Tafsir Surat Thaha Ayat-124

124. وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

wa man a’raḍa ‘an żikrī fa inna lahụ ma’īsyatan ḍangkaw wa naḥsyuruhụ yaumal-qiyāmati a’mā
124. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Tafsir:

Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit di sini.

Pendapat pertama mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah kehidupan yang sempit di alam kubur. Kuburan mereka akan disempitkan sesempit-sempitnya, sehingga tulang-tulang mereka remuk dan patah.

Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah kehidupan yang sempit secara umum, baik di alam kubur maupun di dunia. Inilah pendapat yang benar, dan demikianlah balasan bagi seseorang yang berpaling dari Allah([1]).

Jika seseorang berpaling dari Allah maka hatinya akan selalu menderita, meskipun nampaknya dia sedang berada dalam kehidupan yang mewah. Bisa jadi terpenuhi kehidupannya secara fisik, mungkin ia adalah seorang olahragawan yang memiliki tubuh yang sehat, memiliki harta yang banyak, memiliki istri yang cantik, akan tetapi secara batinnya ia sengsara. Betapa banyak kita saksikan orang yang kita sangka ia sedang berada pada puncak kebahagiaan dikarenakan ia adalah seorang yang terkenal, hidup dengan kehidupan yang sangat mewah, ternyata hidupnya penuh dengan kesengsaraan, hidupnya penuh dengan tangisan, hidupnya penuh dengan sandiwara; di hadapan manusia seakan-akan hidupnya bahagia, ternyata dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena tak sanggup menanggung beban yang dideritanya.

Bagaimana mungkin mereka tidak mengalami penderitaan yang berkesinambungan, sedang mereka adalah orang-orang yang berpaling dari petunjuk Allah ﷻ, tenggelam dalam ketidakpuasan, serta ketamakan akan dunia?!

Dikisahkan bahwasanya ada seorang kafir masuk Islam karena melihat perlakuan anak-anak dari keluarga muslim terhadap ibunya. Ia melihat bahwasanya anak-anak dari keluarga tersebut berebut untuk mengurusi ibu mereka yang telah berusia senja, seperti memberi makan, mendorong di kursi roda, menggendong, dan seterusnya. Orang kafir tersebut merasa heran dan takjub, siapakah mereka?! Mengapa mereka begitu hormat dan patuh terhadap ibunya yang sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa?! Semua terasa aneh, mengingat apa yang ia ketahui selama ini dari lingkungan orang-orang kafir, yang mana di masa tua mereka, mereka seringnya ditelantarkan oleh anak-anak mereka, bahkan akhirnya terpaksa hidup bersama hewan-hewan peliharaan mereka, seperti anjing dan yang lainnya.

Itulah Islam, tidak ada agama yang mengajarkan bagaimana harus berbakti kepada orang tua seperti itu kecuali Islam. Sampai Nabi Muhammad ﷺ pernah mengatakan,

الزَمْ رِجْلَهَا فَثَمَّ الجَنَّةُ

“Teruslah berada di kedua kaki ibumu, di situlah surgamu!”([2])

Yakni, teruslah memperhatikan, menjada, dan mengayominya sebaik mungkin! Ajaran seperti ini tidak kita dapati pada agama-agama lainnya. Maka wajar saja jika kedurhakaaan kepada orang tua banyak kita dapati pada pemeluk-pemeluk agama selain Islam.

Lihatlah bagaimana bahagianya seorang non-muslim tatkala ia masuk Islam. Betapa bahagianya dia, ketika merasakan kebahagiaan hakiki yang sungguh luar biasa. Lihatlah betapa bahagianya mereka yang berhasil meninggalkan suatu dosa yang selama ini ia lakukan! Lihatlah betapa bahagianya mereka yang berhasil melakukan suatu amalan saleh yang selama ini mereka lalaikan!

Ayat ini merupakan peringatan bagi seluruh manusia, baik muslim maupun kafir, bahwa jika ia berpaling dari Al-Qur’an, maka hidupnya akan sengsara. Seberapa kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an, maka sedemikianlah kadar kebahagiaan hidupnya. Jangan sampai seorang muslim tidak membaca Al-Qur’an, tidak mentadaburinya, tidak mengamalkan kandungannya, dan jangan sampai ia hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai pajangan!

Ancaman selanjutnya bagi mereka yang berpaling dari Al-Qur’an, adalah Allah ﷻ akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Sebagian ulama menafsirkannya dengan kebutaan hati, namun yang benar adalah bahwa yang dimaksud adalah kebutaan mata.

Kondisi orang-orang kafir pada Hari Kiamat bermacam-macam. Ada yang dibutakan, ada yang masih bisa melihat, ada yang tidak bisa berbicara, ada pula yang masih bisa berbicara, dan seterusnya. Namun apa pun kondisi mereka, pada saat itu mereka semua akan terhinakan.

______
Footnote:

([1]) Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyyah (Lihat Majmu’ al-Fatawa 20/107), Ibnul Qoyyim (lihat al-Fawaid hal 168) dan Asy-Syingqithi (Lihat Adhwaul Bayan 4/126-127)

([2]) . HR. Ibnu Majah no. 2781, disahihkan oleh Albani