Tafsir Surat Thaha Ayat-102

102. يَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ ۚ وَنَحْشُرُ ٱلْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا

yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri wa naḥsyurul-mujrimīna yauma`iżin zurqā
102. (yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram.

Tafsir:

Yang dimaksud dengan mujrimin (para pendosa) dalam ayat ini adalah kaum musyrikin. Dan seringnya, jika Allah ﷻ menyebut mujrimin dalam Al-Qur’an, maka yang dimaksud adalah kaum musyrikin.

Para ulama menjelaskan, bahwasanya warna biru yang disebutkan dalam ayat, disebabkan oleh rasa haus yang luar biasa selama mereka menunggu di Padang Mahsyar tanpa setetes air pun, dan akibat dari ketakutan luar biasa yang menghantui mereka ketika itu. Hanya saja, para ahli tafsir berbeda pendapat tentang bagian tubuh mana yang akan membiru:

Pertama: Mata mereka membiru, sedangkan tubuh mereka akan menghitam([1]). Karena Allah ﷻ berfirman dalam ayat lainnya,

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ﴾

“pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.” (QS. Ali Imran: 106)

Dan ini adalah pendapat yang cukup kuat dalam mengkompromikan antara dua ayat ini.

Kedua: Tubuh mereka yang akan membiru, akibat rasa takut yang sangat([2]).

Ketiga: Warna biru tersebut merupakan kiasan dari mata mereka yang kelak akan dibutakan oleh Allah ﷻ([3]).
______
Footnote:

([1]) Ini adalah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 16/161 dan al-Baghowi dalam tafsirnya 5/294

([2]) Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ath-Thahir bin ‘Asyur (Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir 16/304)

([3]) Sebagaimana pendapat ini dinukil oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya 16/161 dan Al-Baghawi dalam tafsirnya 5/294