Tafsir Surat Maryam Ayat-33

33. وَٱلسَّلَٰمُ عَلَىَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

was-salāmu ‘alayya yauma wulittu wa yauma amụtu wa yauma ub’aṡu ḥayyā
33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Tafsir:

Perhatikan perbedaan kata salam pada kisah Nabi Isa ‘Alaihissalam dan Nabi Yahya AS. bagi Nabi Isa AS, Allah ﷻ berfirman (وَالسَّلٰمُ) dengan alif laam, sedangkan bagi Nabi Yahya AS -pada ayat ke-15- Allah ﷻ berfirman (وَسَلٰمٌ) tanpa alif laam. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tambahan ال pada kata salaam yang berkaitan dengan Nabi Isa ‘Alaihissalam berfungsi untuk menambahkan makna istighraaq, yakni makna yang luas nan mencakup segala jenis keselamatan.

Hikmah di balik pengkhususan penyebutan 3 fase kehidupan ini telah kita bahas sebelumnya pada ayat yang berkaitan dengan kisah Nabi Yahya AS. Namun terkait kisah Nabi Isa AS, para ulama menyebutkan hikmah lainnya, yaitu bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani tersesat dalam memahami 3 fase kehidupan beliau ini.

Terkait kelahiran Nabi Isa AS, orang-orang Yahudi menuduh bahwa Isa ‘Alaihissalam adalah anak zina -sebagaimana telah berlalu penjelasannya-. Kemudian terkait kematian beliau AS, orang-orang Yahudi dan Nashrani sama-sama meyakini bahwa beliau AS telah meninggal di tiang salib. Adapun terkait kebangkitan beliau AS kelak, orang-orang Yahudi meyakini bahwa Isa ‘Alaihissalam kelak akan dibangkitkan bersama orang-orang kafir karena dia telah mengubah-ubah isi Taurat([1]).

Yahudi maupun Nashrani sama-sama meyakini bahwasanya Nabi Isa ‘Alaihissalam wafat disalib, dan bahkan Yahudi berbangga telah berhasil membunuh beliau AS. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَقَوۡلِهِمۡ إِنَّا قَتَلۡنَا ٱلۡمَسِيحَ عِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمۡۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينَۢا ١٥٧ بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيۡهِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ١٥٨﴾

“dan karena ucapan mereka (Yahudi): ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’ 157-158)

Kebanggaan semacam ini sebenarnya adalah hal yang lumrah jika muncul dari mereka, karena memang di antara ciri khas mereka adalah hobi membunuh para nabi yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ﴾

“Dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar)”. (QS. Ali Imran : 181)

Kejadian disalibnya Nabi Isa ‘Alaihissalam juga diakui oleh orang-orang Nashrani. Bahkan salib adalah sebuah simbol agung dan simbol keselamatan mereka, karena apabila Isa ‘Alaihissalam tidak disalib, maka mereka (orang-orang Nashrani) tidak ada yang selamat. Menurut mereka Isa ‘Alaihissalam memang diutus oleh bapaknya -Allah- untuk disalib agar bisa menebus dosa-dosa manusia. Padahal ini telah dibantah oleh Allah dalam Al-Quran,

Padahal dalam Injil sendiri -Injil Barnabas- tertera bahwa yang terbunuh di tiang salib adalah murid Nabi Isa ‘Alaihissalam yang berkhianat, yang bernama Yudas Iskariot. Wajahnya Allah ﷻ serupakan dengan Nabi Isa AS, sehingga dialah yang ditangkap oleh orang-orang Romawi dan Yahudi untuk kemudian dibunuh di tiang salib.

Adapun keyakinan orang-orang Yahudi bahwa Isa ‘Alaihissalam telah kafir dan akan dibangkitkan bersama orang-orang kafir karena dia telah mengubah-ubah isi Taurat, maka ini adalah bualan mereka belaka. Memang benar beliau telah mengubah isi Taurat, karena memang demikianlah para rasul Allah ﷻ utus untuk memperbaharui syariat rasul sebelumnya. Al-Quran menyebutkan,

﴿وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ﴾

“Dan agar aku menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu” (QS. Ali Imran : 50)

Dan pola pembaharuan semacam ini juga telah terjadi sebelum Taurat diturunkan. Dalam artian, Taurat juga turun sebagai pembaharuan atas syariat yang telah ada sebelumnya. Allah ﷻ berfirman,

﴿كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِلَّا مَا حَرَّمَ اِسْرَاۤءِيْلُ عَلٰى نَفْسِه مِنْ قَبْلِ اَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرٰىةُ ۗ﴾

“Semua makanan itu halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Yakub) atas dirinya sebelum Taurat diturunkan”. (QS. Ali Imran : 93)

Demikian pula akhirnya syariat Injil dan Taurat pun diperbaharui dan menjadi tidak berlaku dengan turunnya Al-Quran.

Ayat ini juga merupakan bantahan bagi orang-orang Liberal yang justru menggunakan ayat ini sebagai dalil bolehnya seorang muslim mengucapkan “Selamat Natal” untuk umat Nasrani. Mereka berdalill dengan penggalan ayat di atas, yaitu,

﴿وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ﴾

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku” kemudian mengatakan bahwa ini dalil bolehnya mengucapkan selamat natal. Ini adalah pendalilan yang sangat fatal kekeliruannya. Hal itu salah dari beberapa sisi, di antaranya:

Harus diketahui terlebih dahulu bahwa pendalilan dan argumentasi ini tidaklah pernah ditemukan sebelumnya. Dalam artian, ini adalah pemahaman yang mereka ada-adakan.

Berikutnya, mereka menafsirkan as-salaam dalam ayat dengan peristilahan Bahasa Indonesia, sehingga maknanya menjadi makna tahniah (ucapan selamat). Padahal yang dimaksud dengan as-salaam pada ayat tersebut adalah doa keselamatan.

Kemudian, jika memang makna as-salaam adalah sebagaimana yang diklaim oleh mereka, berarti ucapan selamat tidak hanya diucapkan atas kelahiran Nabi Isa AS, melainkan juga atas kematiannya. Bukankah ayat menyebutkan as-salaam atas kelahiran dan juga kematian beliau AS?! Lalu, mengapa anda hanya mengucapkan selamat atas kelahiran beliau AS saja?!

Bayangkan betapa rusaknya akal mereka yang telah termabukkan oleh hawa nafsu! Ayat yang Allah ﷻ turunkan untuk membantah orang-orang Nasrani, justru mereka jadikan dalil atas bolehnya mengucapkan selamat natal, yang berarti setuju dengan lahirnya Isa sebagai anak Tuhan. Allahul Musta’aan.

FAEDAH

Mukjizat Nabi Isa ‘Alaihissalam yang mampu berbicara ketika masih bayi tidaklah disebutkan sama sekali di Injil, baik Injil Lukas -yang menceritakan kelahiran beliau-, atau pun Injil Matius. Bahkan sebagian mereka mengingkari mukjizat ini!

Mukjizat ini hanya disebutkan dalam Injil Ath-Thufuliyah([2]), namun Injil ini seperti Injil Barnabas, yang tidaklah diakui oleh orang-orang Nasrani.

Adapun Injil yang ada dan dicetak dalam Bibel, yaitu Injil Lukas, Matius, Yohanes, dan Markus, beserta puluhan risalah-risalah para Rasul, semuanya tidak menyebutkan sedikit pun tentang mukjizat Nabi Isa ‘Alaihissalam yang luar biasa ini.

Perlu dicatat bahwa mukjizat ini hanya terjadi pada momen tersebut saja dan tidak berlangsung terus-menerus sepanjang masa kecil beliau AS. Ada 2 bayi lainnya selain Nabi Isa ‘Alaihissalam yang pernah diberikan keajaiban mukjizat ini oleh Allah ﷻ. Salah satunya disebutkan dalam kisah Juraij, seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil.

Dikisahkan bahwa Juraij memiliki shauma’ah, yakni sebuah tempat peribadatan khusus yang selalu ia pakai beribadah. Suatu saat, ketika ia sedang melaksanakan shalat sunnah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya, namun ia tidak menjawab panggilan tersebut dan memilih melanjutkan shalatnya. Ibunya pun marah dan pulang dengan kecewa. Kejadian ini terus berulang hingga tiga kali selama tiga hari, dan pada kali yang terakhir sang ibu dengan marah berkata,

Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia sebelum dia mendapat fitnah dari perempuan pelacur!”

Ternyata saat itu ada seorang wanita pelacur yang cantik jelita. Ketika mendengar reputasi Juraij yang amat baik di tengah-tengah Bani Israril, ia pun merasa tertantang untuk merusak reputasi tersebut. Maka mulailah pelacur itu menggoda dan membujuk Juraij, tetapi Juraij tidak pernah terpedaya dengan godaannya. Hingga akhirnya dengan kesal pelacur itu pergi mendatangi seorang penggembala ternak yang kebetulan sering berteduh di tempat peribadatan Juraij, kemudian memperdayainya hingga mau melakukan perzinaan dengannya, dan akhirnya ia pun melahirkan seorang anak dari hasil perzinahan tersebut. Setelah melahirkan, wanita pelacur itu pun mengatakan kepada masyarakat bahwa bayi tersebut adalah hasil perzinahannya dengan Juraij.

Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun menjadi sangat marah dan benci kepada Juraij. Mereka pun mendatangi rumah peribadatan Juraij dan menghancurkannya. Selain itu, mereka pun bersama-sama menghakimi Juraij tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya. Juraij yang terkejut pun bertanya kepada mereka dengan penuh keheranan akan sebab amarah dan amukan mendadak ini. Mereka pun memberitahukan kepadanya tentang pengakuan si pelacur tersebut.

Mendengar itu, Juraij pun menanyakan keberadaan bayi tersebut, dan mereka pun membawa bayi tersebut ke hadapannya. Juraij pun meminta izin untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu, kemudian ia mendatangi bayi tersebut, kemudian berkata kepadanya sembari menekan perutnya, “Wahai bocah, siapakah ayahmu?” Tiba-tiba dengan izin Allah ﷻ bayi itu pun menjawab, “Ayahku adalah si Fulan, si penggembala.”

Kaumnya pun terkejut melihat keajaiban tersebut. Mereka pun meminta maaf kepada Juraij seraya berjanji untuk membangunkan kembali tempat peribadatan Juraij dari emas.  Namun Juraij menolak, dan meminta agar mereka cukup membangunnya kembali seperti semula.

Bayi selanjutnya disebutkan dalam kisah seorang wanita yang sedang menyusui bayi laki-lakinya. Tiba-tiba lewatlah di hadapannya seorang laki-laki penunggang kuda yang amat gagah. Melihat itu, si ibu pun berkata, Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang itu.” Subhaanallah, tiba-tiba dengan izin Allah si bayi pun melepaskan puting susu ibunya, melihat ke arah sang penunggang kuda, lalu berkata, “Ya Allah, jangan Engkau jadikan aku seperti orang itu.” Setelah mengucapkan itu, bayi itu pun kembali menyusu kepada ibunya.

Tak lama kemudian, lewatlah seorang budak perempuan yang nampak terhina dan tercela dari penampilannya. Sang ibu pun berkata, Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti budak itu.” Lagi-lagi sang bayi melepaskan puting ibunya, kemudian berkata, Ya Allah, jadikanlah aku seperti budak perempuan itu.”

Si ibu sangat keheranan melihat kejadian menakjubkan itu. Namun demikian, ia tetap menanyakan ucapan bayinya yang menurutnya sangat aneh. Maka bayi itu pun kembali berbicara untuk menjelaskan kepada ibunya dengan berkata, ‘Si penunggang kuda itu adalah orang yang lalim, sedangkan budak perempuan itu hanyalah dituduh berzina dan mencuri, padahal dia adalah seorang yang suci dari kedua perbuatan itu.”

Kisah kedua bayi tersebut disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. ([3])

Di antara bantahan para ulama terkait pengingkaran orang Nasrani akan mukjizat Nabi Isa ‘Alaihissalam ini, adalah dengan menanyakan kepada mereka, jika tidak dengan mukjizat ini, lalu bagaimana Maryam bisa terbebas dari tuduhan zina?! Kenyataannya, Maryam terbebas dari tuduhan tersebut, tidak ditegakkan hukum rajam atasnya, dan bahkan tetap dikenang sebagai wanita yang mulia, salehah, nan terhormat. Apakah ada disebutkan dalam Injil bahwa ada malaikat yang turun dan membantah tuduhan mereka?! Ataukah di zaman tersebut sudah ada tes DNA?!

Dalam versi Injil disebutkan bahwa Maryam adalah sosok yang rajin beribadah kemudian dia bertunangan dengan Yusuf Nazaret. Setelah bertunangan ternyata Maryam didatangi oleh Jibril dan kemudian Maryam pun mengandung. Kejadian hamilnya Maryam diketahui oleh Yusuf. Yusuf pun ragu-ragu apakah ia akan melanjutkan pernikahannya dengan Maryam. Sampai pada akhirnya malaikat datang kepada Yusuf mengatakan bahwasanya Maryam itu tidak berzina akan tetapi anak yang ada dalam kandungannya adalah Roh Kudus.([4])

Dalam kisah tersebut disebutkan hanya Yusuf saja yang didatangi malaikat, lantas bagaimana dengan keluarganya dan kaumnya? Dari mana mereka tahu jika Maryam sebenarnya tidak berzina? Ini semua menunjukkan bahwasanya mukjizat Nabi Isa ‘Alaihissalam yang luar biasa ini, yang merupakan anugerah Allah ﷻ yang membebaskan tuduhan keji kaumnya terhadap ibundanya, adalah benar adanya. Namun beliau hanya berbicara secukupnya saja, bukan mampu berbicara sepanjang masa kecilnya, hingga akhirnya ketika beliau AS dewasa diangkat sebagai rasul dan berdakwah kepada kaumnya([5]).

________
Footnote:

([1]) Lihat : At-Tahrir wa At-Tanwir 16/100-101.

([2]) Lihat : Injil At-Thufuliyah 1:3; Al-Asas Fi Tafsir karya Sa’id Hawwa 4/264.

([3]) HR. Muslim No. 2550

([4]) Matius 1 : 18 – 25.

([5]) Lihat : Tafsir Al-Qurthubi 11/103.