Khutbah Jumat – Hakikat Istighfar

Khutbah Jumat – Hakikat Istighfar

 

Khutbah Pertama

إن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله. لا نبي بعده.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

فإن أصدق الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهدي هديُ محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار.

معاشر المسلمين، أًوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون

Tidak diragukan bahwasanya segala kesulitan dan segala kesedihan yang dirasakan oleh seorang muslim, tidak lain adalah akibat dari dosa yang dia lakukan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura : 30)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”[1]

Ini dalil bahwasanya segala yang menimpa seorang muslim, baik itu kesedihan tentang masa lalu, keletihan, kehawatiran tentang masa depan, hati yang tidak tenang, semua adalah karena dosa-dosa yang dilakukan. Oleh karenanya tidak ada kesulitan yang kita hadapi di dunia, terlebih kesulitan yang akan dihadapi di akhirat, kecuali akibat dosa yang kita lakukan.

Dari sini kita sadar bahwasanaya di antara dzikir yang sangat agung adalah dzikir istighfar. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan didalam catatan amalnya istighfar yang banyak.”[2]

Orang yang banyak beristighfar kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang beruntung, di dunia maupun di akhirat. Karena orang yang beristighfar, akan dikurangi dosa-dosanya (diampuni) oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan dengan istighfar dia akan mendapati banyak kemudahan di dunia dan di akhirat.

Apa makna istighfar? الإستغفار (Al-Istighfar) diambil dari kata إستغفرا (Istaghfara) yang berarti memohon kepada Allah maghfirah (ampunan). Adapun kata المغفره (Al-Maghfirah) diambil dari kata مغفر (Mighfar) yang dalam Bahasa Arab berarti sebuah penutup kepala yang dipakai oleh seorang prajurit dalam peperangan. Tidaklah dikatakan penutup kepala dengan mighfar, kecuali telah memenuhi dua persyaratan; pertama adalah fungsi menutup kepala; dan kedua adalah fungsi menutupi kepala dari hantaman pedang. Oleh karenanya Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwasanya sorban dan kopiah tidak dikatakan sebagai mighfar, karena fungsi keduanya hanya menutupi dan tidak bisa melindungi.

Maka dari sini kita tahu bahwasanya Al-Istighfar artinya kita meminta maghfirah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan meminta meghfirah ada dua makna,

Pertama, yaitu kita meminta agar Allah menutup aib-aib kita di dunia dan di akhirat. Sungguh merugi orang yang dibongkar aibnya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia. Orang-orang akan meninggalkannya, menghinakannya, dan menjatuhkannya ketika aibnya terbongkar di dunia. Dan terlebih mengerikan lagi jika aib itu terbongkar di akhirat kelak, di hadapan khalayak banyak, maka sungguh itu adalah tanda kebinasaan. Maka seseorang tatkala beristighfar, maka bermakna bahwa dia meminta untuk ditutupkan aib dan dosa-dosanya dari hadapan manusia.

Kedua, yaitu kita meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar dosa-dosa kita tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi diri kita. Sesungguhnya tidak satu dosa pun kecuali pasti menimbulkan dampak. Dan dampak yang paling minimal dari dosa ada membuat hati kita menjadi hitam. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

Apabila eorang hamba melakukan suatu dosa, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya.”[3]

Semakin banyak dosa yang dilakukan, maka akan semakin membuat hati semakin hitam, sehingga semakin mudah terpengaruh syahwat dan syubhat. Oleh karenanya ini adalah dampak minimal daripada dosa. Belum lagi dengan dampak-dampak yang lain berupa kegelisahan, kehawatiran, kesedihan, dan gangguan orang lain. Ini semua adalah dampak dari dosa-dosa. Oleh karenanya tatkala seseorang beristighfar, maka maknanya adalah dia meminta dijauhkan dari dampak dosa-dosa yang dilakukan.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من ذنب وخطيئة فأستغفره إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، أللهم صلي عليه وعل أله وأصحابه وإخوانه

Sesungguhnya lafal istghfar sangatlah banyak. Di antaranya adalah,

  • أسْتَغْفِرُ اللهَ
  • أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيهِ
  • رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم

Istighfar, jika disebut sendirian, maka maknanya adalah menutup dosa-dosa, menghilangkan dampak dari dosa, dan memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya jika istighfar disebut secar sendirian, maka maknanya sama dengan taubat. Demikian pula jika taubat disebut sendirian maka maknanya sama dengan istighfar. Akan tetapi jika istighfar digabung dengan taubat, sebagaimana dalam beberapa lafal di antaranya,

أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيهِ

Maka taubat kedudukannya menjadi lebih tinggi daripada istighfar. Oleh karenanya di dalam Alquran disebutkan,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya.” (QS. Hud : 52)

Ayat ini menggambarkan bahwa kedudukan taubat seakan-akan lebih tinggi daripada istighfar.

Lalu apa bedanya istighfar dan taubat jika digabungkan? Taubat melazimkan seseorang meninggalkan dan berhenti dari maksiat. Adapun istighfar, bisa jadi seseorang mengucapkannya sementara dia masih melakukan suatu maksiat. Ini menunjukkan bahwa apakah sesorang mampu meninggalkan dosa-dosanya atau tidak, tetap dia harus beristighfar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Oleh karenanya di antara dzikir pagi dan petang, seseorang berdoa dengan berkata,

وأبوء بذنبي فاغفر لي

Dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampuni aku.”

Ada seseorang yang terjebak dalam dosa dan tidak mampu untuk meninggalkannya. Maka seharusnya dia tidak berputus asa dalam beristighfar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sampai dia mencapai derajat taubat, yaitu smapai dia bisa meninggalkan dosa tersebut. Oleh karenanya di antara dzikir yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah,

 

رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ

Dan kata وَتُبْ عَلَيَّ bisa bermakna dua hal, pertama bahwa jika seseorang belum bertaubat, maka dia meminta di anugerahkan taubat; kedua, jika seseorang telah berhenti dari maksiat, maka dia meminta untuk diterima taubatnya.

Ma’asyiral Muslimin,

Jika seseorang telah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, kemudian dia beristighfar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan Allah Subhanahu wa ta’ala menerima taubat dan mengampuni dosa-dosanya, maka ketahuilah  bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala akan kembali mencintainya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala murka kepada seseorang yang melakukan maksiat, akan tetapi jika dia kembali dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan kembali mencintainya. Sungguh tidak benar pernyataan sebagian orang bahwa jika salah seorang telah berdosa, meskipun Allah mengampuninya, Allah tidak lagi mencintainya. Sesungguhnya pernyataan ini telah dibantah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya,

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih (mencintai).” (QS. Al-Buruj : 14)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata bahwa pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menggabungkan dua namanya yaitu Al-Ghafur dan Al-Wadud, artinya jika seseorang bermaksiat lantas dia kembali kepada Allah dan bertaubat, ketika taubatnya telah diterima maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan kembali mencintainya, karena Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai hamba-hambaNya yang kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

للَّهمَّ اغفِرْ لنا ذنوبنا ما قَدَّمنا وما أَخَّرْنا، وما أَسْرَرْنا ومَا أعْلَنْا وما أَسْرفْنا وما أَنتَ أَعْلمُ بِهِ مِنِّا، أنْتَ المُقَدِّمُ، وَأنْتَ المُؤَخِّرُ لا إله إلاَّ أنْتَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

[1]  HR. Bukhari no. 5642

[2]  HR. Ibnu Majah no. 3818

[3]  HR. Tirmidzi no. 3334