Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-48

48. وَعُرِضُوا۟ عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَّقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَٰكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍۭ ۚ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّن نَّجْعَلَ لَكُم مَّوْعِدًا

wa ‘uriḍụ ‘alā rabbika ṣaffā, laqad ji`tumụnā kamā khalaqnākum awwala marratim bal za’amtum allan naj’ala lakum mau’idā
48. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian.

Tafsir :

Ayat ini adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya yaitu,

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Yang dijelaskan dalam ayat ini bahwa semua manusia dikumpulkan di padang mahsyar yang datar, tidak ada seorang pun yang lolos dari pengumpulan tersebut. Setelah mereka dikumpulkan mereka dipaparkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka semua dipaparkan dengan ber-shaf (berbaris). Sebagian ulama mengatakan mereka dipaparkan dengan satu barisan, sebagian ulama yang lain mengatakan mereka dipaparkan dengan berbaris-baris([1]). Intinya mereka berbaris untuk disidang di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدْ جِئْتُمُونَا

“Sesungguhnya kalian datang kepada Kami.”

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan maka Allah subhanahu wa ta’ala mengejek mereka dengan firman-Nya “Sesungguhnya kalian datang kepada Kami”([2]). Kalian mengatakan tidak akan ada hari kebangkitan, padahal hari kebangkitan benar-benar ada, bahkan sekarang kalian sudah datang di hadapan Kami. Mereka semua dibangkitkan dan akan disidang.

كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا

“sebagaimana Kami menciptakan kalian pada kali yang pertama.”

Kalian semua datang dalam kondisi sebagaimana kami menciptakan kalian pertama kali (yaitu sebagaimana manusia pertama kali dilahirkan), Allah berfirman dalam ayat yang lain,

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya: 104)

Manusia ketika dibangkitkan maka akan dibangkitkan sebagaimana dia dilahirkan; yaitu tanpa harta, pakaian, tanpa apapun dan yang tersisa hanyalah amal saleh. Mereka dibangkitkan dalam keadaan yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا

“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” ([3])

Dalam riwayat lain,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا

“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak berpakaian, belum dikhitan, dan tidak membawa apa-apa.” ([4])

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ

Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.”

Itulah kondisi manusia tatkala dibangkitkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ini juga berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain,

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ ۚ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (QS. Al-An’am: 94)

Inilah yang dimaksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan بُهْمًا “tidak membawa apa-apa”. Jangankan membawa harta, bahkan sendalpun mereka tidak punya, yaitu mereka dibangkitkan dalam keadaan حُفَاةً (tidak beralas kaki). Jangankan membawa harta bahkan pakaian pun mereka tidak memilikinya yaitu mereka dibangkitkan dalam keadaan عُرَاةً (telanjang). Semuanya akan dibangkitkan dalam keadaan demikian, tidak ada pangkat dan jabatan, bahkan mereka semua dibangkitkan dalam keadaan belum dikhitan. Mereka semua dibangkitkan untuk disidang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan kepada mereka,

بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا

“bahkan kalian (ketika di dunia) mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kalian waktu (memenuhi) perjanjian.”

Yaitu perjanjian kapan kalian akan dibangkitkan maka waktunya telah Allah subhanahu wa ta’ala tentukan. Juga perjanjian kapan kalian akan dikumpulkan maka Allah subhanahu wa ta’ala telah menentukannya. Jadi Allah subhanahu wa ta’ala telah membuat perjanjian dan Allah subhanahu wa ta’ala akan menunaikan janjinya tersebut. Akan ada saatnya mereka dibangkitkan dan ada saatnya Allah subhanahu wa ta’ala menetapi janji untuk mengumpulkan mereka di Padang Mahsyar. Adapun orang-orang musyrikin mengingkari ini semua dan mereka mengatakan bahwa hari kebangkitan tidak ada. Lalu tiba-tiba mereka datang kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada hari dibangkitkan, dan Allah berkata kepada mereka “Sesungguhnya kalian datang kepada Kami”.

Setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan kondisi berikutnya yang menakutkan pada hari kiamat.

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/165

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 3/521 dan Tafsir Ibnu Katsir 5/165

([3]) HR. Muslim no. 2859

([4]) HR. Ahmad no. 16042. Dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini sanadnya hasan