Tafsir Surat Al-Ikhlas

Tafsir Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah. Telah dibahas pada tafsir surat Al-Kafirun bahwasanya surat Al-Kafirun juga disebut dengan Al-Ikhlas. Kedua surat tersebut dinamakan Al-Ikhlas, karena kedua surat tersebut menunjukkan bara’ah minas syirk (berlepas diri dari kesyirikan).

Pada surat Al-Kafirun Allah menegaskan kepada Nabi agar berlepas diri dari kekufuran orang-orang kafir dan kesyirikan orang-orang musyrik. Pada surat Al-Ikhlas Allah berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan dan dari segala bentuk tuduhan kepada Allah seperti yang menyatakan bahwa Allah punya anak atau tuduhan-tuduhan lainnya.

Dinamakan juga surat ini dengan surat al-Ikhlash karena murni berbicara tentang sifat-sifat Allah, tidak membicarakan tentang perintah dan larangan, tidak juga tentang janji dan ancaman (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/303).

Bahkan surat ini tidak membicarakan seluruh sifat-sifat Allah, akan tetapi membahas khusus sifat-sifat yang menunjukan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak sebagai Tuhan dan satu-satunya yang berhak untuk disembah.

Seakan-akan surat ini menjelaskan tentang sifat-sifat yang merupakan syarat sebagai Tuhan. Diantaranya  :

(1) Tuhan itu harus Maha Esa

(2) Tuhan itu tidak butuh kepada siapapun dan sebaliknya semuanya pasti membutuhkan Tuhan, (3) Tuhan itu tidak boleh dilahirkan dan tidak pula melahirkan.

(4) Tuhan itu tidak ada yang boleh sama atau setara dengannya.

Dan 4 syarat Tuhan ini kalau kita terapkan kepada yang dianggap sebagai tuhan-tuhan oleh agama-agama yang lain maka tidak akan terpenuhi. 4 syarat ini hanya terpenuhi pada Allah semata.

Telah dijelaskan pula bahwa surat Al-Ikhlas adalah surat yang sangat sering dibaca oleh Nabi dan menganjurkan ummatnya untuk sering-sering membacanya. Bahkan seluruh tempat dimana disana dianjurkan membaca surat Al-Kafirun maka dianjurkan pula membaca surat Al-Ikhlas. Seperti dianjurkan membaca Al-Ikhlas bersama surat Al-Kafirun ketika melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat Shubuh, dua rakaat setelah shalat Maghrib, pada shalat Witir, dua rakaat setelah thawaf, dan ketika seseorang hendak tidur. Bahkan lebih dari itu, dianjurkan membaca Al-Ikhlas pada beberapa tempat yang tidak disebutkan Al-Kafirun seperti dzikir setiap selesai shalat fardhu dan dalam bacaan dzikir pagi petang. Hal ini menunjukkan bahwasanya surat Al-Ikhlas adalah surat yang sangat spesial.

 

Keutamaan Surat Al-Ikhlas

Diantara keutamaan Al-Ikhlas adalah semisal sepertiga Al-Quran. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwasanya ada orang mendengar seseorang membaca “qul huwallahu Ahad”, dan diulang-ulang. Pada keesokan harinya, ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkannya, seakan ia menganggap remeh. Maka Rasulullah bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur`an”. (HR Bukhari, no. 5013)

Dan dalam hadits yang lain,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِأَصْحَابِهِ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ

Dari Abi Sa’id, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya, ‘Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur`an dalam satu malam?’ maka hal ini memberatkan mereka, dan (mereka) bertanya: ‘Siapakah di antara kami yang mampu, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Allahul-wahidus shamad adalah sepertiga Al-Qur`an”. (HR Bukhari no. 5015)

Para ulama menjelaskan maksud dari sepertiga Al-Quran. Bukan berarti jika ada orang yang membaca Al-Ikhlas tiga kali berarti telah membaca satu Al-Quran. Tetapi karena Al-Quran mengandung tiga perkara sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi (Tafsir al-Qurthubi 20/247 dan 1/111). Pertama, masalah-masalah hukum; Kedua, janji dan ancaman (Surga dan Neraka); Ketiga, tentang nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Dan Al-Ikhlas seluruhnya adalah berisi tentang sifat-sifat Allah, sehingga orang yang membaca seluruhnya maka seakan-akan dia sudah membaca sepertiga bagian dari Al-Quran.

Sebagian ulama yang lain sedikit berbeda dalam daftar tiga kandungan tersebut apa saja. Mereka mengatakan tiga kandungan tersebut adalah; Pertama, masalah-masalah hukum; Kedua, tentang khabar-khabar (kisah-kisah); Ketiga, tentang aqidah/tauhid (lihat Fathul Baari 9/61, Tafsir Ibnu Rojab al-Hanbali 2/660, dan Majmuu’ Fataawa Ibn Taimiyyah 9/306). Dan Al-Ikhlas seluruhnya berisi tentang aqidah, sehingga orang yang membaca seluruhnya maka seakan-akan dia sudah membaca sepertiga bagian dari Al-Quran.

Sehingga yang dimaksudkan dengan senilai dengan sepertiga Al-Quran adalah dari sisi kandungannya, bukan berarti orang yang membaca Al-Ikhlas sebanyak tiga kali maka dia telah membaca Al-Quran seluruhnya, atau orang yang membaca Al-Ikhlas sekali maka dia telah membaca 10 juz dari Al-Quran, bukan demikian.  Kalau ada seseorang ketika sholat lantas membaca surat al-ikhlas sebanyak 3 kali tanpa membaca surat al-Fatihah, tentu sholatnya tidak sah, karena tidak seorangpun yang berkata bahwa ia telah membaca surat al-Ikhlash 3 kali berarti seperti membaca al-Qur’an seluruhnya berarti sudah membaca al-Fatihah (lihat Tafsir Juz ‘Amma, al-Utsaimin hal 351)

Ini semua menujukan bahwa pembahasan tauhid adalah perkara yang sangat penting dan agung. Lihatlah surat al-Ikhlash menjadi begitu bernilai karena pembahasannya murni tentang tauhid. Dan ini sama halnya dengan ayatul kursiy yang menjadi ayat teragung karena isinya murni tentang sifat-sifat Allah (lihat Tafsir al-Qurthubi 1/111)

Dalam hadits yang lain di dalam Shahih Bukhari, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan membaca surat al-Ikhlash. Ketika mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda:

سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ

“Tanyakanlah kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?” Lalu mereka pun menanyakan kepadanya. Ia menjawab,

لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا

“Karena didalamnya terdapat sifat Ar Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya.” Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

“Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta’ala juga mencintainya.” (HR Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)

 

Dan dalam hadits yang lain dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ، وَكَانَ كُلَّمَا اِفْتَتَحَ سُوْرَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِي الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ، اِفْتَتَحَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، حَتَّى يَفْرَغَ مِنْهَا. ثُمَّ يَقْرَأُ سُوْرَةً أُخْرَى مَعَهَا، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ. فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى، فَإِمَّا تَقْرَأُ بِهَا، وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى. فَقَالَ: مَا أَنَا بِتَارِكِهَا، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ. وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ. فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ أَخْبَرُوْهُ الخَبَرَ، فَقَالَ: يَا فُلاَنُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ؟ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُوْمِ هَذِهِ السُّوْرَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا، فَقَالَ: حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَـنَّةَ

“Seseorang (sahabat) dari Anshar mengimami (shalat) mereka (para shahabat lainnya) di Masjid Quba. Setiap ia membuka bacaan (di dalam shalatnya), ia membaca sebuah surat dari surat-surat (lainnya) yang ia (selalu) membacanya. Ia membuka bacaan surat di dalam shalatnya dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, sampai ia selesai membacanya, kemudian ia lanjutkan dengan membaca surat lainnya bersamanya. Ia pun melakukan hal demikan itu di setiap raka’at (shalat)nya. (Akhirnya) para sahabat lainnya berbicara kepadanya, mereka berkata: “Sesungguhnya engkau membuka bacaanmu dengan surat ini, kemudian engkau tidak menganggap hal itu telah cukup bagimu sampai (engkau pun) membaca surat lainnya. Maka, (jika engkau ingin membacanya) bacalah surat itu (saja), atau engkau tidak membacanya dan engkau (hanya boleh) membaca surat lainnya”. Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian suka untuk aku imami kalian dengannya, maka aku lakukan. Namun, jika kalian tidak suka, aku tinggalkan kalian,” dan mereka telah menganggapnya orang yang paling utama di antara mereka, sehingga mereka pun tidak suka jika yang mengimami (shalat) mereka adalah orang selainnya. Sehingga tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, maka mereka pun menceritakan kabar (tentang itu), lalu ia (Nabi) bersabda: “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan sesuatu yang telah diperintahkan para sahabatmu? Dan apa pula yang membuatmu selalu membaca surat ini di setiap raka’at (shalat)?” Dia menjawab,”Sesungguhnya aku mencintai surat ini,” lalu Rasulullah bersabda: “Cintamu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.” (HR Bukhari no. 741)

 

Hadits-hadits di atas menunjukkan atas keutamaan surat Al-Ikhlas. Dan ternyata benar jika surat ini dikatakan surat Al-Ikhlas karena memang murni diturunkan oleh Allah untuk menjelaskan tentang sifat-sifat-Nya. Sebagaimana para ahli tafsir menyebutkan tentang sebab turunnya surat ini yaitu ketika orang-orang musyrikin datang menemui Nabi lalu bertanya:

انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ

“Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?”

Maka turunlah firman Allah surat Al-Ikhlas kepada Nabi untuk menjawab orang tadi. (HR Tirmidzi no. 3287)

 

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa’”

Ini adalah dalil yang sangat tegas bahwasanya Allah Maha Esa dalam segala hal. Allah Maha Esa dalam Rububiyyahnya, Allah Maha Esa dalam Uluhiyyahnya, dan Allah Maha Esa dalam Asma’ wa Shifat.

Allah Maha Esa dalam Rububiyyahnya artinya Allah Maha Esa dalam penciptaan alam semesta, kepemilikan alam semesta, dan pengaturan alam semesta. Tidak ada yang menyertai Allah dalam menciptakan alam semesta. Begitupun dalam kepemilikan dan pengaturan alam semesta. Barangsiapa yang meyakini adanya dzat lain yang ikut menciptakan atau ikut memiliki atau ikut mengatur maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan dalam tauhid Rububiyyah. Bahkan Allah mengatakan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS Fathir : 13)

Tidak ada hak kepemilikan untuk apapun yang bahkan setipis kulit ari selain Allah. Karena Allah lah yang menciptakan seluruhnya. Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya.” (QS Al Hajj : 73)

Seandainya seluruh sesembahan-sesembahan batil yang disembah oleh manusia sejak dahulu berkumpul untuk menciptakan hewan yang sangat kecil seperti seekor lalat, niscaya mereka tetap tidak akan mampu untuk menciptakannya. Atau yang lebih kecil dari, mereka tetap tidak akan mampu menciptakannya.

Jangankan menciptakan lalat, jika seluruh makhluk di dunia ini bersatu padu untuk menciptakan semut yang bernyawa atau bahkan sebuah biji tumbuhan yang jika diletakan di tanah akan tumbuh lalu setelah tumbuh enak untuk dimakan, tentu mereka tidak akan mampu. Dalam hadits qudsi Allah berkata :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي، فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ شَعِيرَةً

“Dan siapakah yang lebih dzolim dari orang yang hendak menciptakan seperti ciptaanKu. Hendaknya mereka menciptakan semut, atau hendaknya mereka menciptakan biji atau gandum” (HR Al-Bukhari no 7559 dan Muslim no 2111)

Ketika yang menciptakan hanya Allah, maka demikian pula dalam pengaturan. Barangsiapa yang meyakini adanya yang mengatur alam semesta selain Allah atau diberi hak otonomi oleh Allah untuk mengatur sebagiannya, maka dia telah terjerumus dalam kesyirikan. Para malaikat yang ditugaskan untuk mengatur sebagian alam asalnya mereka sama sekali tidak punya hak otoritas untuk mengatur gunung-gunung tersebut. Melainkan mereka hanya menunggu perintah dari Allah. Lalu bagaimana lagi dengan yang selain malaikat, seperti Nyi Roro Kidul yang diyakini bisa mengatur pantai selatan, atau penunggu gunung merapi yang mengaturnya. Barang siapa yang meyakini mereka punya hak otoritas untuk mengaturnya maka dia telah terjatuh dalam kesyirikan.

Demikian pula Allah Maha Esa dalam Uluhiyyah-Nya, yaitu tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah semata. Barangsiapa yang menyembah selain Allah, seperti berdoa kepada Jin, kepada malaikat, kepada wali, atau kepada dewa, maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan. Demikian juga Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidak ada sesuatu pun yang sifatnya sama dengan Allah.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu

Makna الصَّمَدُ diriwayatkan dari para salaf beberapa makna. Diantaranya :

  • الْمُسْتَغْنِي عَنْ كُلِّ أَحَدٍ، وَالْمُحْتَاجُ إِلَيْهِ كُلُّ أَحَدٍ “Yang tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan yang segala sesuatu membutuhkannya”. Ini adalah penjelasan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (Tafsir al-Qurthubi 20/245)
  • الَّذِي لَيْسَ بِأَجْوَفَ، وَلَا يَأْكُلُ وَلَا يَشْرَبُ “Yang tidak ada rongganya dan tidak makan dan tidak minum” (Tafsir At-Thobari 24/731)
  • “Yang sempurna dalam segala sifat mulia”. Ibnu ‘Abbas berkata :

السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدَدِهِ، وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ، وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ عَظُمَ فِي عَظَمَتِهِ، وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ، وَالْغَنِيُّ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي غِنَاهُ، وَالْجَبَّارُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي جَبَرُوتِهِ، وَالْعَالِمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ، وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ، وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدَدِ، وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ

“As-Sayyid (pemimpin) yang sempurna dalam kepemimpinannya, Asy-Syariif (yang maha mulia) yang sempurna dalam kemuliaannya, al-‘Adziim (yang maha agung) yang sempurna dalam keagungannya, al-Haliim (yang maha santun) yang sempurna dalam kesantunannya, al-Ghoniy (yang maha kaya) yang sempurna dalam kekayaannya, al-Jabbaar (yang maha kuasa) yang sempurna dalam kekuasannya, al-‘Aalim (maha berilmu) yang sempurna dalam ilmunya, al-Hakiim (yang maha bijak) yang sempurna dalam kebijakannya. Dan Dialah Allah yang sempurna dalam berbagai macam kemuliaan dan kepemimpinan. Dialah Allah yang demikianlah sifatNya, tidak boleh kecuali hanya untukNya” (Tafsir At-Thobari 24/736)

  • الَّذِي يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَا يُرِيدُ “Yang melakukan apa yang Ia kehendaki dan menetapkan apa yang Ia kehendaki” (Tafsir al-Qurthubi 20/245)

Semua tafsiran di atas adalah benar, yang intinya adalah bahwa Allah maha sempurna dalam segala hal yang tidak membutuhkan kepada sesuatupun dan seluruh makhluk membutuhkanNya.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

Ayat ini merupakan bantahan terhadap yang menyatakan bahwa Allah punya anak. An-Nashoro menganggap Nabi ‘Isa ‘alaihis salam adalah putra Allah. Yahudi menganggap ‘Uzair adalah putra Allah. Dan kaum musyrikin menganggap para malaikat adalah putri-putri Allah.

Seandainya Allah melahirkan niscaya akan timbul sekutu, akan ada tuhan kedua karena yang dilahirkan itu tentu akan mirip dengan yang melahirkan. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ

Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu) (QS Az-Zukhruf : 81)

Karena kalau Allah punya anak tentu anak tersebut akan sama/mirip dengan Allah yang sempurna dalam segala hal, sehingga berhak untuk disembah pula.

Demikian pula Allah juga tidak dilahirkan. Seandainya Allah itu dilahirkan niscaya Dia akan menuju kepada kematiannya karena seluruh yang dilahirkan pasti akan menuju kepada kematian. (Tafsir as-Sam’aani 6/303). Maha Suci Allah akan tuduhan-tuduhan itu. Tetapi bersamaan dengan itu, Allah begitu penyabar walaupun ada yang menyakiti-Nya. Orang Nashrani mengklaim Allah memiliki anak atau keturunan. Allah tidak menyetujui hal ini. Namun di balik itu, Allah masih memberikan pada makhluk-Nya rizki walau mereka menyakiti-Nya. Allah Maha Kuat dan Maha Bersabar lebih dari makhluk-Nya. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:

مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

Tidak ada seorang pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang ia dengar daripada Allah. Manusia menyatakan Allah memiliki anak. Akhirnya, Allah memaafkan dan masih memberi rizki pada mereka.” (HR Bukhari no. 7378)

Hadits di atas didukung pula oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,

شَتَمَنِى ابْنُ آدَمَ وَمَا يَنْبَغِى لَهُ أَنْ يَشْتِمَنِى ، وَتَكَذَّبَنِى وَمَا يَنْبَغِى لَهُ ، أَمَّا شَتْمُهُ فَقَوْلُهُ إِنَّ لِى وَلَدًا . وَأَمَّا تَكْذِيبُهُ فَقَوْلُهُ لَيْسَ يُعِيدُنِى كَمَا بَدَأَنِى

Manusia telah mencela-Ku dan tidak pantas baginya mencela-Ku. Dan manusia mendustakan-Ku dan tidak pantas baginya berbuat seperti itu. Celaan manusia pada-Ku yaitu Aku dikatakan memiliki anak. Sedangkan mereka mendustakan-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak mungkin menghidupkannya kembali sebagaimana Aku telah menciptakannya.” (HR Bukhari no. 3193)

Oleh karena itu, sungguh menakjubkan kelakuan sebagian orang-orang Islam yang dengan entengnya memberikan ucapan selamat natal pada kaum Nashrani. Padahal hari natal adalah hari caci-maki kepada Allah. Karena hari natal adalah hari merayakan lahirnya Isa sebagai anak Allah, bukan lahirnya sebagai nabi. Dan itu artinya mencaci Allah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas. Bagaimana seorang muslim bisa ridha mengucapkan selamat hari natal kepada orang-orang Nasrani yang sedang merayakan caci-maki mereka kepada Allah. Allah berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا (88) لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا (93)

“(88) Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’; (89) Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar; (90) Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh; (91) Karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak; (92) Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak; (93) Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS Maryam : 88 – 93)

Maka sungguh tidak pantas bagi seorang muslim untuk mengucapkan selamat natal dalam bentuk apapun, apalagi menghadiri acara mereka, karena semuanya diharamkan. Kita -sebagai umat Islam- bertoleransi kepada mereka -umat Nashrani- yang menjalankan ibadah mereka , namun toleransi tidak menkonsekuensikan ikut serta dalam peribadatan mereka. Justru toleransi itu menunjukan ada penghormatan dengan tetap menunjukan adanya perbedaan. Jika seseorang ikut serta dalam peribadatan mereka maka itu menghilangkan hakikat toleransi.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”

Ayat terakhir ini adalah bentuk penegasan akan keagungan sifat-sifat Allah. Bahwasanya apapun yang terbetik dalam benak kita bagaimana bentuk sifat Allah, maka semuanya pasti tidak benar, karena Allah lebih agung daripada itu semua. Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura : 11)

Makhluk -baik manusia maupun hewan- meskipun disifati dengan mendengar dan melihat, demikian juga Allah mendengar dan melihat, akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Penglihatan manusia sangat terbatas -sehingga tidak bisa melihat jin, malaikat, benda-benda yang sangat kecil seperti kuman, virus, dan mikroba- lain halnya dengan penglihatan Allah yang tanpa batas.