islam, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak langsung melarang waktu itu juga. Di awal Islam, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam fokuskan adalah masalah syirik besar. Barulah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pindah, kemudian Nabi menegur dan memperbaiki masalah lafal tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan orang-orang Yahudi tatkala waktu beliau di Madinah. Adapun ketika di Mekkah, sebagian para sahabat melakukan syirik kecil seperti bersumpah dengan nama selain Allah, bersumpah dengan nama nenek moyang, dan yang paling sering diucapkan adalah kalimat “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingin melarang seketika itu juga, akan tetapi ada halangan yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunda untuk melarang itu. Sehingga akhirnya Thufail mengalami mimpi terkait hal itu, barulah setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegur para sahabat. ([11])

Di antara faedah yang bisa kita dapatkan dalam dakwah. Tatkala kita berdakwah, hendaknya kita tidak langsung menjelaskan keharaman seluruhnya, maksudnya kita tidak membahas seluruhnya, akan tetapi kita membahas yang lebih penting terlebih dahulu. Mungkin kita melihat dalam diri seseorang ada perbuatan kekufuran dan kemaksiatan, maka mungkin kita terlebih dahulu mendakwahkan masalah kekufuran karena melihat bahwa itu adalah yang paling berbahaya, karena bisa jadi ketika kita membahas maksiat yang kecil-kecil, bisa jadi mereka langsung pergi dan mereka tetap tenggelam dalam syirik dan maksiat sekaligus. Akan tetapi jangan dikatakan bahwa kita membolehkan maksiat, akan tetapi kita menunda demi kemaslahatan, sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Riwayat ini juga merupakan dalil bahwasanya Yahudi dan Nasrani terkadang mengerti tentang tauhid sebagaimana telah kita sebutkan riwayat bahwa orang-orang Yahudi paham syirik sementara mereka sendiri terjatuh dalam kesyirikan. Mengapa demikian? Karena mereka hanya sekadar mencari kesalahan orang lain, dan lupa terhadap diri mereka sendiri. Inilah juga mengapa terkadang hasadnya orang lain yang mencari kesalahan-kesalahan kita itu membawa manfaat bagi kita, akhirnya dengan begitu kita bisa introspeksi diri. Oleh karena itu, kebaikan dan kebenaran dari mana pun datangnya hendaknya kita teriman. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat hadits yang dha’if,

الْحِكْمَة ضَالَةُ الْمُؤْمِن فَحَيْثُ مَا وَجَدَهَا فهو أحق بها

Al-Hikmah adalah barang yang hilang bagi seorang mukmin, Maka ambillah dari tangan siapa saja itu keluar.” ([12])

Artinya, kalau kebenaran itu datangnya dari Iblis maka hendaknya kita ambil. Jika kebenaran itu datang dari Yahudi maka hendaknya kita ambil. Oleh karenanya, ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diajarkan oleh Iblis bahwa jika ingin tidur hendaknya membaca ayat Kursi, maka pada keesokan harinya dia melaporkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menjawab,

صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، ذَاكَ شَيْطَانٌ

Dia telah berkata benar, padahal dia adalah pendusta. Dia adalah syaithan (Iblis).”([13])

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mendengar kebenaran dari Iblis, yang kemudian dia mengecek kebenarannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau membenarkannya meskipun datangnya dari Iblis. Demikian pula mimpi Thufail ini, dalam mimpinya tersebut Yahudi dan Nasrani datang kepadanya dan mengajarkannya suatu kebenaran, maka dia pun mengecek kebenarannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ternyata dibenarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, dari mana pun datangnya kebenaran maka hendaknya kita terima, siapa pun yang mengucapkannya.

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa mengambil kebenaran berbeda dengan berguru. Jangan sampai karena kita terpengaruh ungkapan “Kebenaran diambil dari mana saja” sehingga kita katakan bahwa berguru kepada siapa saja boleh bahkan kepada Iblis sekali pun. Hanya saja jika kebenaran kebetulan terucap dari lisan orang-orang kafir atau bahkan Iblis sekalipun, maka tidak mengapa kita terima, namun bukan berarti kita berguru kepada mereka. Adapun tentang berguru kepada siapa, maka Lihatlah perkataan Ibnu Sirin,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Sesungguhnya agama (Islam) ini adalah ilmu, maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil (ilmu) agama kalian.”([14])

Matan

Kandungan bab ini:

  1. Penjelasan bahwa orang-orang Yahudi mengetahui perbuatan syirik ashghar
  2. Pemahaman seseorang akan kebenaran tidak menjamin untuk diterima apabila dia terpengaruh oleh hawa nafsunya
  3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Apakah engkau menjadikan diriku sebagai tandingan bagi Allah?” sebagai penolakan terhadap orang-orang yang mengatakan “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”, maka bagaimana lagi dengan orang yang mengatakan, “Wahai makhluk termulia, tidak ada seorang pun bagiku sebagai tempat berlindung kecuali engkau…” dan dua baik syair setelahnya?
  4. Ucapan seseorang “Atas kehendak Allah dan kehendakmu” termasuk syirik ashghar dan bukan syirik akbar
  5. Mimpi yang baik termasuk bagian dari wahyu
  6. Mimpi terkadang menjadi sebab disyariatkannya suatu hukum

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab At-Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________
([1]) Lihat Kalimat Al-Ikhlash Wa Tahqiq Ma’naha, Ibnu Rojab Al-Hanbali, 24.

([2]) Lihat  Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 7/385. Dan mereka hanya dikategorikan ahlu bid’ah, tidak sampai dikafirkan

([3]) Lihat Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 7/381.

([4]) Lihat Tuhfah Al-Murid ‘Ala Jauharoh At-Tauhid, Al-Bajuri, 168.

Berkata Asy-Syihristani:

ثُمَّ عَلَى أَصْلِ أَبِيْ الحَسَن: لَا تَأْثِيْرَ لِلْقُدْرَةِ الحَادِثَةِ فِي الأَحْدَاثِ.

“Kemudian, Sesuai dengan Ushulnya Abu Al-Hasan: Bahwa tidak ada pengaruh pada qudroh yang baru (qudroh hamba saat itu) terhadap hal-hal yang baru” (Al-Milal, Wa An-Nihal, Asy-Syihristani, 1/97).

Dan mereka meneybut bahwa perbuatan itu ada عِنْدَهَا (berbarengan dengan qudroh) bukan بِهَا (terjadi karena qudroh itu).

([5]) Dan Asy-Syihristani menukilkan dari Al-Baqillani, bahwa keyakinan beliau adalah: Qudroh Hamba itu ada pengaruh terhadap perbuatannya, karena dengannyalah seseorang hamba diberi pahala atau dosa. )Lihat Al-Milal Wa An-Nihal, Asy-Syihristani, 1/97(

([6]) Terkumpul dalam bait syair:

ممّا يُقالَ وَلَا حَقِيْقَةَ عِنْدَهُ … مَعْقُوْلَةٌ تَدْنُو إِلى الأَفْهَامِ

الكَسْبُ عِنْدَ الأَشْعَرِيِّ وَالْحَالُ عِنْـ … دَ [البَهْشَمِي] وَ [طُفْرَةُ] النَّظَّام

Diantara keyakinan yang tidak ada hakikatnya…tidak bisa dipikirkan dan dicerna oleh akal…

Al-Kasb menurut Al-Asy’ari, dan Al-Haal….. menurut Abu Hasyim, dan Thufroh An-Nazzhom….

(An-Nubuwwah, Ibnu Taimiyyah, 1/581)

([7]) Lihat  Tuhfah Al-Murid, Al-Bajuri, 167-169

([8])  Silsilatul Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhu’ah no. 282 1/450, Maudhu’, Al-Fawaid Al-Majmu’ah, Assyaukani, 1/326.

([9])  HR. Bukhari no. 946 dalam Al-Adab Al-Mufrod

([10])  Asy-Syaukani berkata :

فَإِنَّ بَعْضَ الْخَاصَّةِ الْمُتَمَيِّزِيْنَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ قَعَدَ بَيْنَ يَدَيَّ لِقِرَاءَةِ بَعْضِ عُلُوْمِ الْاِجْتِهَادِ، فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّهُ حَضَرَ لَيْلَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ هَذَا الشَّهْرِ، فِيْ بَعْضِ الْمَوَالِدِ، فَأَنْكَرْتُ عَلَيْهِ، وَانْقَبَضْتُ مِنْهُ فَقَالَ: حَضَرَ مَعَنَا سَيِّدِيْ فُلَانٌ وَفُلَانٌ وَفُلَانٌ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ الصِّفَةِ الَّتِيْ وَقَعَتْ بِحَضْرَةِ أُولَئِكَ الْأَعْيَانِ فَقَالَ فِيْ جُمْلَة شَرحِ تِلْكَ الْقَضِيَّةُ أَنَّهُ قَرَأَ الْمَوْلِدَ رَجُلٌ سُوْقِيٌّ، وَأُولَئِكَ الْأَعْيَانُ يَطْرَبُوْنَ وَيَسْمَعُوْنَ حَتَّى بَلَغَ إِلَى بَعْضِهِ ثُمَّ قَامَ كَأَنَّمَا نَشَطَ مِنْ عِقَالٍ، وَهُوَ يَقُوْلُ: مَرْحَبًا يَا نُوْرَ عَيْنِيْ مَرْحَبًا. وَقَامَ بِقِيَامِهِ جَمِيْعُ الْحَاضِرِيْنَ مِنَ الْأَعْيَانِ وَغَيْرِهِمْ، وَصَارَ يَنْهَقُ قَائِمًا وَهُمْ كَذَلِكَ، فَتَعِبَ بَعْضُ الْحَاضِرِيْنَ فَقَعَدَ، فَصَاحَ عَلَيْهِ بَعْضُ أُولَئِكَ الْأَعْيَانِ، وَقَالَ لَهُ: وَقَدْ ظَهَرَتْ عَلَيْهِ سَوْرَةُ الْغَضَبِ: قُمْ مَا هِيَ مَلْعَابُهُ، هَذَا اللَّفْظِ، وَهُمْ لَا يَشُكُّوْنَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ- وَصَلَ إِلَيْهِمْ تِلْكَ السَّاعَةَ، ثُمَّ تَصَافَحُوْا وَأَقْبَلَ جَمَاعَةٌ مِنْ الْعَامَةِ بِأَيْدِيْهِمْ أَنْوَاعٌ مِنَ الطِّيْبِ مُعَاجِلِيْنَ مُسْرِعِيْنَ، كَأَنَّهُمْ يَنْتَهِزُوْنَ فُرْصَةَ بَقَآئِهِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ- فَإِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أَيْنَ عِزَّةُ الدِّيْنِ، فَإِنْ ذَهَبَتْ فَأَيْنَ الْحَيَاءُ وَالْمُرُوْؤَةُ وَالْعَقْلُ؟.

“Sesungguhnya salah seorang penuntut ilmu yang spesial duduk di hadapanku untuk membaca sebagian ilmu-ilmu ijtihad. Dia menceritakan kepadaku bahwasanya ia hadir di malam tersebut dari bulan ini di sebagian acara maulid. Maka aku pun mengingkarinya dan aku merasa sedih darinya. Ia pun bercerita : “Telah hadir bersama kami (dalam acara maulid) sayyid fulan, fulan, dan fulan”. Maka aku bertanya kepadanya tentang gambaran yang terjadi dengan kehadiran para sayid tersebut. Dia menjawab secara global, “Acara tersebut dimulai dengan dibacakan maulid oleh seorang pedagang, dan para sayyid tersebut terlena dan mendengarkan hingga sampai diantara mereka ada yang tidak sadar, lalu iapun bangun seakan-akan baru terlepas dari ikatan seraya berkata : marhaban yaa nuuro ‘ainii marhaban (selamat datang wahai cahaya mataku, selamat datang). Maka dengan berdirinya lelaki tersebut berdiri juga seluruh hadirin dari para sayyid dan selainnya. Lelaki tersebut bersuara keras sambil berdiri, begitu juga para hadirin. Ketika salah seorang dari hadirin kelelahan ia pun duduk, maka sebagian dari para tokoh tersebut berteriak mengingatkannya, dan telah terlihat darinya tanda-tanda marah, dia berkata kepada  orang yang duduk tersebut, “Berdirilah! Ini bukan tempat bermain !”, demikian lah lafal yang ia ucapkan. Mereka tidak ragu bahwasanya Rasulullah ﷺ tiba kepada mereka pada saat itu. Kemudian mereka pun saling bersalaman, lalu datang sekelompok orang dalam keadaan terburu-buru di tangan-tangan mereka  terdapat berbagai macam minyak wangi, seakan-akan mereka mengambil kesempatan dengan singgahnya Rasulullah ﷺ. -innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun-, di manakah kemuliaan agama? Jika seandainya kemuliaan agama telah hilang, maka kemanakah rasa malu, muruah (kehormatan) dan akal sehat? (Risaalah fi Hukmi al-Maulid, sebagaimana tercnatum di al-Fathu ar-Robaani fi Fataawa al-Imaam asy-Syaukaani, dikumpulkan dan ditahqiq oleh Muhammad Subhi Hassaan Hallaaq 2/1090)

([11]) Lihat  At-Tamhid Syarh Kitab At-Tauhid, Shalih Alu Syaikh, 465-466

([12]) H.R. At-Tirmidzi, No.2687, Ibnu Majah, No.4169 Dan beliau Berkata: Hadits ini Ghorib, dan kami tidak mendapati hadits ini kecuali dari jalur ini. Dan Ibrohim bin Al-Fadhl Al-Makhzumi, didhoifkan haditsnya, karena hafalannya yang bermasalah”. Dan hadits ini dinyatakan Dho’if oleh Ibnu al-Jauzi, Al-‘Ilal Al Mutanahiyah, 1/88, dan dinyatakan dho’if sekali oleh Syaikh Al-Albani, Dho’if Sunan at-Tirmidzi, 1/320, Syaikh Syu’aib Al-Arnauth, Sunan Ibnu Majah dengan tahqiq beliau, No.4169.

([13])  HR. Bukhari no. 5010

([14]) H.R. Muslim, muqoddimah shohih Muslim, 14