Tafsir Surat Al-An’am Ayat-133

133. وَرَبُّكَ ٱلْغَنِىُّ ذُو ٱلرَّحْمَةِ ۚ إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنۢ بَعْدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ ءَاخَرِينَ

wa rabbukal-ganiyyu żur-raḥmah, iy yasya` yuż-hibkum wa yastakhlif mim ba’dikum mā yasyā`u kamā ansya`akum min żurriyyati qaumin ākharīn
133. Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.

Tafsir :

Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan tentang salah satu asma-Nya, yaitu Al-Ghaniyy, Mahakaya. Allah Mahakaya, tidak membutuhkan siapa pun selain-Nya. Sifat semacam ini hanyalah dimiliki oleh Allah ﷻ, sebagaimana ditegaskan oleh banyak ulama. Al-Alusi([1])menyatakan bahwa siapa pun pasti akan membutuhkan selainnya, kecuali Allah ﷻ.

Suatu ketika kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah ﷺ ,

انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ!

Sifatilah Tuhanmu kepada kami!”([2])

Maka sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, turunlah firman Allah ﷻ,

﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  ١ اللَّهُ الصَّمَدُ  ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ  ٣ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ  ٤﴾

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Tiada sembahan lain selain Allah ﷻ yang dapat memenuhi persyaratan yang disebutkan dalam surah Al-Ikhlas ini. Perhatikanlah, segala sembahan selain Allah ﷻ membutuhkan sesajen, butuh dipahat, butuh rekan untuk mengatur alam semesta, dan lainnya. Bahkan, sebagian sembahan masih memiliki rasa lapar dan haus, sehingga mereka membutuhkan bantuan untuk diberi makan dan minum. Sungguh tiada Ash-Shamad nan Yang Mahakaya selain Allah ﷻ.

Allah ﷻ Mahakaya. Dia ﷻ sama sekali tidak membutuhkan ibadah dan ketaatan kita. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾

Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji’.” (QS. Luqman: 12)

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ﴾

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. (QS. AlIsra: 7)

Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan sifat-Nya yang lain, yakni sifat rahmat. Ini merupakan bukti yang menguatkan bahwa setiap nama Allah ﷻ mengandung sifat. Kita tahu bahwasanya di antara nama Allah ﷻ adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang bermakna Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kedua nama tersebut mengandung sebuah sifat bagi Allah ﷻ, yakni sifat rahmat, dan ia ditegaskan pada ayat ini, bahwa Allah ﷻ adalah Dzu-r rahmah.

Demikian juga nama-nama Allah ﷻ yang lain, seperti Al-Ghafur, yang bermakna Maha Pengampun. Nama ini juga mengandung sebuah sifat bagi Allah ﷻ, yakni sifat ampunan, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,

﴿إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ﴾

“Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32)

Intinya, setiap nama Allah ﷻ pastilah mengandung sifat. Seperti nama الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ mengandung sifat الرَّحْمَةِ, nama الْغَفُورُ mengandung sifat الْمَغْفِرَةُ, nama الْعَزِيْزُ mengandung sifat الْعِزَّةُ, dan lainnya.

Perhatikan bagaimana dalam ayat ini Allah ﷻ menggandengkan antara sifat kaya-Nya dengan sifat rahmat-Nya. Al-Alusi menerangkan, bahwa hal tersebut merupakan pernyataan tersirat dari Allah ﷻ, bahwa pengutusan para rasul untuk mendakwahi para hamba agar beriman dan beribadah kepadaNya, bukanlah karena Dia ﷻ membutuhkan keimanan dan ibadah tersebut, karena Dia ﷻ adalah Mahakaya. Akan tetapi, hal tersebut murni merupakan bentuk kasih sayang Allah ﷻ kepada para hamba, dan bahwa kebaikan dan manfaat dari keimanan dan ibadah tersebut akan kembali kepada para hamba itu sendiri.([3]) Oleh karenanya, setelah itu Allah ﷻ mengatakan,

﴿إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِن بَعْدِكُم مَّا يَشَاءُ كَمَا أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ﴾

“Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.”

Sebagaimana Allah ﷻ menciptakan manusia dari keturunan nenek moyangnya, maka jika Allah ﷻ berkehendak memusnahkan mereka, Allah ﷻ akan memunculkan generasi lain yang mereka juga memiliki keturunan. Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa Allah ﷻ Mahakaya dan tidak membutuhkan ibadah kita. Sadarilah hal ini selalu ketika kita beribadah, bahwa segala manfaat yang akan muncul dari ibadah tersebut, semata-mata hanyalah untuk kita sendiri, bukan untuk Rabb kita. Allah ﷻ sama sekali tidak membutuhkan kita, melainkan kitalah yang fakir kepadaNya.

Di sisi lain, kita juga tidak boleh putus asa dari meraih rahmat-Nya, karena Dia amatlah luas rahmat-Nya. Teruslah berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kepadaNya. Dan setiap kali kita tergelincir, janganlah berputus asa! Bangkitlah! Kembalilah dan berlarilah kembali kepadaNya! Jangan pernah memutuskan harapan dari Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Alusi (4/274).

([2]) HR. At-Tirmidzi No. 3364, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam kitabnya Dha’if Sunan at-Tirmidzi (1/439).

([3]) Lihat: Tafsir al-Alusi (4/274).