Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam

Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu dari kisah-kisah para Nabi yang Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuk mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am : 90)

Serta tidaklah Allah Subhanahu wa ta’ala menyampaikan kisah-kisah dari para Nabi kecuali ada pelajaran yang bisa kita ambil, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf : 176)

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat.” (QS. Yusuf : 176)

Kita akan membahas kisah seorang nabi yang sangat mulia yaitu Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, yang Allah Subhanahu wa ta’ala mengutusnya kepada kaumnya di negeri Madyan.

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam adalah salah satu dari empat nabi yang bersuku Arab. Sebagaimana kita ketahui bahwa nabi yang bersuku arab di antaranya adalah Nabi Hud ‘alaihissalam, Nabi Shaleh ‘alaihissalam, Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, dan Nabi Muhammad ﷺ ([1]).Oleh karenanya kisah-kisah para Nabi yang bersuku arab ini tidak disebutkan kisah mereka dalam perjanjian lama maupun perjanjian baru, kitab Taurat ataupun Injil yang ada di tengah-tengah kita sekarang ini. Dan sebagaimana kita ketahui bahwasanya Injil dan Taurat telah mengalami perubahan dan penyimpangan, sehingga sebagian kisah para nabi tidak ada dalam buku-buku  tersebut yang mana mereka masih menganggapnya sebagai kitab suci namun penuh dengan penyimpangan.

Sebagian orang menyangka bahwasanya laki-laki yang bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, yang kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam menikah dengan putrinya di Madyan adalah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam. Akan tetapi sangkaan ini dibantah oleh para ulama, karena Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang Allah Subhanahu wa ta’ala kisahkan di dalam Alquran jaraknya jauh sebelum Nabi Musa ‘alaihissalam([2]). Adapun laki-laki yang bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam di Madyan adalah Yitro’, sebagaimana disebutkan perjanjian lama([3]). Maka dari keterangan ini, yang bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihisslaam di Madyan bukanlah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, karena zaman mereka berbeda dan kisah pun juga berbeda. Adapun kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang kita akan bahas ini sama sekali tidak ada wujudnya dalam kitab Injil maupun Taurat, demikian pula kisah nabi-nabi arab yang lainnya. Oleh karenanya mereka masih sering menuduh hingga sekarang bahwa Alquran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah jiplakan dari Taurat dan Injil. Tentunya bantahan terhadap ini sangatlah banyak.

Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan kitab Qashashul Anbiya’ bahwasanya Nabi Syu’aib ‘alaihissalam tinggal di suatu daerah bernama Mu’an. Adapun Mu’an adalah suatu daerah di ujung negeri Syam yang menuju ke daerah Hijaz. Adapun penyebutan Madyan sebagai tempat Nabi Syu’aib  ‘alaihissalam karena nasab beliau kembali kepada kabilah Madyan. Dan memang terdapat banyak tempat yang memiliki sebuah nama, akan tetapi karena banyaknya suatu kabilah yang menempati tempat tersebut, maka tempat tersebut lebih dikenal dengan nama kabilah tersebut, sebagaimana Mu’an yang lebih dikenal dengan nama Madyan karena banyaknya orang-orang dari kabilah Madyan tinggal di tempat tersebut([4]).

Secara zaman, Nabi Syu’aib ‘alaihissalam diutus setelah Nabi Luth ‘alaihissalam. Sebagaimana perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam kepada kaumnya,

وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ

Dan wahai kaumku! Janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu berbuat dosa, sehingga kamu ditimpa siksaan seperti yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud atau kaum Shalih, sedang kaum Luth tidak jauh dari kalian.” (QS. Hud : 89)

Perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ini menunjukkan bahwa Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ada di zaman setelah Nabi Luth ‘alaihissalam.

Siapakah Nabi Syu’aib? Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan beberapa pendapat tentang ini. Sebagian ada yang menyebutkan bahwa Nabi Syu’aib ‘alaihissalam adalah keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sebagian yang lain menyebutkan bahwa Nabi Syu’aib ‘alaihissalam hanyalah orang yang dulu pernah ikut beriman bersama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Akan tetapi Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan,

وَفِي هَذَا كُلِّهِ نظر

Dan seluruh (pendapat) ini perlu untuk ditinjau kembali.”([5])

Akan tetapi yang jelas Nabi Syu’aib adalah seorang Nabi yang mulia. Adapun beliau keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam atau bukan, itu bukanlah sebuah masalah. Hanya saja secara tartib zamani (urutan zaman), zaman Nabi Syu’aib ‘alaihissalam setelah Nabi Luth ‘alaihissalam, sebagaimana penyebutan Nabi Syu’aib di dalam Alquran selalu disebutkan setelah penyebutan kisah Nabi Luth ‘alaihissalam. Dan perkataan Nabi Syu’aib kepada kaumnya yang Allah Subhanahu wa ta’ala hikayatkan dalam firman-Nya,

وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ

Dan tidaklah kaum Luth tidak jauh dari kalian.” (QS. Hud : 89)

Ada tiga tafsiran para ulama tentang ayat ini,

Tafsiran pertama, yang dimaksud tidak jauh antara kaum Nabi Syu’aib dan kaum Nabi Luth ‘alaihimassalam adalah zamannya.

Tafsiran kedua, yang tidak jauh antara kaum Nabi Syu’aib dan kaum Nabi Luth ‘alaihimassalam adalah tempat tinggal mereka yang tidak jauh, karena kaum Nabi Luth ‘alaihissalam juga tempatnya di negeri Syam.

Tafsiran ketiga, yang tidak jauh antara kaum Nabi Syu’aib dan kaum Nabi Luth ‘alaihimassalam adalah dari sisi perilaku mereka yang juga seperti kaum Nabi Luth yang suka merampas harta orang di jalan.

Dan Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa makna ayat ini bisa ditafsirkan dengan tiga-tiganya.

Secara umum kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam memiliki tiga kejahatan,

  1. Syirik kepada Allah Subhanahu wa ta’ala
  2. Melakukan pengurangan timbangan dan takaran
  3. Melakukan penarikan pajak 10% tanpa ada timbal balik sama sekali kepada orang-orang yang lewat di kampung mereka.([6])

Ketika kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam semakin parah dalam kejahatannya, maka Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian mengutus Nabi Syu’aib ‘alaihissalam untuk mendakwahi mereka. Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam beberapa surah, di antaranya dalam surah Al-A’raf, surah Hud, surah Asy-Syu’ara, dan surah Al-‘Ankabut. Akan tetapi yang paling banyak menyebutkan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ada pada surah Al-A’raf dan surah Hud.

Adapun kesyirikan yang mereka lakukan, mereka menyembah sebuah pohon yang namanya Al-Aikah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ، إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Penyembah Al-Aikah telah mendustakan para rasul, ketika Syu’aib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy-Syu’ara : 176-177)

Dari ayat ini, sebagian ahli tafsir menganggap bahwasanya Nabi Syu’aib diutus kepada dua kaum, yaitu kaum Madyan dan kaum Al-Aikah([7]), Karena dalam surah Al-A’raf, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا

Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu’aib, saudara mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf : 85)

Sedangkan dalam surah Asy-Syu’ara, Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menyebut Nabi Syu’aib ‘alaihissalam sebagai saudara dari kaum Al-Aikah sebagaimana disebutkan Nabi Syu’aib sebagai saudara (bagian) dari kaum Madyan.

Akan tetapi pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah  Al-Aikah adalah orang-orang Madyan sendiri dan bukan nama tempat, melainkan sebuah berhala yang disembah oleh kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berupa pohon. Adapun hilangnya penyebutan ‘saudara’ bagi Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ketika Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang Al-Aikah adalah karena Allah Subhanahu wa ta’ala berbicara tentang kesyirikan. Karena jika penyebutan Al-Aikah disandingkan dengan penyebutan ‘saudara’ bagi Nabi Syu’aib, itu akan menunjukkan bahwa seakan-akan beliau juga ikut menyembah berhala tersebut. Oleh karenanya ketika Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan tentang akidah, maka persaudaraan pun putus, Nabi Syu’aib meskipun satu suku dan satu bangsa dengan mereka akan tetapi jika sudah berbicara tentang akidah maka maka Syu’aib bukanlah saudara mereka([8]). Maka kesimpulannya adalah Ashabul Aikah dan Ashabul Madyan sama saja, di mana terkadang Allah Subhanahu wa ta’ala berbicara tentang suku mereka Madyan, dan terkadang berbicara tentang peribadatan mereka yang menyembah Al-Aikah.

Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dalam surah Al-A’raf

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) saudara mereka sendiri, Syu’aib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan([9]), dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.” (QS. Al-A’raf : 85)

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam disebutkan oleh sebagian para salaf bahwa beliau diberi gelar sebagai Khathibul Anbiya’ (ahli khutbah para nabi) karena beliau sangat fasih dalam berbicara([10]). Dan yang paling pertama Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dakwahkan adalah tauhid. Dan demikianlah dakwah seluruh para Nabi, mereka konsentrasi untuk mendakwahkan tauhid sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut’.” (QS. An-Nahl : 36)

Disamping mendakwahkan tauhid, di antara metode para Nabi adalah mereka juga mendakwahi kemaksiatan yang sedang tersebar di masa itu. Oleh karenanya setelah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam mendakwahkan tauhid, beliau juga mendakwahi kemungkaran yang terjadi tatkala itu. Dan di antara kemungkaran yang ada di tengah-tengah kaum Nabi Syu’aib adalah mengurangi takaran atau timbangan. Sedangkan para ulama mengatakan bahwa mengurangi takaran dari yang seharusnya adalah dosa besar dan pelakunya diancam neraka([11]). Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang).” (QS. Al-Muthaffifin : 1)

Saking besarnya dosa curang dalam takaran ini, sampai-sampai ada suatu kaum yang diazab oleh Allah Subhanahu wa ta’ala karena di antara perbuatan mereka adalah suka mengurangi takaran. Maka dari itu hendaknya seseorang berhati-hati dalam bermuamalah dengan orang lain, karena banyak dosa-dosa besar bisa muncul karena bermuamalah dengan orang lain.

Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika mereka memenuhi timbangan dan takaran, tidak menzalimi orang lain, tidak melakukan kerusakan, maka mereka akan mendapatkan pahala jika mereka lakukan dengan iman. Karena meskipun mereka melakukan kebajikan-kebajikan ini namun masih melakukan kesyirikan (tidak beriman), maka tentu tidak akan bernilai pahala sama sekali. Sedangkan jika mereka meninggalkan syariat tersebut maka akan berdosa, sehingga dosa mereka bertambah setelah dosa kesyirikan. Karena ada sebuah kaidah Ushul Fiqh yang menyebutkan,

الكُفَّار مُخاَطَبُوْنَ بِفُرُوْعِ الشَّرِيْعَة

Orang-orang kafir dibebani dengan furu’ syariat (cabang-cabang syari’at islam).”([12])

Dengan kaidah ini, timbul sebuah pertanyaan, “Bagaimana hukum seorang muslim menjual makanan kepada orang kafir di siang hari saat berpuasa?” Jawabannya adalah tidak boleh, karena menjual makanan kepada orang kafir di siang hari saat puasa sama saja membantu mereka untuk berbuka. Meskipun mereka kafir, mereka tetap terkena syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berlaku saat ini, sehingga mereka juga tetap harus berpuasa. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan tidak pula Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”([13])

Setelah itu, Nabi Syu’aib ‘alaihissalam kemudian terus menasihati kaumnya. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata,

وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا

Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya.” (QS. Al-A’raf : 86)

Disebutkan oleh sebagian Ahli Tafsir bahwa di zaman Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ada orang-orang yang menghalangi-halangi orang-orang yang hendak ke majelis Nabi Syu’aib dan menakut-nakuti orang-orang untuk tidak beriman kepada beliau([14]). Dan para ulama juga mengatakan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwasanya tatkala Nabi Syu’aib ‘alaihissalam mendakwahi kaumnya dari sukunya sendiri, ternyata ada suku lain yang beriman kepada beliau. Dan kejadian seperti ini sering terjadi dikalangan para da’i, di mana orang jauh lebih beriman daripada orang terdekat. Sebagaimana pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kaum Anshar jauh lebih banyak beriman daripada orang-orang Quraisy yang seharusnya lebih dekat kepada beliau.

Kemudian Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata,

وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-A’raf : 86)

Di antara hal yang memacu seseorang beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dengan mengingat nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya. Maka hendaknya seseorang perlu mengingat nikmat-nikmat Allah kepadanya agar dia bisa terpacu untuk terus beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat hingga kakinya bengkak, bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa beliau shalat hingga kakinya pecah-pecah, akan tetapi ketika ditanya mengapa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan itu beliau hanya mengatakan,

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”([15])

Dan di antara cara seseorang bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah banyak melakukan shalat. Oleh karenanya Nabi Syu’aib ‘alaihissalam menasihati kaumnya untuk mengingat nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala agar mereka betakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Nabi Syu’ab ‘alaihissalam juga mengingatkan kaumnya tentang kesudahan bagi orang-orang yang berbuat kerusakan.

Para ulama mengatakan bahwa nasihat Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ini menggabungkan antara Targhib (motivasi) dan Tarhib (ancaman). Yaitu beliau ‘alaihissalam memotivasi untuk mendapatkan tambahan nikmat dengan bertakwa, dan ancaman tentang kebinasaan kaum-kaum terdahulu karena perilaku mereka yang berbuat kerusakan seperti kaum Nabi Luth ‘alaihissalam.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa julukan Khatibul Anbiya’ yang disematkan kepada Nabi Syu’aib ‘alaihissalam adalah tepat. Ayat ini menggambarkan bagaimana beliau berkata-kata indah yang disertai dengan dalil dan hujjah.

Kemudian Nabi Syu’aib berkata kembali,

وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

Jika ada segolongan di antara kamu yang beriman kepada (ajaran) yang aku diutus menyampaikannya, dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di antara kita. Dialah hakim yang terbaik.” (QS. Al-A’raf : 87)

Para ulama mengatakan bahwa perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ini menunjukkan betapa lembutnya beliau dalam menyampaikan hujah, agar kaumnya bisa berpikir. Saking lembutnya Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, seakan-akan beliau mengatakan ‘Kalau kalian tidak beriman, maka tunggulah apa yang akan terjadi’, padahal telah pasti bahwasanya yang tidak beriman akan dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang komentar kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

Berkata pemuka-pemuka yang menyombongkan([16]) diri dari kaum Syu’aib, “Wahai Syu’aib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami.” (QS. Al-A’raf : 88)

Di usir dari negerinya sendiri adalah perkara yang berat bagi seseorang, termasuk bagi Nabi Syu’aib ‘alaihissalam. Oleh karenanya sebagian dari para Nabi juga diusir oleh kaumnya dari negerinya seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diusir oleh seluruh penduduk negerinya. Dan di antara nabi yang diusir oleh kaumnya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya Al-‘Aini berkata,

ابتلى الله نبيه بفراق الوطن

Allah menguji Nabi-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan berpisah dari kaumnya.”([17])

Bahkan Nabi Syu’aib juga dipaksa untuk kembali kepada agama mereka. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam kemudian berkata,

قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ، قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا

Syu’aib berkata, ‘Meskipun kami tidak suka? Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar atas nama Allah jika kami kembali kepada agamamu setelah Allah melepaskan kami darinya.” (QS. Al-A’raf : 88-89)

Dari perkataan ini, para ulama khilaf tentang apakah Nabi Syu’aib dahulunya beragama seperti kaumnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa dahulu Nabi Syu’aib menyembah berhala, kemudian sadar dan tidak ingin kembali lagi kepada kekufuran. Akan tetapi jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi Syu’aib tidak pernah melakukan kesyirikan. Nabi Syu’aib mengatakan demikian tidak mengatasnamakan dirinya, melainkan beliau mengatasnamakan pengikutnya yang beriman setelah dahulunya musyrik. Hal ini ditandai dengan perkataan beliau yang menggunakan dhamir nahnu (kami), dan bukan menggunakan dhamir ana (saya)([18]). Dan demikianlah para nabi yang Allah Subhanahu wa ta’ala utus, mereka tidak pernah berbuat kesyirikan sama sekali, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah).” (QS. An-Nahl : 120)

Demikian pula Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman jahiliyah tidak pernah berbuat syirik sama sekali. Oleh karenanya pendapat yang lebih kuat adalah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam sedang berbicara atas nama kaumnya yang beriman, yang dahulu mereka pernah berbuat syirik yang kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyelamatkan mereka.

Kemudian Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata,

وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Dan tidaklah pantas kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik.” (QS. Al-A’raf : 90)

Ketika Nabi Syu’aib dan pengikutnya telah diancam oleh kaumnya, maka yang dilakukan oleh Nabi Syu’aib ‘alaihissalam adalah bertawakal dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Seakan-akan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam mengatakan “Mereka tidak menerima dakwah kami, berilah keputusan di antara kami, kami hanya bertawakal kepdamu ya Rabb”.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kaumnya Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang tidak hanya memprovokasi Nabi Syu’aib dan pengikutnya, melainkan juga memprovokasi orang-orang yang belum beriman di antara mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ

Dan pemuka-pemuka dari kaumnya (Syu’aib) yang kafir berkata (kepada sesamanya), ‘Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi’.” (QS. Al-A’raf : 90)

Setelah kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam mengatakan demikian, Allah Subhanahu wa ta’ala menceritakan dalam firmanNya,

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati di dalam reruntuhan rumah mereka dalam kondisi tersungkur.” (QS. Al-A’raf : 91)

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ

Orang-orang yang mendustakan Syu’aib seakan-akan mereka belum pernah tinggal di (negeri) itu. Mereka yang mendustakan Syu’aib, itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf : 92)

Perkataan Allah Subhanahu wa ta’ala ini membantah perkataan pembesar kaum Nabi Syu’aib yang menganggap bahwa orang-orang yang mengikuti Nabi Syu’aib ‘alaihissalam akan merugi.

Setelah kejadian itu, pergilah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam bersama kaumnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ فَكَيْفَ آسَى عَلَى قَوْمٍ كَافِرِينَ

Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir?’.” (QS. AL-A’raf : 93)

Sebagian ulama mengatakan bahwa jika seseorang memiliki kerabat yang memusuhi Allah Subhanahu wa ta’ala, memusuhi ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, membangkang dari syariat, kemudian dia meninggal, maka tidak perlu baginya untuk bersedih sebagaimana perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dalam ayat ini.

Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dalam surah Hud

Kisah Nabi Syu’aib dalam surah Hud tidak jauh berbeda dengan surah Al-A’raf. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (Kiamat)’.” (QS. Hud : 84)

Diutusnya seorang nabi bagi suatu kaum yang berasal dari kaumnya itu sendiri terkadang bisa membuat kaum tersebut menerima dakwah daripada orang dari luar kaumnya. Oleh karenanya seharusnya penduduk Madyan mudah untuk menerima dakwah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, karena beliau berasal dari mereka juga.

Kemudian Nabi Syu’aib ‘alaihissalam kembali berkata,

وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ، بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan (menzalimi) manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan. Sisa (yang halal) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.” (QS. Hud : 85-86)

Maksud dari ayat ini adalah seakan-akan Nabi Syu’aib menasihati kaumnya bahwa sesungguhnya dengan berdagang tanpa curang pun mereka telah mendapat keuntungan, maka tidak perlu lagi bagi mereka untuk mengurangi takaran dan timbangan untuk mendapatkan keuntungan lebih. Dan keuntungan dari Allah dengan dari cara yang jujur itu lebih baik daripada keuntungan banyak namun tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.” (QS. AL-Maidah : 100)

Di sini Nabi Syu’aib ‘alaihissalam mengajarkan kepada kaumnya bahwa yang seidkit namun diridhai oleh Allah adalah harta yang berkah, sedangkan banyak namun tidak diridhai oleh Allah adalah tidak berkah. Hal ini sesuai sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dua orang yang melakukan transaksi,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Jika keduanya jujur dan terbuka (dalam menjelaskan kekurangan barangnya), maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka (menyembunyikan aib barang), maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang.”([19])

Demikianlah sebagian orang yang memiliki harta yang banyak namun tidak memiliki keberkahan pada hartanya, memiliki harta yang banyak, akan tetapi seakan-akan kefakiran berada di antara kedua tangannya. Demikian pula banyak orang yang memiliki harta banyak namun tidak berkah, akhirnya tiba-tiba habis begitu saja entah ke mana. Oleh karenanya seseorang harusnya berusaha mencari keberkahan pada hartanya meskipun yang dia dapatkan sedikit, sebagaimana perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam,

بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

Sisa (yang halal) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.” (QS. Hud : 86)

Makna perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ‘Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu’ adalah Nabi Syu’aib tidak bisa mengawasi mereka, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala lah yang melihat kejujuran mereka dalam berdagang. Maka dari sini perlu untuk kita ingat bahwa jangan sampai kita melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan karena manusia, akan tetapi lakukan itu semua karena Allah Subhanahu wa ta’ala karena sesungguhnya kejujuran seseorang dalam beramal itu hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Setelah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam menasihati kaumnya, kaumnya kemudian berkata,

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ

Mereka berkata, “Wahai Syu’aib! Apakah shalatmu (agamamu) yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai.” (QS. Hud : 87)

Para ulama menyebutkan bahwa perkataan kaumnya Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ini tidak sedang memuji Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, melainkan mereka sedang mengejek Nabi Syu’aib karena terlalu banyak shalat sehingga berkata demikian([20]).

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam sadar bahwa kaumnya sedang mengejeknya, akan tetapi beliau bersabar dan berkata,

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dia (Syu’aib) berkata, ‘Wahai kaumku! Bagaimana menurut kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya’.” (QS. Hud : 86)

Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini juga menjadi peringatan bagi para da’i bahwasanya jangan sampai mereka mengajak atau melarang seseorang kepada sesuatu, sedangkan dia melakukannya([21]). Sungguh hal ini adalah hal terlarang, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala juga bercerita tentang Bani Israil,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti (berpikir)?” (QS. Al-Baqarah : 44)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ، كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff : 2-3)

Seorang penyair pernah berkata,

لَا تَنْهَ عَنْ خُلُقٍ وَتَأْتِيَ مِثْلَهُ • عَارٌ عَلَيْك إذَا فَعَلْت عَظِيمُ

Jangan melarang dari sesuatu perkara, sementara engkau melakukannya. Sungguh aib yang amat besar bagimu jika kamu melakukannya.”([22])

Oleh karenanya hendaknya seorang da’i ketika telah melarang sesuatu kepada orang lain, dia juga harus bertekad untuk meninggalkannya. Adapun jika suatu saat dia terjerat oleh hawa nafsunya, hendaknya dia bertobat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

Seseorang didatangkan pada hari kiamat kemudian dilemparkan ke neraka hingga ususnya terurai keluar dan berputar-putar dineraka seperti keledai mengitari alat penumbuk gandumnya, kemudian penduduk neraka bertanya: ‘Hai fulan, Apa yang menimpamu, bukankah dulu kau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Benar, dulu saya memerintahkan kebaikan tapi saya tidak melakukannya dan saya melarang kemungkaran tapi saya melakukannya’.” (Muttafaqun ‘alaih)([23])

Kemudian Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata dengan perkataan yang sangat indah,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali’.” (QS. Hud : 86)

Seorang salaf pernah berkata bahwa jika dirinya memiliki suatu ‘azam, maka dia akan mengatakan sebagaimana perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ini([24]).

Kemudian Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata,

وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ

Dan wahai kaumku, janganlah pertentangan antara aku dengan kalian menyebabkan kalian berbuat dosa, sehingga kamu ditimpa siksaan seperti yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud atau kaum Shalih, sedang kaum Luth tidak jauh dari kamu.” (QS. Hud : 89)

Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Syu’aib ‘alaihissalam menasihati kaumnya agar tidak boleh kufur meskipun mereka membencinya. Ini membuktikan bahwa Nabi Syu’aib ‘alaihissalam sangat sayang kepada kaumnya.

Dan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata,

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ

Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.” (QS. Hud : 90)

Ada orang yang mungkin memiliki sifat pengasih (rahmat), akan tetapi belum tentu dia mencintai orang yang dikasihinya. Akan tetapi jika rahmat dibangun di atas cinta, maka ini menjadi luar biasa. Dan dalam ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya bahwa sekiranya mereka beristighfar dan bertobat kepada Allah dari apa yang telah mereka kerjakan, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan sayang sekaligus cinta kepada mereka. Dan tidak benar ungkapan sebagian orang bahwa orang yang telah bermaksiat tidak lagi akan dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, karena bisa jadi orang yang bermaksiat tersebut kembali lagi kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan ayat ini menggabungkan antara sifat Allah yang Maha Penyayang dan Maha Mencintai sebagai bukti bahwa dia bisa kembali meraih cinta Allah Subhanahu wa ta’ala dengan syarat dia bertaubat kepada-Nya.

Setelah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam menasihati kaumnya, kaumnya kemudian kembali memperlihatkan sikap pembangkangan mereka. Kaumnya mengatakan,

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ

Kaumnya berkata, ‘Wahai Syu’aib, Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu, sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami’.” (QS. Hud : 91)

Sungguh kaumnya Nabi Syu’aib ‘alaihissalam sangat ngeyel kepadanya. Sesungguhnya kaumnya tahu betul dengan apa yang diucapkan oleh Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, hanya saja mereka mengatakan demikian karena mereka tidak mau paham dengan apa yang disampaikan kepada mereka.

Maka Nabi Syu’aib ‘alaihissalam membantah perkataan mereka dengan berkata,

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ، وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ

Dia (Syu’aib) menjawab, ‘Wahai kaumku, Apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, bahkan Dia kamu tempatkan di belakangmu (diabaikan)? Ketahuilah sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan. Dan wahai kaumku, Berbuatlah menurut kesukaan kalian, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah, sesungguhnya aku bersama kalian menunggu’.” (QS. Hud : 92-93)

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan azab-Nya kepada kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ، كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sedang orang yang zhalim dibinasakan oleh suara yang menggelegar, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, binasalah penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud (juga) telah binasa.” (QS. Hud : 94-95)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala memisalkan kebinasaan kaum Madyan dengan kaum Tsamud yang juga dibinasakan dengan suara yang kencang dan guntur yang membuat mereka juga mati.

Azab bagi kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa ada tiga azab yang ditimpakan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kaum Nabi Syu’aib([25]).

Yang pertama adalah azab berupa gempa, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati di dalam reruntuhan rumah mereka dalam kondisi tersungkur.” (QS. Al-A’raf : 91)

Yang kedua adalah azab berupa suara keras yang menggelegar, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surah Hud,

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sedang orang yang zhalim dibinasakan oleh suara yang menggelegar, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (QS. Hud : 94)

Yang ketiga adalah azab berupa awan gelap dengan petir, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surah Asy-Syu’ara,

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Kemudian mereka mendustakannya (Syu’aib), lalu mereka ditimpa azab pada hari yang awannya gelap. Sungguh, itulah azab pada hari yang dahsyat.” (QS. Asy-Syu’ara : 189)

Ibnu Katsir rahimahullah juga menyebutkan bahwa kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ditimpa azab berupa gempa karena mereka juga berusaha menggoncangkan iman kaumnya untuk tetap kufur dan orang-orang yang pergi menuju Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dengan perkataan mereka,

وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ

Dan pemuka-pemuka dari kaumnya (Syu’aib) yang kafir berkata (kepada sesamanya), ‘Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi’.” (QS. Al-A’raf : 90)

Adapun mereka di azab dengan suara yang menggelegar karena mereka juga banyak bicara, sebagaimana mereka mengatakan,

يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ

Wahai Syu’aib, Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu, sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami’.” (QS. Hud : 91)

Mereka juga mengangkat suara dan membentak-bentak Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, sehingga Allah pun menurunkan azab berupa suara untuk membentak mereka.

Adapun mereka diazab dengan awan yang melemparkan petir-petirnya itu karena mereka sendiri yang meminta dengan berkata,

قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ، وَمَا أَنْتَ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَإِنْ نَظُنُّكَ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ، فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata, ‘Engkau tidak lain hanyalah orang-orang yang kena sihir. Dan engkau hanyalah manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin engkau termasuk orang-orang yang berdusta. Maka jatuhkanlah kepada kami gumpalan dari langit, jika engkau termasuk orang-orang yang benar’.” (QS. Asy-Syu’ara ; 185-187)

Disebutkan oleh Ibnu Katsir, tatkala Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan azab kepada kaum Madyan, mereka dibuat kepanasan tanpa angin sama sekali. Dan disebutkan bahwa mereka mengalami kepansan yang sangat parah selama satu pekan. Maka tatkala mereka keluar, mereka senang karena melihat awan yang dikira akan memberikan kesejukan, padahal awan tersebut adalah azab bagi mereka. Maka tatkala mereka telah berada di bawa awan tersebut, maka bergetarlah bumi yang mengguncang mereka, kemudian datanglah petir-petir yang menyambar mereka, serta keluar suara yang menggelegar, sehingga akhirnya mereka meninggal dengan tiga azab([26]).

Demikianlah kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dan kaumnya yang dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala karena membangkang dari perintah Allah Subhanahu wa ta’ala.

_________________________________________________________________

([1]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/276

([2]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/276

([3]) Keluaran 3:1

([4]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/247-275

([5])  Qashashul Anbiya’ 1/275

([6])  Penarikan pajak tanpa ada balasan timbal balik, para ulama Ijma’ bahwa orang yang menarik pajak seperti ini yang dimaksud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tempat mereka di neraka  (lihat Maratib Al-Ijma’ hal.121).

([8]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/287-288

([9])  الْكَيْلَ adalah takaran volume, sedangakan الْمِيزَانَ untuk menunjukkan berat (lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah 35/177)

([10]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/276; Tafsir Al-Qurthuby 7/248

([11]) Lihat kitab Al-kabair karya Adz-Dzahabi, dosa besar no.62 hal.225

([12]) Mausu’ah Al-Qowa’id Al-Fiqhiyah 12/54

([13]) HR. Muslim no. 153

([14]) Lihat Tafsir Al-Qurthubi 7/248

([15])  HR. Bukhori no. 1062

([16])  اسْتَكْبَرُوا dalam Bahasa Arab berasal dari wazan استفعل yang bermakna mencari. Maka makna اسْتَكْبَرُوا dalam ayat ini adalah orang-orang yang melakukan sesuatu untuk sombong. Dan memang ada orang-orang yang mencari kesombongan di atas muka bumi dengan berbagai cara seperti mengumpulkan harta atau meraih jabatan tertentu.

([17]) Lihat ‘Umdatul Qori Syarah Sahih Bukhari karya Badruddin Al-‘Aini 10/251

([18]) Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir 9/7

([19])  HR. Muslim no. 1532

([20]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/280

([21]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/281

([22]) Disebutkan bahwa yang mengatakan syair ini adalah Abu Al-Aswad Ad-Duali (lihat Syarah Syawahid Al-Mughni 2/779)

([23])  HR. Bukhari no. 3267 dan HR. Muslim no. 2989

([24]) Salah satunya adalah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa dalam surat-surat beliau yang di dalamnya terdapat amar ma’ruf dan nahi mungkar beliau mengutip di akhir surat tersebut firman Allah di atas (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/297)

([25]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/286-287

([26]) Lihat Qashas Al-Anbiya’ 1/286-287