Doa I’tidal

Doa I’tidal

Pertama

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد

Rabbanaa lakal hamdu (Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji). ([1])

Kedua

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد

Rabbanaa wa lakal hamdu (Wahai Rabb kami, dan bagi-Mu segala puji). ([2])

Ketiga

اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد

Allahumma rabbanaa lakal hamdu (Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji). ([3])

Keempat

اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد

Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu (Ya Allah Rabb kami, dan bagi-Mu segala puji). ([4])

Kelima

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْد

Rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du.

(Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya). ([5])

Keenam

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَد

Rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

(Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya, dan tidak bermanfaat bagi-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan). ([6])

Ketujuh

اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ، وَمِلْءَ الْأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْد

Allahumma rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du.

(Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya). ([7])

Kedelapan

اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Allahumma rabbanaaa wa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa maa bainahumaa wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-i wal majdi ahaqqu maa qoolal ‘abdu wa kullunaa ‘abdun, allahumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

(Ya Allah Rabb kami,dan bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh yang ada diantara langit dan bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya. Engkau adalah Dzat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan. (Ucapan ini) yang paling pantas diucapkan seorang hamba. Dan semua kami adalah hamba-Mu semata. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan). ([8])

Kesembilan

اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ، وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Allahumma rabbanaaa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa maa bainahumaa wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-I wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

(Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh yang ada diantara langit dan bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya. Engkau adalah Dzat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan. tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan). ([9])

Kesepuluh

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ: اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Rabbanaaa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-I wal majdi ahaqqu maa qoolal ‘abdu wa kullunaa laka ‘abdun, allahumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu

(Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya. Engkau adalah Dzat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan. (Ucapan ini) yang paling pantas diucapkan seorang hamba. Dan semua kami adalah hamba-Mu semata. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan). ([10])

Kesebelas

لِرَبِّيَ الْحَمْدُ لِرَبِّيَ الْحَمْدُ

Li rabbiyal hamdu… Li rabbiyal hamdu. (Pujian hanya untuk Rabbku, pujian hanya untuk Rabbku). ([11])

Kedua belas

رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa.

(Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi di dalamnya). ([12])

Ketiga belas

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ جَزِيلًا

Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi  jaziilan

(Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi, yang banyak di dalamnya). ([13])

Keempat belas

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ؛ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ مُبَاركَاً عَلَيْهِ؛ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

Rabbanaa lakal hamdu hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi, mubaarokan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhoo.

(Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi di dalamnya, yang diberkahi atasnya sebagaimana yang dicintai dan diridhoi oleh Rabb kami). ([14])

______________________

Footnote:

([1]) HR. Bukhari No. 722, 733, 789 dan Muslim No. 477

Penjelasan:

Kita dapati kebanyakan doa yang ada dalam iktidal semuanya mengandung pujian-pujian untuk Allah, lalu apa hubungan kalimat pujian dengan posisi seorang hamba ketika berdiri iktidal?

Ketika bangkit dari ruku’ hamba disyariatkan untuk memuji Rabb-nya serta menyanjung-Nya atas nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya, yaitu ketika ia berdiri iktidal dan kembali pada posisi terbaik dengan badan tegak dan lurus. Pada posisi ini ia memuji dan menyanjung Rabb-nya yang telah memberikan taufik kepadanya sehingga ia dapat memberikan ketundukan yang haram ia berikan kepada selain-Nya.” (Lihat Rahasia-Rahasia Shalat hal 66, terjemah dari kitab Asrorus Sholah, karyar Dr. Malik Sya’ban)

([2]) HR. Bukhari No. 732, 734 dan Muslim No. 392, 411

([3]) HR. Bukhari No. 796, Sunan Ad-Darimi 2/857 No. 1398, Ahmad dalam musnadnya 15/234 No. 9401

([4]) HR. Bukhori No. 796 Muslim No. 409

([5]) Ibnu Abi Ashim dalam kitab al-ahad wal matsany 4/46 No. 1993

([6]) Al-Firyabi dalam kitabnya Al-Qodar 1/145

([7]) HR. Ibnu Majah No. 878, Abu Dawud No. 846, Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro No. 657

([8]) Al-Jami’u As-Shohih Lis Sunani Wal Masaanid 25/265

Kandungannya:

Doa ini memiliki kandungan makna yang sangat agung, karena pujiannya memenuhi langit dan bumi bahkan melebihi keduanya hingga tiada batas, sebagaimana pada lafaz yang artinya “serta sepenuh apa yang Engkau inginkan”. Karena apa yang menjadi keinginan Allah tidak ada satu makhluk pun yang tahu. Ini juga menjadi bukti kesempurnaan Allah yang tiada satu pun bisa menandingi-Nya dan juga menjadi bukti lemahnya seorang hamba. Atas dasar kesempurnaan yang Allah miliki dari segala sisi yang tiada cacat sedikit pun dan juga atas segala karunia kenikmatan-kenikmatan yang sangat banyak yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya, maka sudah selayaknya bagi seorang hamba untuk memuji Penciptanya dan hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak mendapat pujian tersebut.

Pada lafaz yang artinya “tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan” menunjukkan penetapan bahwa semua perbuatan hamba adalah ciptaan Allah. Karena ketika kita mengucapkan “tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan” dan “tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan“ menunjukkan penafian secara umum, tidak ada yang bisa memberikan juga tidak ada yang bisa menahan pemberian kecuali Allah. Karena tidak ada yang bisa menahan atau melarang pemberian secara hakikat kecuali Allah.

Maka dari sini jelas bahwasanya memberikan dan juga menahan adalah sesuatu yang diciptakan Allah yang kemudian dilakukan oleh hamba. (Syarh Shohih Al-Bukhori oleh Ibnu Batthol 10/321)

Kemudian pada lafaz “Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan”, al-jaddu artinya adalah bagian. Jadi, maksudnya bagian seseorang di dunia tidak akan bermanfaat di sisi Allah pada hari kiamat. At-Thobari juga berkata: Bagian seseorang di dunia berupa harta dan anak tidak akan bermanfaat di akhirat kelak, karena yang bermanfaat di sisi Allah di akhirat hanyalah amal, hal ini sesuai dengan firman Allah:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. QS. Asy Syu’aro’: 88-89 (Syarh Shohih Al-Bukhori oleh Ibnu Batthol 2/495 dan 10/321)

Ibnul Qayyim menjelaskan: “Hati yang bersih adalah hati yang selamat dari berbuat syirik kepada selain Allah dalam bentuk apa pun, karena ibadah hanya untuk Allah semata, yaitu al-irodah (keinginan), cinta, tawakkal, al-inabah (kembali), tunduk, takut dan rasa harap hanya ditujukan pada Allah semata.” (Ighotsatul Lahfaan 1/7)

([9]) HR. Muslim No. 478. Perbedaanya di sini tidak ada kalimat “ahaqqu maa qoolal ‘abdu wa kullunaa ‘abdun”.

([10]) HR. Muslim No. 477. Di sini tidak ada lafaz “wa maa bainahumaa”.

([11]) HR. Ahmad dalam musnadnya 38/392 No. 23375, dan Nasa’i No. 735.

Keterangan:

Ini adalah pengkhususan pujian hanya untuk Allah, karena ketika Khobar dikedepankan dan Mubtada diakhirkan, ini berfungsi pembatasan, yaitu membatasi pujian hanya untuk Allah semata bukan yang lain.

([12]) HR. Bukhori No. 799, Abu Dawud No. 770, An-Nasa’i No. 653, Ibnu Hibban dalam shahihnya no 1910, At-Thobroni dalam al-mu’jam al-kabir No. 4531.

Keterangan:

Doa ini kandungannya sama seperti yang dijelaskan dalam kandungan doa sebelumnya, akan tetapi dalam doa ini ada sebuah keutamaan bagi orang yang mengucapkannya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Rifa’ah bin Rofi’ Radhiallahu’anhu, ketika Rasulullah bangkit dari ruku ada seorang lelaki yang membaca doa tersebut, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا

Aku melihat tiga puluh sekian malaikat bersegera menuju kepadanya.” (Syarhu Shohihil Bukhori Libni Batthol 2/419)

([13]) HR. Hakim dalam Al-Mustadrok ‘Ala As-Shohihain 1/348 No. 819.

([14]) Al Albani Dalam Kitab Sifat Sholat Nabi hlm. 138.