Tafsir Surah Al-Mulk

Tafsir Surah Al-Mulk

Surah Al-Mulk adalah surah Makkiyah yaitu surah yang diturunkan sebelum Nabi berhijrah ke Madinah ([1]). Dan terdapat banyak hadits-hadits yang berbicara mengenai keutamaan surah Al-Mulk, akan tetapi kebanyakannya adalah hadits yang dhaif, di antaranya adalah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هِيَ المَانِعَةُ، هِيَ المُنْجِيَةُ، تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ

Dia (surah Al-Mulk) adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkan pembacanya dari siksa kubur.”([2])

Namun terdapat dua hadits yang sampai pada derajat hasan yang menyebutkan keutamaan surah Al-Mulk. Di antaranya yaitu dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ سُورَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَا هِيَ إِلَّا ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى أَخْرَجَتْهُ مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْخَلَتْهُ الْجَنَّةَ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ

Ada suatu surah dari Alquran yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafaat bagi seseorang sampai orang tersebut dikeluarkan dari neraka pada hari kiamat, dan surah ini akan memasukkan orang tersebut ke dalam surga, yaitu surah Tabaarak (surah Al-Mulk).” ([3])

Demikian pula dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سورة تبارك هِيَ الْمَانِعَةُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Surah Tabaarak adalah pencegah dari azab kubur.” ([4])

Dari dua hadits yang derajat hasan ini tidak disebutkan harus membaca surah Al-Mulk setiap malam. Adapun anjuran yang mengharuskan membaca surah Al-Mulk setiap malam maka itu haditsnya dhaif ([5]). Maka adapun surah Al-Mulk bisa mencegah seseorang dari azab kubur artinya seseorang harus perhatian terhadap surah ini sebagaimana perkataan sebagian ulama.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk : 1)

Kata تَبَارَك bermakna تَعَاظَم )Yang Maha Agung). Kata تَبَارَكَ berasal dari kata اَلْبَرَكَةُ yang berarti كَثُرَ خَيْرُه ([6]), yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang sempurna sifat-sifat-Nya, penuh dengan kebaikan, dan kesempurnaan, keagungan, dan kebaikan Allah Subhanahu wa ta’ala tersebut sampai pada makhluk-Nya. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala disebut sebagai وَاهِبُ الْبَرَكَةِ (pemberi keberkahan) artinya adalah hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yang berhak menentukan apa saja yang menjadi berkah. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala sendiri Dzat-Nya merupakan berkah yang penuh dengan keagungan, kesucian dan kebaikan. Dan yang menentukan suatu hal itu berkah atau tidak hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala, karena Dia adalah وَاهِبُ الْبَرَكَةِ (pemberi keberkahan), Dia yang memberikan keberkahan pada waktu yang Dia kehendaki, atau pada tempat yang dia berkahi, atau pada benda yang dia kehendaki.

Adapun kata الْمُلْكُ (kerajaan) maksudnya adalah kerajaan langit dan bumi, di dunia dan di akhirat, semua itu hanyalah milik Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

بِيَدِهِ الْمُلْكُ يُعِزُّ مَنْ يَشَاءُ وَيُذِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيُحْيِي وَيُمِيتُ، وَيُغْنِي وَيُفْقِرُ، وَيُعْطِي وَيَمْنَعُ

Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan memuliakan siapa saja yang dikehendaki dan merendahkan siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia yang menghidupkan dan yang mematikan, Dia yang memberi kekayaan dan yang memberi kemiskinan, Dia yang memberi dan Dia pula yang menahan.”([7])

Artinya segala hal dikuasai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau menyebutkan,

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ

Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan dari apa yang Engkau berikan dan dan tidak ada yang dapat memberi dari apa yang Engkau tahan.”([8])

Oleh karenanya seluruh yang ada di alam semesta ini berada di bawah kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menutup firman-Nya dengan mengatakan,

وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Artinya segala kerajaan di langit maupun di bumi adalah milik Allah Subhanahu wa ta’ala, dan Dia yang berkuasa menjalankan segala sesuatu dalam kerajaan tersebut, serta tidak ada satu pun yang keluar dari kehendak Allah. ([9])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Dia Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk : 2)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ

(Dia Allah) yang menjadikan mati dan hidup.”

Dari ayat ini para ulama mengatakan bahwa kematian itu diciptakan sebagaimana kehidupan diciptakan. Kematian bukanlah amrun ‘adamiy (sesuatu yang tidak ada) tetapi amrun wujudiy (sesuatu yang ada) ([10]). Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ، فَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الجَنَّةِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا المَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، ثُمَّ يُنَادِي: يَا أَهْلَ النَّارِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: وهَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا المَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، فَيُذْبَحُ ثُمَّ يَقُولُ: يَا أَهْلَ الجَنَّةِ خُلُودٌ فَلاَ مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ فَلاَ مَوْتَ

Kematian didatangkan pada hari kiamat seperti kambing berwarna putih campur hitam. Kemudian dikatakan: ‘Wahai penduduk surga’, maka mereka melihat dengan mendongak, lalu dikatakan: ‘Apa kalian mengetahui ini?’, mereka menjawab: ‘Ya, itu adalah kematian’. Dan semuanya telah melihatnya. Kemudian dikatakan kepada penduduk neraka: ‘Wahai penghuni neraka’, mereka melihat dengan mendongak lalu dikatakan kepada mereka: ‘apa kalian mengetahui ini?’, mereka menjawab: ‘Ya, itu adalah kematian’. Dan semuanya telah melihatnya. Lalu kematian itu disembelih. Setelah itu dikatakan: ‘Wahai penduduk surga, kekal tidak ada ada kematian dan wahai penduduk neraka, kekal tidak ada kematian’.” (Muttafaqun ‘alaih)([11])

Sebagai salaf menafsirkan hadits ini bahwa hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi penghuni surga karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan mati, adapun bagi penghuni neraka hari itu adalah hari yang paling mengerikan karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan mati dalam neraka Jahannam. Oleh karenanya kematian itu adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan akan dihadirkan pada hari kiamat dalam bentuk seekor kambing yang akan disembelih.

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

Adapun Tujuan Allah menciptakan kehidupan dan kematian adalah untuk menguji manusia siapa di antara mereka yang terbaik amalannya. Maka kehidupan dan kematian yang dialami oleh setiap orang adalah ujian([12]). Dan dari sini kita sadar bahwa kita diciptakan di atas muka bumi ini memang untuk diuji. Maka tidak ada satu pun dari manusia yang merasakan kehidupan dan kematian yang lepas dari ujian Allah. Karena ujian Allah Subhanahu wa ta’ala  pasti akan menerpa siapa saja, baik orang kaya maupun miskin, baik yang sehat maupun yang sakit, yang tua maupun yang muda, yang besar maupun kecil.

Kata أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا (yang terbaik amalnya) memiliki banyak tafsiran di kalangan para salaf. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud yang terbaik amalnya adalah yang paling banyak mengingat kematian. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya siapa orang yang paling cerdas, beliau mengatakan,

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.”([13])

Al-Hasan Al-Bashri juga menafsirkan yang terbaik amalannya dengan mengatakan,

أَيُّكُمْ أَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا وَأَتْرَكُ لَهَا

Siapa di antara kalian yang paling zuhud terhadap dunia dan yang paling meninggalkan dunia.”([14])

Fudhail bin ‘iyadh menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan yang terbaik amalannya adalah,

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ

Yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunnah.”([15])

Tafsiran Fudhail bin ‘Iyadh menekankan bahwa sebanyak apa pun amalan seseorang namun tidak ikhlas, maka tidak akan diterima. Demikian juga jika seorang beramal dengan ikhlas namun tidak sesuai dengan sunnah maka tidak akan diterima. Oleh karena amal yang terbaik kata Fudhail bin ‘Iyadh adalah yang paling ikhlas dan yang paling sesuai dengan sunnah.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala tidaklah mengatakan أَكْثَرُ عَمَلًا (yang paling banyak amalannya), karena yang menjadi patokan di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala adalah amal yang terbaik([16]). Bisa jadi seseorang berumur pendek, akan tetapi dia mendapat kedudukan yang tinggi. Sebagaimana sahabat Sa’ad bin Mu’adz yang beliau masuk Islam sekitar satu atau dua tahun sebelum hijrah dan meninggal lima atau enam tahun setelah hijrah. Beliau hanya menjalani keislamannya selama enam atau tujuh tahun, waktu yang sangat singkat. Meskipun demikian, ternyata kematiannya membuat ‘Arsy Allah bergetar. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

اهْتَزَّ العَرْشُ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ

Bergetar ‘Arsy Ar-Rahman sebab meninggalnya Sa’ad bin Mu’adz.”([17])

Oleh karena itu tidak ada kata terlambat. Jangan sampai orang yang baru berhijrah berputus asa kemudian mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menyusul yang lainnya. Akan tetapi hendaknya dia beramal seikhlas mungkin dan sesuai sunnah, karena diterima atau tidaknya suatu amalan itu menjadi keputusan Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena bisa jadi seseorang hanya menjalani ke-Islamannya dengan waktu yang singkat, akan tetapi kualitasnya sangat luar biasa. Sebagaimana juga tentang kisah wanita Juhainah yang hamil karena telah melakukan zina. Kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk minta dirajam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar ia menunggu hingga melahirkan. Ketika wanita tersebut telah melahirkan dan kemudian dirajam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menyalatkan jenazahnya. Melihat itu Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللهِ وَقَدْ زَنَتْ؟ فَقَالَ: لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى؟

Wahai Nabi Allah, engkau menyalatkannya padahal dia telah berzina?”. Nabi menjawab: ‘Sunnguh, dia telah bertaubat kalau sekiranya taubatnya dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua. Adakah taubat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada Allah Ta’ala secara ikhlas?’.”([18])

Hadits ini menjelaskan bahwa taubat itu bertingkat-tingkat, akan tetapi taubat wanita Juhainah ini berada ditingkat yang tinggi, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa jika taubat wanita tersebut cukup jika dibagi kepada tujuh puluh penduduk Madinah dan semuanya masuk surga. Ini menunjukkan bahwa bisa jadi amalan seseorang itu tidak banyak, namun kualitas amalannya sangat luar biasa di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya jika seseorang menjadikan amalannya banyak dan berkualitas maka tentu itu jauh lebih luar biasa lagi, sebagaimana para salaf yang memperhatikan kualitas dan juga kuantitas amal-amal mereka. Akan tetapi yang lebih utama adalah kualitas, yaitu bagaimana seseorang beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan amalnya yang terbaik, yaitu yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk : 3)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.”

Kata طِبَاقًا (berlapis-lapis) maksudnya adalah langit itu bertingkat-tingkat. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang apa yang dimaksud dengan langit memiliki tujuh tingkatan. Pendapat pertama menyebutkan bahwa langit-langit itu مُتَوَاصِلَاتٌ mutawashilat (bersambung), yaitu antara langit yang satu dengan langit yang lain tersebut tidak ada jeda dan tidak terputus atau terpisah dengan sesuatu apa pun. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa jarak antara langit yang satu dengan yang lainnya adalah 500 tahun perjalanan, maka tentunya ini menunjukkan bahwa alam semesta sangat luas. Pendapat kedua menyebutkan bahwa langit-langit itu مُتَفَاصِلَاتٌ mutafashilat (terpisah), yaitu antara langit yang satu dengan langit yang lainnya terdapat jeda atau pemisah. Dan Ibnu Katsir rahimahullah lebih cenderung kepada pendapat yang kedua([19]).

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.”

Ada dua penafsiran yang datang dari para salaf tentang apa yang dimaksud dari ‘Melihat pada ciptaan Allah’. Tafsiran pertama, maksudnya adalah ciptaan Allah secara umum. Artinya semua ciptaan Allah sempurna dan seimbang. Apa saja yang kita lihat segalanya tampak sempurna, Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan segalanya sempurna sesuai dengan porsinya masing-masing. Tidak ada yang aneh pada masing-masing ciptaan Allah. Manusia dengan bentuknya yang sempurna, gunung-gunung dengan bentuknya yang sempurna, laut dengan kesempurnaannya, pepohonan yang rindang, hewan-hewan dengan bentuknya yang khas, semuanya diciptakan sesuai porsinya masing-masing. Tafsiran kedua, maksudnya adalah melihat langit secara khusus yang merupakan ciptaan Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dengan begitu kokoh, bersusun, banyak benda-benda yang diletakkan di langit, itu semua Allah Subhanahu wa ta’ala ciptakan dengan sempurna dan kita tidak melihat ada keganjilan atau keanehan dalam ciptaan-ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala. ([20])

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?

Penggalan ayat ini dijadikan dalil untuk menguatkan pendapat sebelumnya bahwa yang dimaksud ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini adalah langit. Meskipun demikian, kedua tafsiran di atas benar. Baik itu langit atau ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang lain -secara umum- maka semuanya sempurna dan tidak ada cacat. Karena hukum asal khilaf dalam Ilmu Tafsir adalah khilaf tanawwu’ (khilaf yang tidak bertentangan suatu pendapat dengan pendapat yang lain).

Kata فُطُورٍ yaitu  الشُّقُوْقُ(terbelah) ([21]). Kita tidak melihat langit terbelah kecuali pada hari kiamat. Adapun proses langit terbelah pada hari kiamat adalah sebagaimana yang Allah Subhanahu wa ta’ala firmankan,

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ

Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar : 1)

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

Apabila langit terbelah (lebih besar).” (QS. Al-Insyiqaq : 1)

وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ

Apabila langit dilenyapkan (dilepas dari tempatnya).” (QS. At-Takwir : 11) ([22])

Maka adapun sebelum hari kiamat, langit akan tetap sempurna dan kukuh dan kita tidak akan melihat ada bagian yang berlubang atau terbelah dari langit sama sekali.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (QS. Al-Mulk : 4)

Sebagian Ahli Tafsir mengatakan maksudnya adalah diperintahkan untuk melihat ciptaan Allah dua kali([23]), dan sebagian yang lain mengatakan bahwa diperintahkan untuk melihat ciptaan Allah berulang-ulang kali. ([24]) Artinya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan demikian karena langit tidak akan ada cacatnya. Ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala berupa langit tersebut sempurna, padahal:

  • Langit menahan beban benda-benda langit yang begitu berat, seperti bintang-bintang, rembulan, planet-planet, matahari, dan galaksi-galaski. Akan tetapi ternyata langit tidak memiliki cacat sama sekali, tidak ada robeknya sama sekali, dan tidak ada pula ketidak rataan.
  • Langit begitu luas, dan kita tahu kalau semakin luas maka potensi untuk robek atau retak semakin besar, akan tetapi hal ini tidak terjadi pada langit, padahal hal tersebut telah berlangsung mungkin jutaan tahun.
  • Langit tersebut tegak tanpa tiang yang dilihat.

 

Adapun firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

Niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”

Artinya seseorang yang memperhatikan ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala, dia tidak akan mendapatkan kesalahan dan cacat pada langit yang Allah Subhanahu wa ta’ala ciptakan([25]). Dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata tentang makna خَاسِئًا dengan mengatakan,

الْخَاسِئُ الَّذِي لَمْ يَرَ مَا يَهْوَى

Al-Khasi’ (tidak menemukan sesuatu) yaitu tidak melihat apa yang dia ingin cari.”([26])

Artinya Allah Subhanahu wa ta’ala menantang manusia untuk mencari kesalahan dalam penciptaan langit tersebut. Bahkan pencarian tersebut diperintahkan untuk berulang-ulang. Maka bagaimanapun seseorang berusaha mencari-cari cacatnya, maka dia tidak akan mendapatkannya. Tentunya ini menunjukkan betapa sempurnanya ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ، وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat (langit dunia) dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya akan mendapat azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Mulk : 5-6)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat (langit dunia) dengan bintang-bintang.”

Langit dunia adalah langit yang paling bawah([27]). Maka apakah seluruh benda-benda langit itu berada di langit pertama? Sebagian ulama berpendapat bahwa seluruh benda-benda langit yang kita lihat telah bertebaran ke seluruh lapisan langit. Dan karena mereka menganggap bahwa langit itu bening, maka benda-benda langit bisa terlihat meskipun dia berada di langit tertentu ([28]). Hanya saja kita tidak tahu benda-benda langit tersebut berada di langit keberapa.

Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa segala benda-benda langit yang kita lihat selama ini hanya berada di langit pertama (langit dunia) ([29]). Karena dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا (sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat), dan Allah Subhanahu wa ta’ala tidak mengatakan وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاوَات (dan sungguh Kami telah menghiasi seluruh langit-langit). Ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala hanya menghiasi satu langit yang paling dasar dengan bintang-bintang. Oleh karenanya bintang-bintang yang kita lihat ini berada di langit pertama (langit dunia). Maka jika benda-benda langit yang kita lihat itu hanya berada di langit pertama, maka bagaimana lagi dengan langit yang berikutnya? Sungguh luar biasa alam semesta ini yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ

“Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithan.”

Di antara ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah langit, dan Dia menghiasi langit tersebut dengan bintang-bintang sehingga langit menjadi indah. Selain sebagai hiasan, di antara fungsi lain dari bintang-bintang adalah sebagai pelempar syaithan. Dan Qatadah As-Sadusy rahimahullah berkata,

خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى النُّجُومَ لِثَلَاثٍ: زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلَامَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَالْأَوْقَاتِ. فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا غَيْرَ ذَلِكَ فَقَدْ تَكَلَّفَ مَا لَا عِلْمَ لَهُ بِهِ، وَتَعَدَّى وَظَلَم

Sesungguhnya Allah hanya menciptakan bintang untuk tiga tujuan, (1) Sebagai hiasan langit dunia; (2) Sebagai pelempar syaithan; (3) sebagai penunjuk arah di daratan, laut, dan waktu. Maka barangsiapa yang meyakini fungsi bintang selain daripada itu, maka ia telah menyusahkan dirinya dengan berbicara yang ia tidak memiliki ilmu sama sekali, dan dia telah melampaui batas dan berbuat zalim.”([30])

Fungsi bintang dalam ayat ini sebagai pelempar syaithan bukanlah maksudnya bintang itu sendiri yang digunakan untuk melempar syaithan, akan tetapi maksudnya adalah cahaya yang terlepas dari bintang tersebut. Oleh karenanya ditafsirkan dalam ayat yang lain, dimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

Kecuali (syaithan) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang menyala.” (QS. Ash-Shaffat : 10)

Bintang sebagai pelempar maksudnya adalah percikan api kecil dari bintang, atau bahkan bisa jadi apilah yang mengenai syaithan tersebut. Tentunya hal ini tidak bisa dilihat oleh mata kita karena kecilnya api tersebut ([31]), terlebih lagi letaknya di langit yang sangat jauh dari kita.

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

Dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Al-Jinn : 9)

Dukun zaman sekarang hampir-hampir tidak bisa benar dalam memberikan ramalan. Berbeda halnya dengan dukun zaman dahulu sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sangat banyak benarnya dalam memberikan ramalan. Oleh karenanya kita dapati kisah benarnya para dukun Fir’aun yang meramal bahwa akan lahir dari keturunan Bani Israil yang akan menghancurkan singgasananya. Demikian pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak diutus, para dukun waktu itu meramal bahwa akan diutus seorang Nabi, dan hal itu benar. Akan tetapi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, maka para Jin susah untuk mendapatkan berita di langit sebagaimana perkataan mereka. Bahkan Ibnu Hajar mengatakan bahwa hampir-hampir tidak ada lagi yang bisa mencuri berita.

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ، وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya akan mendapat azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Yaitu para Jin yang mencuri berita-berita di langit, disiapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala azab yang membakar, karena kata السَّعِيرِ maknanya adalah membakar ([32]). Demikian pula orang-orang kafir, bagi mereka adalah azab neraka Jahannam, sedangkan neraka ada tempat kembali yang buruk.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu bergejolak apinya.” (Al-Mulk : 7)

Dalam kamus-kamus disebutkan ada kata شَهِيْق dan زَفِيْر. Ada yang mengatakan bahwa شَهِيْق adalah suara yang menderu dalam dada, sedangkan زَفِيْر adalah dikeluarkannya suara tersebut. Adapun kata شَهِيْق dalam kamus juga bermakna suara keledai tatkala berteriak([33]). Hanya saja suara teriakan keledai itu adalah suara yang paling tidak enak didengar. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman : 19)

Artinya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala menggambarkan bahwa tatkala orang-orang kafir dilemparkan ke dalam neraka, belum sampai mereka kepada neraka, mereka telah mendengarkan suara yang sangat mengerikan yang keluar dari neraka Jahannam. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا

Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS. Al-Furqan : 12)

Adapun kata تَفُورُ artinya api neraka itu berkobar-kobar. Ibarat jika air yang dipanaskan disebut mendidih([34]), maka api disebut berkobar-kobar. Ini semua menunjukkan betapa mengerikannya neraka Jahannam, suara dan suasananya sangat mengerikan.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ، قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

“Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?’. Mereka menjawab, ‘Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakannya dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar’.” (QS. Al-Mulk : 8-9)

تَمَيَّزُ artinya terpecah-pecah, yaitu maknanya hampir saja neraka sebagiannya terpisah dari sebagian lainnya karena kemarahannya terhadap orang kafir yang ada di hadapannya, dan ingin segera menerkam orang-orang kafir tersebut. ([35])

فَوْجٌ yaitu berkelompok-kelompok, menunjukkan bahwa manusia akan dilemparkan berkelompok-kelompok ke dalam neraka Jahannam([36]). Bisa jadi orang-orang Yahudi dilemparkan secara berkelompok, orang Nasrani dilemparkan secara berkelompok, orang Ateis juga dilemparkan secara berkelompok, dan seterusnya. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ

(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah.” (QS. Ash-Shaffat : 22)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ، قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ

Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?’. Mereka menjawab, ‘Benar’ sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakannya dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun (utusan-Nya).”

Pernyataan orang-orang kafir ini sama halnya dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain,

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-Rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Benar (telah datang)’. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.” (QS. Az-Zumar : 71)

Penghuni neraka kelak akan ditanya tentang apakah telah datang pemberi peringatan bagi mereka ketika di dunia, dan mereka tidak bisa mengingkari dan akan mengatakan bahwa benar dahulu mereka telah diutus seorang pemberi peringatan.

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

Kalian sebenarnya di dalam kesesatan yang besar.”

Penggalan ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. ([37])

Tafsiran pertama menyebutkan bahwa pernyatan ini (Kalian sebenarnya di dalam kesesatan yang besar) adalah lanjutan dari perkataan para malaikat penjaga neraka Jahannam kepada orang-orang kafir yang masuk ke dalam neraka. Yaitu kalian “wahai orang-orang kafir” dahulu menolak dan mendustakan para Rasul, maka kalian berada dalam kesesatan yang nyata dan pada saat itu, sehingga sekarang kalian dimasukkan ke dalam neraka Jahannam.

Tafsiran kedua menyebutkan bahwa pernyataan ini (Kalian sebenarnya di dalam kesesatan yang besar) adalah perkataan orang-orang kafir kepada para Rasul dahulu ketika mereka masih hidup. Mereka orang-orang kafir mengatakan dan menuduh bahwa para rasul itulah yang sesat. Dan perkataan orang-orang kafir yang seperti ini banyak terdapat di dalam ayat-ayat Al-Quran. Di antaranya adalah ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam yang dituduh sesat oleh kaumnya, sehingga dia berkata kepada kaumnya,

قَالَ يَاقَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dia (Nuh) menjawab, ‘Wahai kaumku, aku tidak sesat. Akan tetapi aku ini seorang Rasul dari Tuhan seluruh alam’.” (QS. Al-A’raf : 61)

Demikian pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dituduh sebagai orang yang sesat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا، إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا

Dan apabila mereka melihat engkau (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan engkau sebagai ejekan (dengan mengatakan), ‘Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sungguh, hampir saja dia menyesatkan kita dari sesembahan kita, seandainya kita tidak tetap bersabar terhadapnya (kesyirikan)’.” (QS. Al-Furqan : 41-42)

Mereka orang-orang kafir menuduh bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesat. Maka dari itu Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Dan kelak mereka akan mengetahui pada saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.” (QS. Al-Furqan : 42)

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ، فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala’. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk : 10-11)

Akhirnya mereka orang-orang kafir menyesali seluruh perilaku mereka saat masih di dunia, namun penyesalan mereka tersebut tidak lagi bermanfaat bagi mereka. Sekiranya penyesalan tersebut sebelum mereka meninggal dunia, maka tentu mereka akan selamat. Akan tetapi mereka menyesal ketika telah dimasukkan ke dalam neraka Jahannam, maka penyesalan mereka tidak lagi ada artinya. ([38])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk : 12)

Terdapat dua penafsiran di kalangan ulama tentang makna بِالْغَيْبِ. ([39])

  1. Tafsiran pertama, yaitu mereka takut terhadap hal-hal gaib yang Allah Subhanahu wa ta’ala telah kabarkan.

Di antara rasa takut tersebut adalah dia takut dengan alam barzakh, dia takut dengan padang mahsyar, dia takut dengan hisab, dia takut dengan mizan, dia takut dengan shirath, dia takut dengan neraka Jahannam. Ini semua adalah perkara yang gaib yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala kabarkan. Sehingga tatkala mereka takut dengan hal-hal gaib tersebut, mereka kemudian mempersiapkan diri mereka untuk bertemu dengan hal-hal gaib tersebut.

  1. Tafsiran kedua, yaitu mereka takut kepada Allah tatkala bersendirian.

Ada dua bukti mereka takut kepada Allah tatkala bersendirian. Pertama adalah mereka lebih semangat beribadah daripada tatkala mereka sedang bersama banyak orang. Ketika tidak ada yang melihat, merekapun bangun shalat malam, membaca Alquran, dan ibadah lain yang mereka kerjakan. Mereka adalah orang-orang yang mulia, karena mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tatkala bersendirian. Oleh karenanya mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan akan mendapat keutamaan yang besar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …. وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, …. (di antaranya yaitu) Seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sepi (sendiri) lalu ia meneteskan air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih)([40])

Kedua, mereka takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tatkala bersendirian adalah mereka tidak bermaksiat kepada Allah ketika bersendirian. Karena sebagian orang tidak takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tatkala bersendirian, sedangkan tatkala sedang bersam orang lain mereka tidak berani bermaksiat karena takut terlihat oleh orang lain. Ini menunjukkan bahwasanya tidak takut bermaksiat tatkala bersendirian. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ

Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka.” (QS. An-Nisa’ : 108)

Dan karena inilah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau mengatakan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam keadaan bersendirian dan tatkala terlihat oleh lain.”([41])

Kedua amalan ini yaitu semangat beribadah ketika bersendirian dan takut kepada Allah ketika bersendirian adalah amalan yang sangat agung, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan janji dengan mengatakan,

لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”

Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menyebutkan orang yang takut tatkala bersendirian tersebut beristighfar, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tatkala bersendirian maka dia mendapat ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan dapat pahala yang besar. ([42])

Oleh karenanya hendaknya seseorang bertakwa kepada Allah tatkala bersendirian. Zaman sekarang ini telah banyak sekali fitnah-fitnah yang bisa menjerumuskan seseorang dalam kemaksiatan. Jika seseorang bertakwa maka dia akan mendapatkan apa yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala janjikan.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ، أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dan rahasiakanlah (berbisik-bisik) perkataanmu atau terang-terangan, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk : 13-14)

Maksud dari ayat ini adalah ketika mereka menghina dan menjelek-jelekkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berbisik-bisik atau mengeraskan suaranya, semuanya sama bagi Allah yaitu semua diketahui oleh-Nya. Kalau isi hati seseorang saja diketahui oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, maka tentu Allah Subhanahu wa ta’ala lebih tau dengan sesuatu yang mereka ucapkan secara terang-terangan. ([43])

Adapun firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan demikian untuk menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui tentang apa yang dia ciptakan. Allah Subhanahu wa ta’ala yang menciptakan hati-hati manusia, maka tentu Allah tahu isi hati-hati tersebut. Allah Subhanahu wa ta’ala yang menciptakan lisan-lisan manusia, maka tentu Allah juga tahu apa yang dibisik-bisikkan oleh lisan-lisan mereka. ([44])

Makna الْخَبِيرُ

الْخَبِيرُ dalam bahasa Arab yaitu ذُوْ خِبْرَةٍ (yang memiliki keahlian). Kalau kita berbicara tentang manusia, tidaklah seseorang dikatakan Khabiir kecuali dia telah belajar secara mendalam sehingga dia mengetahui seluk-beluk apa yang dia dalami tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia Khabiir bisa diartikan sebagai pakar. Dan para ulama mengatakan bahwa الْخَبِيرُ lebih dalam maknanya daripada الْعَلِيْمُ, adapun الْخَبِيرُ adalah mengetahui secara detail dan terperinci. Jadi al-Khobiir adalah sifat al-‘Aliim tapi pada perkara yang detail. Oleh karenanya ketika Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18)

Ketika Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwa Dia Khabiir terhadap apa yang manusia kerjakan, artinya Allah tahu bagaimana amal seseorang, bagaimana proses terjadinya amal tersebut, serta mengetahui hal yang melatarbelakangi amalan tersebut, dan mengetahui apa yang terjadi setelah amalan tersebut dikerjakan. Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui itu semua secara detail, sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala disebut الْخَبِيرُ.

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala tidak hanya Khabiir terhadap amal kebaikan seseorang, bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala Khabiir terhadap dosa-dosa seseorang. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra’ : 17)

Oleh karenanya pula tatkala Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan perintah untuk menjaga pandangan mata, Allah menyebutkan sifat-Nya Khabiir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan’.” (QS. An-Nur : 30)

Sebagian para ulama menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala membawakan sifat-Nya yang Khabiir dalam ayat ini karena meskipun seseorang tidak mengetahui lirikan mata orang lain, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui atas lirikan matanya. Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. Ghafir : 19)

Ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tahu dosa kita secara detail, dan demikianlah Allah Subhanahu wa ta’ala karena sifat-Nya adalah الْخَبِيرُ. Oleh karenanya tatkala Allah Subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang orang-orang yang berdoa kepada mayat, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan (ini) kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Mahateliti.” (QS. Fathir : 14)

Oleh karenanya juga Luqman berkata kepada anaknya, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata): “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman : 16)

Di antara sifat Khibrah-Nya Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dalam menakdirkan segala sesuatu, dan bukan diciptakan dengan asal-asalan. Contohnya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra’ : 30)

Tidaklah Allah Subhanahu wa ta’ala menakdirkan satu hamba dilapangkan rezekinya dan yang lainnya disempitkan dengan asal-asalan. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui apa yang lebih bermaslahat bagi hamba-Nya, sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala lebih tahu mana yang pantas untuk dilapangkan rezekinya, dan tahu siapa yang harus disempitkan rezekinya. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengatakan,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura : 27)

Maka jika kita telah mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala itu Khabiir, maka hal tersebut akan memudahkan kita bersabar tatkala kita terkena musibah atau melihat kejadian yang buruk, karena kita tahu bahwa yang menjadikan itu semua adalah Al-Khabiir. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menjadikan hal tersebut melainkan dengan hikmah dan dengan aturan-aturan-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala tahu kapan seharusnya diturunkan musibah tersebut, Allah tahu kapan kita harus sedih dan kapan kita harus senang, Allah Subhanahu wa ta’ala tahu itu semuanya. Ibarat seorang insinyur yang hendak membuat rumah, maka dia harus matang dalam perhitungannya. Jika rumah tersebut jadi sesuai dengan apa yang dikehendaki sang insinyur, maka barulah dia dikatakan hebat. Adapun Allah Subhanahu wa ta’ala sebelum menciptakan seluruh alam semesta ini telah Allah Subhanahu wa ta’ala tetapkan takdirnya semua. Allah Subhanahu wa ta’ala telah tahu apa-apa yang akan terjadi, dan tidak ada yang sia-sia dari apa yang Allah Subhanahu wa ta’ala takdirkan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun : 115)

Maka dengan kita tahu bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Al-Khabiir, kita akan bisa bersabar dan menerima segala takdir Allah Subhanahu wa ta’ala, karena kita tahu bahwa segalanya telah ditakdirkan dengan kadar yang Allah Subhanahu wa ta’ala kehendaki.

Makna اللَّطِيفُ

Kata اللَّطِيفُ secara bahasa yaitu Allah Maha Lembut. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa للَّطِيفُ  bisa dibawa kepada dua makna([45]). Makna pertama, maknanya seperti makna Al-Khabiir, yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui perkara-perkara yang detail. Makna kedua, maknanya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya kemaslahatan-kemaslahatan tanpa disadari oleh para hamba. Sebagaimana perkataan Nabi Yusuf ‘alaihissalam kepada ayahnya yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihissalam setelah terpisah dengan waktu yang begitu lama,

وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ

Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah syaithan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki’.” (QS. Yusuf : 100)

Nabi Yusuf ‘alaihissalam tidak menyebutkan bagaimana kisahnya yang sangat panjang tentang saudara-saudaranya melemparkannya ke dalam sumur, lalu dijual menjadi budak, kemudian dirayu oleh seorang wanita, kemudian dituduh yang tidak-tidak sehingga dimasukkan ke dalam penjara, lalu dikeluarkan, kemudian berkumpul kembali dengan ayah dan keluarganya setelah berpisah selama puluhan tahun. Semua apa yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah hal yang tidak disadari. Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengatur semuanya sedemikian rupa, tetapi ternyata Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan kisah yang indah pada akhirnya. Oleh karenanya Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan,

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ

Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki.”

Betapa sering Allah menginginkan kita terlepas dari kebinasaan dan kehancuran, akan tetapi kita tidak sadar. Bisa jadi Allah tidak mengabulkan permintaan-permintaan kita, karena Allah mengetahui apa yang paling maslahat bagi kita. Dan jika seseorang mengetahui makna nama Allah Al-Lathif, maka dia akan selalu husnudzan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Betapa sering Allah Subhanahu wa ta’ala ingin menaikkan derajat seseorang tanpa disadari.

Akan tetapi sebagaimana Allah bisa mengangkat derajat seseorang tanpa dia sadari, demikian pula Allah bisa menghancurkan seseorang perlahan-lahan tanpa dia sadari. Renungkanlah kisah Fir’aun, Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menghancurkannya dengan serta-merta. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menghancurkannya tanpa dia sadari. Lihatlah bagaimana dia dikabarkan oleh para dukunnya akan lahirnya seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang kelak akan menggulingkan singgasananya. Dia pun menugaskan para pasukannya agar membunuh semua anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil. Namun kelahiran Nabi Musa ‘alaihissalam telah ditakdirkan oleh Allah dan tidak diketahui oleh Fir’aun dan para pasukannya. Nabi Musa kecil pun dihanyutkan ke sungai nil oleh ibunya, hingga kemudian dilihat oleh istrinya Fir’aun. Tatkala itu istri Fir’aun tidak memiliki anak, maka dia mengambil dan menjadikan Nabi Musa kecil sebagai anak angkatnya dan disayang sebagaimana anak sendiri. Kemudian ia bertumbuh besar di bawah perawatan Fir’aun dan istrinya, tanpa dia sadari anak kecil itulah yang kelak akan menghancurkan kerajaannya. Siapa yang menakdirkan hal ini sedemikian rupa? Tentu Allah Subhanahu wa ta’ala. Mungkin kisah ini seperti tampak sesuatu yang ‘kebetulan’, padahal itu semua telah diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Itulah Allah Subhanahu wa ta’ala Al-Lathif, betapa banyak ditinggikan tanpa dia sadari, dan betapa banyak pula orang yang dihancurkan tanpa disadari.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak hanya mengetahui tentang manusia, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala juga Maha Mengetahui tentang semua makhluk hidup yang ada. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya. Tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am : 59)

Jika jatuhnya daun saja diketahui oleh Allah, maka bagaimana lagi dengan manusia sebagai mukallaf (dibebankan untuk menjalankan syariat). Oleh karenanya jangan sampai terbetik dalam hati kita bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak mengetahui isi hati kita. Padahal kenyataannya setiap gerakan, perilaku, serta apa yang terlintas di hati kita semua dicatat dan diketahui oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala tahu kapan seseorang itu riya’, ujub, sombong, atau bahkan Allah tahu kapan seorang itu ikhlas atau tidak. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Al-Khabiir dan Al-Lathif. Maka hal ini akan menjadikan kita terpacu agar ikhlas dalam beramal meskipun tidak ada seorang manusia pun yang mengetahuinya, karena kita tahu bahwa Rabb kita mengetahui segala apa yang kita kerjakan.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk : 15)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi.”

Kata ذَلُولًا maknanya adalah tunduk. Oleh karenanya dikatakan الْبَعِيْر الذَلوْل (unta yang tunduk) untuk menunjukkan bahwa unta tersebut mudah untuk ditunggangi. Demikian pula jalan di atas muka bumi ini, Allah Subhanahu wa ta’ala memudahkan bumi untuk dipijaki. Bumi yang tadinya mudah untuk bergetar, akan tetapi Allah memancangkan gunung agar bumi ini tetap tidak bergetar sehingga mudah untuk dipijaki. ([46])

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا

“Maka jelajahilah di segala penjurunya.”

Terdapat khilaf di kalangan ulama ahli tafsir tentang makna kata مَنَاكِبِهَا, dan secara umum ada dua tafsiran. Tafsiran pertama menyebutkan bahwa maknanya adalah seluruh penjuru bumi. Artinya Allah Subhanahu wa ta’ala mempersilahkan manusia berjalan kemanapun di seluruh penjuru bumi karena Allah telah mudahkan bumi untuk dijelajahi. Tafsiran kedua menyebutkan bahwa maknanya adalah gunung-gunung. Karena مَنْكِبْ dalam bahasa Arab artinya adalah pundak, dan pundak merupakan bagian tertinggi dari seorang manusia. Maka disebut gunung-gunung karena merupakan bagian tertinggi dari bumi. Artinya Allah Subhanahu wa ta’ala juga telah menjadikan gunung-gunung mudah untuk didaki. Maka jika yang tinggi bisa untuk dipijaki, maka tentu memijaki daratan jauh lebih mudah. Pendapat kedua ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. ([47])

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Ayat ini juga merupakan dalil bahwasanya seseorang butuh untuk melakukan usaha untuk mencari rezeki, karena Allah Subhanahu wa ta’ala menggandengkan kata فَامْشُوا (berjalan) dan kata رِّزْقِهِ (rezeki) dalam ayat. Oleh karena itu, tawakal yang benar adalah tawakal yang dibarengi dengan usaha. Berbeda halnya jika kita berada pada kondisi yang tidak bisa lagi kita melakukan sebuah usaha kecuali doa, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena bisa jadi Allah Subhanahu wa ta’ala menimbulkan akibat tanpa ada sebab. Akan tetapi tidak boleh seseorang menjebak dirinya pada kondisi meraih akibat tanpa sebab. Contohnya adalah seseorang yang ingin pergi berdakwah ke pulau lain, namun dia tidak membawa uang dan alat komunikasi. Tentunya untuk pergi ke pulau tersebut tidak bisa dengan jalan kaki, minimal untuk pergi ke pula tersebut adalah dengan mengendarai kapal laut. Akan tetapi jika tidak membawa uang, maka tidak mungkin seseorang bisa naik kapal laut. Kalaupun dia bisa sampai ke pulau tersebut, yang ada pasti dia menyusahkan banyak orang. Karena ada sebagian Da’i yang berdakwah dengan model seperti ini, dia bertawakal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, tapi dia menjebak dirinya untuk meraih akibat tanpa sebab, padahal syariat tidak mengajarkan demikian. Oleh karenanya tawakal yang benar adalah harus ada usaha. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakal pada Allah dengan sebenar-benar tawakal, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.”([48])

Burung digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh makhluk yang paling bertawakal. Allah Subhanahu wa ta’ala memberikannya rezeki, akan tetapi burung tersebut tetap melakukan usaha dengan terbang di pagi hari berusaha mencari rezekinya. Oleh karenanya bukanlah yang namanya tawakal jika mengharapkan hasil namun hanya diam dan tidak berusaha. ([49])

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

 

Artinya adalah orang yang pergi mencari rezeki harus ingat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena kelak pada hari kiamat dia akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala([50]). Allah Subhanahu wa ta’ala tidak melarang seseorang untuk mencari rezeki, bahkan Allah memerintahkan hal itu. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan agar seseorang yang mencari rezeki juga harus memiliki bekal akhirat. Dalam surah Al-Jumu’ah Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah : 10)

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).” (QS. An-Nur : 37)

Oleh karenanya juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang di antara orang-orang yang diberi naungan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat yaitu,

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ

Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid.”([51])

Hadits ini menerangkan bahwa laki-laki tersebut tidak sedang berada di masjid, akan tetapi hatinya selalu rindu untuk ke masjid untuk beribadah.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kalian merasa aman terhadap Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?” (QS. Al-Mulk : 16)

Ayat ini merupakan peringatan bahwa meskipun Allah Subhanahu wa ta’ala berada di langit, jangan manusia merasa aman terhadap apa yang terjadi di bumi. Karena yang di langit mengetahui segala yang terjadi di atas muka bumi. Dan segala yang terjadi di atas muka bumi itu sesuai dengan keputusan yang ada di langit yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan para salaf menafsirkan firman Allah “Apakah kalian merasa aman terhadap Dia yang di langit” dengan mereka mengatakan bahwa maksudnya adalah apakah manusia merasa aman dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang berada di atas langit? Ayat ini sekaligus menjadi dalil bahwa Allah berada di atas langit.

Adapun firman Allah Subhanahu wa ta’ala, فَإِذَا هِيَ تَمُورُ maknanya adalah bumi bergetar (bergerak) ([52]). Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ، يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ، فَخَسَفَ اللهُ بِهِ الْأَرْضَ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Dahulu ada seseorang yang berjalan dan ia merasa bangga dengan gaunnya yang indah, tiba-tiba dia ditenggelamkan ke dalam bumi, dan diapun diguncang di dalam bumi hingga hari kiamat nanti.”([53])

Hadits ini menunjukan akan bahayanya kesombongan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa dahulu pernah ada orang yang berjalan dengan sombong dengan pakaiannya, akan tetapi kemudian dia dibenamkan ke dalam bumi dan diguncang hingga hari kiamat. Contohnya adalah Qarun, dimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ، وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ، فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, ‘Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar’. Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (Al-Qashash : 79-81)

Oleh karenanya jangan seseorang merasa aman, karena jika Allah Subhanahu wa ta’ala telah memiliki kehendak maka bisa jadi Allah Subhanahu wa ta’ala akan membenamkannya([54]). Dan betapa banyak peristiwa yang telah kita lihat dimana Allah Subhanahu wa ta’ala membenamkan manusia ke dalam bumi. Sungguh jika Allah Subhanahu wa ta’ala telah berkehendak, maka hal itu mudah bagi Allah, tinggal berkata “Kun” maka jadilah apa yang Dia kehendaki.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ، وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

“Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Dan sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka betapa hebatnya kemurkaan-Ku.” (QS. Al-Mulk : 17-18)

Azab yang Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam ayat ini pernah ditimpakan kepada kaum Nabi Luth ‘alaihissalam, dimana mereka diangkat ke atas langit lalu dibalik kemudian dijatuhkan sambil dilempari (dihujani) dengan batu([55]).

Adapun Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?

Artinya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala ingatkan kepada orang-orang Quraisy bahwa apabila mereka terus-terusan membangkang, kalau Allah Subhanahu wa ta’ala berkehendak maka bisa jadi Allah memberikan mereka azab sebagaimana yang pernah ditimpakan kepada kaum Nabi Luth yaitu hujan batu. ([56])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung di atas mereka yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk : 19)

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala berbicara tentang kekuasaan-Nya. Yang pertama Allah Subhanahu wa ta’ala berikan gambaran atas kekuasaan-Nya adalah burung-burung yang terbang. Maksudnya adalah tidak ada yang membuat burung-burung tersebut bisa bertahan untuk terbang kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala([57]). Karena betapa banyak hewan yang mirip dengan burung, yaitu memiliki sayap seperti ayam, bebek, dan yang lainnya, akan tetapi Allah tidak menghendaki selain burung untuk bisa terbang.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ جُندٌ لَّكُمْ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ الرَّحْمَٰنِ ۚ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ

“Atau siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat membelamu selain (Allah) Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu hanyalah dalam (keadaan) tertipu.” (QS. Al-Mulk : 20)

Artinya adalah tidak ada yang bisa menolong jika Allah telah berkehendak untuk mendatangkan azab kepada suatu kaum([58]). Bahkan tidak perlu menunggu datangnya azab untuk membuktikan bahwa tidak ada yang bisa menolong mereka, ketika datang malaikat maut untuk mencabut nyawa pun tidak ada yang bisa menolong mereka dari hal itu. Seorang jenderal dengan pangkat tertingginya sendiri tidak bisa lari dari malaikat maut, padahal pasukannya sangat banyak. Maka apabila azab Allah Subhanahu wa ta’ala telah turun, maka tidak akan ada yang bisa selamat meskipun dilindungi oleh pasukan sehebat apa pun. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwasanya orang-orang kafir itu berada dalam kondisi terperdaya. Mereka menyangka bahwa mereka bisa melawan atau terhindar dari azab Allah Subhanahu wa ta’ala, seperti Abu Jahal dan kawan-kawannya.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَل لَّجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

“Atau siapakah yang dapat memberimu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).” (QS. Al-Mulk : 21)

Artinya adalah jika Allah berkehendak menahan hujan maka tidak ada yang bisa menurunkannya selain Allah. Demikian pula jika Allah berkehendak untuk menjadikan kemarau panjang, maka tentu tidak ada yang bisa menumbuhkan tetumbuhan dan buah-buahan kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi meskipun demikian, orang-orang musyrikin Arab tetap saja sombong, tidak beriman dan tambah menjauh dari Allah Subhanahu wa ta’ala. ([59])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS. Al-Mulk : 22)

Terdapat dua tafsiran terhadap ayat ini. Tafsiran pertama menyebutkan bahwa ayat ini adalah permisalan untuk orang kafir dan orang mukmin di atas muka bumi. Orang mukmin di dunia diumpamakan dengan orang yang berjalan dengan tegap di atas jalan yang lurus, sedangkan orang kafir di dunia Allah Subhanahu wa ta’ala umpamakan seperti orang-orang yang berjalan di atas wajahnya, artinya akalnya tidak digunakan. Orang-orang kafir tidak menggunakan akalnya untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan orang-orang yang seperti ini sangat banyak saat ini. Di antaranya adalah sekelompok orang yang mereka menyembah sapi. Dalam keyakinan mereka manusia memiliki kasta-kasta, dan kasta yang terendah adalah hina dan rendah. Akan tetapi dibalik itu mereka ternyata menyucikan sapi. Kalau begitu, dimanakah akal mereka? Ada pula yang menyembah Nabi Isa ‘alaihissalam, padahal dia adalah seorang manusia yang juga mengalami seperti apa yang mereka alami. Bagaimana bisa mereka mengatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah Tuhan, sedangkan dia mengalami sakit, lapar, tidur, shalat, bayar zakat, dan hal lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh manusia? Bahkan Nabi Isa ‘alaihissalam berjalan dengan membawa kitab Injil. Jika dia adalah Tuhan, maka tidak seharusnya dia membawa risalah (Injil) dan cukup berkata langsung. Dimanakah akal mereka yang menyembah Nabi Isa ‘alaihissalam? Demikian pula orang-orang Majusi yang menyembah api. Mereka yang menyalakan api tersebut, mereka sembah, akan tetapi mereka sendiri yang menjaganya agar tidak padam. Dimanakah akal mereka? Demikian pula orang yang menyembah benda-benda langit. Bagaimana bisa mereka menganggap benda-benda langit tersebut sebagai Tuhan sedangkan kerjanya hanya begitu saja di langit? Dimanakah akal mereka? Padahal sifat Allah Subhanahu wa ta’ala telah disebutkan,

فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

(Dia Allah) Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Buruj : 16)

Kalau demikian, kehendak apa yang dimiliki oleh benda-benda langit tersebut? Di zaman sekarang pun demikian, sebagian manusia menyembah orang yang telah mati, padahal mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Dimanakah akal mereka? Mayat tersebut tidak bisa mandi sehingga dia  yang mandikan, mayat tersebut tidak bisa berpakaian sehingga dia yang kafankan, mayat tersebut tidak bisa shalat sehingga dia yang shalatkan, mayat tersebut tidak bisa berdoa sehingga dia yang mendoakan, mayat tersebut tidak bisa pulang ke kuburannya sehingga dia yang mengantarkannya ke kuburannya, lalu kemudian dia meminta kepada mayat tersebut? Dimana akal mereka yang menyembah orang yang telah mati? Justru merekalah yang butuh doa dari orang yang masih hidup. Oleh karenanya demikianlah dikatakan bahwa orang-orang kafir itu ibarat berjalan dengan akal mereka, artinya mereka tidak menggunakan akal mereka untuk berpikir. Seandainya orang-orang kafir memakai akalnya niscaya mereka akan menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tafsiran kedua menyebutkan bahwa ayat ini berbicara tentang kondisi yang terjadi di hari kiamat kelak([60]). Orang mukmin kelak akan meniti jalan yang lurus, sedangkan orang kafir kelak mereka akan dibangkitkan dalam keadaan mereka berjalan di atas wajah mereka, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ سَبِيلًا

Orang-orang yang dikumpulkan ke neraka Jahannam dengan diseret wajahnya, mereka itulah yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.” (QS. Al-Furqan : 34)

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلاَثَةَ أَصْنَافٍ صِنْفٌ مُشَاةٌ وَصِنْفٌ رُكْبَانٌ وَصِنْفٌ عَلَى وُجُوهِهِمْ. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَمْشُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ قَالَ إِنَّ الَّذِى أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَمَا إِنَّهُمْ يَتَّقُونَ بِوُجُوهِهِمْ كُلَّ حَدَبٍ وَشَوْكٍ

Pada hari kiamat kelak manusia akan dikumpulkan dalam tiga kelompok besar; ada kelompok yang berjalan, ada kelompok yang berkendaraan dan ada kelompok yang berjalan dengan wajah-wajah mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka berjalan dengan wajah-wajah mereka?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Dzat yang menentukan mereka berjalan dengan kaki mampu untuk menentukan mereka berjalan dengan wajah-wajah mereka, dan mereka yang berjalan dengan wajah akan hati-hati ketika melewati tempat yang menonjol atau tempat yang berduri.”([61])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

“Katakanlah, ‘Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur’.” (QS. Al-Mulk : 23)

Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini benar adanya. Yang memberikan kita pendengaran dan penglihatan adalah Allah Subhanahu wa ta’ala.  Kita diberikan pendengaran oleh Allah Subhanahu wa ta’ala tetapi kita gunakan bermaksiat seperti mendengar ghibah, namimah, musik, dan yang lainnya. Demikian pula Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kita penglihatan, akan tetapi kita gunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan. Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ

Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata.” (QS. Al-Balad : 8)

Artinya adalah mengingatkan bahwa mata tersebut dari Allah, sehingga jangan digunakan untuk bermaksiat. Karena bisa saja nikmat penglihatan itu bisa dicabut oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kapan saja. Oleh karena itu, hendaknya seseorang bertakwa atas pendengaran dan penglihatannya. Dan di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk hal tersebut adalah beliau berdoa,

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

Ya Allah, berilah kami manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selagi kami hidup, dan jadikanlah itu semua tetap dengan kami dan terpelihara.”([62])

Maka dari itu hendaknya apa yang ada pada diri kita seluruhnya, kita syukuri karena itu semua adalah pemberian dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ، وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ، قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ، فَلَمَّا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيئَتْ وُجُوهُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَقِيلَ هَٰذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تَدَّعُونَ

“Katakanlah: ‘Dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan’. Dan mereka (orang-orang musyrikin) berkata, ‘Kapan (datangnya) ancaman itu jika kamu orang yang benar?’. Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya ada pada Allah. Dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan’. Maka ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) sudah dekat, wajah orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka), ‘Inilah (azab) yang dahulunya kamu minta’.” (QS. Al-Mulk : 24-27)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ،

Katakanlah: ‘Dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan’.”

Artinya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan manusia tersebar dimana-mana. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa meskipun demikian, semuanya akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. ([63])

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ، قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ

Dan mereka (orang-orang musyrikin) berkata, ‘Kapan (datangnya) ancaman itu jika kamu orang yang benar?’. Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya ada pada Allah. Dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan’.”

Kaum musyrikin dahulu sering menantang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar bisa menunjukkan azab yang selalu diancam-ancamkan kepada mereka([64]). Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang perkataan mereka,

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِّنَ السَّمَاءِ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

(mereka berkata) Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Asy-Syu’ara : 187)

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِندِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, ‘Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih’.” (QS. Al-Anfal : 32)

Demikianlah orang-orang musyrikin yang selalu meminta diturunkan azab kepada mereka. Padahal mereka tidak sadar bahwa azab telah menanti mereka di akhirat kelak.

Kemudian firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَلَمَّا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيئَتْ وُجُوهُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَقِيلَ هَٰذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تَدَّعُونَ

Maka ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) sudah dekat, wajah orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka), ‘Inilah (azab) yang dahulunya kamu minta’.”

Maka pada hari kiamat nanti Allah Subhanahu wa ta’ala akan benar-benar menunjukkan apa yang mereka minta yaitu azab([65]). Sebagian ulama menafsirkan bahwa ayat ini berkaitan tentang keadaan kaum musyrikin tatkala perang Badr ([66]), yaitu saat mereka mengetahui bahwasanya mereka akan kalah, pada saat itu wajah-wajah mereka menjadi muram karena ditimpa ketakutan. Sebagian yang lain menafsirkan bahwa ayat ini berkaitan tentang keadaan orang kafir di hari kiamat, wajah-wajah mereka menjadi buruk. ([67]) Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali-Imran : 106)

Adapun firman Allah Subhanahu wa ta’ala, وَقِيلَ هَٰذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تَدَّعُونَ (Dan dikatakan (kepada mereka), ‘Inilah (azab) yang dahulunya kamu minta) maksudnya adalah  Allah Subhanahu wa ta’ala benar-benar akan menunjukkan apa yang mereka propagandakan bahwa tidak ada surga dan tidak pula neraka. Maka akhirnya Allah Subhanahu wa ta’ala menunjukkannya untuk mereka apa yang mereka dustakan selama di dunia([68]).

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَن مَّعِيَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَن يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Tahukah kamu jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami (maka kami akan masuk surga), lalu siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?’.” (QS. Al-Mulk : 28)

Ayat ini seakan-akan menggambarkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang-orang musyrikin, “Tidak ada hubungannya kami mati dahulu atau masih hidup, karena baik kami masih hidup atau telah mati, di dunia atau di akhirat, Allah Subhanahu wa ta’ala tetap akan kirimkan azab untuk kalian”. ([69])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ هُوَ الرَّحْمَٰنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ، قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَاءٍ مَّعِينٍ

“Katakanlah, ‘Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Maka kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata’. Katakanlah (Muhammad), ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?’.” (QS. Al-Mulk : 29-30)

Sebagian mengatakan bahwa air yang dimaksudkan adalah air zam-zam, dan sebagian lain adalah air yang berada di daerah Mekkah([70]). Maka dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala kembali menunjukkan bagaimana kekuasaan-Nya, yaitu seandainya air-air tersebut surut dan kering, maka tidak ada yang bisa mengembalikannya atau mendatangkan penggantinya melainkan Allah Subhanahu wa ta’ala semata. ([71])

___________________________________________________________

 

([1])  Dan dikatakan oleh Al-Qurthuby ini adalah pendapat semua Ulama, ia berkata:

سُورَةُ الْمُلْكِ مَكِّيَّةٌ فِي قَوْلِ الْجَمِيعِ

“Surat al-Mulk Makkiyyah menurut pendapat semua Ulama.” (lihat: al-Jaami’ li Ahkaamil Quraan 18/205)

([2])  HR. At-Tirmidzi no. 2890. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini Hasan Gharib. Namun Imam At-Tirmidzi mengatakan demikian pada hadits yang dhaif. Dan hadits ini didhaifkan pula oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhaif Jami’us Shaghir no. 6101

([3]) HR. Ahmad dalam musnad no. 7975 dikatakan oleh Syu’aib al-Arnauth hadits ini hasan lighoirih dan semua perowinya tsiqoh kecuali Abbas al-Jasymy, Ibnu Majah dalam Sunannya no. 3786 dan dishohihkan oleh Al-Albani, dan At-Tirmidzi dalam sunannya no 2891 dan dia menghasankannya.

([4])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/205. Hadits ini dihasankan oleh Al-Munawi, Ibnu Hajar, serta Al-Albani dalam Shahih Jami’us Shaghir no. 3643

([5])  Terdapat sebuah hadits dari Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الْم تَنْزِيلُ، وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau tidaklah tidur sampai membaca surat alif lam mim tanzil (as-sajdah) dan tabaarokalladzi biyadihil mulk (surat al-mulk).” HR. At-Tirmidzi no. 2892, dan ini dishohihkan oleh Al-Albani dalam kitab shohih da dho’if sunan at-tirmidzi 6/392. Yang mana hadits ini dijadikan oleh sebagian ulama sebagai dalil akan pensyariatannya membaca surat Al-Mulk tiap malam.

Namun yang tepat adalah hadits ini lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Nataaijul Afkaar Fii Takhriij Ahaadiitsil Adzkaar 3/266, dan beliau menyebutkan ada dua alasan: ‘an’anah Az-Zubair dan lemahnya Laits.

([6])  Lihat: Tafsir As-Sa’diy hal.875.

([7])  Tafsir Al-Qurthubi 18/206

([8])  HR. Bukhari no. 844

([9])  Lihat: Tafsir As-Sa’diy hal.875.

([10]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi 18/206, Tafsir ibnu Katsir 8/176  dan Adwaaul Bayaan 8/228.

Jika kematian adalah perkara ‘adami (tidak ada) maka maksudnya kematian adalah hilangnya kehidupan. Sehingga antara kehidupan dan kematian hubungannya تَقَابُلُ الْعَدَمِ وَالْمَلَكَة (sebagaimana hubungan antara buta dan tuli). Adapun jika kematian adalah perkara wujudi (sesuatu yang ada) maka kematian adalah sesuatu sifat/kondisi yang muncul tatkala kehidupan sirna, dan bukan hanya sekedar hilangnya kehidupan. Sehingga hubungan antara kematian dan kehidupan adalah تَقَابُلُ الضِّدَّيْنِ (dua hal yang saling kontradiktif sebagaimana antara timur dan barat, namun keduanya adalah perkara yang ada)

Akan tetapi sebagian ulama berpendapat bahwa perselisihan apakah kematian adalah perkara yang wujud (ada) atau ádami (tidak ada) merupakan khilaf lafdziy (yaitu khilaf yang dari sisi pengungkapan saja). Karena pada hakikatnya kedua pendapat tersebut setuju bahwa yang namanya kematian adalah keluarnya ruuh dari jasad, atau perpindahan ruuh dari alam dunia menuju alam akhirat (Lihat Darú at-Taáarud, Ibnu Taimiyyah 2/383)

([11])  HR. Bukhari no. 4730 dan HR. Muslim no. 2849

([12])  Lihat: Tafsir Al-Baghawi 8/176, Ibnu Katsir 8/176 dan Tafsir As-Sa’diy hal.875.

([13])  HR. Ibnu Majah no. 4259

([14])  Tafsir Al-Baghawi 8/176

([15])  Tafsir Al-Baghawi 8/176

([16])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir  8/176.

([17])  HR. Bukhari no. 3803

([18])  HR. Muslim no. 1696

([19])  Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada tafsir ayat tersebut (8/176).

([20])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/208

([21])  Ini adalah penafsiran Mujahid dan Adh-Dhohhak (lihat: tafsir Al-Qurthubi 18/209)

([22])  disebutkan oleh Ibnu Zaid:

فَإِذَا جَاءَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ انْفَطَرَتْ ثُمَّ انْشَقَّتْ، ثُمَّ جَاءَ أَمْرٌ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ انْكَشَطَتْ

“Dan jika datang hari kiamat langit terbelah, kemudian terbelah (lebih besar) dan kemudian datang perkara yang lebih besardari hal itu yaitu langit lenyap.” Lihat: Tasir Ath-Thabari 23/122

([23]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/177

([24]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/210 dan Tafsir As-Sa’diy hal.875.

([25])  Tafsir Ibnu Katsir 8/177 dan Tafsir As-Sa’diy hal.875.

([26])  Tafsir Al-Qurthubi 18/210

([27])  Tafsir Al-Baghawiy 8/177 dan Tafsir Al-Ma’tsur 22/69.

([28])  Lihat: Fathul Qadir 5/310

([29])  Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz fii Tafsir Al-Kitab Al-‘Aziz 5/339

([30])  Tafsir Al-Qurthubi 18/211

([31])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/210-211, ia berkata:

(وَجَعَلْناها رُجُوماً) أي جعلنا شهبها، فحذف المضاف….وَعَلَى هَذَا فَالْمَصَابِيحُ لَا تَزُولُ وَلَا يُرْجَمُ بِهَا

“(Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithan) yaitu kami menjadikan percikan-percikan api dari bintang-bintang, lalu dihapuskan mudhofnya….dengan ini maka bintang-bintang tidaklah hilang dan juga tidak dilempar.

Juga beliau membawakan penafsiran lain yang menyebutkan bahwa dhomir ها pada firman-Nya (وَجَعَلْناها رُجُوماً) itu tetap kembali kepada bintang-bintang itu sendiri, dan yang dijadikan sebagai pelempar syaithan adalah bagian kecil dari bintang-bintang tersebut tanpa mengurangi cahayanya dan bentuknya.

([32])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/211

 

([33])  Lihat: Lisanul Arab 10/191.

([34])  Lihat: Tafsir Ath-Thobari 23/124

([35])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/177 dan Tafsir Ibnu Katsir 8/178 dan Tafsir As-Sa’diy hal.875.

([36])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/177.

([37])  Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsir Al-Kitab Al-Aziz 5/340

([38])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/178.

([39])  Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsir Al-Kitab Al-Aziz 5/340

([40])  HR. Bukhari no. 1423 dan HR. Muslim no. 1031

([41])  HR. Ibnu Hibban no. 1971 dan Shahihnya, diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i dan Imam Ahmad.

([42])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/179.

([43])  Lihat: Tafsir Al-Baghawi 8/178, Tafsir Ibnu Katsir 8/179 dan Tafsir As-Sa’diy hal.876.

([44])  Lihat: Tafsir Muqotil bin Sulaiman 4/391 dan At-Tafsir Al-Ma’tsur 22/75.

([45])  Lihat: Nuniyah Ibnul Qoyyim hal. 207

([46])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/179.

([47])  Lihat: At-Tafsir Al-Ma’tsur 22/76.

([48])  HR. At-Tirmidzi no. 2344

([49])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/179.

([50])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/215

([51])  HR. Bukhari no. 1423 dan HR. Muslim no. 1031

([52])  Lihat: Tafsir Al-Baghawi 8/179 dan Tafsir Ibnu Katsir 8/180.

([53])  HR. Muslim no. 2088

([54])  Lihat: Tafsir As-Sa’diy hal.877.

([55])  Lihat: Tafsir Al-Baghawi 8/179 dan At-Tafsir Al-Ma’tsur 22/78.

([56])  Lihat: Fathul Qadir 5/313

([57]) Lihat: Fathul Qadir 5/313

([58]) Lihat: Tafsir As-Sa’diy hal.877.

([59])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/179.

([60])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/181.

([61])  HR. Ahmad no. 8632

([62])  HR. At-Tirmidzi no. 3502

([63])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/182 dan Tafsir As-Sa’diy hal.877.

([64])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/182 dan Tafsir As-Sa’diy hal.877.

([65])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/182 dan Tafsir As-Sa’diy hal.878.

([66])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/220, dan ini adalah tafsiran Mujahid

([67])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/180.

([68])  Lihat: Tafsir Al-Ma’tsur 22/85.

([69])  Lihat: Tafsir Al-Baghawi 8/180, Tafsir Ibnu Katsir 8/182 dan Tafsir As-Sa’diy hal.878.

([70])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/222, dan beliau menyebutkan bahwa sumber air mereka berasal dari dua sumur yaitu sumur zam-zam dan sumur maimun.

([71])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/183 dan Tafsir As-Sa’diy hal.878.