Membaca Hauqolah (Laa Haulaa wa Laa Quwwata illaa billaahi)

Laa Haulaa wa Laa Quwwata illaa billaahi

Makna Hauqolah

Hauqolah maksudnya ucapan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ, adalah ucapan yang menunjukan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, pengakuan bahwa hamba tidak memliki kemampuan apapun dalam menolak keburukan atau mendapatkan kebaikan kecuali dengan kehendak Allah.

لَا حَوْلَ artinya “tidak ada perubahan kondisi”, maksudnya adalah tidak bisa kondisi seorang hamba berubah dari bermaksiat menuju kepada ketaatan kecuali dengan kekuatan dari Allah. Tidak bisa berubah dari sakit menjadi sehat, dari lemah menjadi kuat, dari kurang menjadi sempurna kecuali dengan kehendak Allah.

وَلَا قُوَّةَ artinya “dan tidak ada kekuatan”, maksudnya seorang hamba tidak ada kemampuan untuk menjalankan urusannya atau mencapai tujuannya kecuali dengan Allah yang maha agung. Maka apa yang Allah kehendaki itulah yang terjadi, dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi. Semua urusan di tangan Allah, Dia yang mengatur, yang memutuskan apa yang Ia kehendaki, tidak ada yang menolak hukum dan keputusan-Nya, dan tidak ada yang bisa protes. Apa yang Allah kehendaki maka Allah jadikan di waktu yang Allah kehendaki, dengan model yang Allahu kehendaki dan tidak meleset sama sekali. Maka kerajaan hanyalah milikNya([1]).

Keutamaan

  1. Hauqolah adalah sebuah kalimat yang termasuk dari perbendaharaan surga. ([2])
  2. Hauqolah adalah salah satu pintu dari pintu-pintu surg ([3])
  3. Hauqolah termasuk salah satu obat dari 99 penyakit. ([4])
  4. Hauqolah merupakan kebun di surga. ([5])
  5. Sebab diampuni dosa
  6. Sebab dikabulkannya doa
  7. Sebab diterima ibadah sholatnya ([6])

Waktu membacanya

Waktu mengucapkannya:  Bisa diucapkan kapan saja berdasarkan banyak hadits diantaranya sabda Nabi shallallahu álaihi wasallam

أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Perbanyaklah mengucapkan “Laa haulaa walaa quwwata illaa billaah” karena ia termasuk perbendaharaan kekayaan surga” ([7]), akan tetapi ada waktu-waktu tertentu yang ditekankan untuk membacanya, diantaranya :

  1. Ketika menjawab ucapan muazin “حَيَّ عَلَى الصَّلَاة” dan “حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ” ([8])
  2. Ketika keluar rumah ([9])
  3. Ketika melihat sesuatu yang mengagumkan ([10])
  4. Ketika berdzikir setelah shalat ([11])
  5. Ketika terbangun dari tidur ([12])

Bacaan Hauqolah

Pertama:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

“laa haul awa laa quwwata illaa billaah”

Kedua:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“laa haul awa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim” ([13])

_______________________________________________________

Footnote:

([1]) Lihat Fiqh al-Ad’iyah wal Adzkaar, Abdurrozaq al-Badr 1/302

([2]) Ini berdasarkan Abu Musa Al-Asy’ary

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ – أَوْ قَالَ: عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ -؟ ” فَقُلْتُ: بَلَى، فَقَالَ: «لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: maukah engkau aku tunjukkan terhadap sebuah kalimat yang termasuk perbendaharaan surga – atau dia berkata: terhadap suatu perbendaharaan dari perbendaharaan surga?- lalu aku menjawab: tentu: lalu beliau bersabda: laa haula wa laa quwwata illaa billaah (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan AIIah).” HR. Muslim no. 2704

([3]) Dari Qois bin Sa’ad bin ‘Ubadah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَقَالَ: ” أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ؟ ” قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: ” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ ”

“maukah engkau aku tunjukkan kepada salah satu pintu dari pintu-pintu surga? Aku menjawab: tentu, lalu beliau bersabda: laa hawla wa laa quwwata ilaa billaah.” HR. Ahmad no. 15480 dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hidats ini hasan lighoirih

([4]) Berdasarkan Hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، كَانَ دَوَاءً مِنْ تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ دَاءً أَيْسَرُهَا الْهَمُّ

“barang siapa yang mengucapkan “laa hawla wa laa quwwata ilaa billaah” maka ini adalah obat dari sembilan puluh sembilan penyakit dan yang paling mudah adalah rasa bimbang.” HR. Hakim dalam mustadroknya no. 1990 dan dia mengatakan hadits ini shohih dan belum diriwayatkan oleh Bulhori dan Muslim

([5]) Berdasarkan hadits Abu Ayyub, menceritakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau di isra’kan lalu bertemu dengan nabi Ibrahim ‘alihais salam, lalu beliau berkata epada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا مُحَمَّدُ مُرْ أُمَّتَكَ أَنْ يُكْثِرُوا غِرَاسَ الْجَنَّةِ، فَإِنَّ تُرْبَتَهَا طَيِّبَةٌ، وَأَرْضُهَا وَاسِعَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِإِبْرَاهِيمَ: «وَمَا غِرَاسُ الْجَنَّةِ؟ »، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

“wahai Muhammad perintahkanlah umatmu untuk memperbanyak kebun di surga, sesungguhnya tanahnya bagus, dan buminya luas. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Ibrahim: apa itu kebun surga? Beliau menjawab: laa hawla wa laa quwwata ilaa billaah.” HR. Ibnu Hibban dalam shohihnya no. 821, dan dikatakan oleh Al-Albani hadits ini shohih lighoirih, dan dikatakan oleh Abu Ubaidah/Ibnu Hasan Ali Salman dalam mentahqiq hadits ini beliau berkata: hadits ini sanadnya lemah, namun dia hasan lighoirih karena ada syahid-syahidnya (lihat: Al-Mujalasah wa Jawahirul ‘ilmi no. 36)

([6]) HR. Bukhori no. 1154

([7]) HR. Ahmad no 8406 dan dishahihkan oleh Al-Albani dan para pentahqiq al-Musnad

([8]) Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam musnadnya no. 16831

([9]) HR. Abu Dawud no. 5095 dishohihkan oleh Al-Albani

([10]) Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

([11]) HR. Muslim no. 594

([12]) HR. Bukhori no. 1154

([13]) HR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam Ash-Shoghir no. 758, dan dikatakan oleh Abu Bakar bin Sulaiman Al-Haitsamy semua perowinya adalah perowi dari kitab shohih, kecuali Sallam Abul Mundzir dan dia tsiqoh