Tafsir Surat Luqman Ayat-19

19. وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَٰتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِيرِ

waqṣid fī masy-yika wagḍuḍ min ṣautik, inna angkaral-aṣwāti laṣautul-ḥamīr
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Tafsir :

Setelah Allah melarang semua bentuk kesombongan, lalu pada ayat ini Allah memerintahkan untuk berjalan dengan sederhana. Maksudnya untuk berjalan dengan biasa-biasa saja sewajarnya. Kemudian Allah memerintahkan untuk merendahkan suara. Jangan mengangkat suara jika tidak perlu. Jadi orang-orang yang suka berteriak dan mengangkat suara maka itu adalah orang-orang yang buruk. Jika ada keperluan maka tidak mengapa. Mengapa dilarang? Karena jika mengangkat suara menunjukkan orang yang paling hebat maka tentunya yang paling hebat adalah keledai. Namun ternyata suara yang paling buruk adalah suara keledai. Maksudnya besarnya suara tidak menunjukkan kemuliaan seseorang.

Dalam ayat ini seakan-akan Allah ingin membantah jika kamu merasa dengan suara besar sebagai orang yang mulia maka keledai lebih mulia dari dirimu. Karena suara keledai lebih besar daripada suaramu. Ini semua berbicara tentang adab-adab kepada manusia yang diajarkan oleh Luqman Al-Hakim kepada  putranya. Ini menunjukkan bahwasanya akhlak kepada orang lain bukan perkara yang sepele dalam syariat dan syariat memperhatikan masalah akhlak sampai-sampai wasiat Luqman Al-Hakim yang diabadikan al-Qurán adalah nasehat Luqman kepada anaknya berkaitan dengan akhlak.

Wasiat-wasiat Luqman masih banyak, tidak semua dinukil oleh Al-Qurán. Al-Alusi berusaha mengumpulkan wasiat-wasiat Luqman sehingga beliau menyebutkan sekitar 28 wasiat Luqman Al-Hakim. Setelah itu usaha al-Alusi diikuti oleh Thahir bin ‘Asyur untuk menyempurnakan wasiat-wasiat tersebut dalam tafsirnya At-Tahrir Wa At-Tanwir([1]) sehingga terkumpul sekitar 70 wasiat Luqman Al-Hakim. Berikut ini sebagian kecil dari wasiat-wasiat tersebut.

Luqman berkata :

يَا بُنَيَّ إيَّاكَ وَالدَّيْنَ فَإِنَّهُ ذُلُّ النَّهَارِ وَهَمُّ اللَّيْلِ

“wahai putraku berhati-hatilah engkau dengan hutang, sesungguhnya hutang itu adalah kehinaan di siang hari dan kegelisahan di malam hari.”  ([2])

Dan ini benar, Rasulullah telah bersabda dalam haditsnya,

«لَا تُخِيفُوا أَنْفُسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا» قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الدَّيْنُ»

“Janganlah kalian takuti diri kalian setelah amannya”, para shahabat bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Hutang.” ([3])

Luqman juga berkata,

وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ كَثُرَ غَمُّهُ

Barang siapa buruk akhlaknya maka dia akan sering bersedih” ([4])

Dan ini benar, karena  jiwa akhlak yang buruk seperti suka marah-marah maka menunjukkan bahwa dirinya suka sedih dan gelisah hidupnya. Orang yang suka balas dendam maka hidupnya gelisah. Orang yang sombong dan suka merendahkan orang lain maka hidupnya gelisah. Jadi orang yang buruk akhlaknya sering gelisah dan sering tidak tenteram. Berbeda dengan orang yang pemaaf, tenang, merendahkan diri tidak angkuh maka akan tenteram hidupnya

Kemudian beliau berkata lagi,

نَقْلُ الصُّخُوْرِ مِنْ مَوَاضِعِهَا أَيْسَرُ مِنْ إِفْهَامِ مَنْ لاَ يَفْهَمُ

“Memindahkan batu dari tempatnya lebih mudah daripada memahamkan orang yang tidak bisa paham.” ([5])

Artinya memindahkan batu yang berat dari tempatnya tentu sangatlah berat, akan tetapi masih mungkin untuk dilakukan. Akan tetapi jika seseorang tidak bisa paham lalu kita paksakan untuk paham maka ini lebih berat lagi. Kerenanya jika kita menghadapi seseorang yang tidak paham maka kita harus mengerti dan jangan memaksakan dia untuk paham. Hendaknya kita menyikapinya dan menghadapinya dengan cara yang lain meskipun dia dalam kondisi tidak paham.

Luqman juga berkata :

يَا بُنَيَّ، لَا تَكُنْ حُلْوًا فَتُبْلَعْ وَلَا تَكُنْ مُرًّا فَتُلْفَظْ

Wahai putraku janganlah engkau menjadi manis lalu engkaupun ditelan, dan jangan juga menjadi pahit lantas engkau dimuntahkan

Ini nasehat agar seseorang jangan terlalu baik dalam artian tidak waspada sama sekali, sehingga mudah dimanfaatkan oleh orang yang jahat. Sebaliknya jangan pahit terlalu waspada dan senantiasa berburuk sangka sehingga tidak ada orang yang mau bergaul dengannya, atau akhirnya akan dibuang. Akan tetapi jadilah orang yang baik namun tidak bodoh sehingga pandai menilai situasi dan kondisi.

______________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir: 21/169

([2]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir: 21/169

([3]) HR. Ahmad No. 17320, Syuaib Al-Arnauth mengatakan sanadnya hasan

([4]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir: 21/169

([5]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir: 21/169