Tafsir Surat Luqman Ayat-13

13. وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

wa iż qāla luqmānu libnihī wa huwa ya’iẓuhụ yā bunayya lā tusyrik billāh, innasy-syirka laẓulmun ‘aẓīm
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Tafsir :

Para ulama berbeda pendapat apakah anaknya Luqman seorang yang musyrik atau tidak? Pendapat yang benar dalam masalah ini bahwa anak beliau bukanlah seorang yang musyrik. Nasehat tersebut ditujukan kepada anaknya agar dia senantiasa waspada dan tidak terjerumus ke dalam kesyirikan.([1])

Adapun  firman-Nya يَعِظُه ini adalah الْمَوعِظَةُ (Al-Mauizhah) yaitu nasehat yang disertai dengan At-targhib (motivasi) dan At-Tarhib (peringatan). Dalam ayat ini juga Luqman membuka nasehat kepada anaknya dengan panggilan “Ya Bunaiyya”, dalam bahasa dinamakan dengan metode Tasghir sehingga makna panggilan tersebut terkandung di dalamnya kasih sayang. Dari sini kita dapat ambil pelajaran juga betapa banyak orang pandai memberikan nasehat kepada orang lain, namun tidak mampu menasihati keluarganya sendiri. Lain ceritanya jika ia telah menasihati keluarganya, anak dan istrinya tapi mereka tidak mau menerima nasehat tersebut maka dia telah menunaikan tugasnya, seperti yang terjadi pada nabi Nuh u.    

Dalam ayat ini juga Allah ﷻ menyifati syirik dengan kezaliman yang besar. Makna الظُّلمُ secara bahasa adalah  وَضعُ الشَيءِ فِي غَيرِ مَوضِعِهِ yaitu meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Syirik disebut dengan الظُّلْمُ  karena telah menempatkan peribadatan yang seharusnya hanya untuk Allah namun dipalingkan pada selain-Nya. Jika pada kemaksiatan-kemaksiatan yang lain nampak bahwa jiwa memuaskan hawanya (seperti zina, minum khamr, merampas harta orang lain, dll) namun pada syirik tidak ada sesuatu yang memuaskan hawa nafsu. Karenanya dikatakan bahwa syirik adalah murni keburukan, jika pada kemaksiatan yang lain masih bercampur antara kemaslahatan dan kemudhrotan adapun syirik murni tidak ada kebaikan sama sekali.

Oleh karenanya dikatakan bahwa,

التَّوْحيدُ أَعْدَلُ العَدْلِ والشِّرْكُ أَعْظَمُ الظُّلْمِ

“Tauhid adalah keadilan yang paling adil dan Syirik adalah kezaliman yang paling zalim”

Syirik juga disifati dengan عَظِيمٌ karena seorang yang musyrik telah beribadah kepada sesuatu yang tidak memberi karunia dan menyamakannya dengan sang Khalik yang memberikan karunia.

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir 21/ 154, Ibnu Asyur r mengatakan bahwasanya Jumhur ulama berpendapat bahwa putra lukman adalah seorang yang musyrik tapi lukman terus menerus menasehatinya sehingga beliau pada akhirnya beriman kepada Allah ﷻ.

Namun dzohirnya anak Luqman bukanlah musyrik, karenanya Luqman menasehatinya dengan banyak nasehat baik berkaitan dengan tauhid maupun berkaitan dengan adab dan kesopanan. Adapun nasehat Luqman agar anaknya tidak musyrik, tidaklah melazimkan bahwa anaknya dalam kondisi musyrik. Karena sangat mungkin seseorang menasehati orang lain agar tidak melakukan sesuatu -dalam rangka pencegahan- meskipun sesuatu tersebut tidak sedang dilakukannya.