Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-65

65. فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

fa wajadā ‘abdam min ‘ibādinā ātaināhu raḥmatam min ‘indinā wa ‘allamnāhu mil ladunnā ‘ilmā
65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Tafsir :

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا، قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al-Kahfi 65-66)

Nabi melanjutkan kisahnya :

فَرَأَى رَجُلًا مُسَجًّى عَلَيْهِ بِثَوْبٍ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ مُوسَى، فَقَالَ لَهُ الْخَضِرُ: أَنَّى بِأَرْضِكَ السَّلَامُ؟ قَالَ: أَنَا مُوسَى، قَالَ: مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: إِنَّكَ عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللهِ عَلَّمَكَهُ اللهُ لَا أَعْلَمُهُ، وَأَنَا عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ، قَالَ لَهُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: (هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا. قَالَ: إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا. وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا. قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا) قَالَ لَهُ الْخَضِرُ {فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا}، قَالَ: نَعَمْ،

“Maka mereka melihat seorang laki-laki yang sedang berselimut kain. Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam mengucapkan salam kepadanya([1]). Nabi Khadhir bertanya kepada Musa; Bagaimana bisa ada ucapan salam di negerimu([2])?”. Musa berkata; Saya adalah Musa.’ Nabi Khadhir terperanjat dan bertanya; ‘Musa Bani Israil.’ Nabi Musa menjawab; ‘Ya.’ Nabi Khadhir berkata kepada Musa; ‘Sesungguhnya kamu mendapatkan sebagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadamu yang tidak aku ketahui dan aku mendapatkan sebagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadaku yang kamu tidak ketahui.’ Musa berkata kepada Khadhir; ‘Bolehkah aku mengikutimu agar kamu dapat mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? ‘Nabi Khadhir menjawab; ‘Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan sanggup dan sabar bersamaku([3]). Bagaimana kamu bisa sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? ‘ Musa berkata; ‘In sya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku pun tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.’ Khadhir menjawab; ‘Jika kamu tetap mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan sesuatu hingga aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu.’ Musa menjawab; ‘Baiklah’.” ([4])

Para ulama sepakat bahwa Nabi Musa lebih utama dari Nabi Khodir, karena Nabi Musa termasuk Ulul Azmi dan Rasul yang spesial (Ulul Azmi adalah Nabi Muhammad, Nabi Musa, Nabi ‘Isa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Nuh ‘alahimussalam). Sehingga ketika di padang mahsyar, yang didatangi oleh umat manusia (selain nabi Adam) adalah 5 nabi ini. Adapun Nabi Khadir dan yang lainnya maka tidak didatangi. Namun ketika Nabi Musa menuntut ilmu kepada Nabi Khodir, beliau tidak memposisikan dirinya lebih tinggi dari Nabi Khadir, bahkan dia memposisikan dirinya lebih rendah. Oleh karenanya dikatakan bahwa belajar tidaklah sempurna sehingga seseorang menuntut ilmu dari orang yang berada di atasnya kemudian menuntut ilmu kepada orang yang setara dengannya dan kemudian menuntut ilmu kepada orang yang berada di bawahnya (jika memang ada ilmu yang tidak dia miliki dan ilmu tersebut berada pada orang yang berada di bawahnya). Oleh karenanya jangan sampai kesombongan menghalangi seseorang dari menuntut ilmu dari siapapun yang berada di bawahnya. Seorang profesor dia hanya mengetahui bidang tertentu saja, jika ia tidak mengetahui hal yang lain maka hendaknya dia bertanya kepada orang yang mengetahuinya. Nabi Musa adalah orang yang terbaik dan yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala di zamannya dan dia diberikan gelar dengan Kalimullah (yaitu orang yang Allah berbicara langsung dengannya). Akan tetapi dia merendahkan dirinya dengan cara datang kepada Nabi Khadir. Lihatlah bagaimana adabnya ketika dia ingin belajar kepada Nabi Khadir,

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”.

Dalam ayat ini ketika hendak belajar kepada Nabi Khadir, Nabi Musa tidak berkata, “Wahai Khodir ajarkanlah aku!”, akan tetapi beliau mengajukan permohonan belajar dengan bentuk penawaran. Ini menunjukan Nabi Musa meminta belajar dengan cara yang lembut([5]). Maka hendaknya seorang murid harus menunjukkan kebutuhannya terhadap ilmu gurunya. Berbeda dengan keadaan sebagian orang yang menuntut ilmu dari gurunya, ada yang tidak menghormati gurunya, mungkin karena merasa ilmunya lebih tinggi. Juga sebagian orang setelah belajar dari seorang guru, ia berkata kepada orang lain bahwa dia adalah “teman” dari gurunya tersebut, padahal dahulu dia adalah murid dari guru tersebut, hal ini agar mengesankan derajatnya terlihat sejajar dengan gurunya tersebut. Padahal jika dia adalah murid dari guru tersebut maka katakan saja bahwa dia adalah murid dari guru tersebut, akan tetapi banyak orang tidak mau memposisikan dirinya menjadi murid, bahkan ketika dia merasa ilmunya lebih tinggi, dia memposisikan dirinya sebagai guru. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak tahu berterimakasih. Jika kita memiliki guru maka sampai kapan pun beliau harus kita anggap sebagai guru kita, meskipun suatu saat kita lebih pandai darinya, karena guru tetaplah sebagai guru. Kita harus tetap menghargainya dan tetap harus kita katakan bahwa kita adalah muridnya, meskipun sekarang guru tersebut belajar kepada kita. Kalau bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala kemudian dengan sebab guru kita, maka mungkin pintu-pintu ilmu lainnya (yang menyebabkan kita memiliki ilmu yang lebih banyak dari guru kita) tidak akan terbuka untuk kita.

_________________

Footnote :

([1]) Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa nabi Musa menemukan lokasi hilangnya ikan tersebut. Kemudian dia melihat terowongan di lautan berupa air yang beku tempatnya ikan tersebut. Nabi Musa pun menelusuri terowongan tersebut hingga dia bertemu dengan nabi Khodir ‘alaihissalam. (lihat: Musnad Al-Humaidi no. 375)

([2]) Ini dikarenakan dia tidak pernah mendengar ada orang yang mengucapkan salam sama sekali, lalu bagaimana bisa ada seseorang yang tiba-tiba mengucapkan salam.

([3]) Nabi Khadir mengatakan demikian karena dia akan melakukan hal-hal yang menakjubkan dan dia mengetahui bahwa nabi Musa tidak akan sabar. Terlebih lagi nabi Musa adalah seorang yang sangat suka bernahi munkar. Jika dia melihat sesuatu yang zahirnya munkar maka dia akan langsung mengingkarinya.

([4]) HR Al-Bukhariy no 3401, 4726 dan Muslim no 2380

([5]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/181