Tafsir Surat Maryam Ayat-88

88. وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحْمَٰنُ وَلَدًا

wa qāluttakhażar-raḥmānu waladā
88. Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.

Tafsir:

Kemudian firman Allah,

﴿وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا﴾

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak “.”  (QS. Maryam: 88-91)

Ini adalah hikayat yang menceritakan tentang perkataan orang-orang musyrikin. Seperti dalam ayat sebelumnya,

﴿وَيَقُولُ الْإِنْسَانُ أَإِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا﴾

“Dan berkata manusia: “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” (QS. Maryam: 66)

Begitu juga dalam ayat lain,

﴿وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا﴾

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?” (QS. Maryam: 73)

Maka dalam ayat ini Allah kembali menyebutkan perkataan orang-orang musyrikin, yakni klaim mereka bahwa Allah ﷻ mempunyai anak. Manusia yang mengatakan hal ini ada 3 kelompok:

  1. Mereka mengatakan bahwa malaikat adalah putri Allah.
  2. Mereka mengatakan ‘Uzair putra Allah.
  3. Mereka mengatakan Al-Masih putra Allah.

Perhatikan bagaimana kata ganti dalam rangkaian ayat di atas berganti. Jika pada ayat pertama Allah menyebutkan (وَقَالُوا) dan mereka berkata, maka pada ayat setelahnya Allah ﷻ menggunakan (لَقَدْ جِئْتُمْ) “sungguh kalian telah mengatakan…”. Para ulama menjelaskan sebuah maksud di balik hal ini, yaitu seakan-akan Allah hendak menunjukkan kemurkaan-Nya yang dahsyat di hadapan mereka, disebabkan perkataan mereka yang lancang nan melampau batas tersebut. ([1])

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman,

كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي، كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفْئًا أَحَدٌ “

“’Anak Adam telah mendustakanKu, padahal tidak pantas baginya untuk berbuat demikian. Ia juga telah mencaciKu, padahal tidak pantas baginya untuk berbuat demikian.

Ia mendustakanKu dengan mengatakan, ‘Allah tidak akan membangkitkan aku kembali, sebagaimana Ia telah menciptakanku pertama kali.’ Padahal penciptaan yang pertama tidaklah lebih mudah bagiKu daripada hanya sekedar mengembalikannya.

Adapun caci makinya padaKu adalah ungkapannya, ‘Allah telah mengambil (memiliki) anak.’ Sementara Aku adalah Yang Maha Esa, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa Dengan-Ku.'” ([2])

Perhatikan bagaimana Allah ﷻ menyebut klaim Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin, bahwa Ia ﷻ memiliki anak, adalah bentuk cacian kepadaNya. Perhatikan pula bagaimana Allah ﷻ menyatakan bahwa hampir-hampir langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung luluh-lantak, karena klaim dusta nan lancang mereka ini. Perlu kita camkan dalam hati bahwa di antara sebab vonis kafir atas kaum musyrikin (termasuk Yahudi dan Nasrani) adalah klaim mereka bahwa Allah ﷻ mempunyai anak. Ini tidak bisa dianggap remeh, karena ini berkaitan langsung dengan substansi tauhid. Siapa pun yang mengatakan bahwa Allah memiliki anak, atau membenarkan mereka yang mengklaim demikian, maka tauhidnya langsung batal. Termasuk dalam masalah ini larangan mengucapkan selamat terkait hari raya yang berkaitan dengan keyakinan kufur ini.

________
Footnote:

([1]) Lihat: Tafsir Al-Baydhowi 4/20

([2]) HR. Bukhori no. 4974