Tidak Seorangpun Yang Berhak Disembah Selain Allah (BAB-14)

TIDAK SEORANGPUN YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Bab ini menjelaskan tentang dalil-dalil tauhid. Yang mana menunjukkan akan kejelasannya dan gamblangnya perkara tersebut, sampai-sampai orang awam pun tidak akan merasa samar dengan hal tersebut.

Dalam bab ini penulis menyebutkan 4 dalil

Dalil Pertama :

Firman Allah :

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ، وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah) dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan manusia, dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS. Al A’raf: 191-192)

Pada ayat ini Allah mengisyaratkan kelemahan-kelemahan sesembahan kaum musyrikin, yaitu sebagai berikut:

  1. Para sesembahan tidak bisa menciptakan

Firman Allah مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا (sesembahan yang tidak menciptakan apapun). Pada ayat tersebut Allah menggunakan lafadz شَيْئًا isim nakirah yang berada dalam konteks negatif sehingga bermakna umum mencakup apapun, artinya tidak ada satupun yang bisa diciptakan oleh sesembahan mereka, bahkan sekuat apapun sesembahan tersebut. Sebagaimana dalam ayat yang lain Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

“Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS Al-Hajj : 73)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ خَلْقًا كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا شَعِيرَةً

“Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang menciptakan seperti ciptaanKu ?. Hendaklah mereka menciptakan semut kecil, atau mereka ciptakan sebutir biji atau hendaklah mereka ciptakan sebutir gandum.”([1])

Dan sungguh benar, semua yang disembah tidak ada yang menciptakan. Manusia ada yang menyembah Nabi Ísa, ada yang menyembah para wali, ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah pohon, batu, matahari, rembulan, dll, semuanya tidak ada yang pernah menciptakan. Bahkan jika mereka bersatu padu untuk saling bahu membahu agar bisa menciptakan seekor lalat maka mereka tidak akan pernah mampu.

Sehingga, karena sesembahan mereka tidak bisa menciptakan maka sesembahan tersebut hakikatnya tidak pantas untuk disembah.

  1. Para sesembahan diciptakan

Firman Allah وَهُمْ يُخْلَقُونَ (sedangkan sesembahan-sesembahan tersebut diciptakan). Menunjukan bahwa para sesembahan itu diciptakan, itu artinya sesembahan itu dahulunya merupakan sesuatu yang tidak ada, lalu diadakan. Bahkan setelah mereka ada, mereka masih membutuhkan pencipta untuk membuat mereka bertahan hidup. Sesuatu yang sifatnya seperti itu tidak pantas untuk disembah.

  1. Para sesembahan tidak mampu menolong para penyembah

Allah menggunakan lafadz وَلَا يَسْتَطِيعُونَ “mereka tidak mampu” bukan dengan lafadz لاَ يَنْصُرُوْنَ (yang artinya) “mereka tidak menolong” saja, karena pada dasarnya mereka memang tidak mampu untuk memberikan pertolongan meskipun seandainya mereka ingin menolong.

  1. Para sesembahan tersebut tidak bisa menolong mereka sendiri

Firman Allah وَلَا أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ (kepada dirinya sendiripun sesembahan-sesembahan itu tidak dapat memberi pertolongan). Ini menunjukan bahwa mereka (para sesembahan) benar-benar dalam kondisi lemah tidak mampu menolong. Jika mereka tidak bisa menolong diri mereka sendiri, lantas bagaimana mau menolong selain mereka. Siapapun dari makhluk Allah yang dijadikan sesembahan, mereka tidak bisa menolong diri mereka sendiri. Bahkan Nabi Muhammad pun tatkala berperang, beliau terluka dan tidak bisa menolong dirinya sendiri. Nabi Isa yang dijadikan sesembahan oleh kaum Nasrani, dia tidak bisa menolong dirinya sendiri saat ditangkap oleh orang-orang Yahudi untuk menyalibnya. Allah lah yang kemudian menolongnya dengan mengangkatnya ke langit.

Semua sesembahan selain Allah terdapat pada dirinya ke empat sifat tersebut, sehingga mereka tidak pantas untuk dijadikan sesembahan.

Allah juga menyebutkan ayat lain yang semakna dengan ayat di atas. Seperti firman-Nya,

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (QS Al-Furqan : 3)

Allah juga berkata tentang Nabi Muhammad. Allah berfirman,

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-A’raf : 188)

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا، قُلْ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَدًا، إِلَّا بَلَاغًا مِّنَ اللَّهِ وَرِسَالَاتِهِ ۚ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (QS Al-Jinn : 21-23)

Dalil Kedua :

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ، إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dan sesembahan-sesembahan yang kalian mohon selain Allah, tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruanmu itu; kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu; dan pada hari kiamat meraka akan mengingkari kemusyrikanmu, dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. ” (QS. Fathir: 13-14)

Di dalam ayat ini pula, Allah kembali mengisyaratkan kelemahan-kelemahan para sesembahan batil tersebut, yaitu:

  1. Mereka tidak memiliki qithmir (selaput tipis yang membungkus biji buah kurma)
  2. Mereka tidak akan mendengar doa para penyembahnya
  3. Andaipun mereka mendengar, mereka tidak bisa mengabulkan

Pada dalil kedua ini, Allah memberitahu bahwa seluruh sesembahan selain-Nya itu tidak berhak disembah karena terdapat padanya tiga sifat kelemahan di atas. Sebagai contoh, Nabi pun yang merupakan manusia terbaik tidak dapat mendengar seluruh perkataan sahabatnya tatkala para sahabatnya tersebut berdiskusi, apalagi setelah beliau meninggal.

Yang menambah penyesalan para penyembah selain Allah, adalah ternyata sesembahan mereka itu tidak mengakui mereka di akhirat kelak. Bahkan syaithan pun juga mengingkarinya, sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran. Allah berfirman,

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم ۖ مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS Ibrahim : 22)

Malaikat yang juga disembah oleh para penyembahnya, malaikat pun berlepas diri dari mereka. Allah berfirman,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَٰؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ، قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِم ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُم بِهِم مُّؤْمِنُونَ

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”. Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS Saba’ : 40-41)

Nabi Isa yang juga disembah oleh para penyembahnya, dia pun berlepas diri dari mereka. Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ،  مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS Al-Maidah : 116-117)

Semua sesembahan tersebut berlepas diri dari para penyembahnya. Oleh karena itu, Allah berfirman,

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِّيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا، كَلَّا ۚ سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka,  sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka. (QS Maryam 81-82)

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (QS Al-Ahqaf : 5-6)

Inilah kesengsaraan yang berlipat ganda yang akan didapatkan oleh para penyembah selain Allah dimana mereka mengharapkan sesembahan mereka tetapi sesembahan mereka malah mengingkarinya.

Lalu di akhir ayat Allah menyampaikan bahwa tidak ada yang bisa mengabarkan seperti pengabaran Allah. Allah lah yang mengetahui tentang hari kiamat, Allah-lah yang mengetahui tentang hakikat para sesembahan-sesembahan tersebut, dan bagaimana hakikat mereka tatkala di akhirat, namun para penyembah itu tetap tidak membenarkan pengkabaran Allah dan menolak kabar-kabar yang disampaikan Allah.

Dalil Ketiga :

Diriwayatkan dalam shahih (Bukhari dan Muslim) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Ketika perang uhud Rasulullah terluka kepalanya, dan pecah gigi gerahamnya, maka beliau bersabda: “Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabinya? Kemudian turunlah ayat: “Tak ada hak apapun bagimu dalam urusan mereka itu”. (QS. Ali Imran: 128)”

Dan diriwayatkan dalam shahih Bukhari dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau berdiri dari ruku’ pada rakaat yang terakhir dalam shalat shubuh:

Ya Allah, laknatilah si fulan dan sifulan”, setelah beliau mengucapkan: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ setelah itu turunlah firman Allah:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

“Tak ada hak apapun bagimu dalam urusan mereka itu”.

Dalam riwayat yang lain: “Beliau mendoakan semoga Shafwan bin Umayah, Suhail bin Amr, dan Al Harits bin Hisyam dijauhkan dari rahmat Allah”, maka turunlah ayat:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

 “Tak ada hak apapun bagimu dalam urusan mereka itu”.

Dalam hadits tersebut Nabi mendoakan keburukan untuk mereka karena mereka telah melakukan kebiadaban yang luar biasa kepada Nabi dan para sahabatnya. Namun bersamaan dengan itu, Allah tetap saja menegur Nabi atas doanya tersebut. Dan pada akhirnya ketiga orang ini (Shafwan bin Umayah, Suhail bin Amr, dan Al-Harits bin Hisyam) masuk islam, yang menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan bukan di tangan Nabi.

Kalau Nabi saja butuh berdoa kepada Allah dan para sahabatnya juga ikut mengaminkan maka tidak boleh meminta kepada Nabi. Terlebih lagi manusia yang keimanan dan keutamaannya di bawah Nabi, tentu lebih tidak boleh untuk berdoa kepada mereka. Kalau Nabi saja berkeinginan agar ketiga orang tersebut dijauhkan dari rahmat Allah -dan ini juga keinginan para sahabat yang merupakan para wali Allah yang mengaminkan doa Nabi- namun keinginan Nabi dan para sahabat tidak terkabulkan, maka bagaimana mereka bisa disembah dan ditujukan doa kepada mereka?

Dalil Keempat :

Diriwayatkan pula dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “ketika diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam firman Allah:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (QS. Asy Syu’ara: 214).

Beliau berdiri dan bersabda: “Wahai orang-orang Quraisy, tebuslah diri kamu sekalian (dari siksa Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya). Sedikitpun aku tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan Allah untuk kalian. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, sedikitpun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu dihadapan Allah, wahai Shafiyah bibi Rasulullah, sedikitpun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu  dihadapan Allah nanti, wahai Fatimah binti Rasulillah, mintalah kepadaku apa saja yang kau kehendaki, tapi sedikitpun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu  dihadapan Allah nanti”.

Sisi pendalilan dari hadits ini yaitu Nabi shallallahu álaihi wasallam tidak bisa menyelamatkan orang terdekatnya dari neraka Jahannam. Bahkan putrinya yang sangat ia cintai yaitu Fathimah radhiallahu ánhaa. Jika Nabi tidak bisa menyelamatkan orang terdekatnya maka lebih-lebih lagi orang yang jauh nasabnya dari beliau tidak layak untuk berdoa dan beribadah kepada beliau.

Patut diketahui bahwa ahlul bait jika ia baik maka itu adalah keutamaan baginya, melebihi orang biasa yang bukan dari kalangan ahlul bait. Tetapi seandainya mereka tidak beramal shalih maka tidak ada manfaatnya sebagai ahlul bait. Jangan menyangka jikalau dia ahlul bait maka dia pasti selamat, sedangkan Fathimah dan Al-‘Abbas yang jelas-jelas merupakan ahlul bait sekaligus sahabat Nabi, ternyata Nabi juga tidak bisa menjamin akan keselamatannya.

Nabi bersabda :

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barang siapa yang amalnya lambat (kurang) maka nasabnya (yang mulia) tidak akan menambah amalnya” ([2])

Al-Ghozali berkata, “Ujub dengan nasab yang mulia, sebagaimana ujubnya Al-Haasyimiyah (*yang merupakan ahlul bait), sampai-sampai sebagian mereka menyangka bisa selamat dengan kemuliaan nasabnya dan dengan selamatnya leluhur mereka, dan telah diampuni dosa-dosanya. Dan sebagian mereka mengkhayal bahwasanya seluruh manusia adalah budak-budaknya.

Obat ujub ini adalah hendaknya ia mengetahui bahwasanya jika ia menyelisihi perbuatan dan akhlak leluhurnya dan ia menyangka bahwa ia akan ikut serta mereka maka ia adalah orang jahil. Jika ia meneladani leluhurnya maka ujub bukanlah termasuk akhlak leluhurnya, akan tetapi yang merupakan akhlak leluhurnya adalah rasa khouf (takut), merendahkan diri, menghormati manusia, dan mencela nafsu/jiwa mereka. Sungguh mereka (para leluhur) telah mencapai kemuliaan dengan ketaatan dan ilmu serta akhlak-akhlak yang terpuji. Mereka tidak meraih kemuliaan dengan nasab, maka hendaknya ia menjadi mulia dengan perkara-perkara yang menjadikan para leluhurnya mulia.

Sungguh ada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir yang telah menyamai mereka dan menyertai mereka dari sisi nasab dan kabilah (suku), akan tetapi mereka di sisi Allah lebih buruk dari pada anjing-anjing dan lebih hina dari pada babi-babi. Karenanya Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى

 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan”

Yaitu tidak ada tingkatan-tingkatan pada nasab-nasab kalian karena kalian berkumpul pada asal yang satu/sama. Kemudian Allah menyebutkan faedah nasab, maka Allah berfirman

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Dan Kami menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”

Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya kemuliaan adalah karena ketakwaan bukan karena nasab, maka Allah berfirman

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

 “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian” (QS Al-Hujuroot : 13)

Tatkala dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟ مَنْ أَكْيَسُ النَّاسِ؟ (Siapakah orang yang paling mulia?, siapakah orang yang paling cerdas?), maka Rasulullah tidak berkata, “Orang yang paling mulia adalah orang yang nasabnya berarah ke nasabku”, akan tetapi Nabi berkata,

أَكْرَمُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَشَدُّهُمْ لَهُ اسِتِعْدَادًا

“Orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling kencang persiapannya untuk kematian” ([3])

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ كُلُّكُمْ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

 “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah, kalian seluruhnya anak keturunan Adam, dan Adam dari tanah” ([4])

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لاَ تَأْتِي النَّاسُ بِالأَعْماَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَأْتُوْنَ بِالدُّنْيَا تَحْمِلُوْنَهَا عَلى رِقَابِكُمْ تَقُوْلُوْنَ يَا مُحَّمَدُ يَا مُحَمَّدُ فَأَقُوْلُ هَكَذَا أَيْ أُعْرِضُ عَنْكُمْ

“Wahai jama’ah suku Quraisy, janganlah orang-orang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal sholeh sedangkan kalian kalian datang membawa dunia yang kalian pikul di atas leher-leher kalian, (lalu) kalian berkata : “Wahai Muhammad..wahai Muhammad !”, maka akupun berpaling dari kalian” ([5])

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwasanya jika kaum suku Quraisy condong kepada dunia maka nasab Quraisy mereka tidak akan memberi manfaat bagi mereka.

Tatkala turun firman Allah

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ

 “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS As-Syu’aroo : 214),

Maka Nabipun memanggil rumpun-rumpun dari suku Quraisy hingga akhirnya beliau berkata :

يَا فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ يَا صَفِيَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اِعْمَلاَ لِأَنْفُسِكُمَا فَإِنِّي لاَ أُغْنِي عَنْكُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا

“Wahai Fatimah putri Muhammad, wahai Shofiyyah binti Abdil Muthholib bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian berdua beramal sholeh untuk menyelamatkan kalian, karena sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian berdua sedikitpun” ([6])

Barangsiapa yang memahami perkara-perkara ini dan mengetahui bahwasanya kemuliaannya sesuai dengan kadar ketakwaannya dan kebiasaan leluhurnya/nenek moyangnya dahulu adalah tawaadlu’ maka ia akan meneladani mereka dalam ketakwaan dan ke-tawaadhu’-an, dan jika tidak maka ia telah mencela nasab dirinya sendiri dengan lisaan haal (kondisi dan sikap)-nya bagaimanapun juga ia berafiliasi kepada leluhurnya namun tidak meniru mereka dalam sifat tawadhu’, ketakwaan, rasa khouf dan khawatir” ([7])

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata, “Sebagian mereka berkata “Saya adalah ahlul bait” kemudian dia bersandar dengan statusnya tersebut sebagai ahlul bait lalu dia tidak beramal shalih. Dia menyangka bahwasanya dia adalah ahlul bait dan itu sudah cukup. Maka sungguh dia telah tertipu oleh syaithan.” ([8])

Padahal tidak ada dalil bahwasanya keturunan para nabi pasti selamat. Bahkan dalil dan kenyataan membuktikan bahwa diantara keturunan para nabi ada yang dzolim. Allah berfirman :

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Dan Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata (QS As-Shooffaat : 112-113)

Yaitu dzolim kepada dirinya dengan kekufuran dan kemaksiatan.

Asy-Syaukani mengomentari ayat ini ;

بَلْ إِنَّمَا يَنْتَفِعُونَ بِأَعْمَالِهِمْ، لَا بِآبَائِهِمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى وَإِنْ كَانُوا مِنْ وَلَدِ إِسْحَاقَ فَقَدْ صَارُوا إِلَى مَا صَارُوا إِلَيْهِ مِنَ الضَّلَالِ الْبَيِّنِ، وَالْعَرَبُ وَإِنْ كَانُوا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ فَقَدْ مَاتُوا عَلَى الشِّرْكِ إِلَّا مَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ

“Akan tetapi mereka hanyalah mendapat manfaat dari amal mereka bukan dengan nenek moyang (leluhur) mereka. Karena sesungguhnya yahudi dan nashoro meskipun mereka dari keturunan Ishaq álaihis salam akan tetapi mereka telah menjadi kondisi mereka yang sekarang berada di atas kesesatan yang nyata. Demikian juga Arab meskipun (banyak diantara mereka, diantaranya Quraisy-pen) keturunan Ismaíl maka sungguh mereka meninggal dalam kesyirikan kecuali yang Allah selamatkan dengan Islam” ([9])

Demikian juga kita ketahui bagaimana dengan salah seorang anak dari Nabi Nuuh yang meninggal dalam kondisi kafir.

Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersandar kepada amal shalihnya sediri. Karena tidak ada yang bisa menyelamatkan dia seperti amal shalihnya. Andai pun ada yang akan memberi syafaat untuknya, maka Allah akan melihat terlebih dahulu apakah dia pantas mendapatkan syafaat atau tidak, dan ini kembali lagi kepada amal shalihnya, yaitu ia berhak untuk diberi syafaatpun dilihat dari amal shalihnya.

Kandungan bab ini:

  1. Penjelasan tentang kedua ayat tersebut diatas ([10]).
  2. Kisah perang uhud.
  3. Rasulullah, pemimpin para rasul, dalam shalat subuh telah membaca qunut sedang para sahabat dibelakangnya mengamini.
  4. Orang-orang yang beliau doakan semoga Allah menjauhkan rahmat-Nya dari mereka adalah orang-orang kafir.
  5. Mereka telah melakukan perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang-orang kafir yang lain, antara lain melukai kepala Rasulullah, dan berupaya untuk membunuh beliau, serta mengoyak-ngoyak tubuh para korban yang terbunuh, padahal yang terbunuh itu adalah sanak famili mereka.
  6. Terhadap peristiwa itulah Allah menurunkan firman-Nya kepada beliau:

    لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

     “Tak ada hak apapun bagimu dalam urusan mereka itu”.

  7. Allah berfirman:
    “Atau Allah terima taubat mereka, atau menyiksa mereka.” (QS. Ali Imran: 128).
    Kemudian Allah pun menerima taubat mereka, dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam, dan menjadi orang-orang yang beriman.
  1. Dianjurkannya melakukan qunut nazilah, yaitu: qunut yang dilakukan ketika umat Islam dalam keadaan marabahaya.
  2. Menyebutkan nama-nama mereka beserta nama orang tua mereka ketika didoakan terlaknat di dalam shalat, tidak membatalkan shalat.
  3. Boleh melaknat orang kafir tertentu di dalam qunut.
  4. Kisah Rasulullah ﷺ ketika diturunkan kepada beliau firman Allah “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”.
  5. Kesungguhan Rasulullah ﷺ dalam hal ini, sehingga beliau melakukan sesuatu yang menyebabkan dirinya dituduh gila, demikian halnya apabila dilakukan oleh orang mukmin pada masa sekarang.
  6. Rasulullah ﷺ memperingatkan keluarganya yang paling jauh kemudian yang terdekat dengan sabdanya: “sedikitpun Aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu dihadapan Allah nanti” sampai beliau bersabda: “wahai Fatimah putri Rasul, aku tidak bisa berbuat untukmu apa-apa dihadapan Allah nanti”.Jika beliau sebagai pemimpin para rasul telah berterus-terang tidak bisa membela putrinya sendiri pemimpin kaum wanita di jagat raya ini, dan jika orang mengimani bahwa apa yang beliau katakan itu benar, kemudian  jika dia memperhatikan  apa yang terjadi pada diri kaum khawash ([11]) dewasa ini, maka akan tampak  baginya bahwa tuhid ini sudah ditinggalkan, dan tuntunan agama sudah menjadi asing.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_____________

([1]) HR Bukhari no. 5953 & 7559 dan Muslim no. 2111

([2]) HR Bukhari no 2699

([3]) Hadits ini dengan lafal : أَيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ أَفْضَلُ؟ “Orang mukmin manakah yang paling afdol?” diriwayatkan oleh Ibnu Majah no 4249 dan dihasankan oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni, dan dihasankan oleh Al-Albani. Dan lafal ini semakna dengan lafal مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟  “Siapakah orang yang paling mulia?”. Lafal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyaa dalam kitabnya Makaarim Al-Akhlaaq hal 18

([4]) HR Abu Dawud no 5116 dan At-Thirmidzi no 3270 dan dishahihkan oleh Al-Albani

([5]) HR At-Thobroni dan dinyatakan dho’if oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni ‘an Haml Al-Asfaar

([6]) HR Muslim no 206

([7]) Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375-376, yaitu sikapnya yang ujub melazimkan ia mencela nasabnya meskipun lisannya mengaku menjunjung nasabnya

([8]) I’anatul Mustafid 1/302

([9]) Fathul Qodiir 4/466

([10])   Kedua ayat tersebut menunjukkan kebatilan syirik mulai dari dasarnya, karena makhluk yang lemah ini, yang tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, tidak dapat dijadikan sebagai sandaran sama sekali; dan menunjukkan pula bahwa Allah lah yang berhak dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia.

([11])  Kaum Khowash ialah: orang-orang tertentu yang ditokohkan dalam masalah agama, dan merasa bahwa dirinya patut diikuti, disegani dan diminta berkah doanya.