Nabi Nuh ‘Alaihissalam

Nabi Nuh ‘Alaihissalam

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang kisah nabi yang sangat mulia, yaitu nabi Nuh ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut kisah beliau pada banyak surah di dalam Al-Quran. Di antaranya Allah sebutkan dalam surah Al-A’raf, surah Hud, surah Al-Mu’minun, surah Nuh, surah Al-Qamar dan lain-lain. Dalam surah-surah tersebut, Allah mengulang-ulang penyebutan kisah nabi Nuh ‘alaihissalam, tentunya karena ada faedah yang besar dari kisah tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf: 176)

Hal ini menunjukkan bahwa dalam kisah-kisah tersebut ada pelajaran yang bisa diambil oleh orang-orang yang berpikir. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat.” (QS. Yusuf: 111)

Dan seluruh kisah yang Allah sebutkan di dalam Al-Quran

bukanlah kisah fiktif, akan tetapi merupakan kisah nyata yang pernah terjadi.

Oleh karena itu Allah mengulang-ulang kisah nabi Nuh ‘alaihissalam kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau dapat mengambil pelajaran dari kisah nabi Nuh ‘alaihissalam tentang kesabaran. Sebagaimana kita ketahui bahwa surah Nuh merupakan surah Makkiyah, yaitu surah yang turun sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah. Dan kondisi dakwah nabi sebelum berhijrah itu penuh dengan penindasan dari orang-orang musyrikin Arab, di mana banyak sahabat disiksa bahkan dibunuh. Maka pada saat kaum mukminin merasakan kondisi yang amat berat tatkala itu, maka Allah menurunkan kisah tentang nabi Nuh ‘alaihissalam yang sangat penyabar. Dari kisah tersebut, Allah seakan ingin mengingatkan kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa apa yang beliau alami tatkala itu, telah pernah dilalui oleh nabi-nabi sebelum beliau yaitu nabi Nuh ‘alaihissalam agar hatinya tetap kokoh. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud: 120)

Dengan kisah para nabi, Allah juga hendak mengingatkan kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau bersabar. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Maka bersabarlah kamu (Muhammad) seperti kesabaran rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati.” (QS. Al-Ahqaf: 35)

Inilah beberapa hikmah alasan Allah menceritakan kisah nabi Nuh ‘alaihis salam berulang-ulang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau berdakwah di kota Mekkah. Dan bagi umatnya, hendaknya bisa mengambil pelajaran dari kisah nabi Nuh ‘alaihis salam.

Sebelum kita membahasa tentang kisah nabi Nuh ‘alaihis salam, perlu untuk penulis ingatkan bahwa ada sekelompok manusia dari kelompok Liberal yang mengingkari kisah nabi Nuh ‘alaihis salam dan juga kisah-kisah nabi lain yang tidak masuk dalam akal mereka. Orang-orang liberal menganggap dan meyakini bahwa semua agama benar, sehingga tidak boleh seseorang mendakwahi orang lain dalam urusan agama karena agama adalah privasi masing-masing orang. Maka alasan utama mereka mengingkari kisah-kisah para nabi karena kisah-kisah tersebut menghantam hal yang mendasar dari akidah mereka yaitu liberal (kebebasan). Sehingga mereka mengatakan bahwa kisah nabi Nuh ‘alaihis salam adalah cerita fiktif semata dan tidak pernah terjadi, dan Allah sengaja menyebutkannya agar kita dapat mengambil pelajaran. Ketahuilah bahwa anggapan mereka ini adalah kekufuran, sebagaimana pernyataan orang-orang kafir terdahulu yang mengingkari Al-Quran. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang dahulu“. (QS. Al-An’am: 25)

Keyakinan orang-orang liberal yang menganggap bahwa kisah-kisah para nabi itu adalah fiktif dan hanya dongeng belaka, secara tidak langsung mereka menuduh Allah berdusta di dalam Al-Quran. Salah seorang dari kaum liberal Indonesia pernah menulis artikel yang dia beri judul “Al-Quran dan Spiderman“. Inti dari tulisan tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa Al-Quran itu adalah kumpulan kisah dongeng sebagaimana film spiderman yang juga dongeng. Kemudian dia berkata tentang kisah nabi Nuh ‘alaihissalam,

Kalau kita telaah kisah-kisah di dalam Alquran, ada pola demikian, “Nabi datang berdakwah berdakwah, kemudian masyarakat menolak, kemudian Tuhan marah dan menurunkan azab”. Dan azab yang paling mengerikan buat saya adalah banjir Nuh. Azab ini secara nurani dan akal sehat sangat mengganggu. Apakah benar hanya karena masyarakat menolak dakwah nabi Nuh membuat Tuhan marah besar dan mengirim banjir yang melanda seluruh bumi, semua orang tewas kecuali orang yang beriman tinggal di perahu? Ini merupakan konsep Tuhan pendendam. Dan lihatlah konsep ketuhanan yang berbau Yahudi ini.”

Lihatlah betapa buruknya adab mereka kepada Allah yang mereka sifati dengan sifat pendendam. Ketahuilah bahwa satu-satunya alasan terkuat mereka menolak kisah-kisah tersebut adalah kisah-kisah yang Allah kabarkan sangat bertentangan dengan akidah orang liberal yang meyakini bahwa semua agama adalah benar.

Inilah pendahuluan yang kita sebutkan sebelum menceritakan tentang kisah nabi Nuh ‘alaihissalam, agar kita tahu bahwa ada sekelompok orang di zaman sekarang yang hati dan akal mereka tidak bisa menerima bahwa kisah tentang nabi Nuh ‘alaihissalam adalah kebenaran. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya, sedangkan kita dalam keadaan berbahagia dalam mempelajari kisah nabi Nuh ‘alaihissalam.

Nabi Nuh ‘alaihissalam memiliki beberapa keistimewaan yang disebutkan dalam ayat-ayat Alquran dan dalam hadit-hadits Rasulullah ﷺ, di antaranya:

  1. Nabi Nuh ‘alaihissalam memiliki usia yang panjang

Para nabi-nabi yang lain tentunya memiliki usia yang juga panjang, akan tetapi tidak disebutkan angkanya secara spesifik. Sedangkan yang Allah sebutkan usianya secara tegas di dalam Alquran adalah usia nabi Nuh ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut: 14)

Para ulama sepakat bahwa usia yang disebutkan dalam ayat ini adalah usia yang digunakan nabi Nuh ‘alaihissalam untuk berdakwah kepada kaumnya, sehingga ini bukanlah usia asli nabi Nuh ‘alaihissalam. Terdapat khilaf para ulama dalam dua sisi tentang hal ini. Dari sisi yang pertama mereka khilaf tentang berapa usia nabi Nuh ‘alaihissalam sebelum diangkat menjadi nabi. Di sisi yang kedua adalah khilaf tentang berapa tahun nabi Nuh ‘alaihissalam hidup setelah banjir bandang tersebut datang.

Sebagian ulama berpendapat bahwa umur nabi Nuh ‘alaihissalam tatkala diangkat menjadi nabi adalah pada umur 40 tahun dan meninggal 60 tahun setelah datangnya banjir bandang, sehingga umur keseluruhan nabi Nuh ‘alaihissalam adalah 1050 tahun. Pendapat ini merupakan pendapat yang paling kecil dalam menyebutkan usia nabi Nuh ‘alaihissalam. Pendapat yang lain menyebutkan bahwa umur nabi Nuh ‘alaihissalam tatkala diangkat menjadi nabi adalah berusia 350 tahun, dan hidup selama 300 tahun setelah kaumnya dibinasakan, sehingga umur keseluruhan nabi Nuh ‘alaihissalam adalah 1600 tahun. ([1])

Maka bandingkanlah rata-rata usia kita saat ini dengan usia nabi Nuh ‘alaihissalam. Bahkan ketika kita membandingkan usia kita dengan bangsa yang lain seperti orang-orang Eropa dan Arab pun sepertinya berbeda. Kebanyakan mereka memiliki usia yang cukup panjang. Sampai Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah sering bercerita bahwa ada muridnya dari Aljazair yang menceritakan kepadanya bahwa keluarganya memiliki usia yang panjang, di mana kebanyakan meninggal di usia 120-130 tahun. Sampai ketika ada kerabat dari muridnya tersebut meninggal di usia 70 tahun, maka kerabatnya yang lain berkata “Kasihan, dia meninggal saat masih kecil.”

Memang ada orang-orang yang Allah lebihkan mereka dengan usia yang panjang. Akan tetapi yang menjadi patokan bukanlah usia yang panjang, melainkan bagaimana seseorang beramal saleh dengan umur yang Allah berikan kepadanya. Ketahuilah bahwa Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu ‘anhu masuk Islam di usia sekitar 30 tahun dan meninggal sekitar usia 38 tahun, sehingga hanya delapan tahun dia beragama Islam. Akan tetapi tatkala Sa’ad bin Mu’adz meninggal dunia, ‘Arsy Allah bergetar karena kematiannya([2]). Maka umur panjang atau pendek bukanlah sebuah tolak ukur, yang penting seseorang benar-benar bertakwa dalam usia yang Allah berikan kepadanya.

  1. Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah nenek moyang manusia saat ini.

Sebagaimana kita ketahui bahwa nabi Adam ‘alaihissalam adalah Abul Basyar (nenek moyang manusia), ternyata nabi Nuh ‘alaihissalam juga disebut sebagai Abul Basyar Ats-tsany (nenek moyang kedua) dari seluruh manusia saat ini([3]). Hal ini disebabkan ketika Allah mendatangkan azab berupa banjir kepada kaum nabi Nuh ‘alaihissaam membuat seluruh manusia meninggal dunia kecuali orang-orang yang ikut naik ke bahtera nabi Nuh ‘alaihissalam. Bahkan disebutkan hewan-hewan pun diikutkan secara berpasang-pasangan karena banjir tersebut akan membinasakan seluruh hewan waktu itu. Sehingga keturunan yang tersisa adalah keturunannya nabi Nuh ‘alaihissalam dan orang-orang yang ikut dengan beliau. Akan tetapi salah satu ayat menunjukkan bahwa keturunan yang berlangsung setelah itu adalah keturunan dari nabi Nuh ‘alaihissalam, sedangkan orang beriman lainnya yang jumlahnya sekitar 80 orang([4]), keturunan mereka tidak berlanjut. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا (2) ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا (3)

Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (wahai) keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 2-3)

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ (77)

Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. Ash-Shaffat: 77)

Berdasarkan ayat ini, jumhur mufassirin mengatakan bahwa manusia yang tersisa hingga saat ini adalah keturunan nabi Nuh ‘alaihissalam([5]). Sehingga dari sinilah nabi Nuh ‘alaihissalam dikatakan sebagai Abul Basyar Ats-tsany (nenek moyang kedua).

Ahli sejarah dan tafsir menyebutkan bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam mempunyai empat orang anak laki-laki yang bernama Sam, Ham, Yafits, dan Yam. Menurut ahli kitab, Yam adalah sebutan bagi Kan’an, anak nabi Nuh ‘alaihissalam yang kafir dan meninggal tatkala banjir menimpa kaum nabi Nuh ‘alaihissalam([6]). Adapun tiga anak nabi Nuh ‘alaihissalam lainnya yaitu Sam, Ham, dan Yafif adalah seorang muslim dan mereka selamat dari banjir bandang tersebut, sehingga merekalah yang selanjutnya mempunyai keturunan. Para ulama juga khilaf tentang berapa jumlah istri nabi Nuh ‘alaihissalam. sebagian ulama mengatakan bahwa istri nabi Nuh ‘alaihissalam hanya satu, dan empat anak laki-laki tersebut merupakan anaknya. Sedangkan pendapat lain menyebutkan bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam memiliki istri lain yang salihah([7]). Wallahu a’lam bisshawab, karena tentang jumlah istri nabi Nuh ‘alaihissalam tidak Allah jelaskan.

Yang selamat dari anak-anak Nabi Nuuh ada tiga orang, yaitu سَامٌ Saam, حَامٌ Haam, dan يَافِثُ Yafits. . Dan seluruh manusia merupakan keturunan dari tiga anak tersebut.  Adapun Saam adalah nenek moyang kaum Arab, Persia, Romawi, Yahudi, dan Nashoro. Dan Haam adalah nenek moyang dari kaum Sudan, kaum As-Sind, India, Habasyah, Al-Qibth, dan Barbar. Adapun Yaafits maka nenek moyang orang Turki. ([8])

  1. Nabi Nuh ‘alaihissalam diberi gelar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebutan Hamba yang Pandai Bersyukur

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا (3)

Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)

Dalam hadits masyhur tentang syafaat juga disebutkan, bahwa tatkala manusia kelak berada di padang mahsyar dengan kondisi matahari yang berjarak hanya satu mil dari ubun-ubun, keringat mereka bercucuran dan mereka dalam kesusahan saat menanti kedatangan Allah untuk menghisab mereka, maka ketika itu mereka mendatangi para nabi untuk meminta syafaat agar persidangan bisa disegerakan. Maka mulailah mereka mendatangi nabi Adam ‘alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُونَ: يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو البَشَرِ، خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ، وَأَمَرَ المَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، وَأَسْكَنَكَ الجَنَّةَ، أَلاَ تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلاَ تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ وَمَا بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّي غَضِبَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلاَ يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَنَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ، نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ، فَيَأْتُونَ نُوحًا، فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ، وَسَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا، أَمَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ، أَلاَ تَرَى إِلَى مَا بَلَغَنَا، أَلاَ تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّي غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلاَ يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، نَفْسِي نَفْسِي، ائْتُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَأْتُونِي فَأَسْجُدُ تَحْتَ العَرْشِ، فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، وَسَلْ تُعْطَهْ

Maka mereka menemui Adam Alaihissalam dan berkata; “Wahai Adam, kamu adalah bapak seluruh manusia. Allah menciptakan kamu langsung dengan tangan-Nya dan meniupkan langsung ruh-Nya kepadamu dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu dan menempatkan kamu tinggal di surga, tidakkah sebaiknya kamu memohon syafaat kepada Rabbmu untuk kami? Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi?”. Adam Alaihissalam menjawab; “Rabbku pernah marah kepadaku dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. Dia melarang aku mendekati pohon namun aku mendurhakai-Nya. diriku, diriku. Pergilah kalian kepada orang selain aku. Pergilah kepada Nuh”. Maka mereka menemui Nuh Alaihissalam dan berkata; “Wahai Nuh, kamulah Rasul pertama kepada penduduk bumi ini dan Allah menamakan dirimu sebagai ‘Abdan syakuura (hamba yang bersyukur). Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi? Tidakkah sebaiknya kamu memohon syafaat kepada Rabbmu untuk kami?. Maka Nuh Alaihissalam berkata; “Pada suatu hari Rabbku pernah marah kepadaku dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. diriku, diriku. Pergilah kalian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”. Maka mereka menemui aku. Kemudian aku sujud di bawah al-‘Arsy lalu dikatakan; “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu dan mohonkanlah syafa’at serta mintalah karena permintaan kamu akan dikabulkan“. ([9])

Dari ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa Allah memberikan gelar kepada nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai hamba yang pandai bersyukur. Dan dalam hadits pun manusia kelak di padang mahsyar mengenali nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai hamba yang bersyukur.

Maka timbul pertanyaan bahwa apa yang menyebabkan nabi Nuh ‘alaihissalam diberi gelar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai ‘Abdan Syakuura? Sedangkan nabi Nuh ‘alaihissalam bukanlah orang yang kaya di tengah-tengah kaumnya, sehingga nabi Nuh ‘alaihissalam diremehkan. Seandainya Allah menamakan nabi Nuh ‘alaihissalam dengan sebutan ‘Abdan Shabuura (Hamba yang pandai bersabar), maka akan sangat tepat karena nabi Nuh ‘alaihissalam diuji dengan banyak ujian. Di antara ujian nabi Nuh ‘alaihissalam adalah dengan kafirnya istri dan anaknya. Ini merupakan ujian yang berat bagi nabi Nuh ‘alaihissalam yang harus mendakwahi kaumnya sedangkan keluarganya sendiri mengingkarinya.

Kemudian Nabi Nuh ‘alaihissalam juga diuji dengan sifat kaumnya yang suka mengolok-olok dirinya. Sampai-sampai nabi Nuh ‘alaihissalam mengadukan hal tersebut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (7)

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.” (QS. Nuh: 5-7)

Tentunya hal ini membuat hati nabi Nuh ‘alaihissalam merasa sedih. Beliau mendakwahi kaumnya selama 950 tahun, akan tetapi kaumnya tetap tidak mau beriman kepadanya. Bayangkan yang beriman dari kaumnya adalah sekitar 80 orang, setelah Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Kalau kita rata-ratakan yaitu sekitar 12 tahun hanya satu orang yang beriman. Dai siapakah kira-kira yang mampu bersabar untuk berdakwah selama 12 tahun hanya agar 1 orang yang dapat hidayah?. Maka ini menunjukan kesabaran Nabi Nuh yang luar biasa.

Maka semua ujian yang dilalui oleh nabi Nuh ‘alaihissalam sudah mampu menjadikannya sebagai ‘Abdan Shabuura, akan tetapi yang dilakukan nabi Nuh ‘alaihissalam tidak hanya bersabar, melainkan melakukan sesuatu yang derajatnya lebih tinggi yaitu bersyukur. Dalam kondisi sulit dan kepayahan hidup yang beliau rasakan, beliau mampu untuk bersyukur kepada Allah. Sebagian ulama menyebutkan bahwa alasan Allah menyebut nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai ‘Abdan Syakuura adalah karena kebiasaan lisan nabi Nuh ‘alaihissalam selalu basah memuji Allah Subhanahu wa ta’ala dalam segala kondisi([10]).

Oleh karenanya nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bersabar sebagaimana sabarnya nabi Nuh ‘alaihissalam([11]). Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ (49)

Maka bersabarlah (sebagaimana sabarnya Nuh); sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49)

Kisah nabi Nuh ‘alaihissalam Allah jadikan sebagai contoh sifat kesabaran yang luar biasa. Oleh karenanya tatkala Allah menyebutkan tentang orang-orang yang beriman itu pasti diuji, Allah memberikan contoh kisah yang berkaitan dengan hal tersebut. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 1-3)

Maka setelah Allah menyebutkan tentang ujian bagi orang-orang yang beriman, maka kisah yang pertama Allah sebutkan setelah itu sebagai contoh adalah kisah nabi Nuh ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman di surah yang sama,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (14)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut: 14)

Maka dari itu nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senantiasa memuji Allah Subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengatakan,

اَلْحَمْدُ الِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالْ

Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.”

Maka jangan sampai seseorang di antara kita menjadi orang yang Allah sebutkan di dalam Alquran,

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (6)

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (QS. Al-‘Adiyat: 6)

Maksud ingkar adalah seseorang itu suka mengeluh. Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa ingkar maksudnya adalah dia melupakan nikmat yang diberikan kepadanya([12]), dan hanya mengingat musibah yang dia hadapi. Sebagian orang diberikan Allah kesusahan yang lebih sebentar dari kenikmatan yang telah lama dia nikmati, akan tetapi yang dia lebih banyak mengeluhkan kesusahannya yang sebentar dibandingkan dengan mensyukuri kenikmatan yang telah lama dia dapatkan.

Maka nabi Nuh ‘alaihissalam tatkala diuji dengan ujian yang luar biasa beratnya, akan tetapi beliau menghadapi ujian tersebut sampai pada wujud syukur atas apa yang Allah timpakan kepadanya, sampai Allah menyebutnya sebagai ‘Abdan Syakuura (Hamba yang pandai bersyukur).

  1. Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah Rasul yang pertama diutus di muka bumi.

Dalil yang menunjukkan bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam adalah rasul yang pertama yaitu pada hadits masyhur tentang syafaat ketika manusia berkata kepada nabi Nuh ‘alaihissalam,

يَا نُوحُ، أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ

Wahai Nuh, kamulah Rasul pertama kepada penduduk bumi ini.” ([13])

Kemudian sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa rasul yang pertama bukanlah nabi Nuh ‘alaihissalam melainkan nabi Idris ‘alaihissalam. Mereka menyebutkan bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam adalah keturunan nabi Idris ‘alaihissalam. Akan tetapi para ahli nasab tidak memiliki dalil tatkala menyebutkan nasab tersebut.

Pendapat tersebut kemudian dibantah oleh sebagian ahli tafsir, di antaranya adalah Ibnul ‘Arabi, seorang ulama dari mazhab malikiyah. Beliau mengatakan bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam adalah rasul yang pertama dan bukan merupakan keturunan nabi Idris ‘alaihissalam. Bantahan pertama beliau mengatakan bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam adalah rasul yang pertama berdasarkan lafal hadits yang sahih,

يَا نُوحُ، أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ

Wahai Nuh, kamulah Rasul pertama kepada penduduk bumi ini.”

Bantahan kedua, yang membuktikan bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam bukanlah keturunan nabi Idris ‘alaihissalam adalah kisah pertemuan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para nabi ketika peristiwa Isra’ Mikraj. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keturunan dari empat orang nabi yaitu nabi Ismail, nabi Ibrahim, nabi Nuh, dan nabi Adam ‘alaihimassalam. Maka ketika nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan nabi Adam dan nabi Ibrahim ‘alaihissalam pada peristiwa tersebut, mereka berdua berkata kepada nabi Muhammad ﷺ,

مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالِابْنِ الصَّالِحِ

Selamat datang Nabi yang Shaleh dan anak yang Shaleh.” ([14])

Akan tetapi ketika nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan selain dari nabi yang menjadi nasabnya, seperti nabi Isa, nabi Musa, dan nabi Idris ‘alaihimussalam, mereka berkata kepada nabi Muhammad ﷺ,

مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالأَخِ الصَّالِحِ

Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.” ([15])

Maka seandainya nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan keturunan nabi Nuh ‘alaihissalam juga keturunan dari nabi Idris ‘alaihissalam, maka pasti nabi Idris akan mengatakan perkataan yang sama dengan nabi Adam dan nabi Ibrahim ‘alaihimassalam. Akan tetapi nabi Idris ‘alaihissalam tidak berkata demikian melainkan berkata seperti perkataan nabi Musa dan nabi Isa ‘alaihissalam. Maka inilah dalil bahwa nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah keturunan nabi Idris ‘alaihissalam, sehingga menjadikan nabi Nuh ‘alaihissalam juga bukan keturunan nabi Idris ‘alaihissalam. ([16])

Akan tetapi hal ini merupakan khilaf di kalangan para ulama, akan tetapi saya lebih condong kepada pendapat ini, karena nabi Nuh ‘alaihissalam adalah rasul pertama yang di utus di muka bumi.

Inilah beberapa keistimewaan dari nabi Nuh ‘alaihissalam.

Jarak waktu antara nabi Adam ‘alaihissalam dan nabi Nuh ‘alaihissalam terdapat 10 generasi. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu,

كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشَرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ

Sesungguhnya antara nabi Adam dan nabi Nuh terdapat sepuluh generasi, semuanya di atas Islam.” ([17])

Tidak diketahui berapa tahun jarak tersebut, akan tetapi masing-masing generasi memiliki usia yang panjang sebagaimana usia nabi Nuh ‘alaihissalam. Pada seluruh masa tersebut, belum terjadi kesyirikan. Adapun yang telah terjadi pada seluruh masa tersebut adalah kemaksiatan yaitu pembunuhan, sebagaimana kisah tentang anak nabi Adam yang membunuh seorang anak lainnya (saudaranya) yang Allah sebutkan dalam Alquran,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28)

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”. “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam“. (QS. Al-Maidah: 27-28)

Nabi Nuh ‘alaihissalam kemudian diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala setelah nabi Adam ‘alaihissalam sebagai rasul yang pertama, yaitu tatkala terjadi praktik kesyirikan pertama kali di zaman beliau. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23)

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr“. (QS. Nuh: 23)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata tentang asal mula kelima orang yang disebutkan oleh Allah di dalam ayat tersebut, yang kemudian orang tersebut disembah oleh kaumnya nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau mengatakan,

أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ، أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ، فَفَعَلُوا، فَلَمْ تُعْبَدْ، حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ العِلْمُ عُبِدَتْ

Itulah nama-nama orang Salih dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaum mereka untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala-berhala itu belum disembah hingga mereka wafat, sesudah itu, setelah ilmu tiada, maka berhala-berhala itu pun disembah.” ([18])

Oleh karena itu Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa asal dari kesyirikan di muka bumi ini adalah karena sifat ghuluw terhadap orang-orang saleh, sebagaimana kesyirikan yang pertama kali terjadi di alam semesta ini dilakukan oleh kaumnya nabi Nuh ‘alaihissalam, yang disebabkan oleh pengkultusan terhadap orang-orang saleh yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasra. ([19])

Ketahuilah bahwa sebab ghuluw terhadap orang-orang saleh pulalah yang menyebabkan terjadinya kesyirikan-kesyirikan pada kaum-kaum yang lain. Contohnya adalah kesyirikan yang terjadi di zaman nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebabkan karena pengkultusan terhadap orang saleh, di antaranya adalah Latta yang disembah di Thoif oleh kabilah Tsaqif. Latta adalah orang yang membuat adonan makanan, yang kemudian dibagi-bagikan kepada para jamaah haji. Kemudian tatkala dia meninggal dunia, maka dibangun patung di atas kuburannya dan disembah([20]). Contoh lain adalah kesyirikan kaum Nasrani yang terlalu mengkultuskan nabi Isa ‘alaihissalam sehingga menyembahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ

Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nasrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah ‘Abdullah wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya”).” ([21])

Contoh lain adalah orang Yahudi yang mengkultuskan ‘Uzair sampai mereka mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah. Contoh lain dari selain Ahli Kitab, yaitu orang Budha yang mereka mengkultuskan Sidharta Gautama, seorang baik dan bijak yang tidak pernah mengatakan dirinya adalah tuhan, akan tetapi disembah. Semua orang-orang yang disembah adalah orang saleh, dan yang menakjubkan adalah rata-rata mereka disembah setelah mereka telah meninggal dunia. Dan orang-orang saleh tersebut tidak pernah disembah semasa mereka hidup, sebagaimana nabi Isa ‘alaihissalam yang semasa hidupnya tidak pernah disembah. Oleh karenanya Allah berkata kepada nabi Isa ‘alaihissalam dalam firmannya,

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117)

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117)

Maka dari seluruh kejadian-kejadian inilah yang membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tegas terhadap kuburan, sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ

“Ya Allah, Jangan jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”([22])

Doa ini menunjukkan kekhawatiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kesyirikan yang terjadi sepeninggalnya. Maka tidak benar anggapan orang-orang yang menyatakan bahwa kuburan tidak akan mungkin disembah. Padahal penulis melihat sendiri dengan mata kepala penulis, bahwa ada orang yang sujud kepada kuburan Nabi ﷺ, dimana orang tersebut sujud ke arah kuburan Nabi ﷺ, dan bukan ke arah kiblat. Dan penulis juga pernah melihat ada seorang wanita dari Mesir yang sujud kepada kuburan para syuhada yang berlawanan dengan arah kiblat, karena letak kuburan para syuhada berada di sebelah utara kota Madinah, sedangkan kiblat berada di sebelah selatan. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan aturan yang sangat ketat, sepeti tidak boleh ditinggikan, tidak boleh ditulis, tidak boleh diberikan penerangan, tidak boleh Shalat ke arah kuburan. Akan tetapi saat ini banyak masyarakat yang melanggar perintah Rasulullah ﷺ.

Saat ini kita juga sangat perlu untuk tetap serius mengingatkan umat dari bahaya kesyirikan. Di antara alasannya adalah karena kesyirikan merupakan dosa yang paling besar. Alasan yang lain adalah karena banyak orang-orang terjerumus ke dalam kesyirikan, akan tetapi dia tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah dosa. Berbeda dengan maksiat yang lain seperti zina, mencuri, dan meminum khamar, pelakunya mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah perbuatan maksiat. Akan tetapi banyak orang melakukan kesyirikan, akan tetapi di tidak menyadari bahwa itu adalah kesyirikan. Sehingga kita mendapati bahwa betapa banyak orang banyak menggunakan jimat dan mendatangi dukun, akan tetapi mereka menganggap itu adalah sebuah ikhtiar, padahal itu adalah bentuk kesyirikan.

Allah menyebutkan kisah tentang nabi Nuh ‘alaihissalam dalam beberapa surah. Kita akan menyebutkan kisah nabi Nuh ‘alaihissalam dari surah Al-A’raf dan surah Nuh. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (59)

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS. Al-A’raf: 59)

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (60)

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata“. (QS. Al-A’raf: 60)

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (61) أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (62)

Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui“. (QS. Al-A’raf: 61-62)

Lihatlah betapa nabi Nuh ‘alaihissalam menginginkan keselamatan bagi umatnya, dan ini merupakan bentuk rasa cinta nabi Nuh ‘alaihissalam kepada kaumnya. Dan nabi Nuh ‘alaihissalam, ketika dituduh sesat oleh kaumnya, beliau tidak membalasnya dengan jawaban yang kasar pula, akan tetapi beliau menjawab dengan Hujjah. Sedangkan kita tahu bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam senantiasa diolok-olok oleh kaumnya, sampai dikatakan sebagai orang gila. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat yang lain,

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (9)

Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.” (QS. Al-Qamar: 9)

Nasihat yang diberikan oleh nabi Nuh ‘alaihissalam kepada kaumnya adalah bentuk beliau menginginkan kebaikan bagi kaumnya. Karena nabi Nuh ‘alaihissalam merasa sedih melihat kondisi kaumnya, istri dan anaknya yang mengingkari dirinya. Sehingga yang bisa dilakukan oleh nabi Nuh ‘alaihissalam adalah dengan menasihati mereka. sebagaimana di dalam ayat yang lain nabi Nuh ‘alaihissalam juga berkata,

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ (7(

Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka.” (QS. Nuh: 7)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (13)

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS. Nuh : 10-13)

Dalam Surah yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga menerangkan pengutusan nabi Nuh ‘alaihissalam. Allah mengatakan,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (25) أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ (26) فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ (27)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan”. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta“. (QS. Hud: 25-27)

Ibnu Katsir ketika membawakan ayat ini, beliau membantah perkataan kaum nabi Nuh yang menganggap bahwa orang yang mengikuti beliau adalah orang yang bodoh. Beliau mengatakan bahwa justru orang yang mengikuti nabi Nuh ‘alaihissalam adalah orang yang pintar. Karena kebenaran yang dibawakan oleh nabi Nuh adalah sangat benar dan jelas, sebagaimana jelasnya matahari pada siang hari yang terik([23]). Oleh karenanya nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dalam sebagian riwayat dengan mengatakan,

وما عرضتُ الإِسلام على أحد إِلا كانت له كَبْوَة، إِلا أبو بكر، فإنه لم يَتَلَعْثَم في قوله

Dan tidaklah aku menawarkan Islam kepada seseorang kecuali dia akan ragu. Kecuali Abu Bakar, sesungguhnya dia tidak ragu dalam perkataannya.”([24])

Maka dari sini Ibnu Katsir menyebut orang-orang yang beriman kepada nabi Nuh ‘alaihissalam adalah orang-orang yang mulia, bukan sebagaimana perkataan kaum nabi Nuh yang menganggap mereka adalah orang hina lagi miskin.

Maka kaum nabi Nuh ‘alaihissalam menuduh nabi Nuh ‘alaihissalam dengan tuduhan yang tidak benar. Di antara tuduhan terhadap nabi Nuh ‘alaihissalam adalah beliau dituduh sebagai orang gila. Dalam ayat yang lain beliau juga dituduh oleh pembesar kaumnya bahwa beliau mengaku dirinya rasul karena menginginkan dunia. Mereka mengatakan,

مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ (24(

Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu.” (QS. Al-Mu’minun: 24)

Kemudian kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam memberikan syarat kepada nabi Nuh untuk ditunaikan agar kemudian mereka mau beriman kepadanya. Adapun syarat yang mereka minta antara lain adalah Nabi Nuh harus datang bersama malaikat atau menjadi malaikat, kemudian beliau harus menjadi kaya raya, beliau harus mengetahui ilmu gaib, dan beliau harus mengusir orang miskin dari dakwahnya. Ketahuilah bahwa syarat yang mereka ajukan kepada nabi Nuh ‘alaihissalam, hanyalah omong kosong belaka. Karena jika nabi Nuh ‘alaihissalam memenuhi syarat tersebut, mereka tetap tidak akan beriman kepada nabi Nuh ‘alaihissalam sebagaimana kaum-kaum yang lain yang mengingkari nabi-nabi mereka.

Ingatlah ketika kaum nabi Salih ‘alaihissalam yang ketika telah capek didakwahi oleh beliau, akhirnya beliau meminta syarat yang menurut mereka mustahil, yaitu nabi Salih diperintahkan mengeluarkan unta dari batu dengan ciri-ciri telah hamil dan memiliki warna tertentu. Tatkala nabi Salih berdoa kepada Allah dan dikabulkan, ternyata keluar unta dari batu tersebut dengan ciri-ciri yang mereka syaratkan. Ternyata setelah itu pun mereka tetap tidak beriman kepada nabi Salih ‘alaihissalam. Hal yang sama juga dialami oleh nabi Musa ‘alaihissalam dan Firaun, yaitu ketika Firaun menantang nabi Musa untuk duel melawan para penyihirnya. Dan Firaun mengatakan bahwa dia akan beriman ketika nabi Musa ‘alaihissalam bisa mengalahkan para penyihir yang ada di kota Mesir ketika itu. Maka tatkala nabi Musa ‘alaihissalam benar-benar menang dalam pertandingan tersebut, ternyata Firaun tidak juga beriman kepada nabi Musa, kemudian dengan mudahnya Firaun mengatakan,

إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ (71(

Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian.” (QS. Taha: 71)

Maka apa saja yang diberikan kepada mereka, pasti mereka tetap enggan untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya.

Maka syarat yang diberikan kepada nabi Nuh ‘alaihissalam tidak Allah kabulkan karena akan percuma hal tersebut diperlihatkan kepada mereka, karena mereka pasti tetap tidak beriman. Maka nabi Nuh ‘alaihissalaam membantah perkataan dan syarat yang diajukan oleh kaumnya dengan berkata,

وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ (29) وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (30) وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (31)

Dan (Nuh berkata): “Wahai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui. Dan (dia berkata): “Wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib”, dan tidak (pula) aku mengatakan: “Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat”, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka”. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 29-31)

Kemudian setelah kaumnya sudah merasa capek mendengar dakwah nabi Nuh ‘alaihissalaam, akhirnya mereka berkata kepadanya,

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (32)

Mereka berkata “Wahai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar“. (QS. Hud: 32)

Maka nabi Nuh ‘alaihissalam menjawab permintaan mereka dengan berkata,

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ (33) وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (34)

Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu, sekalipun aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan“. (QS. Hud: 33-34)

Ayat ini menunjukkan bahwa nabi Nuh ‘alaihissalam akhirnya mengetahui bahwa dakwahnya tidak akan diterima setelah beliau berdakwah selama 950 tahun. Maka jangan sampai ada di antara kita yang salah memahami perkataan nabi Nuh ‘alaihissalam tersebut. Nabi Nuh ‘alaihissalam tidaklah mengatakan demikian setelah berdakwah satu atau dua hari, akan tetapi setelah beliau berdakwah ratusan tahun. Oleh karena itu hendaknya seorang dai bersabar tatkala dakwahnya belum diterima, karena lamanya waktu yang dia gunakan untuk berdakwah belum sebanding dengan waktu yang digunakan oleh nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah.

Kemudian akhirnya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada nabi Nuh ‘alaihissalam,

وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (36) وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ (37)

Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud: 36-37)

Ayat ini memerintahkan nabi Nuh ‘alaihissalam untuk berhenti mendakwahi kaumnya, karena yang akan beriman kepadanya hanyalah orang-orang yang beriman sebelumnya. Ada khilaf tentang berapa jumlah orang yang beriman kepada nabi Nuh ‘alaihissalam. ada yang mengatakan bahwa jumlahnya adalah tujuh orang, pendapat lain menyebutkan delapan orang, dan sebagian yang lain menyebutkan delapan puluh orang.([25])

Maka berhentilah nabi Nuh ‘alaihissalam mendakwahi kaumnya, dan mulailah beliau bersama pengikutnya melakukan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ (38) فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ (39)

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. ” (QS. Hud: 38-39)

Disebutkan dalam buku-buku tafsir, waktu yang nabi Nuh ‘alaihissalam gunakan untuk membuat bahtera tersebut adalah 100 tahun menanam pohon dan menebangnya kemudian 100 tahun mengerjakannya([26]). Sehingga nabi Nuh ‘alaihissalam diejek oleh kaumnya kurang lebih 100 tahun lamanya. Kemudian di dalam buku-buku tafsir disebutkan bahwa di antara ejekan mereka adalah nabi Nuh ‘alaihissalam telah beralih profesi dari seorang dai menjadi tukang kayu. Yang lain mengejek nabi Nuh bahwa sekarang kapal berlayar di daratan dan bukan lagi di lautan. Akan tetapi nabi Nuh ‘alaihissalam tetap bersabar menghadapi mereka.

Sampai kemudian kaumnya nabi Nuh ‘alaihissalam terus mengejeknya sampai mengatakan bahwa beliau adalah orang gila. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (9)

Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).” (QS. Al-Qamar: 9)

Maka setelah itu nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan mengatakan,

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (10)

Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya: “sesungguhnya aku telah dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)“. (QS. Al-Qamar: 10)

Maka Allah pun memberikan keputusan-Nya kepada nabi Nuh ‘alaihissalam dan kaumnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (11) وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (12)

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11-12)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak hanya menjadikan mata air-mata air kembali mengalirkan air, akan tetapi Allah menjadikan seluruh bumi menjadi mata air, sampai tungku yang seharusnya mengeluarkan api jadi mengeluarkan air. Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ (40)

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)

Ketahuilah wahai saudaraku, ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa tolak ukur kebenaran bukanlah dengan jumlah. Bukan berarti banyaknya orang yang hadir dalam kajian seorang dai menjadi tolak ukur bahwa dai tersebut dalam kebenaran. Begitu pun sebaliknya, jumlah sedikit pun bukan menjadi tolak ukur kebenaran. Tolak ukur kebenaran hanyalah Al-Quran dan Sunnah. Maka penulis memberikan pesan kepada sahabat dari kalangan para dai, bahwa jika yang hadir dalam pengajian antum tidak banyak, bukan berarti antum salah. Tetaplah berdakwah di jalan Allah baik orang yang ikut bersama antum banyak atau sedikit. Dan jangan sampai dakwah antum hanya untuk mencari pengikut, apalagi sampai mengajak orang-orang kepada diri antum sedangkan kepada ustaz lain tidak boleh. Karena betapa banyak orang yang tanpa menyadari dia berdakwah untuk dirinya dengan cara yang bermacam-macam, sedangkan dia mengira berdakwah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka ingatlah bahwa kebenaran bisa saja bersama dengan orang yang banyak, dan bisa saja bersama dengan orang yang sedikit, yang penting tolak ukurnya adalah Alquran dan sunnah nabi ﷺ.

Maka setelah Allah berfirman kepada nabi Nuh ‘alaihissalam, beliau kemudian berkata,

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (41)

Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud: 41)

Tatkala azab turun tatkala itu berupa air yang turun tidak henti-hentinya, nabi Nuh ‘alaihissalam tidak mengatakan bahwa azab Allah sangatlah pedih, melainkan beliau berkata dengan menyebutkan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala, akan tetapi kaumnya tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42)

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir“. (QS. Hud: 42)

Di dalam ayat ini memperlihatkan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala dengan hadirnya gelombang setinggi gunung. Sedangkan kapal nabi Nuh ‘alaihissalam sangat sederhana lagi kecil yang hanya terbuat dari kayu sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ (13)

Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al-Qamar: 13)

Kemudian dengan kapal yang sederhana tersebut, dan dengan gelombang yang amat besar, tidak membuat kapal nabi Nuh ‘alaihissalam tenggelam. Hal ini dikarenakan nabi Nuh ‘alaihissalam melabuhkan kapalnya dengan menyebut nama Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana dalam ayat yang sebelumnya kita telah sebutkan.

Di dalam ayat ini juga menggambarkan bahwa tatkala kapal nabi Nuh ‘alaihissalam telah berlabuh di atas ombak yang sebesar gunung, beliau melihat anaknya Yam atau yang Ahli Kitab menyebutnya sebagai Kan’an berada di tempat yang terpisah dari orang-orang kafir. Maka nabi Nuh dengan sifat sayang dan lembutnya kepada anaknya, beliau memanggilnya meskipun selama 950 tahun anaknya tersebut tidak mau mendengarkan perkataannya. Bahkan nabi Nuh ‘alaihissalam tidak memerintah-kan agar anaknya beriman terlebih dahulu, akan tetapi beliau menginginkan keselamatan anaknya terlebih dahulu, karena dari perkataan nabi Nuh ‘alaihissalam menunjukkan bahwa seakan-akan anaknya tersebut belum menjadi bagian dari orang-orang kafir. Inilah sifat kelembutan nabi Nuh ‘alaihissalam kepada anaknya yang senantiasa bersikap keras kepala dan membangkang dari perintahnya.

Maka kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang perkataan anak nabi Nuh ‘alaihissalam yang tidak ikut bersamanya yaitu Kan’an,

قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43)

Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 443)

Maka bersedihlah nabi Nuh ‘alaihissalam dengan kesedihan yang luar bisa tatkala melihat anak yang dia sayangi meninggal di depan matanya. Nabi Nuh juga bersedih bahwa anaknya mati dalam kondisi kafir dan tempat kembalinya adalah neraka jahanam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا (25(

Karena disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan (di dunia) lalu dimasukkan ke neraka (di akhirat).” (QS. Nuh: 25)

Maka setelah banjir menimpa kaumnya nabi Nuh ‘alaihissalam, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقِيلَ يَاأَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ ويا سماء أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (44)

Dan difirmankan: “Wahai bumi! telanlah airmu, dan wahai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. (QS. Hud: 44)

Wallahu a’lam bisshawab, tidak ada yang mengetahui mengenai dimana letak bukit Judi tersebut. Ada pendapat yang mengatakan di Tanah Jazirah Arab, dan sebagian yang lain mengatakan di Al-Maushil (di Iraq) ([27]). Akan tetapi tidak ada dalil yang jelas menyebutkan dimana letak bukit tersebut.

Nabi Nuh ‘alaihissalam kemudian masih bersedih dengan nasib anaknya. Maka beliau pun mempertanyakan kepada Allah tentang kabar anaknya dengan janji keselamatan kepada keluarganya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ (45)

Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau pasti benar. Engkau adalah Hakim yang paling adil“. (QS. Hud: 45)

Nabi Nuh ‘alaihissalam seakan-akan meminta keselamatan untuk anaknya kelak di akhirat, karena beliau mengingat janji Allah yang akan memberikan keselamatan kepada keluarganya. Padahal dalam ayat yang menyebutkan janji tersebut Allah telah menyebutkan bahwa Allah akan menyelamatkan keluarganya, kecuali yang memang telah ditakdirkan untuk tenggelam bersama orang-orang kafir lainnya.

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menegur nabi Nuh ‘alaihissalam dengan berfirman,

قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46)

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya dia melakukan perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan“. (QS. Hud; 46)

Nabi Nuh ‘alaihissalam akhirnya menyadari kesalahannya dan berkata,

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47)

Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi“. (QS. Hud: 47)

Maka nabi Nuh ‘alaihissalam meminta ampun kepada Allah, dan Allah memberikan ampunan kepadanya.

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman,

قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (48)

Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami“. (QS. Hud: 48)

Setelah Allah menceritakan kisah yang panjang dari kisah nabi Nuh ‘alaihissalam, Allah kemudian berfirman kepada nabi Muhammad ﷺ,

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ (49)

“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49)

Ayat ini merupakan inti dari kisah nabi Nuh ‘alaihissalam, yaitu Allah hendak mengajarkan kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kesabaran.

Demikianlah kajian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini.

_____________________________

([1])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 13/332

([2])  Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ هَذَا الْعَبْدَ الصَّالِحَ تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ، وَفُتِّحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ»

“ini adalah hamba yang saleh yang Arsy bergetar untuknya, dan dibukakan baginya pintu-pintu langit.” HR. An-Nasai no. 8167. Dan Al-Albani mengatakan dalam Misykaatul Mashoobih no. 136 bahwa hadits ini shohih.

([3]) Lihat: Al-Bahrul Muhit 7/556

([4]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/326

([5]) Lihat: Tafsir At-Thobari 21/59

([6])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 9/38

([7])  Lihat: Tafsir Al-Baydhowy 3/135

([8])  Tafsir Al-Qurthubi 15/89

([9]) Sahih Bukhari 4/135 no. 3340

([10]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 17/354

([11])  Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/356

([12])  Lihat: Tafsir Ath-Thobari 24/566

([13]) Sahih Bukhari 4/135 no. 3340

([14]) Sahih Bukhari 1/79 no. 349

([15]) Sahih Bukhari 1/79 no. 349

([16]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 7/232

([17]) HR. Ibnu Hibban dalam shohihnya no. 6190. Dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini shohih.

([18]) Sahih Bukhari 6/160 no. 4920

([19]) Lihat: Fathul Baari 8/669

([20]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 22/523

([21]) Sahih Bukhari 4/167 no. 3445

([22]) Kitab Muwattha’ Imam Malik 2/214 no. 593

([23]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 4/316

([24]) HR. Tirmidzi no. 3661 dan dia mengatakan hadits ini hasan ghorib, dan Al-Albani juga mengatakan hadits ini shohih. (lihat: Jam’ul Fawaaid Min Jaami’il Ushuul wa Majma’iz Zawaaid no. 8603 3/492)

([25]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/325-326

([26]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 9/31

([27]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/338