Tafsir Surat Al-An’am Ayat-98

98. وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ

wa huwallażī ansya`akum min nafsiw wāḥidatin fa mustaqarruw wa mustauda’, qad faṣṣalnal-āyāti liqaumiy yafqahụn
98. Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.

Tafsir :

Allah ﷻ menciptakan manusia melalui Nabi Adam ‘Alaihissalam,([1]) lalu melalui Nabi Adam ‘Alaihissalam Allah ﷻ menciptakan Hawa. Lalu dari pernikahan keduanya, manusia pun beranak-pinak hingga saat ini, dengan izin Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً﴾

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 1)

Firman Allah ﷻ,

﴿فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ﴾

“maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.”

Secara bahasa kata مُسْتَقَرٌّ artinya tempat menetap, sedangkan kata مُسْتَوْدَعٌ artinya tempat disimpan. Para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran dua kata ini.

Ada yang mengatakan  bahwa مُسْتَقَرٌّ artinya berada di rahim ibu, sedangkan مُسْتَوْدَعٌ maksudnya dari sulbi atau air mani ayah.  Artinya, Allah ﷻ menciptakan manusia di rahim ibunya, yang sebelumnya berasal dari sulbi ayahnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa مُسْتَقَرٌّ adalah di bumi, dan مُسْتَوْدَعٌ adalah di liang lahad, karena mereka akan menetap di liang lahad sementara waktu, hingga tibanya Hari Kiamat. ([2]) Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Thahir bin Asyur dalam tafsirnya. Dia mengatakan bahwa manusia tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa ada tujuan.([3]) Allah ﷻ berfirman,

﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ﴾

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Allah ﷻ berfirman,

﴿أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى﴾

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)

Kata مُسْتَوْدَعٌ juga berarti titipan. Setiap manusia hanyalah titipan, dan yang menitipkannya pasti akan mengambilnya kembali kelak. Setiap kita pasti akan kembali kepadaNya Yang menciptakan kita, kemudian Dia akan meminta pertanggungjawaban dari kita, atas apa yang telah kita lakukan di dunia ini. Maka, bersiaplah, wahai saudaraku…

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Baghawi (2/146).

([2]) Lihat: Tafsir al-Baghawi (2/146).

([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (7/397).