Doa Meminta Taqdir yang Terbaik

Doa Meminta Taqdir yang Terbaik

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبِ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِيْ مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْراً لِيْ، وَتَوَفَّنِيْ إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْراً لِيْ، اَللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَأَسْأَلُكَ نَعِيْماً لَا يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأًلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةَ مُضِلَّةً، اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الْإِيْمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

Allaahumma bi’ilmikal ghaibi wa qudratika ‘alal khalqi ahyinii maa ‘alimtal hayaata khairan lii, wa tawaffanii idzaa ‘alimtal wafaata khairan lii, Allaahumma wa as’aluka khasyyataka fil ghaibi wasy syahaadah, wa as’aluka kalimatal haqqi fir ridhaa wal ghadhab, wa as’alukal qashda fil faqri wal ghinaa, wa as’aluka na’iiman laa yanfadz, wa as’aluka qurrata ‘ainin laa tanqathi’, wa as’alukar ridhaa ba’dal qadhaa’, wa as’aluka bardal ‘aisyi ba’dal maut, wa as’aluka ladzdzatan nadzori ilaa wajhik, wasy syauqa ilaa liqaa’ik, fii ghairi dharaa’an mudharrah, wa laa fitnata mudhillah, Allaahumma zayyinnaa bi ziinatil iimaan, waj’alnaa hudaatan muhtadiin

“Ya Allah dengan ilmu-Mu yang gaib dan Kuasa-Mu ada semua makhluk hidupkanlah aku selama yang engkau ketahui bahwa kehidupan lebih baik bagiku dan Matikanlah aku jika kematian Lebih Baik bagiku Ya Allah aku memohon kepada-Mu rasa takut kepadamu baik dalam keadaan tidak terlihat orang maupun terang-terangan di hadapan orang banyak aku mohon kepadamu ucapan yang benar dan keadilan baik di saat marah ataupun Ridho([1]) aku memohon kepada-Mu sikap pertengahan baik di saat miskin maupun kaya aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak akan musnah aku memohon kepada-Mu ketenangan yang tidak akan habis dan tidak akan terputus aku memohon kepada-Mu Sikap Ridho setelah turunnya ketetapanmu aku memohon kepada-Mu kehidupan yang baik setelah kematian aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajahmu dan aku memohon kepada-Mu Kerinduan bertemu denganmu tidak dalam keadaan sulit yang memudharatkan dan tidak pula dalam keadaan fitnah ujian yang menyesatkan Ya Allah  Hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah Kami para Pemberi Petunjuk yang mendapatkan petunjuk”([2]).

_________________________________

([1]) Maksudnya “Aku meminta kepadamu untuk selalu mengucapkan perkataan yang benar dalam kondisi manusia ridha atau marah dengannya sehingga aku tidak berbuat kemunafikan atau dalam kondisi aku marah dan ridho jadikanlah ucapanku selalu benar sehingga kemarahan tidak mempengaruhiku untuk tidak berbicara melainkan yang benar saja (lihat Faidh Al-Qodir 2/146)

([2]) HR. An-Nasa’I dan dinilai Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih An-Nasa’I 1/280. Dalam lafadz “Pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk” disifati demikian karena seorang pemberi petunjuk atau dai jika dirinya sendiri belum mendapatkan petunjuk maka tidak layak baginya untuk memberikan petunjuk kepada orang lain karena dia justru akan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan tanpa ia sadari (lihat Faidh Al-Qodir 2/146)