Doa Ketika Terjaga Dimalam Hari

Doa Ketika Terjaga Dimalam Hari

Pertama  

Doa ketika terjaga di malam hari dan membalikan tubuh, lalu melanjutkan tidur

لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ

Laa ilaaha illallaahul waahidul qohhaar, robbus-samaawaati wal ardhi wa maa bainahumal ‘aziizul ghoffaar.

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa, Tuhan yang menguasai langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” ([1])

Kedua

لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir, alhamdulillaah, wa subhaanallaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya([2]). Bagi-Nya kerajaan([3]) dan pujian([4]). Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala Puji bagi Allah, Maha Suci Allah([5]), tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah([6]).

kemudian dia mengucapkan:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Allaahummaghfir lii.

Ya Allah, ampunilah dosaku.

Atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya.” ([7])

______________________

Footnote:

([1]) HR. An-Nasaai di As-Sunan al-Kubro no 7641, ámal al-yaum wa al-Lailah no 864,  Hakim dalam Mustadroknya no. 1980, Ibnu Hibbaan no 5530 dan dishahihkan oleh Al-Albani (lihat as-Shahihah no 2066), dari Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ánhaa.

Hadits ini di dalam Shahih Ibnu Hibbaan dibawakan dibawah judul :

ذِكْرُ مَا يُهَلِّلُ الْمَرْءُ بِهِ رَبَّهُ جَلَّ وَعَلَا إِذَا تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ

“Penyebutan tentang apa yang hendaknya dibaca oleh seseorang untuk berdzikir kepada Rabbnya jika ia terjaga di malam hari”

Dan diawal hadits Aisyah berkata :’

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَضَوَّرَ مِنَ اللَّيْلِ

“Adalah Rasulullah shallallahu álaihi wasallam jika berbalik tubuh/ menggeliat di malam hari…”

Makna dari تَضَوَّرَ adalah تَقَلَّبَ وَتَلَوَّى “membolak-balikan badan” (lihat: At-Tanwir Syarhu Al-Jmi’ Ash-Shoghir 8/356)

Dalam doa ini disebutkan akan keesaan Allah subhanahu wa ta’ala dan kekuasaan-Nya, dan ini untuk menunjukkan bahwa walaupun Allah subhanahu wa ta’ala hanya satu namun Dia adalah yang menguasai seluruh yang ada di langit dan di Bumi, dan bukan lah kesendiriannya seperti sendirinya seorang hamba. Dan juga dalam doa ini terdapat penggabungan antara sifat perkasa dan sifat pengampun, yang dengan keperkasaan-Nya maka Allah subhanahu wa ta’ala maha mampu untuk mengazab orang yang berbuat buruk, namun dengan keperkasaan-Nya Allah subhanahu wa ta’ala tetap maha pengampun. (lihat: At-Tanwir Syarhu Al-Jmi’ Ash-Shoghir 8/356)

([2]) Yaitu penetapan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah. (lihat: Manaarul Qoory Syarhu Mukhtashor Shohih Al-Bukhory 2/339)

([3]) Yaitu penetapan bahwasanya hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang memiliki kerajaan yang kekal, adapun kerajaan yang ada di muka bumi semuanya akan binasa. (lihat: Manaarul Qoory Syarhu Mukhtashor Shohih Al-Bukhory 2/339)

([4]) Yaitu hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala segala pujian yang sempurna dan rasa syukur yang hakiki, ini dikarenakan hanya milik-Nya kesempurnaan dan nikmat yang hakiki dan semua kenikmatan berasal dari-Nya. (lihat: Manaarul Qoory Syarhu Mukhtashor Shohih Al-Bukhory 2/339)

([5]) Yaitu pensucian Allah subhanahu wa ta’ala secara sempurna, karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang disifati dengan sifat-sifat yang agung dan indah yang disucikan dari penyerupaan makhluk, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.“ QS. Fathir: 11

([6]) Maksudnya tidak ada kemampuan padaku untuk menghindari kemaksiatan, dan tidak ada kemampuan pada diriku untuk melakukan ketaatan kecuali dengan lindungan-Nya dan taufiq-Nya. (lihat: Manaarul Qoory Syarhu Mukhtashor Shohih Al-Bukhory 2/340)

([7]) HR. Bukhori no. 1154