Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-44

44. هُنَالِكَ ٱلْوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلْحَقِّ ۚ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا

hunālikal-walāyatu lillāhil-ḥaqq, huwa khairun ṡawābaw wa khairun ‘uqbā
44. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.

Tafsir :

Datang dalam dua  qiraah (bacaan), ada yang membaca  الْوَلَايَةُ artinya pertolongan dan ada yang membaca الْوِلَايَةُ artinya kekuasaan([1]). Karena tatkala itu tidak ada yang mampu untuk menolongnya, karena semua pertolongan  di tangan Allah subhanahu wa ta’ala dan semua kekuasaan hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Itulah yang terjadi. Jika Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan azab maka tidak seorang pun yang bisa berkutik, karena yang bisa menolong hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Allah subhanahu wa ta’ala sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan. Allah subhanahu wa ta’ala jika sudah memberi maka Dialah Pemberi yang terbaik dan jika Allah subhanahu wa ta’ala mengazab sesuatu maka Dia adalah yang paling besar azab-Nya sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan,

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ

“Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (Al-Fajr: 25-26)

Beberapa faedah yang bisa kita ambil dari kisah ini:

  • Bahwa kekayaan bukanlah bukti bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mencintai seorang hamba. Allah subhanahu wa ta’ala bisa memberikan kekayaan kepada orang yang Dia cintai dan juga bisa memberikan kekayaan kepada orang yang Dia benci.
  • Seseorang tidak boleh ujub (bangga) dengan keberhasilan yang dia lakukan. Lihatlah orang yang diceritakan dalam ayat ini yang dia ujub dan bangga dengan cara memamerkan kekayaannya. Padahal kita semua tahu bahwa kekayaan semuanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.
  • Jika kita takjub dengan karya kita maka hendaknya kita ucapkan مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.
  • Hendaknya kita berhati-hati terhadap doa orang yang dizalimi. Lihatlah orang mukmin yang dikisahkan dalam ayat ini yang diejek. Terkadang ejekan lebih sakit daripada pukulan, seorang penyair berkata:

جَرَاحَاتُ السِّنَانِ لَهَا الْتِئَامٌ … وَلاَ يَلْتَامُ مَا جَرَحَ اللِّسَانُ

luka-luka akibat sayatan pedang masih bisa sembuh…adapun luka akibat lisan terkadang tidak bisa diobati.”([2])

Lalu orang yang terzalimi tersebut mengangkat tangan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ini sangat bahaya. Hendaknya kita hati-hati jangan sampai menzalimi orang lain. Terkadang doa yang dipanjatkan oleh orang yang dizalimi tidak langsung menimpa orang yang menzalimi, Allah menundanya namun pasti akan datang waktunya doa tersebut menimpa orang yang menzalimi.

_____________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 10/411

([2]) Majma’ul Hikam Wal Amtsal Fis Syi’ir Al-‘Arobi 9/222