Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-83

83. وَيَسْـَٔلُونَكَ عَن ذِى ٱلْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُوا۟ عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا

wa yas`alụnaka ‘an żil-qarnaīn, qul sa`atlụ ‘alaikum min-hu żikrā
83. Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”.

Tafsir :

Ini adalah awal ayat tentang kisah hamba Allah yang shalih Dzulqornain, seorang Nabi yang mulia (menurut sebagian ulama) atau seorang raja yang mulia dan bukan Nabi (sebagaimana pendapat sebagian ulama yang lainnya). Kita tentu telah mengetahui bahwasanya seluruh kisah-kisah yang Allah sebutkan dalam Al-Quran semuanya adalah nyata dan membawa faedah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf: 176)

Oleh karena itu, tatkala seorang melewati ayat-ayat yang berbicara tentang kisah-kisah dalam Al-Quran, hendaknya dia berusaha berpikir tentang apa faedah yang bisa didapatkan dari kisah-kisah tersebut.     Karena tidaklah disampaikan kisah-kisah tersebut kecuali mengandung faedah-faedah yang sangat banyak.

Sebagaimana telah berlalu bahwasanya kisah Dzulqarnain adalah salah satu kisah yang Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dari empat kisah yang ada dalam surah Al-Kahfi, dimana kisah-kisah tersebut semuanya berita tentang fitnah dan solusinya. Oleh karena itu, di awal surah Al-Kahfi Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi mereka untuk Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Maka dalam surah Al-Kahfi Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang kisah-kisah tersebut. Semua kisah tersebut bercerita tentang fitnah dan ujian sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan di awal-awal surah Al-Kahfi,

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan segala yang ada di atas muka bumi sebagai hiasan bagi bumi. Perhiasan bumi sangatlah banyak; seperti jabatan, popularitas, kesehatan, kekayaan, keindahan, kecantikan, keelokan, harta, kekuatan, dan yang lainnya. Ini semua adalah perhiasan bagi bumi dan perhiasan bagi orang-orang yang tinggal di atas muka bumi. Namun Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwa semua itu dijadikan sebagai ujian bagi mereka, agar diketahui siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya?. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan setelahnya contoh-contoh dan kisah-kisah dalam surah Al-Kahfi dari awal hingga akhir.

Kisah pertama: kisah Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang menghadapi fitnah kondisi masyarakat sosial di negerinya, semuanya kufur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, hanya mereka yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahkan mereka pun diancam untuk dibunuh kalau mereka tetap beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwasanya lingkungan memiliki pengaruh dan bisa merubah akidah seseorang. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian menyuruh mereka untuk meninggalkan lingkungan tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.” (QS. Al-Kahfi: 16)

Maka berangkatlah mereka untuk menghindari fitnah sosial dan lingkungan yang bisa membuat iman mereka bisa berubah. Akhirnya mereka pergi ke suatu goa, mereka tidur di sana dan ternyata Allah tidurkan mereka selama 309 tahun. Ini juga merupakan isyarat bahwasanya seseorang jika ingin selamat dari fitnah lingkungan yang buruk maka dia harus meninggalkan lingkungan tersebut. Jika dia tidak meninggalkannya maka dia bisa terjerumus dan terpengaruh oleh lingkungannya.

 Kisah kedua: kisah pemilik kebun yang kufur kepada Allah

Kisah selanjutnya yang disebutkan dalam surah Al-Kahfi adalah tentang seorang pemilik harta yang sombong dan angkuh . Dia memiliki kebun yang sangat indah, namun ternyata dia kufur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Seharusnya harta yang dia miliki membuatnya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, namun ternyata dia tidak bersyukur. Seharusnya dia mengucapkan bahwa semua yang ia miliki adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala dan dia hanya sekedar berusaha dan keberhasilan hanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala. Namun kenyataannya adalah sebaliknya, hartanya tersebut membuatnya menjadi lalai. Maka kisah ini Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan sebagai pelajaran tentang fitnah dunia. Ini adalah contoh orang yang diberi ujian berupa fitnah harta namun dia tidak lulus dari ujian tersebut. Harta yang dia miliki membuatnya ujub dan merasa bahwa ini dia dapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Dia pun memamerkan hartanya kepada kawannya dan tidak mengatakan مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ “sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” yang akhirnya dia tertima azab dari Allah subhanahu wa ta’ala dan hancurlah kebunnya.

Kisah ketiga: Kisah Nabi Musa dan Nabi Khadhir ‘alaihimassalam

Kisah ketiga ini adalah tentang fitnah ilmu. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ مُوسَى قَامَ خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ فَقَالَ: أَنَا، فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ، إِذْ لَمْ يَرُدَّ العِلْمَ إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ: بَلَى، لِي عَبْدٌ بِمَجْمَعِ البَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ

Bahwa Musa sedang berdiri di hadapan Bani Israil memberikan khutbah, lalu dia ditanya: ‘Siapakah orang yang paling alim?’ Beliau ‘alaihissalam menjawab: ‘Aku’. Seketika itu pula Allah menegurnya karena dia mengembalikan ilmu kepada Allah (yaitu tidak berkata Allahu a’lam -re). Lalu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang tinggal di pertemuan antara dua lautan yang dia lebih alim (pandai) darimu’.”([1])

Kisah ini tidak menunjukkan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam bermaksud untuk sombong, akan tetapi dia menceritakan ilmu yang diketahui, bahwa sepengetahuannya adalah dia yang paling alim. Maka kemudian Allah menegur Nabi Musa ‘alaihissalam ketika dia tidak mengatakan Allahu a’lam. Lalu Allah menyuruh dia untuk pergi mencari hamba-Nya yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa ‘alaihissalam yaitu Nabi Khadhir.

Dari kisah ini Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang bagaimana Musa ‘alaihissalam yang sudah mencapai derajat seorang Nabi namun tetap menuntut ilmu. Ilmu yang telah ia miliki tidaklah menjadikan beliau angkuh ujub. Akhirnya dia pun berjalan dan bersafar jauh untuk menuntut ilmu di hadapan Nabi Khadhir ‘alaihissalam, dengan berbagai macam faedah dari kisah tersebut. Ini adalah kisah tentang fitnah ilmu, bahwasanya ilmu bisa menimbulkan fitnah dan bisa membuat orang sombong dan angkuh. Adapun Nabi Musa tidaklah sombong dan angkuh, tetapi dia hanya salah ucap. Buktinya ketika dia mengetahui ada yang lebih berilmu darinya maka dia dengan penuh kerendahan diri pergi untuk mencari ilmu. Karena seharusnya banyaknya ilmu membuat seseorang semakin rendah diri. Kita lihat nabi Musa, seseorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi dan dia termasuk salah satu rasul dari Ulul Azmi, dan para ulama sepakat bahwa dia lebih mulia dari nabi Khadir, namun dia tetap belajar dari nabi Khadir. Artinya nabi Khadir yang tidaklah lebih berilmu dibandingkan nabi Musa, akan tetapi dia hanya memiliki ilmu yang nabi Musa tidak ketahui. Oleh karenanya disebutkan oleh As-Sakhowi dan ulama yang lainnya,

إن المرء لا ينبل حتى يأخذ عمن فوقه ومثله ودونه

“sesungguhnya seseorang tidak akan mulia hingga dia mengambil ilmu dari orang yang berada di atasnya, semisalnya, dan yang berada di bawahnya.” ([2])

Tidak mengapa seseorang untuk mengambil ilmu dari orang yang berada di bawahnya. Karena bisa jadi seorang alim menguasai bidang tertentu, namun dia tidak memiliki ilmu lainnya yang dimiliki orang lain, maka seharusnya dia merendah diri dengan menuntut ilmu kepada orang tersebut. Jangan sampai dia mengatakan bahwa dirinya sudah profesor, sehingga tidak akan belajar dari orang lain yang orang tersebut memiliki ilmu yang dia tidak miliki dalam bidang tertentu. Lihatlah nabi Musa, ilmu yang dimilikinya tidak membuatnya sombong, bahkan dia rela untuk berjalan jauh demi menuntut ilmu. Jadi ilmu dan harta bisa menjadi berkah namun dari sisi lain ilmu juga bisa menjadi fitnah, yaitu jika ilmu tersebut membuat seseorang menjadi angkuh. Sehingga ketika kita belajar tentang nabi Musa yang belajar kepada nabi Khadir maka hendaknya kita mencontoh nabi Musa ‘alaihissalam. Karena ketika Nabi Musa belajar dengan nabi Khadir dia telah memiliki ilmu yang cukup dalam mengatur Bani Israil. At-Thahir Ibnu ‘Asyur berkata bahwa ilmu yang dicari nabi Musa dari nabi Khadir tidak berkaitan dengan pengaturan Bani Israil([3]). Akan tetapi karena rasa hausnya terhadap ilmu maka dengan kerendahan hati dia datang kepada nabi Khadir dalam rangka menuntut ilmu. Sebagaimana pepatah Indonesia “padi semakin berisi semakin merunduk”. Begitu juga seseorang, semakin dia berilmu maka bukan semakin mengangkat kepala, tetapi semakin sadar bahwasanya dia semakin banyak tanggung jawabnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang banyak ilmu maka akan semakin sadar bahwa harus banyak ilmu yang harus dizakatkan, dia juga harus lebih banyak bertakwa daripada orang lain, dan banyak lagi konsekuensi-konsekuensi dari orang yang memiliki banyak ilmu.

Kisah keempat: Kisah Dzulqarnain

Kisah Dzulqarnain adalah kisah tentang fitnah jabatan. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan kisah seorang hamba yang mulia, bahkan seorang raja, namun jabatan dan kedudukannya menjadikan dia bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, menjadikan dia sebagai seorang wali di antara wali-wali Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak sebagaimana kebanyakan orang, tatkala mendapat jabatan dan kekuasaan, ternyata jabatan dan kekuasaan itu membuat mereka menjadi angkuh, sombong dan lupa diri. Maka kisah Dzulqarnain ini Allah jadikan contoh tentang seorang hamba Allah yang mulia, yang mendapat kedudukan dan menjadikan dia bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dia menggunakan kedudukan tersebut untuk kebaikan dan ketakwaan. Kisah Dzulqarnain adalah contoh seorang yang lulus menghadapi fitnah jabatan, karena jabatannya tidak menjadikannya angkuh ataupun sombong. Bahkan dia menggunakan jabatannya tersebut untuk memperbanyak amal salehnya, dengan cara memperjuangkan agama Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah, ‘Akan kubacakan kepadamu sebagian dari kisahnya’.” (QS. Al-Kahfi: 83)

Sebagaimana telah berlalu bahwasanya disebutkan oleh para Ahli Tafsir, asbabun nuzul (sebab turun) ayat tersebut adalah berkaitan dengan orang-orang Quraisy Mekkah yang kebingungan menghadapi dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka mereka pun berangkat dari Mekah menuju ke Kota Madinah untuk bertemu dengan orang-orang Yahudi dan menanyakan tentang bagaimana ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena orang-orang Yahudi memiliki ilmu tentang Ketuhanan. Tatkala mereka telah bertanya kepada orang-orang Yahudi, maka orang-orang Yahudi tersebut berkata orang-orang musyrikin,

سَلُوهُ عَنْ ثَلَاثٍ نَأْمُرُكُمْ بِهِنَّ، فَإِنْ أَخْبَرَكُمْ بِهِن، فَهُوَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَالرَّجُلُ مُتَقَول فَرَوا فِيهِ رَأْيَكُم: سَلُوهُ عَنْ فِتْيَةٍ ذَهَبُوا فِي الدَّهْرِ الْأَوَّلِ، مَا كَانَ مِنْ أَمْرِهِمْ؟ فَإِنَّهُمْ قَدْ كَانَ لَهُمْ حَدِيثٌ عَجِيبٌ. وَسَلُوهُ عَنْ رَجُلٍ طَوَّافٍ بَلَغَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، مَا كَانَ نبَؤه؟ [وَسَلُوهُ عَنِ الرُّوحِ، مَا هُوَ؟]  فَإِنْ أَخْبَرَكُمْ بِذَلِكَ فَهُوَ نَبِيٌّ فَاتَّبِعُوهُ، وَإِنْ لَمْ يُخْبِرْكُمْ فَإِنَّهُ رَجُلٌ مُتَقَوِّلٌ، فَاصْنَعُوا فِي أَمْرِهِ مَا بَدَا لَكُمْ

Tanyakanlah oleh kalian kepada dia tentang tiga perkara yang akan kami terangkan ini. Jika dia dapat menjawabnya, berarti dia benar-benar seorang nabi yang diutus. Tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya, berarti dia adalah seseorang yang mengaku-aku dirinya menjadi nabi, saat itulah kalian dapat memilih pendapat sendiri terhadapnya. Tanyakanlah kepadanya tentang beberapa orang pemuda yang pergi meninggalkan kaumnya di masa silam, apakah yang dialami oleh mereka? Karena sesungguhnya kisah mereka sangat menakjubkan. Dan tanyakanlah kepadanya tentang seorang lelaki yang melanglang buana sampai ke belahan timur dan barat bumi, bagaimanakah kisahnya? Dan tanyakanlah kepadanya tentang ruh, apakah ruh itu? Jika dia menceritakannya kepada kalian, berarti dia adalah seorang nabi dan kalian harus mengikutinya. Tetapi jika dia tidak menceritakannya kepada kalian, maka sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang mengaku-aku saja. Bila demikian, terserah kalian, apa yang harus kalian lakukan terhadapnya.”([4])

Di antara teka-teki dari orang Yahudi kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah menjawab “siapa orang yang melanglang buana dari timur bumi hingga barat?”. Asalnya ini adalah pertanyaan yang sulit, karena pertanyaannya sendiri tidak jelas dan tidak menggambarkan ciri-ciri yang lebih spesifik. Akhirnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh orang-orang musyrikin tersebut, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dapat menjawabnya karena wahyu tidak langsung turun. Disebutkan dalam riwayat bahwa wahyu baru turun sekitar dua pekan atau lebih([5]), yaitu surah Al-Kahfi yang menjelaskan bahwa orang tersebut adalah Dzulqarnain.

Allah menyebutkan kisah Dzulqornain setelah menyebutkan kisah perjalanan Nabi Musa menemui nabi al-Khadir. Hal ini karena Nabi Musa melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, sementara Dzulqornain berpetualang untuk berdakwah. Allah mendahulukan kisah Nabi Musa karena ilmu adalah pondasi atas segala sesuatu([6]).

Firman Allah

قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

Katakanlah, ‘Akan kubacakan kepadamu sebagian dari kisahnya’.

yaitu kisah Dzulqarnain. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menceritakan seluruh kisah tersebut, melainkan hanya sebagiannya saja. Hal ini dikarenakan Al-Quran bukanlah buku sejarah, bukanlah juga buku sains, akan tetapi Al-Quran adalah kitab iman dan takwa. Memang benar bahwa dalam sebagian ayat ada yang berkaitan dengan sejarah, ada yang berkaitan dengan sains dan teknologi, akan tetapi Al-Quran diturunkan bukan untuk menjelaskan hal tersebut, sejarah ataupun sains hanya sekadar rangkaian untuk meninggikan iman dan takwa. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan sebagian kisah Dzulqarnain yang bermanfaat bagi kita. Karena jika diceritakan seluruhnya secara terperinci, selain Al-Quran akan berubah menjadi kitab sejarah, juga perkara gaib akan menjadi hilang. Jika Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan semuanya dengan sedetail-detailnya dan membongkar semua rahasia apa yang akan terjadi di masa depan dan masa lalu, maka semua orang akan beriman kepada Al-Quran, dan sifat orang yang beriman kepada perkara yang gaib akan hilang. Ini akan menghilangkan hikmah dari ujian terhadap perkara yang gaib. Bukankah kita diciptakan untuk diuji?

Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menceritakan tentang kapan lahirnya, atau kapan dia berkelana, karena hal itu tidak bermanfaat bagi kita. Maka yang Allah Subhanahu wa ta’ala ceritakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kisah-kisah yang bermanfaat dan bisa menjadi pelajaran bagi kita. Sebagaimana di dalam Al-Quran Allah subhanahu wa ta’ala hanya menceritakan sebagian potongan sejarah dari para nabi yang berkaitan dengan keimanan, seperti bagaimana mereka didustakan, dan bagaimana kesombongan kaum mereka yang akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan azab kepada kaum nabi-nabi tersebut. Allah tidak menceritakan kisah para nabi secara keseluruhan.

Bahkan betapa sering Allah menyebutkan kisah tanpa menyebutkan nama-nama pelaku kisah tersebut dan juga tidak menjelaskan dengan detail lokasi terjadinya. Demikian juga Allah tidak menceritakan sejarah seseorang secara lengkap, karena yang ghaib akan menjadi jelas, sehingga tujuan “beriman dengan yang ghaib” akan menjadi berkurang. Intinya dengan hikmah-Nya Allah menceritakan kisah-kisah orang-orang terdahulu sebatas yang diperlukan. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa ta’ala berkata,

قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

Katakanlah: ‘Akan kubacakan kepadamu sebagian dari kisahnya’.” (QS. Al-Kahfi: 83)

Siapakah Dzulqarnain ini? Jika kita membaca dan menelaah perkataan para salaf maka kita temukan silang pendapat di kalangan mereka tentang siapa Dzulqarnain ini, karena  tidak ada dalil tegas yang menjelaskannya.

Pertama: Ada yang mengatakan bawah dia adalah seorang nabi, karena dalam sebagian ayat disebutkan ada wahyu dari Allah kepadanya, sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa Dzulqarnain adalah nabi.

Kedua: Sebagian ulama berpendapat bahwa Dzulqarnain adalah malaikat yang Allah turunkan ke atas muka bumi dengan menjelma menjadi seorang manusia yang sangat hebat, akan tetapi Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa pendapat ini jauh dari kebenaran.

Ketiga: Pendapat lain adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Katsir rahimahullah, yaitu Dzulqarnain adalah seorang raja yang saleh dan bertakwa kepada Allah, dan Allah memberikan kepadanya kekuasaan. Pendapat yang dipilih Ibnu Katsir ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, dimana dia berkata,

لَمْ يَكُنْ نَبِيًّا وَلَا مَلَكًا، وَلَكِنْ كَانَ عَبْدًا صَالِحًا

Dia bukanlah seorang nabi, bukan malaikat, akan tetapi dia adalah seorang hamba yang saleh.”([7])

Dan inilah pendapat yang lebih kuat, Dzulqarnain adalah adalah seorang raja atau hamba yang saleh namun memiliki kekuasaan di atas muka bumi ini([8]).

Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

ما أدرِي تبَّعٌ ألَعينٌ هو أم لا، وما أدري أعُزَيزٌ نبىٌّ هو أم لا، وما أدري ذو القرنين نبياً كان أم لا، وما أدري الحدود كفارات لأهلها أم لا

“Aku tidak tahu apakah Tubba’ terlaknat ataukah tidak, aku tidak tahu apakah Uzair seorang Nabi atau bukan, aku tidak tahu apakah Dzulqornain nabi atau bukan, dan aku tidak tahu apakah hukum-hukum hudud merupakah kaffaroh (penggugur dosa) atau tidak?” ([9])

Berdasarkan hadits ini sebagian ulama mengatakan hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang tahu siapa itu Dzulqarain. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak mengetahui apakah Dzulqarnain nabi atau bukan, maka kita lebih utama untuk tidak tahu.

Namun keshahihan hadits ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wa An-Nihayah mendhaifkan/melemahkan hadits ini([10]). Kalaupun shahih maka bisa jadi ada kemungkinan setelah itu Nabi mendapat kabar tentang hakikat Dzulqornain. Karena dalam hadits ini, Nabi juga tidak tahu akan hakikat penegakan hukum had apakah menjadi kaffaroh atau tidak? Namun disebutkan dalam hadits-hadits yang lain Nabi menjelaskan dengan tegas bahwa penegakan hukum had adalah kaffaroh([11]). Ini sama seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertemu dengan Ibnu As-Shoyyad, apakah dia Dajjal atau bukan([12]), lalu beliau mengabarkan bahwa Dajjal akan muncul di kemudian hari menjelang hari kiamat.

Para ulama menyebutkan bahwasanya orang yang memiliki kekuasaan yang sangat luas di atas muka bumi ini ada empat orang; dua orang kafir dan dua orang beriman. Orang kafir tersebut adalah Namrud dan Bukhtanashshar yang berasal dari Babilonia (yaitu dari Iraq), adapun yang beriman mereka adalah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dan Dzulqarnain.

Kemudian kapan zaman Dzulqarnain tersebut? Tidak ada riwayat sahih yang menjelaskan tentang kapan zaman Dzulqarnain, akan tetapi dijelaskan dalam sebagian perkataan para salaf bahwasanya dia hidup di zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, wallahu a’lam bishshawwab.

Dzulqarnain dalam bahasa arab artinya adalah yang pemilik dua tanduk. Kenapa dia disebut pemilik dua tanduk? Hal ini diperselisihkan oleh para Ahli Tafsir. Ada yang mengatakan bahwa benar-benar Dzulqarnain punya tanduk yang keluar di atas kepalanya di sebelah kanan dan kiri. Ada yang mengatakan bahwa disebut pemilik dua tanduk karena Dzulqarnain menguasai Persia dan Romawi, dan kita tahu bahwa Persia dan Romawi adalah dua tempat yang memiliki kekuatan yang hebat di zaman tersebut, dan Dzulqarnain menguasainya sehingga dikatakan pemilik dua tanduk. Ada yang mengatakan bahwa disebut Dzulqarnain adalah karena dia berjihad di jalan Allah sampai dibunuh oleh kaumnya dengan ditikam di bagian kepala sebelah kanan, kemudian dihidupkan lagi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan berjihad lagi, namun dia ditikam lagi di bagian kepala sebelah kiri, sehingga dikatakan dia memiliki dua tanduk karena meninggal dengan dua bekas tikaman di kepalanya. Ada yang mengatakan dua tanduk tersebut menandakan kekuatan Dzulqornain, seakan-akan dengan kedua tanduknya ia menanduk semua penenatangnya([13]). Sebagian ulama menguatkan bahwanya disebut “pemilik dua tanduk” karena dia menguasai timur dan barat sehingga dikatakan Dzulqarnain, karena ia telah mencapai timur dan barat bumi([14]). Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwasanya dia dinamakan Dzulqarnain karena memiliki 2 kepang([15]), jika ia berperang maka akan tampak 2 kepangnya. Ini juga kebiasaan orang-orang Arab dahulu, karena mereka memiliki rambut yang panjang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengepang rambutnya([16]).

Sebagian ulama menyebutkan bahwa Dzulqornain masuk Islam melalui dakwah nabi Ibrahim álaihis salam, sehingga menunjukan bahwa Dzulqornain hidup di masa Nabi Ibrahim álaihis salam([17]).

Siapakah Dzulqarnain? Seperti yang telah penulis sampaikan sebelumnya bahwa Al-Quran bukanlah kitab sejarah. Karena tidak semua orang yang hebat dicatat sejarahnya. Nabi Sulaiman saja yang sangat hebat, sejarahnya tidak detail, ia bisa berbicara dengan hewan dan itu tidak disebutkan dalam buku-buku sejarah, padahal kekuasaanya sangat luas pada saat itu. Tidak seperti zaman sekarang yang bisa mendokumentasikan sesuatu lewat telepon genggam dan lainnya. Adapun zaman dahulu tidak ada alat-alat yang canggih, sehingga kebanyakan sejarah harus dicatat atau dibuat prasasti atau yang lainnya. Jika tidak dicatat maka sejarah tersebut akan hilang. Atau meskipun tercatat namun akan hilang disebabkan peperangan yang menyebabkan banyak buku-buku dan prasasti hancur, atau bisa hilang dikarenakan bencana alam, dan banyak sebab lainnya yang menyebabkan hilangnya sejarah. Ditambah lagi terkadang penguasa (dari kalangan penjajah atau dari pemerintah yang dzalim) bisa mengarang sejarah palsu yang disesuaikan dengan kepentingan politiknya. Namun yang pasti kita harus yakin bahwa kisah Dzulqarnain benar-benar pernah terjadi, meskipun kita tidak mengetahui secara persis siapa Dzulqarnain tersebut.

Sebagian orang menyangka Dzulqarnain adalah Aleksandar Agung (إِسْكَنْدَرُ الْمَكْدُوْنِي) dari Makedonia, sebuah negara di Yunani([18]). Akan tetapi hal ini dibantah oleh para ulama, karena meskipun Iskandar Al-Maqduni (Alexander Philips) merupakan raja yang sangat hebat, tetapi dia bukan orang yang beriman, ia seorang yang musyrik. Demikian pula disebutkan dalam sejarah bahwa Alexander Philips memiliki seorang menteri yang merupakan Ahli Filsafat yaitu Aristoteles, dan kita tahu bahwa Aristoteles tidak beragama, baik Yahudi maupun Nasrani, terlebih lagi Islam([19]).

Adapun Dzulqarnain yang dikisahkan oleh Allah adalah seorang raja yang beriman dan menguasai timur dan barat dengan kekuasaan yang Allah berikan kepadanya di atas muka bumi.

_______________

Footnote :

([1])  HR. Bukhari no. 3041

([2])  Fihris Al-Fahaaris 2/991

([3])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir 15/370

([4])  Tafsir Ibnu Katsir 5/136

([5])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir 15/243

([6])  Nadzm ad-Duror, Al-Biqooí 12/128

([7])  Fathul Qadir Asy-Syaukani 3/366

([8])  Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Katsir (lihat Al-Bidayah wa an-Nihayah 2/537)

([9]) HR. Hakim dalam kitab Al-Mustadrok no. 2174 dan dia berkata hadits ini shohih dengan syarat Bukhori dan Muslim. Lihat komentar Syuáib al-Arnauth di tahqiq beliau terhadap Sunan Abi Daud 7/65 no 4674. Hadits ini dinilai dhoíf oleh Ibnu Katsir (lihat Al-Bidayah wa an-Nihayah 2/537) dan Al-Albani.

([10])  Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Katsir (lihat Al-Bidayah wa an-Nihayah 2/537)

([11]) Lihat Ruuhul Maáani, al-Alusi 8/352

([12]) Lihat: Tarikhul Madinah 2/401

([13])  Ibnu Hajar juga menyebutkan khilaf ulama tentang penamaan Dzulqornain (lihat Fathul Baari 6/383). Bahkan al-Alusi menyebutkan 11 pendapat (Lihat Ruuhul Maáani 8/346), lihat juga Tafsir Ibn Katsir 5/189.

([14])  Ini adalah salah satu pendapat yang disebutkan oleh Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibn Katsir 5/189), dan inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu al-Útsaimin. (Lihat Tafsir surah al-Kahfi hal 125)

([15])  Lihat: Fathul Qadir 3/363

([16])  Ummu Hani berkata :

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَكَّةَ وَلَهُ أَرْبَعُ غَدَائِرَ

“Nabi shallallahu álaihi wasallam datang ke Mekah dan rambutnya ada 4 kepang rambut” (HR Abu Daud no 4191, dan dinilai oleh Ibnu Hajar (Fathul Baari 6/572 dan 10/360) dan Al-Albani).

Namun bukanlah kebiasan Nabi g mengepang rambutnya, karenanya hadits-hadits yang menjelaskan tentang rambut Nabi g tidak menyebutkan tentang beliau mengkepang rambutnya. Dari situ Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Nabi g hanya mengepang rambutnya jika sedang sibuk bersafar. (Lihat Fathul Baari 10/360). Adapun menurut Ibnul Qoyyim Nabi g mengepang rambutnya jika sudah panjang melebihi daun telinganya (Lihat Zaadul Maád 1/170)

([17])  Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir (Al-Bidayah wa an-Nihayah 2/538) dan Ibnu Hajar (Lihat Fathul Baari 6/382)

([18])   Pada usia tiga puluh tahun, dia memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno, membentang mulai dari Laut Ionia sampai pegunungan Himalaya. Dia tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran dan dianggap sebagai komandan perang terhebat sepanjang masa.

Aleksander lahir di Pella pada 356 SM dan merupakan murid seorang filsuf terkenal, Aristoteles. Pada tahun 336 SM Aleksander menggantikan ayahnya, Filipus II dari Makedonia, sebagai pemimpin Makedonia setelah ayahnya dibunuh oleh pembunuh gelap. Filipus sendiri telah menaklukkan sebagian besar negara-kota di daratan utama Yunani ke dalam hegemoni Makedonia, melalui militer dan diplomasi.

Setelah kematian Filipus, Aleksander mewarisi kerajaan yang kuat dan pasukan yang berpengalaman. Dia berhasil mengukuhkan kekuasaan Makedonia di Yunani, dan setelah otoritasnya di Yunani stabil, dia melancarkan rencana militer untuk ekspansi yang tak sempat diselesaikan oleh ayahnya. Pada tahun 334 SM dia menginvasi daerah kekuasaan Persia di Asia Minor dan memulai serangkaian kampanye militer yang berlangsung selama sepuluh tahun. Aleksander mengalahkan Persia dalam sejumlah pertempuran yang menentukan, yang paling terkenal antara lain Pertempuran Issus dan Pertempuran Gaugamela. Aleksander lalu menggulingkan kekuasaan raja Persia, Darius III, dan menaklukkan keseluruhan Kekasiaran Persia (Kekasiaran Akhemeniyah).  Kekaisaran Makedonia kini membentang mulai dari Laut Adriatik sampai Sungai Indus.

Karena berkeinginan mencapai “ujung dunia”, Aleksander pun menginvasi India pada tahun 326 SM, namun terpaksa mundur karena pasukannya nyaris memberontak. Aleksander meninggal dunia di Babilonia pada 323 SM, tanpa sempat melaksakan rencana invasi ke Arabia. (Silahkan lihat sejarahnya di https://id.wikipedia.org/wiki/Aleksander_Agung)

([19]) Ibnu Hajar menyebutkan 2 perbedaan antara Dzulqornain dengan Aleksander Agung, diantaranya :

Pertama : Dzulqornain hidup di zaman Nabi Ibrahim, dan inilah yang diisyaratkan oleh Al-Bukhari dalam tabwib (metode penyusunan bab-bab) beliau dalam Shahih Al-Bukhari. Adapun Aleksander Agung hidup sekitar 300 tahun sebelum masehi.

Kedua : Dzulqornain beriman sementara Aleksander kafir.

Ibnu Hajar menukil perkataan Ar-Razi, beliau berkata:

قَالَ الْفَخْرُ الرَّازِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ كَانَ ذُو الْقَرْنَيْنِ نَبِيًّا وَكَانَ الْإِسْكَنْدَرُ كَافِرًا وَكَانَ معلمه ارسطا طاليس وَكَانَ يأتمر بِأَمْرِهِ وَهُوَ مِنَ الْكُفَّارِ بِلَا شَكٍّ

“Ar-Razi berkata di Tafsirnya : Dzulqornain adalah nabi, dan Aleksander kafir, dan gurunya adalah Arestoteles, sementara Aleksander taat kepada arahan Aristoteles, dan Aristoteles tidak diragukan termasuk kaum kafir” (Fathul Baari 6/382-383)

Adapun yang penulis dapatkan dalam Tafsirnya, Ar-Razi berkata:

إِلَّا أَنَّ فِيهِ إِشْكَالًا قَوِيًّا وَهُوَ أَنَّهُ كَانَ تلميذ أرسطاطاليس، الْحَكِيمِ وَكَانَ عَلَى مَذْهَبِهِ فَتَعْظِيمُ اللَّهِ إِيَّاهُ يُوجِبُ الْحُكْمَ بِأَنَّ مَذْهَبَ أَرِسْطَاطَالِيسَ حَقٌّ وَصِدْقٌ وَذَلِكَ مِمَّا لَا سَبِيلَ إِلَيْهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Hanya saja menyatakan bahwa Dzulqornain adalah Aleksander Agung menimbulkan keganjilan yang besar. Yaitu Aleksander adalah murid dari Aristoteles, sang lelaki bijak (ahli filsafat), dan Aleksander mengikuti madzhab Aristoteles. Kondisi Allah mengagungkan Dzulqornain mengharuskan untuk menghukumi bahwa madzhab Asertoteles adalah haq dan benar, dan hal ini tidaklah mungkin” (at-Tafsir al-Kabiir 21/494-495)

Ibnu Katsir juga menyatakan dengan tegas bahwa Aleksander Agung adalah seorang yang kafir. Beliau berkata:

فَكَانَ مُشْرِكًا، وَكَانَ وَزِيرُهُ فَيْلَسُوفًا

“dia (Aleksander) adalah kafir, dan mentrinya (Arsetoteles) seorang filsuf” (Al-Bidayah wa an-Nihayah 2/542)

Hal ini juga dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah (lihat Majmu al-Fatawa 11/171) dan Ibnul Qoyyim menyatakan bahwa Aleksander beserta rakyatnya menyembah berhala (Lihat Ighootsatul Lahfaan 2/263-274)