Tafsir Surat Al-An’am Ayat-108

108. وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

wa lā tasubbullażīna yad’ụna min dụnillāhi fa yasubbullāha ‘adwam bigairi ‘ilm, każālika zayyannā likulli ummatin ‘amalahum ṡumma ilā rabbihim marji’uhum fa yunabbi`uhum bimā kānụ ya’malụn
108. Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Tafsir :

Bentuk celaan terhadap sesembahan lain ada dua jenis:

  1. Mencela dengan serampangan dan tanpa dalil

Jenis yang pertama ini tidak diperbolehkan.

  1. Menjelaskan kekurangan sesembahan tersebut dengan penjelasan ilmiah.

Hukum asal jenis yang kedua ini adalah diperbolehkan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an ketika Nabi Ibrahim ‘Alahissalam mendakwahi ayahnya,

﴿إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَاأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا﴾

“Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS. Maryam:42)

Allah ﷻ juga menjelaskan tentang hakikat Nabi Isa ‘Alahissalam dan Ibunya yang disembah oleh orang-orang Nasrani,

﴿إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴾

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Al ‘Imran:59)

﴿مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَۗ انظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ﴾

“Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (QS. Al Ma’idah:75)

Jenis kedua ini diperbolehkan, karena ia termasuk konsekuensi dari tauhid. Menjelaskan aib sesembahan selain Allah ﷻ, adalah salah satu hal yang wajib ketika sedang menjelaskan tauhid kepada umat. Adapun sekadar makian dan celaan serampangan tanpa dalil, maka tidak diperbolehkan.

Perlu diperhatikan pula, bahwa kebolehan celaan jenis kedua pun memiliki rambu-rambu yang telah dijelaskan oleh para ulama. Di antaranya adalah, bahwa apabila dikhawatirkan ia akan mengakibatkan pencelaan terhadap Allah ﷻ, maka ia tidak lagi dianjurkan. Ini karena celaan kepada Allah ﷻ lebih parah dari pada kesyirikan. Intinya, jika jenis yang kedua ini mendatangkan kemungkaran yang lebih besar, maka tidak dianjurkan, dalam rangka menerapkan kaedah sadd adz-dzarii’ah.

Bukankah orang-orang musyrikin Arab mengakui Allah sebagai Tuhan, lantas kenapa mereka mencela Allah?

Terdapat beberapa pendapat terkait masalah ini. Di antaranya:

Pertama: Mereka adalah musyrikin dahriyyah (ateis) yang tidak mengakui adanya Tuhan. Pendapat ini merupakan pendapat Ar-Raazi.

Pendapat ini kurang tepat, karena secara jelas disebutkan dalam ayat ini bahwa mereka adalah kaum yang ‘menyembah’.

Kedua: Yang dimaksud dengan mencela Allah ﷻ, adalah mencela Rasulullah ﷺ. Karena mencela Rasulullah ﷺ  sama dengan mencela Allah ﷻ. Ini juga merupakan pendapat Ar-Razi([1]).

Pendapat ini kurang tepat, karena mereka memang sudah mencela Rasulullah ﷺ semenjak awal, meskipun tanpa adanya celaan terhadap sesembahan mereka.

Ketiga: Mereka menganggap Allah-nya Muhammad adalah setan, dan berbeda dengan Allah-nya mereka. Seperti ketika turunnya wahyu kepada Rasulullah ﷺ terhenti beberapa waktu, istri Abu Lahab berkata kepada Nabi Muhammad ﷻ,

يَا مُحَمَّدُ، مَا أَرَى شَيطَانَكَ إِلَّا قَد تَركَكَ

“Wahai Muhammad, sepertinya setanmu telah meninggalkanmu!” ([2])

Ini merupakan pendapat Thahir bin ‘Asyur.([3])

Perkataan mereka ini mirip dengan perkataan orang-orang Syiah, bahwa Allah yang memuji para sahabat bukanlah Allah-nya mereka.

Keempat: Ini mungkin saja terjadi, karena kaum musyrikin sangatlan mencintai berhala-berhala mereka seperti mencintai Allah ﷻ. Jadi tidak heran jika akhirnya mereka berbalik mencela Allah ﷻ, ketika sesembahan mereka dicela. Sebagaimana dalam firman-Nya,

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al Baqarah:165)

Ketika mereka mencintai berhala-berhala mereka sama dengan cinta mereka kepada Allah, maka ketika berhala-berhala mereka dipermasalahkan maka bisa jadi mereka juga akan balik mempermasalahkan Allah ﷻ. Ini merupakan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (RH).([4])

Karenanya, di akhir ayat ini Allah ﷻ berfirman,

﴿كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al An’am:108)

Demikianlah, sudah menjadi sebuah ketentuan yang berlaku sepanjang masa, bahwa Allah ﷻ menjadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Namun, kelak mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Kemudian pada saat yang telah ditentukan, mereka akan kembali kepada Allah ﷻ, lalu Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.

Ibnu Abbas (RA) ketika menafsirkan penggalan akhir ayat ini berkata,

زَيَّنَّا لِأَهْلِ الطَّاعَةِ الطاعةَ، وَلِأَهْلِ الكُفْرِ الْكُفْرَ

“Kami hiasi ketaatan bagi mereka yang biasa melakukannya, dan kami hiasi kekufuran bagi mereka yang biasa melakukannya.”([5])

________________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir Wa at-Tanwir (7/429)

([2]) HR. Bukhari No. 4983

([3]) Lihat: At-Tahrir Wa at-Tanwir (7/429)

([4]) Lihat: Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah (5/ 397)

([5]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi  (7/62)