Tafsir Surat Thaha Ayat-109

109. يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَٰنُ وَرَضِىَ لَهُۥ قَوْلًا

yauma`iżil lā tanfa’usy-syafā’atu illā man ażina lahur-raḥmānu wa raḍiya lahụ qaulā
109. Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.

Tafsir:

Siapakah mereka yang diberi izin oleh Allah ﷻ dan orang yang Ia ﷻ ridai perkataannya? Ada 3 pendapat terkait siapa mereka:

Pertama: Mereka adalah orang yang kelak akan diizinkan memberikan syafaat, karena setiap yang memberi syafa’at pastilah telah diizinkan oleh Allah ﷻ, dan pastilah perkataannya telah Allah ﷻ ridai.

Kedua: Orang yang diberi izin oleh Allah ﷻ adalah orang yang memberikan syafaat, dan orang yang diridai perkataannya adalah orang yang akan memperoleh syafaat. Ini adalah pendapat Ibnul Qayyim([1]).

Ketiga: Mereka adalah orang yang memberikan syafaat dan orang yang diberi syafaat. Jadi, orang yang memberi syafa’at dan yang menerimanya, haruslah merupakan orang yang diizinkan oleh Allah ﷻ dan diridai perkataannya olehNya. Ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah([2]). Karena ayat ini umum, maka persyaratan yang terkandung padanya mencakup kedua belah pihak secara bersamaan.

Pada hari tersebut syafaat sangat bermanfaat. Sungguh bahagia orang-orang yang Allah ﷻ izinkan untuk memberi syafaat atau mendapat syafaat. Pada hari itu Allah ﷻ memuliakan hamba yang Ia ﷻ kehendaki dengan kewenangan memberi syafaat, atau izin menerima syafa’at. Dari sini kita ketahui bahwa hendaknya seseorang berusaha bertakwa kepada Allah ﷻ dan berusaha bertauhid, karena jika dia termasuk ahlu tauhid maka dia akan mendapatkan syafaat. Oleh karenanya Nabi bersabda,

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap nabi memiliki doa yang mustajab. Para nabi seluruhnya telah menyegerakan doanya, namun aku masih menyimpan doaku, sebagai syafa’at bagi umatku pada Hari Kiamat. Dan in syaa Allah syafa’atku akan didapatkan oleh siapa saja dari umatku yang wafat dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.” ([3])

Dalam riwayat yang lain Nabi ﷺ bersabda,

«إِنَّ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي»

“Sesungguhnya syafaatku pada Hari Kiamat untuk para pelaku dosa besar dari umatku.”([4])

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” ([5])

______
Footnote:

([1]) Lihat: Ighotsatu Al-Lahafan 1/220-221

([2]) Lihat: Majmu’ Al-Fatawa 14/390-391

([3]) HR. Muslim no. 199

([4]) HR. Ibnu Majah no. 4310 dishohihkan oleh Al-Albani.

([5]) HR. Bukhori no. 99