Sejarah Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab (Syarah Kitab At-Tauhid)

Sejarah Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab

Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA

Tulisan ini merupakan sejarah singkat seorang alim ulama yang memiliki jasa yang besar dalam dakwah, di antaranya berdirinya negara Arab Saudi. Negara yang senantiasa berusaha untuk menjalankan syariat Islam dengan kelebihan dan kekurangannya. Beliau adalah sosok yang senantiasa menyeru kepada tauhid secara terperinci serta memerangi kesirikan dan kebid’ahan secara terperinci.

Beliau ditentang oleh banyak orang, bahkan banyak di antara mereka yang memunculkan tuduhan-tuduhan dusta kepada beliau. Di antara mereka ada yang menuduh bahwasanya beliau mengaku sebagai seorang nabi atau menuduh beliau benci dengan Rasulullah ﷻ, ada pula yang menuduh bahwa beliau adalah seorang Mujassim, suka mengkafirkan kaum muslimin dan tuduhan-tuduhan lainnya yang tidak berdasar.

Sejatinya siapa saja yang mempelajari buku Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala, tentu tahu bahwa tuduhan-tuduhan tersebut merupakan  kedustaan dan sungguh beliau jauh dari segala tuduhan-tuduhan tersebut.

Kita lihat betapa banyak orang terpengaruh dengan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala, bahkan pengaruh tersebut sampai ke tanah air kita. Begitupula negara-negara besar seperti Kuwait dan Qatar dimana mereka berdakwah dengan metode syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan di Qatar terdapat suatu masjid agung yang diberi nama masjid Muhammad bin Abdul Wahhab.

Beliau juga memiliki pengaruh terhadap berdirinya beberapa Jam’iyyah (Ormas) seperti Jam’iyyah Ansharussunnah Muhammadiyyah di Mesir. Begitupula Jam’iyyah Muhammadiyyah dan Persis yang ada di tanah air kita. Jika syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala benci kepada sunnah nabi ﷺ, merendahkan Nabi Muhammad ﷺ, mengaku sebagai nabi, suka mengkafirkan suka menumpahkan darah kaum muslimin sebagaimana yang mereka tuduhkan tentu saja akan tampak pengaruhnya pada negeri-negeri atau ormas-ormas tersebut. Namun faktanya yang demikian itu tidak terlihat pada  kerajaan Arab Saudi yang begitu mengayomi kaum muslimin, tidak kita lihat pada negara kuwait, Qatar dan tidak juga pada organisasi persis atau organisasi Muhammadiyah.

Sangat jelas bahwa tuduhan-tuduhan tersebut hanya kedustaan-kedustaan yang dilancarkan oleh orang-orang yang  tidak suka dengan dakwah tauhid.

Pada tulisan singkat ini kita akan sebutkan sumber-sumber serta nukilan-nukilan dari buku-buku mereka agar kita tahu bahwasanya apa yang diutarakan oleh mereka sampai saat ini hanyalah kedustaan yang dipaksa-paksakan dan tidak relevan dengan kenyataan yang ada.

Dakwah sunnah yang tersebar di tanah air -Alhamdulillahi ta’ala- dengan berbagai macam yayasan-yayasannya, para da’i-da’i, pondok pesantren dan banyak sarana-sarananya seperti radio dan televisi dakwah semuanya tidak ada yang sesuai dengan tuduhan tersebut. Seandainya ada satu saja di antara tuduhan-tuduhan tersebut yang benar, maka sungguh akan nampak pada dakwah yang sudah tersebar di berbagai dunia dan juga di nusantara.

Namun ada sebagaian orang yang tidak memiliki bahan untuk menjatuhkan dakwah sunnah ataupun dakwah tauhid (dakwah yang mereka gelari dengan dakwah wahhabiyyah), maka mereka terpaksa berusaha melariskan tuduhan-tuduhan dusta tersebut di kalangan masyarakat sehingga banyak orang-orang jahil yang termakan dengan kedustaan-kedustaan tersebut.

lewat tulisan ini kami berusaha mengingatkan kepada mereka yang sering menyebarkan kedustaan-kedustaan tersebut, bahwasanya mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah pada hari kiamat kelak, berhadapan dengan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu Ta’ala. Padahal beliau memiliki jasa yang besar sehingga berdiri suatu negara Islam yang tadinya negara tersebut merupakan negara-negara kecil yang saling berperang dan menumpahkan darah, namun dengan adanya kerajaan Arab Saudi maka bersatulah kaum muslimin di Jazirah Arab.

Genealogi

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab memiliki nama lengkap Muhammad bin Abdil Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Al-Masyarif At-Tamimi Al-Hambali An-Najdi.([1])

Biografi

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dilahirkan pada tahun 1115 H (1703 M) di kampung Uyainah (Najd) dan wafat pada tahun 1206 H. Ayah beliau adalah seorang Qodhi di Uyainah dan beliau adalah salah seorang ulama bermazhab Hanbali, oleh karenanya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab banyak belajar dari ayahnya.

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab sejak masih kanak-kanak telah dididik dengan pendidikan agama yang diajar sendiri oleh ayahnya, Syaikh Abdul Wahhab. Atas izin Allah melalui bimbingan orang tuanya, ditambah dengan kecerdasan otak dan kerajinannya, Muhammad bin Abdil Wahhab berhasil menghafal 30 juz Al-Quran sebelum berusia sepuluh tahun. Bahkan ayah beliau kagum terhadap kecerdasannya. Ia pernah berkata, “Sungguh aku telah banyak mengambil manfaat terkait hukum-hukum (agama) dari anakku Muhammad “.([2])

Beliau dinikahkan ketika sudah baligh pada usia 12 tahun. Di usia tersebut juga beliau haji dan memulai rihlahnya ke Mekkah dan Madinah  sehingga beliau bertemu para ulama disana.([3])

Pada tahun 1135 H beliau menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya, namun untuk ibadah haji kali ini beliau tidak segera pulang akan tetapi beliau memilih untuk menetap di kota Makkah dalam rangka menuntut ilmu. Setelah itu beliau berpindah dari satu kota ke kota yang lain untuk menuntut ilmu. Beliau juga sempat menuntut ilmu di kota Madinah dan berguru pada dua orang ulama besar yaitu Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syaikh Muhammad Hayah al-Sindi. Beliau juga sempat menuntut ilmu di kota Basrah (Irak).

Beliau juga sangat tertarik untuk membaca buku Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Al-Qoyyim rahimahumallah. Menandakan bahwa semangat keduanya dalam masalah tauhid merasuk dalam raga syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Setelah lama melakukan rihlah dalam rangka menuntut ilmu beliau pulang menuju kampung halamannya. Ketika pulang ternyata beliau dapati ayahandanya sudah pindah ke Al-Huraimila’.

Ayahandanya beliau wafat di Al-Huraimila’ pada tahun 1153 H disaat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memulai dakwah tauhid([4]). Kondisi Najd ketika itu penuh dengan kesyirikan, khurofat dan banyak orang percaya kepada dukun. Secara umum dakwah sudah ada disana namun fokus dakwah tersebut lebih banyak kepada fikih sehingga tersebarlah kesyirikan dan khurofat. Di antaranya banyak masyarakat yang percaya kepada jimat, kuburan yang diagungkan bahkan dithowafi, isthigosah kepada mayat, ruqyah-ruqyah syirik dan berbagai macam kesyirikan lainnya sehingga menggugah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mendakwahkan tauhid disana.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kembali ke Al-Uyainah tempat dimana beliau dilahirkan ketika terjadi peperangan antar kabilah di Al-Huraimila’. Di antara strategi beliau dalam mengembangkan dakwah tauhid adalah dengan mendekati Amir (penguasa) Uyainah yang saat itu bernama Ustman bin Ma’mar. Dari sinilah beliau mulai intens dalam berdakwah, beliau mendakwahi orang-orang yang meminta kepada kuburan yang mereka sangka merupakan kuburan Zaid bin Khattab saudara dari Umar bin Khattab) radhiyallahu ‘anhu.  Sebelum mendapatkan bantuan dari sang Amir, syaikh mendakwahi mereka yang mengagungkan kuburan Zaid dan membangun kubah diatasnya dengan cara mengingatkan mereka bahwa Allah lebih baik dari Zaid dan agar mereka hanya meminta kepada Allah semata.([5])

Beliau melakukannya selama berbulan-bulan namun masyarakat tetap tidak menghiraukannya. Ketika beliau mendapatkan bantuan dari Amir Uyainah  maka kubah kuburan tersebut berhasil di runtuhkan. Tentu saja ini merupakan sunnah Nabi ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam Sahih Muslim ketika Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Al-Hayyaj,

“عَنْ أَبِى الْهَيَّاجِ الأَسَدِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ”

Dari Abul Hayyaj Al-Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah ﷺ pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung  melainkan engkau musnahkan dan jangan engkau biarkan kuburan tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.”([6])

Beliau juga berhasil menegakkan hukuman hadd di Uyainah atas wanita yang mengaku berulang-ulang telah berbuat zina dan pada akhirnya wanita tersebut di rajam. Seketika itu mulailah dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tersebar dan menjadi heboh di tengah masyarakat karena tindakan beliau yang dinilai berlebihan.([7])

Ketika kabar tentang dakwah syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab mulai viral, sampailah kabar tersebut ke telinga Amir wilayah Ahsa’ lantas beliau mengirim surat kepada Amir Uyainah seraya berkata dalam suratnya, “ Wahai Ibnu Ma’mar jika sampai surat ini kepadamu maka bunuhlah  Muhammad bin Abdil Wahhab”. Amir Ahsa’ juga mengancam akan memutuskan hubungan antar kedua wilayah tersebut sehingga Amir Uyainah pun merasa khawatir akan ancaman dari Amir Ahsa’.

Perlu diketahui oleh para pembaca sekalian, bahwa dahulu Najd terbagi menjadi beberapa wilayah yang masing-masing wilayah dikuasai oleh Amir. Tidak ada kekhilafahan atau sistem pemerintahan lainnya yang menyatukan wilayah-wilayah tersebut.

Dampak ancaman dari Amir Ahsa’ berakibat kepada diusirnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dari Uyainah pada tahun 1158 H. Beliau sempat menasehati Amir Uyainah agar tetap bertahan dalam menegakkan dakwah tauhid, akan tetapi nasehat tersebut diabaikan karena beliau khawatir akan ada masalah dengan Amir Ahsa’ jika beliau tetap menegakkan dakwah tauhid bersama syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Pada akhirnya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab diusir dari Uyainah dan beliau pergi menuju Dir’iyyah. Perjalanan tersebut beliau tempuh di tengah musim panas dengan berjalan kaki. Beliau tidak membawa bekal kecuali hanya sebuah kipas yang beliau gunakan untuk mengurangi hawa panas yang beliau rasakan([8]). Sepanjang perjalanan beliau senantiasa membaca ayat,

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّه مَخْرَجًا وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Tholaq : 2-3)

Sesampainya beliau di Dir’iyyah beliau bertemu dengan seorang ulama yang bernama Ibnu Suailim. Selama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berada disana Ibnu Suailim merahasiakan keberadaan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dari Amir Dir’iyyah yang bernama Muhammad bin Saud.

Amir Dir’iyyah Muhammad bin Saud memiliki dua saudara yang bernama Musyari dan Tsunaiyyan beliau juga beristrikan seorang wanita yang cerdas. Dengan kuasa Allah ketiganya bertemu dengan syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan menerima dakwah beliau. Ketiga orang tersebut terutama istrinya memberikan pengaruh yang besar sehingga -dengan izin Allah- Muhammad bin Saud pada akhirnya juga menerima dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Istri Muhammad bin Saud juga menasehati suaminya agar beliau menemui syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan berjalan kaki sebagai bentuk penghormatan dan memuliakan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.([9])

Dalam pertemuan tersebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengajak Muhammad bin Saud untuk bersama-sama menegakkan dakwah tauhid. Muhammad bin Saud pun mengiyakan ajakan beliau namun dia memberikan dua persyaratan. Syarat pertama jika nanti mereka telah berhasil menegakkan dakwah maka beliau dimohon untuk tidak meninggalkan mereka. Syarat yang kedua muhammad bin Saud meminta agar upeti-upeti dari semua wilayah kekuasaan beliau tetap beliau ambil. Setelah mendengar syarat tersebut syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata,

الدم بالدم والهدم بالهدم…

“Jika kita harus mati maka kita mati bersama, jika hancur maka hancur bersama…”([10])

Ucapan ini sama seperti yang Nabi ﷺ sabdakan ketika ditanya oleh orang-orang Anshar apakah beliau akan kembali ke kota beliau dan meninggalkan mereka di Madinah, maka beliau ﷺ menjawab dengan perkataan tersebut untuk meyakinkan mereka bahwa Nabi ﷺ tidak akan meninggalkan mereka.([11])

Setelah merespon syarat Muhammad bin Saud yang pertama beliau melanjutkan dengan syarat yang kedua bahwa beliau tidak akan melarang dan beliau akan mendoakan agar kedepannya sang Amir dilimpahkan rizkinya dari Allah ﷻ sehingga beliau tidak lagi mengambil upeti-upeti dari wilayah yang beliau kuasai. Semenjak itu mereka berdua bersama-sama bahu-membahu dalam menegakkan dakwah tauhid. Dari sinilah cikal bakal berdirinya negara Arab Saudi yang pertama.

Ketika dakwah semakin berkembang, banyak orang yang menuntut ilmu kepada Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab di kota Dir’iyyah. Sehingga ketika masing-masing kembali ke tempat mereka dan menegakkan dakwah tauhid serta mengingkari berbagai macam kesyirikan maka semakin berkembanglah dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Seketika itu Amir Uyainah meminta syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk kembali ke Uyainah namun beliau menolak dan ingin kembali meneruskan perjuangan dakwah beliau bersama Muhammad bin Saud dan berdirilah negara kerajaan Saudi Arabia.

Sosok Muhammad bin Abdil Wahhab bagi warga Saudi bukan hanya sekedar ulama, namun beliau juga merupakan sosok pahlawan bagi negara tersebut. Beliau memiliki jasa yang besar dalam berdirinya negara Saudi Arabia yang keberkahannya dapat dirasakan oleh banyak orang. Arab Saudi merupakan satu-satunya negara yang dengan tegas menjadikan undang-undang dasarnya adalah Al-Kitab (Al-Quran) dan As-Sunnah (hadist), Wala’ (loyalitas) mereka ditujukan kepada Allah, Rasul-Nya kemudian Negara mereka. Tentu saja dengan segala kekurangan dan kelebihannya, namun sampai saat ini hanya Arab Saudi yang secara terang-terangan menuliskan hal tersebut dalam UUD mereka. Tidak ada negara Islam yang seperti itu bahkan sebagian kelompok Islam yang menyatakan ingin menegakkan Syariat Islam ketika mereka berhasil menguasai suatu negara atau wilayah, mereka tidak menyatakan dalam UUD mereka bahwa mereka kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah.

Inilah negara kerajaan Arab Saudi yang sebelumnya penuh dengan peperangan, kesyirikan merajalela dan tidak ditegakkannya syariat Islam secara totalitas, namun dengan izin Allah setelah berdirinya negara Arab Saudi berdirilah pula syariat Islam, berdiri pula undang-undang Islam, kesyirikan dengan segala macam bentuknya di musnahkan, bahkan tidak ada di sana praktek perdukunan. Tidak ada praktek zina dan khamer secara terang-terangan.

Sampai sekarang negara Arab Saudi untuk urusan politik dipegang oleh keluarga Muhammad bin Saud dan untuk urusan agama dipegang oleh Alu Syaikh (keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab). Namun bukan berarti mereka fanatik dalam masalah agama karena selain Alu Syaikh pun pernah menjabat sebagai mufti kerajaan seperti syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah terus konsiten dalam berdakwah hingga pada akhirnya beliau wafat pada tahun 1206 H, rahimahullahu rahmatan wasi’an.

Ciri-ciri dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

  1. Dibangun diatas ilmu

Tentu saja beliau bukan orang sembarangan, beliau hafal Al-Quran sebelum baligh, belajar dari ayahnya yang beliau adalah ahli dalam mazhab Hambali, beliau juga memiliki sanad dan ijazah dalam hadist, beliau juga gemar membaca buku-buku Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Al-Qoyyim rahimahumallah

  1. Fokus kepada tauhid

Beliau dalam dakwahnya senantiasa menjelaskan tauhid secara terperinci dan juga menjelaskan kesyirikan secara terperinci. Oleh karenanya ghirah beliau tentang tauhid sangatlah besar, karena tauhid merupakan tujuan utama seseorang di diciptakan muka bumi ini,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

 “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Az-Zariyat : 56)

Alhamdulillah faktanya sampai sekarang kita dapati dakwah yang fokus kepada dua hal yaitu fokus secara terperinci menjelaskan tauhid dan kesyirikan adalah dakwah salafiyah. Kita dapati pula bahwa sebagian dai yang tidak berdakwah di atas manhaj salaf mereka tidak fokus dalam dua hal ini.

  1. Membersihkan syariat dari bid’ah

Ini yang kemudian banyak orang-orang di zaman beliau tidak suka dengan beliau. Demikian itu karena beliau tidak hanya membahas masalah tauhid dan syirik tapi beliau juga membahas masalah bid’ah, menjelaskan kepada umat apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan, apa yang sebenarnya disunnahkan dan tidak disunnahkan oleh Nabi ﷺ. Di antaranya beliau juga mengingkari tabarruk dengan tubuh orang, dalam masalah ini pun sebenarnya beliau tidak menggunakan pendapatnya sendiri melainkan menukil dari pendapat para ulama seperti As-Syathibi yang menyebutkan bahwasanya tabarruk dengan orang-orang saleh itu terdapat padanya dalil. Memang benar para sahabat bertabarruk dengan Nabi ﷺ, dengan keringat beliau, ludah beliau, namun yang demikian tidak dipraktekkan kepada Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan para sahabat Nabi ﷺ yang lainnya. Menunjukkan secara tegas bahwasanya bertabarruk dengan liur, ludah, dahak dan lain sebagainya hanya kembali kepada Nabi ﷺ. ([12])

  1. Memerangi Taklid (fanatik) buta

Maksudnya adalah kembali kepada dalil dengan tetap menghormati mazhab-mazhab yang ada. Beliau bukanlah seorang yang anti mazhab karena beliau bermazhab Hambali. Beliau juga menulis buku tentang fikih mazhab Hambali. Hanya saja beliau tidak fanatik dan lebih mengutamakan dalil.

Sebagai contoh dulu di Arab Saudi masing-masing mazhab memiliki mihrab maka bisa kita bayangkan apabila setiap orang sholat sesuai mihrab mazhabnya maka tidak akan terjadi persatuan antar kaum muslimin. Alhamdulillah negara Saudi Arabia berhasil mempersatukan kaum muslimin dan hanya menjadikan satu mihrab saja dalam pelaksanaan sholat berjamaah. Arab Saudi juga bukan negara yang anti mazhab karena mereka bermazhab Hambali. Fikih mereka juga fikih Hambali. Ketika kuliah di Madinah kami juga di ajarkan kitab perbandingan mazhab yaitu kitab “Bidayatul Mujtahid”. Intinya yang diperangi adalah taklid (fanatisme) dan bukan mazhab.

  1. Memperhatikan skala prioritas (tahapan dalam dakwah)

Hal ini tampak jelas ketika beliau berbulan-bulan lamanya menasehati orang-orang yang beribadah dan minta-minta di kuburan. ketika itu beliau hanya berkata, الله خير من زيد yang artinya ‘Allah lebih baik daripada Zaid’ sebagaimana telah disebutkan kisahnya dalam biografi beliau.

Dalam kasus lain, beliau pernah mendamaikan antara dua kabilah yang berseteru. Ketika itu sudah ada peraturan bahwa barangsiapa yang ketahuan merokok maka akan ada sanksi hukum baginya.

Singkat cerita beliau berhasil mendamaikan kedua kabilah yang berseteru dengan cara menasehati pemimpin-pemimpin mereka. Maka tatkala tiba waktu sholat salah satu dari pimpinan kabilah sholat di samping syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Ketika sedang ruku’ atau sujud tiba-tiba rokoknya jatuh dan dengan segera dia pun mengambil rokoknya. Datanglah setelahnya orang-orang yang melapor kepada syaikh bahwa pimpinan kabilah tersebut ketahuan menyimpan rokok, namun syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab terkesan mengabaikan dan berkata bahwa beliau tadi tidak melihatnya sedang merokok. Intinya disini beliau sedang menimbang antara maslahat dan mudhorot. Jika saja pemimpin mereka dihukum padahal baru saja mereka berdamai dikhawatirkan kondisi akan lebih parah dari pada sebelumnya. Ini bukti bahwa beliau melihat skala prioritas dalam berdakwah dan dalam beramar makruf dan nahi munkar.

Tuduhan-tuduhan dusta yang disematkan kepada syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab([13])

Pembahasan ini sangat penting bahwa apa yang muncul sekarang ini bukanlah perkara yang baru. Tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada dakwah sunnah bukanlah perkara yang baru. Mereka hanya menukil dari para pendusta sebelumnya. Oleh karenanya para penuduh dakwah dengan tuduhan yang tidak benar ada dua model; pertama mungkin jahil (tidak tahu), kedua sudah tahu tapi tetap ngeyel dan memaksakan kedustaan kepada dakwah Syekh Muhammad bin Abdill Wahhab rahimahullahu Ta’ala.

Di antara tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada beliau adalah :

  1. Mengaku sebagai nabi

Tentunya ini adalah tuduhan yang sangat aneh, padahal syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala dalam karya-karyanya di antaranya risalah beliau kepada penduduk Qashim beliau menyebutkan ketika mereka bertanya kepada beliau tentang akidah beliau bahwa,

وأومن بأن نبينا محمدا صلى الله عليه وسلم خاتم النبيين والمرسلين ولا يصح إيمان عبد حتى يؤمن برسالته ويشهد بنبوته

“Aku beriman bahwasanya Nabi kita Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi dan penutup para rasul dan bahwasanya tidak sah iman seseorang hamba sampai dia beriman kepada Risalah beliau dan mempersaksikan kenabian beliau.”([14])

Dalam kitab At-Tauhid beliau juga menukilkan hadist Nabi ﷺ yang menyatakan bahwa,

وإنه سيكون في أمتي كذابون ثلاثون، كلهم يزعم أنه نبي، وأنا خاتم النبيين

“Akan ada dari umatku 30 orang yang berdusta, semua mengaku sebagai nabi padahal aku adalah penutup bagi para nabi”([15])

Beliau juga menyebutkan dalam salah satu karyanya yaitu “Nawaqidhul Islam” yang artinya pembatal-pembatal keislaman bahwa keluarnya seseorang dari syariat nabi Muhammad ﷺ merupakan bentuk kekufuran. Atas dasar pernyataan-pernyataan ini maka tuduhan-tuduhan tersebut tidaklah benar dan para penuduhnya adalah para pendusta.

Di antara para pendusta tersebut adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Afaliq, dia berkata dalam bukunya tentang syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab,

كما ادعا نزيله مسيلمة -أي النبوة- بلسان مقاله، وابن عبد الوهاب حاله

“Sebagaimana yang tinggal di Najd (Musailamah Al-Kaddzab) pernah mengaku sebagai nabi dengan lisannya, begitupula anaknya Abdul Wahhab juga mengaku sebagai nabi dengan perbuatannya”([16])

Dia juga pernah berkata,

والله لقد ادعى النبوة بلسان حاله لا بلسان مقاله…

“Sungguh dia telah mengaku sebagai nabi dengan perbuatannya bukan dengan lisannya,([17])

Dia juga berkata,

هل أخذته من بقايا صحف مسيلمة الكذاب …

“Apakah engkau mengambil pemahamanmu itu dari quran (tulisannya) Musailamah Al-Kaddzab”([18])

Diantara para penyebar kedustaan terhadap syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Ahmad bin Zaini Dahlan. Beliau merupakan seorang ulama syafi’iyyah di kota Mekkah, dari beliau lah kedustaan tentang syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab semakin tersebar karena orang-orang berdatangan dari penjuru dunia untuk berhaji kemudian bertemu dengan beliau serta membaca karya-karya beliau.([19])

Di antara para penebar kedustaan adalah Muhammad Taufiq Sauqiyah yang berkata,

ولما كان- أي الشيخ محمد بن عبد الوهاب- مولعا بمطالعة أخبار أسلافه الذين ادعوا النبوة، مثل مسيلمة الكذاب والأسود العنسي، وسجاح، وطليحة الأسدي، قام بنشر دعوته الإصلاحية للتوصل لدعوى النبوة افتراء

“Dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) gemar membaca berita-berita para pendahulunya yang mengaku sebagai nabi seperti Musailamah Al-Kaddzab, Al-Aswad Al-Unsy, Sijjaj dan Thulaihah Al-Asadi, dia menyebarkan dakwah perbaikan sebagai wasilah untuk bisa mengaku sebagai nabi”([20])

Di antara mereka ada yang bernama Alawy Al-Haddad, dia berkata,

وكان يضمر دعوى النبوة، وتظهر عليه قرائنها بلسان الحال، لا بلسان المقال، لئلا تنفر عنه الناس، ويشهد بذلك ما ذكره العلماء من أن عبد الوهاب كان في أول أمره مولعا بمطالعة أخبار من ادعى النبوة كاذبا…”

“Dia (Muhammad bin Abdil Wahhab) menyembunyikan pengakuannya sebagai nabi, kondisinya menunjukkan akan hal tersebut meskipun lisannya tidak demikian. Hal ini supaya orang-orang tidak lari darinya. Buktinya apa yang disebutkan oleh para ulama bahwa si Abdul Wahhab dahulu hobi membaca cerita-cerita orang-orang yang berbohong mengaku sebagai nabi.. “([21])

  1. Mujassimah

Di antara tuduhan yang disematkan kepada syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah tuduhan bahwa beliau adalah seorang Mujassimah. Di antara para penuduh tersebut adalah seorang ulama Syi’ah Zaidiyyah dimana dia berkata,

حيث قلت: وذلك مثل وصف نفسه تبارك وتعالى بأنه فوق السماوات مستو على عرشه، فقد فسرت كتاب الله وأثبت لله صفة، وهي الفوقية المستلزمة للتجسيم

“Engkau (Muhammad bin Abdul Wahhab) berkata bahwa Allah menyifati dirinya bahwa Dia berada di atas langit dan beristiwa di atas arsy, engkau menafsirkan Al-Quran dan engkau menetapkan sifat bagi-Nya yaitu sifat atas yang mana sifat tersebut berkonsekuensi kepada pemahaman tajsim”([22])

Tentu saja apa yang dia katakan merupakan kekeliruan karena meyakini Allah berada di atas tidak melazimkan Allah seperti makhluk-Nya. Jika yang dimaksud tajsim adalah Allah berdzat maka Allah memang memiliki dzat, namun jika yang dimaksud dengan tajsim seakan-akan Allah seperti berhala yang disembah maka ini merupakan kedustaan yang dituduhkan kepada syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sebagaimana salah seorang dari mereka mengatakan dalam bukunya,

وكانوا أجدر باللحوق بأهل الأصنام لأنهم إذا اعتقدوا أن معبودهم جسم لم يعبدوا الله ولا عرفوا منه إلا الاسم

“Mereka itu (orang-orang Wahabi) lebih mirip dengan para penyembah berhala, karena mereka meyakini bahwa Rabb mereka adalah jism, mereka tidaklah menyembah Allah dan tidak mengenal Allah melainkan hanya nama-Nya saja”([23])

  1. Merendahkan dan Menghina Nabi

Diantara yang menuduh dengan tuduhan tersebut adalah Alawy Al-Haddad yang berkata dalam kitabnya “Mashobihul Anam”,

كان ينتقص النبي صلى الله عليه وسلم كثيرا بعبارات مختلفة، منها قوله: إنه طارش بمعنى أن غاية أمره أنه كالطارش الذي يرسل إلى أناس في أمر فيبلغهم ثم ينصرف، وكان بعضهم يقول عصايا خير من محمد، لأنها ينتفع بها بقتل الحية ونحوها، ومحمد قد مات، ولم يبق فيه نفع أصلا، وإنما هو الطارش ومضى، وبهذا يكفر عند المذاهب الأربعة، ومن ذلك أنه كان يكره الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ويتأذى من سماعها…

“Dia (Muhammad bin Abdil Wahhab) seringkali menghina Nabi ﷺ dengan ungkapan yang berbeda-beda, di antara hinaan tersebut adalah ucapannya bahwa Nabi ﷺ adalah seorang tharisy yaitu orang yang diutus kepada orang lain untuk suatu urusan kemudian setelah menyampaikan orang itupun langsung pergi, sebagian mereka (orang-orang wahabi) berkata bahwa tongkatku lebih bagus dari pada Muhammad, karena tongkatku bermanfaat untuk membunuh ular dan selainnya adapun Muhammad maka dia telah mati dan sudah tak tersisa lagi manfaat darinya, dia adalah seorang tharisy dan sudah tiada, dengan ucapan ini maka dia telah kufur menurut empat mazhab. Di antara bentuk hinaan kepada Nabi ﷺ bahwa dia (Muhammad bin Abdil Wahhab) juga benci kepada sholawat atas Nabi ﷺ dan senantiasa terganggu apabila mendengar sholawat…” ([24])

Tentu saja semua ini adalah kedustaan terlebih lagi masalah sholawat atas Nabi ﷺ  karena syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab setiap kali menulis nama Nabi ﷺ dalam karya-karyanya beliau selalu menuliskan sholawat setelahnya dengan jelas dan tidak disingkat-singkat. Bisa jadi yang dikritisi oleh beliau atau orang-orang yang dianggap mengikuti beliau sedang membahas sholawat dengan suara keras dan diulang-ulang setelah adzan ini yang dinilai sebagai bid’ah dan bukan berarti beliau membenci sholawat.

Di antara alasan mengapa syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dituduh menghina dan merendahkan Nabi ﷺ adalah seperti yang dikemukakan oleh syaikh Ahmad bin Hajr Alu Buthomi,

ولكن المنحرفين يرون حب الرسول صلى الله عليه وسلم في قراءة الأناشيد والأشعار والاستغاثات.. فمن عمل بهذا فهو محب للرسول، وإن ارتكب الموبقات وتلطخ بقاذورات المبتدعات ومن لا فلا

“Akan tetapi mereka menyangka bahwa yang dinamakan cinta kepada Nabi ﷺ adalah dengan mendendang-dendangkan nasyid-nasyid, sya’ir-sya’ir, dan dengan beristighosah. (Menurut anggapan mereka) barangsiapa yang mengerjakan amalan-amalan tersebut maka dia adalah orang yang cinta kepada Nabi ﷺ meskipun dia adalah orang yang mengerjakan dosa-dosa besar dan amalannya terlumuri dengan berbagai macam kebid’ahan dan barangsiapa yang tidak mengerjakan amalan-amalan tersebut maka bukanlah pecinta Nabi ﷺ.([25])

Tuduhan bahwa syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab benci kepada Nabi ﷺ adalah tuduhan yang tidak benar. Bahkan beliau sangat cinta kepada Nabi ﷺ bahkan saking cintanya beliau kepada Nabi ﷺ beliau tidak suka dengan kebid’ahan, karena bid’ah bukan ajaran Nabi ﷺ. Bukti cinta kepada Nabi adalah dengan mengikuti ajaran beliau ﷺ bukan sebaliknya menjadikan barometer cinta kepada Nabi ﷺ dengan hal-hal yang justru tidak diajarkan Nabi ﷺ.

  1. Anti Mazhab

Adapun tuduhan bahwa beliau anti mazhab maka tidak benar, beliau bermazhab Hambali dan sekarang praktek kerajaan Arab Saudi juga bermazhab Hambali. Banyak ulama mazhab Hambali seperti syaikh Bin Baz syaikh ibnu Utsaimin mereka bermazhab Hambali. bahkan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim bermazhab Hambali. Maka tidak benar jika mereka dituduh anti mazhab. Tuduhan bahwa syaikh berkata dengan perkataan keluar dari mazhab maka ini juga tidak benar karena apa yang beliau kemukakan didasari oleh pendapat-pendapat sebelumnya. Bahkan sampai sekarang di masjid Nabawi terdapat para pengajar dari mazhab-mazhab lain. Sesungguhnya yang beliau larang adalah perbuatan taklid (fanatisme). Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad rahimahullah,

لَا تقلدني وَلَا تقلد مَالِكًا وَلاَ الثَّوْرِيَّ وَلَا الْأَوْزَاعِيّ وَخذ من حَيْثُ أخذُوا

“Janganlah bertaklid kepadaku dan jangan pula bertaklid kepada Malik, Tsaury dan juga Auza’i, ambillah dari mana mereka mengambil” ([26])

  1. Mengingkari karomah para Wali

Tuduhan ini disematkan kepada beliau karena menurut mereka para Wali bisa dimintai pertolongan meskipun sudah meninggal dunia. Tentu saja yang demikian diingkari oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, atas dasar inilah tuduhan tersebut disematkan kepada beliau.

  1. Berakidah Takfiri / Khawarij

Ini juga merupakan tuduhan dusta kepada beliau. Jika kita lihat sekarang apakah Arab Saudi mengkafirkan kaum muslimin? Dahulu ketika berada dipuncak kejayaannya Arab Saudi senantiasa memberikan bantuan untuk kaum muslimin di seluruh dunia. Bahkan selain Saudi seperti kuwait dan Qatar yang juga digelari Wahabi pun memberikan bantuan dan membangun masjid di berbagai negara. Mereka memberi bantuan tanpa syarat, semua kaum muslimin diberikan bantuan tanpa pilah-pilih. Muhammadiyah dan Persis yang notabene mengikuti dakwah syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab juga tidak ada dalam dakwah mereka yang mengkafir-kafirkan kaum muslimin. Justru sekarang kita dapati ketika kita mengatakan Allah di atas kita dikafirkan dan dituduh sebagai Mujassim. Jelas sekali ini semua adalah kedustaan yang bertentangan dengan kenyataan.

  1. Menerapkan ayat yang berkaitan dengan orang kafir kepada kaum muslimin

Pada point ini sebenarnya tidak ada masalah. Misal terdapat ayat yang menjelaskan tentang kesyirikan bahwa tidak boleh berdoa selain kepada Allah maka sebaiknya kita menyampaikan ayat tersebut kepada orang-orang muslim yang terjatuh kepada kesyirikan. Karena العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب bahwa yang menjadi acuan adalah keumuman lafadz (suatu ayat) bukan kekhususan sebab (turunnya ayat). Jika suatu perbuatan pernah dilakukan oleh orang-orang musyrik yang menjadi sebab turunnya ayat Al-Quran maka boleh bagi kita untuk membawa ayat tersebut kepada kaum muslimin yang juga melakukan perbuatan yang sama supaya mereka tidak terjerumus ke dalam kesyirikan juga.

  1. Memberontak kepada Daulah Utsmaniyah

Ini adalah tuduhan yang tidak benar bahkan tidak berdasar karena hal tersebut sama sekali tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan beliau, dalam surat-surat beliau sehingga kata para ulama bahwasanha hal tersebut tidak pernah terbetik dalam benak beliau untuk memberontak.

Terlebih lagi wilayah Najd terbagi menjadi beberapa wilayah dan masing-masing memiliki Amir dan belum ada kekhilafahan yang menaungi mereka. Bahkan syaikh Sholih Al-Abud dalam risalahnya tentang syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab beliau menyebutkan bahwa kekhilafahan Turki Ustmani tatkala itu tidak sampai ke Najd. Apakah para Amir di wilayah Najd mengirim upeti kepada khilafah Ustmaniyah? Jawabannya adalah tidak karena kekhilafahan Turki belum sampai ke Najd([27]). Adapun berita bahwa syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab akan menggulingkan Daulah Turki maka semua itu adalah fitnah belaka karena syaikh sama sekali tidak pernah menyinggung masalah turki dalam karya-karyanya.

Inilah sejarah singkat syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah ta’ala. Dari sini kita tahu bahwa tuduhan-tuduhan dusta kepada beliau sudah disematkan dari dulu dan masih berlanjut hingga saat ini. Lihatlah bagaimana kesabaran beliau dalam menghadapi segala tuduhan dan fitnah ketika beliau tetap tegar dalam mendakwahkan tauhid. Tantangan ketika mendakwahkan tauhid sudah pasti ada, maka tetap tegar mendakwahkan tauhid meskipun dimusuhi manusia adalah hal yang lumrah.  Jika yang dicari oleh seorang dai adalah ridho Allah maka hendaknya tetap tegar mendakwahkan tauhid meskipun dimusuhi, dihina dan difitnah namun jika yang ingin dicari adalah ridho manusia maka silahkan berdakwah dengan apa yang disenangi oleh mereka niscaya mereka semua akan ridho dengan kita. Wallahu A’lam

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_____________

Footnote:   

([1]) Lihat : Aqidatu Muhammad ibni Abdil Wahhab As-Salafiyyah wa Atsaruha fi Al-‘Alam Al-Islami karya Sholih bin Abdillah Al-Abud  1/ 133.

([2]) Lihat : Tarikh Najd karya Ibnu Ghonam hal. 81

([3]) Lihat : Aqidatu Muhammad ibni Abdil Wahhab As-Salafiyyah wa Atsaruha fi Al-‘Alam Al-Islami karya Sholih bin Abdillah Al-Abud  1/ 133.

([4]) Idem 2/785

([5]) Lihat : Ad-Durar As-Sunniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah 2/211

([6]) HR. Muslim no. 969

([7]) Lihat : Aqidatu Muhammad ibni Abdil Wahhab As-Salafiyyah wa Atsaruha fi Al-‘Alam Al-Islami karya Sholih bin Abdillah Al-Abud 2/ 803.

([8])  Lihat : Aqidatu Muhammad ibni Abdil Wahhab As-Salafiyyah wa Atsaruha fi Al-‘Alam Al-Islami karya Sholih bin Abdillah Al-Abud 2/ 770.

([9]) Lihat : Aqidatu Muhammad ibni Abdil Wahhab As-Salafiyyah wa Atsaruha fi Al-‘Alam Al-Islami karya Sholih bin Abdillah Al-Abud  1/ 808-809.

([10])   Lihat : Aqidatu Muhammad ibni Abdil Wahhab As-Salafiyyah wa Atsaruha fi Al-‘Alam Al-Islami karya Sholih bin Abdillah Al-Abud  2/812

([11]) Lihat : Musnad Imam Ahmad 25/93.

([12]) Lihat : Al-I’tishom karya As-Syathibi 2/ 302

([13]) Tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada beliau beserta bantahannya secara lebih terperinci bisa dilihat di kitab Da’awa Al-Munawwi’in karya Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdil Lhatif hafidzohullah.

([14]) Lihat Majmu’ah Muallafat Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab hal. 5-10; kitab Da’awa Al-Munawwi’in karya Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdil Lhatif hal. 78

([15]) HR. Abu Dawud no. 4252, Ibnu Hibban no. 7238 dan Al-Hakim 4/496 dan Al-Hakim berkata bahwa hadist ini sahih sesuai syarat syaikhain Bukhari dan Muslim.

([16]) kitab Da’awa Al-Munawwi’in karya Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdil Lhatif hal. 81

([17]) Idem hal. 82

([18]) Ibid

([19]) Idem hal. 83

([20]) Idem hal. 83-84

([21]) Idem hal. 82

([22]) Idem hal. 125-126

([23]) Idem hal. 126

([24]) Idem hal. 96

([25]) Idem hal. 108

([26]) Lihat : Irsyad An-Naqqod ila Taisir Al-Ijtihad karya As-Shon’ani hal. 143.

([27]) Lihat : Aqidatu Muhammad ibni Abdil Wahhab As-Salafiyyah wa Atsaruha fi Al-‘Alam Al-Islami karya Sholih bin Abdillah Al-Abud 1/40.