Masjid Al-Jum’at

Masjid Al-Jum’at 

Gambar Masjid Al Jumat

Masjid Jum’at terletak di barat daya Madinah, di Wadi Ranuunaa’, dengan jarak 900 meter utara Masjid Quba’ dan 6 kilometer dari Masjid Nabawi.

Ketika Nabi berhijrah ke Madinah, Nabi tinggal di daerah Quba’ untuk membangun masjid Quba’, setelah itu Nabi berjalan menuju pusat Kota Madinah, ditengah perjalanan Nabi mendapati waktu sholat jumát. Ibnu Ishaq berkata :

فَأَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بقُباءٍ، فِي بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، … وَأَسَّسَ مَسْجِدَهُ ثُمَّ أَخْرَجَهُ اللَّهُ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ…أَدْرَكَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةُ فِي بَنِي سَالِمِ بْنِ عَوْفٍ، فَصَلَّاهَا فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي فِي بَطْنِ الْوَادِي، وَادِي رَانُونَاءَ، فَكَانَتْ أَوَّلَ جُمُعَةٍ صَلَّاهَا بِالْمَدِينَةِ

“Maka Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tinggal di Quba, di kampung Bani Ámr bin Áuf…dan beliau membangun masjid beliau (Masjid Quba’), lalu beliau -dengan izin Allah- meninggalkan mereka pada hari jumát…(menuju Kota Madinah)…di tengah jalan beliau mendapati waktu sholat jumát di kampung Bani Saalim bin Áuf, maka beliau pun sholat di tempat sholat yang berada di perut lembah, yaitu lembah Raanuunaa’, maka itu adalah jumát pertama yang Nabi sholat di kota Madinah([1])” (Siroh Ibn Hisyaam 1/494([2]))

Masjid ini memiliki beberapa nama, diantaranya: Masjid Bani Saalim, karena terletak di perkampungan Bani Salim; masjid Wadi, karena terletak di Wadi Ranuna’; Masjid ‘Aatikah([3]) ; Masjid al-Ghubaib([4])

Dzohir dari sejarah bahwasanya ketika awal kali Nabi dan para shahabat sholat jumát di lembah Raanuunaa’ di kampung Bani Saalim, ketika itu belum ada Masjid. Karena masjid yang ada ketika itu satu-satunya adalah masjid Quba’. Karenanya pembangunan Masjid Jumát datang belakangan dan bukan Nabi shallallahu álaihi wasallam yang membangunnya.

Kondisi Masjid al-Jumát sebelum direnovasi luasnya adalah 8 x 4,5 meter (sekitar 36 meter persegi) dengan tinggi 5,5 meter. Dibangun menggunakan batu yang bersusun rapi, dengan Qubah yang terbuat dari bata merah dan semen putih, terdapat pula sebuah pelataran di sisi kirinya berukuran 8 x 6 meter (48 meter persegi). Ini dibangun oleh Sultan Baa yaziid al-Útsmaani (yang memerintah dari tahun 886 hingga 918 Hijriyah) dan bangunan ini bertahan hingga 4 setengah abad lebih([5]).

Dan pada tahun 1392 H/1972 M, Abdul Quddus Al-Anshari (penulis Aatsaar Al-Madinah Al-Munawwaroh) menulis surat ke Kementrian Wakaf kota Madinah Munawwaroh tentang keadaan masjid Jum’at dan mengabarkan bahwa masjid ini perlu untuk direnovasi sebelum dindingnya roboh.

Maka melihat kebutuhan dan nilai historis yang dimilikinya, pada tahun 1409 H atas perintah Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk menghancurkan bangunan lama, dan membuat bangunan baru.

Pada tahun 1412 Hijriah, Masjid Jum’at dibuka untuk umum dengan luas 1630 meter persegi, dengan kapasitas 650 jamaah, memiliki 1 kubah utama yang tingginya 12 meter, 4 kubah kecil yang tingginya 5 meter, dan menara adzan setinggi 25 meter([6])

_______________________________________________________

Footnote:

([1]) Yaitu jumát pertama yang diimami oleh Nabi shallallahu álaihi wasallam di Madinah. Adapun sebelum Nabi shallallahu álaihi wasallam berhijrah di Madinah maka para shahabat di Madinah sudah melaksanakan sholat Jumát yang diimami oleh Asád bin Zurooroh radhiallahu ánhu dari Bani Najjaar.

Abdurrahman bin Kaáb bin Maalik radhiallahu ánhu berkata ;

كُنْتُ قَائِدَ أَبِي حِينَ ذَهَبَ بَصَرُهُ، فَكُنْتُ إِذَا خَرَجْتُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَسَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ لِأَبِي أُمَامَةَ أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ، وَدَعَا لَهُ، فَمَكَثْتُ حِينًا أَسْمَعُ ذَلِكَ مِنْهُ، ثُمَّ قُلْتُ فِي نَفْسِي: وَاللَّهِ إِنَّ ذَا لَعَجْزٌ، إِنِّي أَسْمَعُهُ كُلَّمَا سَمِعَ أَذَانَ الْجُمُعَةِ يَسْتَغْفِرُ لِأَبِي أُمَامَةَ وَيُصَلِّي عَلَيْهِ، وَلَا أَسْأَلُهُ عَنْ ذَلِكَ لِمَ هُوَ؟ فَخَرَجْتُ بِهِ كَمَا كُنْتُ أَخْرُجُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ، فَلَمَّا سَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَتَاهُ، أَرَأَيْتَكَ صَلَاتَكَ عَلَى أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ كُلَّمَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ بِالْجُمُعَةِ لِمَ هُوَ؟ قَالَ: ” أَيْ بُنَيَّ، كَانَ أَوَّلَ مَنْ صَلَّى بِنَا صَلَاةَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ، فِي نَقِيعِ الْخَضَمَاتِ، فِي هَزْمٍ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ، قُلْتُ: كَمْ كُنْتُمْ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: أَرْبَعِينَ رَجُلًا ”

“Aku menuntun ayahku (Kaáb bin Malik radhiallahu ánhu) ketika ia sudah tidak bisa melihat. Maka jika aku keluar menuntunnya untuk sholat jumát, maka jika ia mendengar adzan jumát maka ia memohonkan ampunan untuk (beristighfar) untuk Abu Umaamah Asád bin Zurooroh dan mendoakannya. Maka aku terdiam tatkala mendengar doa tersebut darinya, lalu aku berkata pada diriku, “Demi Allah ini adalah kelemahan, aku mendengar ayahku setiap kali ia mendengar adzan jumát selalu beristighfar untuk Abu Umamah dan mendoakannya, lantas aku tidak bertanya kepadanya kenapa ia selalu begitu?”. Maka suatu hari aku keluar menuntun ayahku sebagaimana biasanya ke sholat jumát, maka tatkala ia mendengar adzan maka iapun beristighfar untuk Asád bin Zurooroh sebagaimana  biasanya. Maka aku berkata kepadanya, “Wahai ayahanda, aku melihatmu selalu berdoa untuk Asád bin Zurooroh setiap kali engkau mendengar adzan Jumát, kenapa?”. Beliau berkata, “Wahai putraku, Asád bin Zurooroh adalah orang yang pertama kali mengimami kami sholat jumát sebelum datangnya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam dari Mekah, yaitu di Naqii’al-Khodhomaat, di Hazm An-Nabiit , di tempat tinggal Bani Bayaadhoh”. Aku berkata, “Berapa jumlah kalian ketika itu?”. Ayahku berkata, “Empat puluh orang” (HR Ibnu Maajah 1082, Abu Dawud no 1069, dan Al-Hakim no 1039. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Al-Albani di Al-Irwaa’ 3/67, karena dari periwayatan Muhammad bin Ishaaq, dan dalam riwayat al-Haakim Muhammad bin Ishaaq telah meriwayatkan dengan shighoh at-tahdiits, karenanya haditsnya hasan)

([2]) Namun dalam riwayat ini -sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hisyaam- Muhammad bin Ishaaq tidak menyebutkan sanadnya sama sekali, maka riwayat ini secara dzohir adalah dhoíif (lemah), wallahu a’lam.

Namun riwayat diatas dikuatkan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Syabah dengan sanadnya dari Kaáb bin Újroh radhiallahu ánhu, ia berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فِي أَوَّلِ جُمُعَةٍ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي مَسْجِدِ بَنِي سَالِمٍ فِي مَسْجِدِ عَاتِكَةَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu álaihi wasallam mengumpulkan (orang-orang) untuk sholat jumát yang pertama kali ketika beliau datang ke Madinah, yaitu di Masjid Bani Saalim di Masjid Áatikah” (Taariikh Al-Madiinah 1/68)

([3]) Lihat Tariikh al-Madiinah, Ibnu Syabah 1/68

([4]) Lihat wafaa al-Wafaa  bi Akhbaari Daar al-Mushthofa, As-Samhuudi 3/31, al-Maghoonim al-Muthoobah, al-Fairuuzabaadi hal 300, dan al-Masaajid al-Atsariyah fi al-Madiinah an-Nabawiyah hal 66

([5]) Aatsaar Al-Madinah Al-Munawwarah, Abdul Qudduus Al-Anshari (hal 88-91)

([6]) al-Masaajid al-Atsariyah fi al-Madiinah an-Nabawiyah hal 68-69

ARTIKEL TERBARU

Masjid Al-Jum’at 

Gambar Masjid Al Jumat

Masjid Jum’at terletak di barat daya Madinah, di Wadi Ranuunaa’, dengan jarak 900 meter utara Masjid Quba’ dan 6 kilometer dari Masjid Nabawi.

Ketika Nabi berhijrah ke Madinah, Nabi tinggal di daerah Quba’ untuk membangun masjid Quba’, setelah itu Nabi berjalan menuju pusat Kota Madinah, ditengah perjalanan Nabi mendapati waktu sholat jumát. Ibnu Ishaq berkata :

فَأَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بقُباءٍ، فِي بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، … وَأَسَّسَ مَسْجِدَهُ ثُمَّ أَخْرَجَهُ اللَّهُ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ…أَدْرَكَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةُ فِي بَنِي سَالِمِ بْنِ عَوْفٍ، فَصَلَّاهَا فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي فِي بَطْنِ الْوَادِي، وَادِي رَانُونَاءَ، فَكَانَتْ أَوَّلَ جُمُعَةٍ صَلَّاهَا بِالْمَدِينَةِ

“Maka Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tinggal di Quba, di kampung Bani Ámr bin Áuf…dan beliau membangun masjid beliau (Masjid Quba’), lalu beliau -dengan izin Allah- meninggalkan mereka pada hari jumát…(menuju Kota Madinah)…di tengah jalan beliau mendapati waktu sholat jumát di kampung Bani Saalim bin Áuf, maka beliau pun sholat di tempat sholat yang berada di perut lembah, yaitu lembah Raanuunaa’, maka itu adalah jumát pertama yang Nabi sholat di kota Madinah([1])” (Siroh Ibn Hisyaam 1/494([2]))

Masjid ini memiliki beberapa nama, diantaranya: Masjid Bani Saalim, karena terletak di perkampungan Bani Salim; masjid Wadi, karena terletak di Wadi Ranuna’; Masjid ‘Aatikah([3]) ; Masjid al-Ghubaib([4])

Dzohir dari sejarah bahwasanya ketika awal kali Nabi dan para shahabat sholat jumát di lembah Raanuunaa’ di kampung Bani Saalim, ketika itu belum ada Masjid. Karena masjid yang ada ketika itu satu-satunya adalah masjid Quba’. Karenanya pembangunan Masjid Jumát datang belakangan dan bukan Nabi shallallahu álaihi wasallam yang membangunnya.

Kondisi Masjid al-Jumát sebelum direnovasi luasnya adalah 8 x 4,5 meter (sekitar 36 meter persegi) dengan tinggi 5,5 meter. Dibangun menggunakan batu yang bersusun rapi, dengan Qubah yang terbuat dari bata merah dan semen putih, terdapat pula sebuah pelataran di sisi kirinya berukuran 8 x 6 meter (48 meter persegi). Ini dibangun oleh Sultan Baa yaziid al-Útsmaani (yang memerintah dari tahun 886 hingga 918 Hijriyah) dan bangunan ini bertahan hingga 4 setengah abad lebih([5]).

Dan pada tahun 1392 H/1972 M, Abdul Quddus Al-Anshari (penulis Aatsaar Al-Madinah Al-Munawwaroh) menulis surat ke Kementrian Wakaf kota Madinah Munawwaroh tentang keadaan masjid Jum’at dan mengabarkan bahwa masjid ini perlu untuk direnovasi sebelum dindingnya roboh.

Maka melihat kebutuhan dan nilai historis yang dimilikinya, pada tahun 1409 H atas perintah Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk menghancurkan bangunan lama, dan membuat bangunan baru.

Pada tahun 1412 Hijriah, Masjid Jum’at dibuka untuk umum dengan luas 1630 meter persegi, dengan kapasitas 650 jamaah, memiliki 1 kubah utama yang tingginya 12 meter, 4 kubah kecil yang tingginya 5 meter, dan menara adzan setinggi 25 meter([6])

_______________________________________________________

Footnote:

([1]) Yaitu jumát pertama yang diimami oleh Nabi shallallahu álaihi wasallam di Madinah. Adapun sebelum Nabi shallallahu álaihi wasallam berhijrah di Madinah maka para shahabat di Madinah sudah melaksanakan sholat Jumát yang diimami oleh Asád bin Zurooroh radhiallahu ánhu dari Bani Najjaar.

Abdurrahman bin Kaáb bin Maalik radhiallahu ánhu berkata ;

كُنْتُ قَائِدَ أَبِي حِينَ ذَهَبَ بَصَرُهُ، فَكُنْتُ إِذَا خَرَجْتُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَسَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ لِأَبِي أُمَامَةَ أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ، وَدَعَا لَهُ، فَمَكَثْتُ حِينًا أَسْمَعُ ذَلِكَ مِنْهُ، ثُمَّ قُلْتُ فِي نَفْسِي: وَاللَّهِ إِنَّ ذَا لَعَجْزٌ، إِنِّي أَسْمَعُهُ كُلَّمَا سَمِعَ أَذَانَ الْجُمُعَةِ يَسْتَغْفِرُ لِأَبِي أُمَامَةَ وَيُصَلِّي عَلَيْهِ، وَلَا أَسْأَلُهُ عَنْ ذَلِكَ لِمَ هُوَ؟ فَخَرَجْتُ بِهِ كَمَا كُنْتُ أَخْرُجُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ، فَلَمَّا سَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَتَاهُ، أَرَأَيْتَكَ صَلَاتَكَ عَلَى أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ كُلَّمَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ بِالْجُمُعَةِ لِمَ هُوَ؟ قَالَ: ” أَيْ بُنَيَّ، كَانَ أَوَّلَ مَنْ صَلَّى بِنَا صَلَاةَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ، فِي نَقِيعِ الْخَضَمَاتِ، فِي هَزْمٍ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ، قُلْتُ: كَمْ كُنْتُمْ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: أَرْبَعِينَ رَجُلًا ”

“Aku menuntun ayahku (Kaáb bin Malik radhiallahu ánhu) ketika ia sudah tidak bisa melihat. Maka jika aku keluar menuntunnya untuk sholat jumát, maka jika ia mendengar adzan jumát maka ia memohonkan ampunan untuk (beristighfar) untuk Abu Umaamah Asád bin Zurooroh dan mendoakannya. Maka aku terdiam tatkala mendengar doa tersebut darinya, lalu aku berkata pada diriku, “Demi Allah ini adalah kelemahan, aku mendengar ayahku setiap kali ia mendengar adzan jumát selalu beristighfar untuk Abu Umamah dan mendoakannya, lantas aku tidak bertanya kepadanya kenapa ia selalu begitu?”. Maka suatu hari aku keluar menuntun ayahku sebagaimana biasanya ke sholat jumát, maka tatkala ia mendengar adzan maka iapun beristighfar untuk Asád bin Zurooroh sebagaimana  biasanya. Maka aku berkata kepadanya, “Wahai ayahanda, aku melihatmu selalu berdoa untuk Asád bin Zurooroh setiap kali engkau mendengar adzan Jumát, kenapa?”. Beliau berkata, “Wahai putraku, Asád bin Zurooroh adalah orang yang pertama kali mengimami kami sholat jumát sebelum datangnya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam dari Mekah, yaitu di Naqii’al-Khodhomaat, di Hazm An-Nabiit , di tempat tinggal Bani Bayaadhoh”. Aku berkata, “Berapa jumlah kalian ketika itu?”. Ayahku berkata, “Empat puluh orang” (HR Ibnu Maajah 1082, Abu Dawud no 1069, dan Al-Hakim no 1039. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Al-Albani di Al-Irwaa’ 3/67, karena dari periwayatan Muhammad bin Ishaaq, dan dalam riwayat al-Haakim Muhammad bin Ishaaq telah meriwayatkan dengan shighoh at-tahdiits, karenanya haditsnya hasan)

([2]) Namun dalam riwayat ini -sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hisyaam- Muhammad bin Ishaaq tidak menyebutkan sanadnya sama sekali, maka riwayat ini secara dzohir adalah dhoíif (lemah), wallahu a’lam.

Namun riwayat diatas dikuatkan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Syabah dengan sanadnya dari Kaáb bin Újroh radhiallahu ánhu, ia berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فِي أَوَّلِ جُمُعَةٍ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي مَسْجِدِ بَنِي سَالِمٍ فِي مَسْجِدِ عَاتِكَةَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu álaihi wasallam mengumpulkan (orang-orang) untuk sholat jumát yang pertama kali ketika beliau datang ke Madinah, yaitu di Masjid Bani Saalim di Masjid Áatikah” (Taariikh Al-Madiinah 1/68)

([3]) Lihat Tariikh al-Madiinah, Ibnu Syabah 1/68

([4]) Lihat wafaa al-Wafaa  bi Akhbaari Daar al-Mushthofa, As-Samhuudi 3/31, al-Maghoonim al-Muthoobah, al-Fairuuzabaadi hal 300, dan al-Masaajid al-Atsariyah fi al-Madiinah an-Nabawiyah hal 66

([5]) Aatsaar Al-Madinah Al-Munawwarah, Abdul Qudduus Al-Anshari (hal 88-91)

([6]) al-Masaajid al-Atsariyah fi al-Madiinah an-Nabawiyah hal 68-69

Share

Latest Updates

Frequently Asked Questions

Masjid Al-Jum’at 

Gambar Masjid Al Jumat

Masjid Jum’at terletak di barat daya Madinah, di Wadi Ranuunaa’, dengan jarak 900 meter utara Masjid Quba’ dan 6 kilometer dari Masjid Nabawi.

Ketika Nabi berhijrah ke Madinah, Nabi tinggal di daerah Quba’ untuk membangun masjid Quba’, setelah itu Nabi berjalan menuju pusat Kota Madinah, ditengah perjalanan Nabi mendapati waktu sholat jumát. Ibnu Ishaq berkata :

فَأَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بقُباءٍ، فِي بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، … وَأَسَّسَ مَسْجِدَهُ ثُمَّ أَخْرَجَهُ اللَّهُ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ…أَدْرَكَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةُ فِي بَنِي سَالِمِ بْنِ عَوْفٍ، فَصَلَّاهَا فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي فِي بَطْنِ الْوَادِي، وَادِي رَانُونَاءَ، فَكَانَتْ أَوَّلَ جُمُعَةٍ صَلَّاهَا بِالْمَدِينَةِ

“Maka Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tinggal di Quba, di kampung Bani Ámr bin Áuf…dan beliau membangun masjid beliau (Masjid Quba’), lalu beliau -dengan izin Allah- meninggalkan mereka pada hari jumát…(menuju Kota Madinah)…di tengah jalan beliau mendapati waktu sholat jumát di kampung Bani Saalim bin Áuf, maka beliau pun sholat di tempat sholat yang berada di perut lembah, yaitu lembah Raanuunaa’, maka itu adalah jumát pertama yang Nabi sholat di kota Madinah([1])” (Siroh Ibn Hisyaam 1/494([2]))

Masjid ini memiliki beberapa nama, diantaranya: Masjid Bani Saalim, karena terletak di perkampungan Bani Salim; masjid Wadi, karena terletak di Wadi Ranuna’; Masjid ‘Aatikah([3]) ; Masjid al-Ghubaib([4])

Dzohir dari sejarah bahwasanya ketika awal kali Nabi dan para shahabat sholat jumát di lembah Raanuunaa’ di kampung Bani Saalim, ketika itu belum ada Masjid. Karena masjid yang ada ketika itu satu-satunya adalah masjid Quba’. Karenanya pembangunan Masjid Jumát datang belakangan dan bukan Nabi shallallahu álaihi wasallam yang membangunnya.

Kondisi Masjid al-Jumát sebelum direnovasi luasnya adalah 8 x 4,5 meter (sekitar 36 meter persegi) dengan tinggi 5,5 meter. Dibangun menggunakan batu yang bersusun rapi, dengan Qubah yang terbuat dari bata merah dan semen putih, terdapat pula sebuah pelataran di sisi kirinya berukuran 8 x 6 meter (48 meter persegi). Ini dibangun oleh Sultan Baa yaziid al-Útsmaani (yang memerintah dari tahun 886 hingga 918 Hijriyah) dan bangunan ini bertahan hingga 4 setengah abad lebih([5]).

Dan pada tahun 1392 H/1972 M, Abdul Quddus Al-Anshari (penulis Aatsaar Al-Madinah Al-Munawwaroh) menulis surat ke Kementrian Wakaf kota Madinah Munawwaroh tentang keadaan masjid Jum’at dan mengabarkan bahwa masjid ini perlu untuk direnovasi sebelum dindingnya roboh.

Maka melihat kebutuhan dan nilai historis yang dimilikinya, pada tahun 1409 H atas perintah Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk menghancurkan bangunan lama, dan membuat bangunan baru.

Pada tahun 1412 Hijriah, Masjid Jum’at dibuka untuk umum dengan luas 1630 meter persegi, dengan kapasitas 650 jamaah, memiliki 1 kubah utama yang tingginya 12 meter, 4 kubah kecil yang tingginya 5 meter, dan menara adzan setinggi 25 meter([6])

_______________________________________________________

Footnote:

([1]) Yaitu jumát pertama yang diimami oleh Nabi shallallahu álaihi wasallam di Madinah. Adapun sebelum Nabi shallallahu álaihi wasallam berhijrah di Madinah maka para shahabat di Madinah sudah melaksanakan sholat Jumát yang diimami oleh Asád bin Zurooroh radhiallahu ánhu dari Bani Najjaar.

Abdurrahman bin Kaáb bin Maalik radhiallahu ánhu berkata ;

كُنْتُ قَائِدَ أَبِي حِينَ ذَهَبَ بَصَرُهُ، فَكُنْتُ إِذَا خَرَجْتُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَسَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ لِأَبِي أُمَامَةَ أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ، وَدَعَا لَهُ، فَمَكَثْتُ حِينًا أَسْمَعُ ذَلِكَ مِنْهُ، ثُمَّ قُلْتُ فِي نَفْسِي: وَاللَّهِ إِنَّ ذَا لَعَجْزٌ، إِنِّي أَسْمَعُهُ كُلَّمَا سَمِعَ أَذَانَ الْجُمُعَةِ يَسْتَغْفِرُ لِأَبِي أُمَامَةَ وَيُصَلِّي عَلَيْهِ، وَلَا أَسْأَلُهُ عَنْ ذَلِكَ لِمَ هُوَ؟ فَخَرَجْتُ بِهِ كَمَا كُنْتُ أَخْرُجُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ، فَلَمَّا سَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَتَاهُ، أَرَأَيْتَكَ صَلَاتَكَ عَلَى أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ كُلَّمَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ بِالْجُمُعَةِ لِمَ هُوَ؟ قَالَ: ” أَيْ بُنَيَّ، كَانَ أَوَّلَ مَنْ صَلَّى بِنَا صَلَاةَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ، فِي نَقِيعِ الْخَضَمَاتِ، فِي هَزْمٍ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ، قُلْتُ: كَمْ كُنْتُمْ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: أَرْبَعِينَ رَجُلًا ”

“Aku menuntun ayahku (Kaáb bin Malik radhiallahu ánhu) ketika ia sudah tidak bisa melihat. Maka jika aku keluar menuntunnya untuk sholat jumát, maka jika ia mendengar adzan jumát maka ia memohonkan ampunan untuk (beristighfar) untuk Abu Umaamah Asád bin Zurooroh dan mendoakannya. Maka aku terdiam tatkala mendengar doa tersebut darinya, lalu aku berkata pada diriku, “Demi Allah ini adalah kelemahan, aku mendengar ayahku setiap kali ia mendengar adzan jumát selalu beristighfar untuk Abu Umamah dan mendoakannya, lantas aku tidak bertanya kepadanya kenapa ia selalu begitu?”. Maka suatu hari aku keluar menuntun ayahku sebagaimana biasanya ke sholat jumát, maka tatkala ia mendengar adzan maka iapun beristighfar untuk Asád bin Zurooroh sebagaimana  biasanya. Maka aku berkata kepadanya, “Wahai ayahanda, aku melihatmu selalu berdoa untuk Asád bin Zurooroh setiap kali engkau mendengar adzan Jumát, kenapa?”. Beliau berkata, “Wahai putraku, Asád bin Zurooroh adalah orang yang pertama kali mengimami kami sholat jumát sebelum datangnya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam dari Mekah, yaitu di Naqii’al-Khodhomaat, di Hazm An-Nabiit , di tempat tinggal Bani Bayaadhoh”. Aku berkata, “Berapa jumlah kalian ketika itu?”. Ayahku berkata, “Empat puluh orang” (HR Ibnu Maajah 1082, Abu Dawud no 1069, dan Al-Hakim no 1039. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Al-Albani di Al-Irwaa’ 3/67, karena dari periwayatan Muhammad bin Ishaaq, dan dalam riwayat al-Haakim Muhammad bin Ishaaq telah meriwayatkan dengan shighoh at-tahdiits, karenanya haditsnya hasan)

([2]) Namun dalam riwayat ini -sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hisyaam- Muhammad bin Ishaaq tidak menyebutkan sanadnya sama sekali, maka riwayat ini secara dzohir adalah dhoíif (lemah), wallahu a’lam.

Namun riwayat diatas dikuatkan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Syabah dengan sanadnya dari Kaáb bin Újroh radhiallahu ánhu, ia berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فِي أَوَّلِ جُمُعَةٍ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي مَسْجِدِ بَنِي سَالِمٍ فِي مَسْجِدِ عَاتِكَةَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu álaihi wasallam mengumpulkan (orang-orang) untuk sholat jumát yang pertama kali ketika beliau datang ke Madinah, yaitu di Masjid Bani Saalim di Masjid Áatikah” (Taariikh Al-Madiinah 1/68)

([3]) Lihat Tariikh al-Madiinah, Ibnu Syabah 1/68

([4]) Lihat wafaa al-Wafaa  bi Akhbaari Daar al-Mushthofa, As-Samhuudi 3/31, al-Maghoonim al-Muthoobah, al-Fairuuzabaadi hal 300, dan al-Masaajid al-Atsariyah fi al-Madiinah an-Nabawiyah hal 66

([5]) Aatsaar Al-Madinah Al-Munawwarah, Abdul Qudduus Al-Anshari (hal 88-91)

([6]) al-Masaajid al-Atsariyah fi al-Madiinah an-Nabawiyah hal 68-69

Share

Latest Updates

Frequently Asked Questions

Masjid Al-Jum’at 

Gambar Masjid Al Jumat

Masjid Jum’at terletak di barat daya Madinah, di Wadi Ranuunaa’, dengan jarak 900 meter utara Masjid Quba’ dan 6 kilometer dari Masjid Nabawi.

Ketika Nabi berhijrah ke Madinah, Nabi tinggal di daerah Quba’ untuk membangun masjid Quba’, setelah itu Nabi berjalan menuju pusat Kota Madinah, ditengah perjalanan Nabi mendapati waktu sholat jumát. Ibnu Ishaq berkata :

فَأَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بقُباءٍ، فِي بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، … وَأَسَّسَ مَسْجِدَهُ ثُمَّ أَخْرَجَهُ اللَّهُ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ…أَدْرَكَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةُ فِي بَنِي سَالِمِ بْنِ عَوْفٍ، فَصَلَّاهَا فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي فِي بَطْنِ الْوَادِي، وَادِي رَانُونَاءَ، فَكَانَتْ أَوَّلَ جُمُعَةٍ صَلَّاهَا بِالْمَدِينَةِ

“Maka Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tinggal di Quba, di kampung Bani Ámr bin Áuf…dan beliau membangun masjid beliau (Masjid Quba’), lalu beliau -dengan izin Allah- meninggalkan mereka pada hari jumát…(menuju Kota Madinah)…di tengah jalan beliau mendapati waktu sholat jumát di kampung Bani Saalim bin Áuf, maka beliau pun sholat di tempat sholat yang berada di perut lembah, yaitu lembah Raanuunaa’, maka itu adalah jumát pertama yang Nabi sholat di kota Madinah([1])” (Siroh Ibn Hisyaam 1/494([2]))

Masjid ini memiliki beberapa nama, diantaranya: Masjid Bani Saalim, karena terletak di perkampungan Bani Salim; masjid Wadi, karena terletak di Wadi Ranuna’; Masjid ‘Aatikah([3]) ; Masjid al-Ghubaib([4])

Dzohir dari sejarah bahwasanya ketika awal kali Nabi dan para shahabat sholat jumát di lembah Raanuunaa’ di kampung Bani Saalim, ketika itu belum ada Masjid. Karena masjid yang ada ketika itu satu-satunya adalah masjid Quba’. Karenanya pembangunan Masjid Jumát datang belakangan dan bukan Nabi shallallahu álaihi wasallam yang membangunnya.

Kondisi Masjid al-Jumát sebelum direnovasi luasnya adalah 8 x 4,5 meter (sekitar 36 meter persegi) dengan tinggi 5,5 meter. Dibangun menggunakan batu yang bersusun rapi, dengan Qubah yang terbuat dari bata merah dan semen putih, terdapat pula sebuah pelataran di sisi kirinya berukuran 8 x 6 meter (48 meter persegi). Ini dibangun oleh Sultan Baa yaziid al-Útsmaani (yang memerintah dari tahun 886 hingga 918 Hijriyah) dan bangunan ini bertahan hingga 4 setengah abad lebih([5]).

Dan pada tahun 1392 H/1972 M, Abdul Quddus Al-Anshari (penulis Aatsaar Al-Madinah Al-Munawwaroh) menulis surat ke Kementrian Wakaf kota Madinah Munawwaroh tentang keadaan masjid Jum’at dan mengabarkan bahwa masjid ini perlu untuk direnovasi sebelum dindingnya roboh.

Maka melihat kebutuhan dan nilai historis yang dimilikinya, pada tahun 1409 H atas perintah Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk menghancurkan bangunan lama, dan membuat bangunan baru.

Pada tahun 1412 Hijriah, Masjid Jum’at dibuka untuk umum dengan luas 1630 meter persegi, dengan kapasitas 650 jamaah, memiliki 1 kubah utama yang tingginya 12 meter, 4 kubah kecil yang tingginya 5 meter, dan menara adzan setinggi 25 meter([6])

_______________________________________________________

Footnote:

([1]) Yaitu jumát pertama yang diimami oleh Nabi shallallahu álaihi wasallam di Madinah. Adapun sebelum Nabi shallallahu álaihi wasallam berhijrah di Madinah maka para shahabat di Madinah sudah melaksanakan sholat Jumát yang diimami oleh Asád bin Zurooroh radhiallahu ánhu dari Bani Najjaar.

Abdurrahman bin Kaáb bin Maalik radhiallahu ánhu berkata ;

كُنْتُ قَائِدَ أَبِي حِينَ ذَهَبَ بَصَرُهُ، فَكُنْتُ إِذَا خَرَجْتُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَسَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ لِأَبِي أُمَامَةَ أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ، وَدَعَا لَهُ، فَمَكَثْتُ حِينًا أَسْمَعُ ذَلِكَ مِنْهُ، ثُمَّ قُلْتُ فِي نَفْسِي: وَاللَّهِ إِنَّ ذَا لَعَجْزٌ، إِنِّي أَسْمَعُهُ كُلَّمَا سَمِعَ أَذَانَ الْجُمُعَةِ يَسْتَغْفِرُ لِأَبِي أُمَامَةَ وَيُصَلِّي عَلَيْهِ، وَلَا أَسْأَلُهُ عَنْ ذَلِكَ لِمَ هُوَ؟ فَخَرَجْتُ بِهِ كَمَا كُنْتُ أَخْرُجُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ، فَلَمَّا سَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَتَاهُ، أَرَأَيْتَكَ صَلَاتَكَ عَلَى أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ كُلَّمَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ بِالْجُمُعَةِ لِمَ هُوَ؟ قَالَ: ” أَيْ بُنَيَّ، كَانَ أَوَّلَ مَنْ صَلَّى بِنَا صَلَاةَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ، فِي نَقِيعِ الْخَضَمَاتِ، فِي هَزْمٍ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ، قُلْتُ: كَمْ كُنْتُمْ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: أَرْبَعِينَ رَجُلًا ”

“Aku menuntun ayahku (Kaáb bin Malik radhiallahu ánhu) ketika ia sudah tidak bisa melihat. Maka jika aku keluar menuntunnya untuk sholat jumát, maka jika ia mendengar adzan jumát maka ia memohonkan ampunan untuk (beristighfar) untuk Abu Umaamah Asád bin Zurooroh dan mendoakannya. Maka aku terdiam tatkala mendengar doa tersebut darinya, lalu aku berkata pada diriku, “Demi Allah ini adalah kelemahan, aku mendengar ayahku setiap kali ia mendengar adzan jumát selalu beristighfar untuk Abu Umamah dan mendoakannya, lantas aku tidak bertanya kepadanya kenapa ia selalu begitu?”. Maka suatu hari aku keluar menuntun ayahku sebagaimana biasanya ke sholat jumát, maka tatkala ia mendengar adzan maka iapun beristighfar untuk Asád bin Zurooroh sebagaimana  biasanya. Maka aku berkata kepadanya, “Wahai ayahanda, aku melihatmu selalu berdoa untuk Asád bin Zurooroh setiap kali engkau mendengar adzan Jumát, kenapa?”. Beliau berkata, “Wahai putraku, Asád bin Zurooroh adalah orang yang pertama kali mengimami kami sholat jumát sebelum datangnya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam dari Mekah, yaitu di Naqii’al-Khodhomaat, di Hazm An-Nabiit , di tempat tinggal Bani Bayaadhoh”. Aku berkata, “Berapa jumlah kalian ketika itu?”. Ayahku berkata, “Empat puluh orang” (HR Ibnu Maajah 1082, Abu Dawud no 1069, dan Al-Hakim no 1039. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Al-Albani di Al-Irwaa’ 3/67, karena dari periwayatan Muhammad bin Ishaaq, dan dalam riwayat al-Haakim Muhammad bin Ishaaq telah meriwayatkan dengan shighoh at-tahdiits, karenanya haditsnya hasan)

([2]) Namun dalam riwayat ini -sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hisyaam- Muhammad bin Ishaaq tidak menyebutkan sanadnya sama sekali, maka riwayat ini secara dzohir adalah dhoíif (lemah), wallahu a’lam.

Namun riwayat diatas dikuatkan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Syabah dengan sanadnya dari Kaáb bin Újroh radhiallahu ánhu, ia berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فِي أَوَّلِ جُمُعَةٍ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي مَسْجِدِ بَنِي سَالِمٍ فِي مَسْجِدِ عَاتِكَةَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu álaihi wasallam mengumpulkan (orang-orang) untuk sholat jumát yang pertama kali ketika beliau datang ke Madinah, yaitu di Masjid Bani Saalim di Masjid Áatikah” (Taariikh Al-Madiinah 1/68)

([3]) Lihat Tariikh al-Madiinah, Ibnu Syabah 1/68

([4]) Lihat wafaa al-Wafaa  bi Akhbaari Daar al-Mushthofa, As-Samhuudi 3/31, al-Maghoonim al-Muthoobah, al-Fairuuzabaadi hal 300, dan al-Masaajid al-Atsariyah fi al-Madiinah an-Nabawiyah hal 66

([5]) Aatsaar Al-Madinah Al-Munawwarah, Abdul Qudduus Al-Anshari (hal 88-91)

([6]) al-Masaajid al-Atsariyah fi al-Madiinah an-Nabawiyah hal 68-69

Share

Latest Updates

Frequently Asked Questions

Related Articles

Tafsir Surat ath-Thariq Ayat-17

17. فَمَهِّلِ ٱلْكَٰفِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًۢا fa mahhilil-kāfirīna am-hil-hum ruwaidā Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu...

Tafsir Surat ath-Thariq Ayat-16

16. وَأَكِيدُ كَيْدًا wa akīdu kaidā Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Tafsir Surat ath-Thariq Ayat-16 Patut...

Tafsir Surat ath-Thariq Ayat-15

15. إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا innahum yakīdụna kaidā Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat...

Tafsir Surat ath-Thariq Ayat-14

14. وَمَا هُوَ بِٱلْهَزْلِ wa mā huwa bil-hazl dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. Tafsir: Al-Quran adalah pemutus...