Doa agar hutang lunas

Doa agar hutang lunas

Pertama

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Allaahummakfinii bihalaalika ‘an haroomika, wa aghninii bifadhlika ‘amman siwaak.”

“Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Jadikanlah aku kaya dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu.”([1])

Kedua

اَللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ، وَتَنْزِعُ الْمُلكَ مِمَّنْ تَشَاءُ، وُتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ، وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الخَيْرُ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَحْمَانَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَرَحِيْمَهُمَا، تُعْطِيهِمَا مَنْ تَشَاءُ وَتَمْنَعُ مِنْهُمَا مَنْ تَشَاءُ، اِرْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ

“Allaahumma maalikal mulki tu’til mulka man tasyaa’, wa tanzi’ul mulka mimman tasyaa’, wa tu’izzu man tasyaa’, wa tudzillu man tasyaa’, biyadikal khoir, innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir, rohmaanad-dunyaa wal aakhiroti wa rohiimahumaa, tu’thiihimaa man tasyaa’ wa tamna’u minhumaa man tasyaa’, irhamnii rohmatan tughniinii bihaa ‘an rohmati man siwaak.”

“Ya Allah, Pemilik Seluruh Kekuasaan. Engkau beri kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan, dan Engkau Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu. Wahai Maha Pengasih di Dunia dan Akhirat dan Penyayang di keduanya, Engkau memberikan keduanya (dunia dan akhirat) kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, dan menahan keduanya dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Rahmatilah aku dengan rahmat-Mu yang menjadikanku tak lagi memerlukan belas kasih selain-Mu.”([2])

Ketiga

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ اْلَأرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَالِإنْجِيْلَ وَاْلفُرْقَانَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلَأوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Allaahumma rabbas samaawaati wa rabbal ardhi wa rabbal ‘arsyil ‘adziim, rabbanaa wa rabba kulli syai’, faaliqul habbi wan nawaa, wa munzilat tauraata wal injiili wal furqaan, a’uudzubika min syarri kulli syai’in anta aakhidzun bi naashiyatih, Allaahumma antal awwalu falaisa qablaka syai’, wa antal aakhiru falaisa ba’daka syai’, wa antadz dzaahiru falaisa fauqaka syai’, wa antal baathinu falaisa duunaka syai’, iqdhi ‘annad daina wa aghninaa minal faqr

“Ya Allah, Rabb langit dan bumi, Rabb Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian, dan Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al Furqan (Al Quran). Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pertama dan tidak ada satu pun sebelum-Mu, Engkaulah Yang Maha Terakhir tidak ada satu pun setelah-Mu, Engkau Ad-Dzahir dan tidak ada satu pun yang diatas-Mu dan Engkau adalah Al-Bathin dan tidak ada satu pun yang lebih (dekat) ilmunya dari pada Engkau([3]), bayarkanlah utang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran”([4]).

__________________

([1]) H.R. Tirmidzi no. 3563, Ahmad no. 1319 dan dihasankan oleh Al-Albani

([2]) H.R. Thabrani, Al-Mu’jam Ash-Shaghir no.558 dan dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no.1821

([3]) Ad-Dzahir yaitu Engkau Maha tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari-Mu dan maksud dari Al-Bathin yaitu Engkau Maha ( dekat ) mengetahui hal-hal yang tersembunyi dari para hamba-Mu (lihat Tafsir At-Thobary 23/168)

([4]) HR. Muslim no. 2713.