Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-15

15. هَٰٓؤُلَآءِ قَوْمُنَا ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً ۖ لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَٰنٍۭ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا

hā`ulā`i qaumunattakhażụ min dụnihī ālihah, lau lā ya`tụna ‘alaihim bisulṭānim bayyin, fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każibā
15. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?

Tafsir :

Pada ayat ini terdapat isyarat bahwasanya kaumnya juga menyembah Allah namun mereka juga berbuat syirik, mereka beribadah kepada Allah namun juga menjadikan sesembahan selain Allah sebagai tuhan-tuhan. Maka dalam ayat ini terdapat tantangan: “Mana dalilnya, mana buktinya dan mana syari’atnya?” ([1])

Lalu Allah pun melanjutkan:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”.

Kebohongan dalam ayat ini maksudnya adalah kesyirikan, karena kesyirikan merupakan sebesar-besar dusta atas nama Allah, dalam ayat lain Allah berfirman:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang berbuat syirik terhadap Allah maka sungguh ia telah berbuat kedustaan yang besar”(QS An-Nisa: ayat 48), bagaimana mungkin kalian menyamakan ibadah kepada makhluk dengan ibadah kepada Tuhan? Padahal makhluk adalah ciptaan Tuhan, bukankah ini adalah kedustaan yang paling besar?! Maka keadilan yang paling besar adalah Tauhid, sebaliknya kezaliman yang paling besar adalah kesyirikan, oleh karena itu dalam ayat yang lain:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang paling besar” (QS Luqman: ayat 13), Hakikat kezaliman adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Sehingga kezhaliman yang paling besar adalah kesyirikan. Karena bagaimana mungkin engkau menyamakan peribadatan kepada Allah dengan peribadatan kepada Nabi Isa, atau menyamakannya dengan menyembah berhala, atau menyamakan dengan menyembah kepada jin, atau menyamakan dengan menyembah kepada malaikat, atau menyamakan dengan menyembah wali atau menyamakan dengan menyembah mayit? Bagaimana mungkin semua ini hendak disamakan?! Apalagi jika mau disamakan dengan menyembah sapi?! Maka ini jelas merupakan kedustaan yang amat besar; dengan menyatakan makhluk-makhluk tersebut (baik batu-batu, pepohonan dan sebagainya) berhak disembah sebagaimana Pencipta alam semesta berhak disembah, oleh karena itu dalam ayat Allah berfirman:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”, maksudnya adalah orang-orang yang berbuat kesyirikan.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwasanya ketika mereka berbicara seperti itu kepada Raja, akhirnya mereka diperintahkan oleh Raja untuk melepaskan semua baju kebesaran dan akhirnya mereka semua meninggalkan segala yang mereka miliki. Raja tersebut memiliki harapan jika dunia dicabut dari mereka, mereka akan sadar karena mereka merasakan kesusahan([2]). Serupa dengan yang dilakukan orang tua dari sahabat Mush’ab bin Umair, ketika masih dalam masa kesyirikan, orang tuanya senantiasa memberinya baju-baju yang bagus, parfum yang  wangi, bahkan sandal dari luar negeri, sehingga ketika beliau berjalan maka wanginya tercium dari jarak yang jauh. Namun ketika beliau masuk Islam maka semua pemberian tersebut dicabut, sehingga kulit tubuhnya yang tadinya halus pun berubah kasar bahkan sampai menjadi bersisik bak sisik ular. Mereka berharap agar beliau keluar dari Islamnya. Demikian pula yang Raja di ayat tersebut, dimana ia memerintahkan para pemuda yang membawa kebenaran untuk menanggalkan semua kenikmatan dan pakaian kebesaran, setelah itu diganti dengan pakaian kehinaan dan kemiskinan, lalu diberi waktu untuk berpikir.

Di antara kasih sayang dari Allah Ta’ala kepada para pemuda tersebut adalah ternyata sang Raja tidak langsung membunuh mereka, akan tetapi Raja memberikan mereka waktu untuk berpikir, sehingga barangkali mereka hendak berubah pikiran dan kembali kepada kesyirikan.

Akhirnya mereka pun saling berdiskusi, sebagaimana yang Allah kisahkan.

_____________

Footnote :

([1]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 5/ 141.

([2]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 5/ 141.