Tafsir Surat Al-Maidah Ayat-101

101. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَسْـَٔلُوا۟ عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْـَٔلُوا۟ عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ ٱلْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا ٱللَّهُ عَنْهَا ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tas`alụ ‘an asy-yā`a in tubda lakum tasu`kum, wa in tas`alụ ‘an-hā ḥīna yunazzalul-qur`ānu tubda lakum, ‘afallāhu ‘an-hā, wallāhu gafụrun ḥalīm
101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Tafsir :

Ayat ini erat kaitannya dengan kisah ketika Rasulullah ﷺ naik mimbar kemudian membuka kesempatan kepada para Sahabat untuk bertanya. Beliau bermaksud untuk membuka pertanyaan yang penting terkait urusan agama. Namun ternyata ada yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang masalah pribadinya, yang kalau pertanyaan tersebut dijawab maka justru membuat penanya menjadi malu atau sedih. Di antaranya ada yang bertanya untuk memastikan statusnya sebagai anak dari ayahnya. Ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang siapakah bapaknya. Ini adalah pertanyaan yang kalau jawabannya tidak sesuai dengan harapan sang penanya maka justru akan membuatnya malu. Ada pula yang bertanya di manakah bapaknya yang telah meninggal (di surga atau di neraka)? Dalam hal ini Rasulullah ﷺ menjawab bahwa bapaknya berada di Neraka.([1])

Ayat ini juga berkaitan dengan larangan bertanya dengan pertanyaan yang akan memberatkan pada masa Quran sedang diturunkan, seperti bertanya tentang suatu perkara yang tadinya tidak wajib lantas menjadi wajib. Pernah ada seseorang yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kewajiban haji, apakah diwajibkan tiap tahun.  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ – ثُمَّ قَالَ – ذَرُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَىْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَدَعُوهُ

 “Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji maka berhajilah.” Ada yang bertanya: “Apakah tiap tahun Wahai Rasulullah?” Nabi tidak menjawab sampai ditanya tiga kali, barulah setelah itu beliau menjawab: “Jika aku katakan, Iya, niscaya akan diwajibkan tiap tahun dan belum tentu kalian sanggup. Karena itu biarkanlah apa yang sudah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa akibat banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi mereka. Jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai kemampuan kalian, dan jika aku melarang kalian dari sesuatu sesuatu maka tinggalkanlah.” ([2])

________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, vol. VI, hlm. 330.

([2]) HR Al-Bukhari no. 7288.