Tafsir Surat Maryam Ayat-11

11. فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ مِنَ ٱلْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰٓ إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا۟ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

fa kharaja ‘alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥā ilaihim an sabbiḥụ bukrataw wa ‘asyiyyā
11. Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

Tafsir:

Yang dimaksud dengan al-mihraab adalah semacam tempat khusus untuk beribadah([1]), bukan seperti mihrab masjid yang biasa kita kenal sebagai tempat khusus imam.

Dalam ayat ini dan banyak ayat lainnya, Allah ﷻ menyebutkan pagi dan petang  secara khusus, karena dua waktu tersebut adalah waktu yang spesial untuk berdzikir kepada Allah ﷻ, sehingga hendaknya seseorang jangan menyia-nyiakan waktu tersebut. allah ﷻ juga berfirman,

﴿وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ﴾

“dan bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”.” (QS. Ali Imran: 31)

Dan firman-Nya,

﴿وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾

“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.” (QS. Al-Insan: 25)

Juga firman-Nya,

﴿فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ﴾

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Al-Mukmin: 55)

Sebagian ulama menjelaskan sebab keistimewaan dua waktu ini, adalah karena di pagi hari orang belum beraktifitas dan otaknya masih segar, sehingga lebih mampu untuk fokus berzikir kepada Allah ﷻ, baik dengan membaca Al-Qur’an atau pun ucapan-ucapan zikir. Berbeda halnya ketika mulai siang, di mana seseorang sudah mulai sibuk dengan urusan dunia. Demikian juga waktu petang hari yang padanya kebanyakan orang sudah selesai bekerja, sehingga bisa kembali konsentrasi untuk mengingat Allah ﷻ. Namun demikian, bukan berarti waktu lain bukanlah waktu berdzikir. Seorang hamba tetaplah diperintahkan untuk mengingat Allah ﷻ pada setiap waktu.

_______
Footnote:

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/71