Tafsir Surat Thaha Ayat-70

70. فَأُلْقِىَ ٱلسَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا بِرَبِّ هَٰرُونَ وَمُوسَىٰ

fa ulqiyas-saḥaratu sujjadang qālū āmannā birabbi hārụna wa mụsā
70. Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”.

Tafsir:

Kata {فَاُلْقِيَ} yang dibawakan dalam bentuk kata kerja pasif (fi’il madhi mabni lilmajhul), benar-benar mengesankan bahwa para penyihir itu benar-benar tersungkur pasrah, dan tunduk sujud tanpa ada keraguan sama sekali, ketika melihat ular-ular palsu mereka dimakan habis oleh ular Nabi Musa ‘Alaihissalam. Tambah lagi, tali-tali dan tongkat-tongkat mereka lenyap tanpa bekas, yang menandakan bahwa ular Nabi Musa ‘Alaihissalam benar-benar memakan habis semua itu. Mereka tahu pasti bahwa merubah tongkat menjadi ular hakiki, bukan ilusi belaka, bukanlah sihir, melainkan murni mukjizat dari Tuhan semesta alam ﷻ. Dan ketika itu pula mereka menyadari dengan pasti bahwa Nabi Musa ‘Alaihissalam bukanlah penyihir, melainkan benar-benar seorang utusan Allah.([1])

Para ulama mengatakan bahwasanya ini dalil bahwa sihir tidak bisa mengubah hakikat, yang ada hanya ilusi, halusinasi atau khayalan. Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, bahwa sihir hanyalah berefek pada indera seseorang. Ia tidak dapat merubah suatu unsur menjadi hakikat unsur yang lain. Ia tidak bisa merubah tongkat menjadi ular, manusia menjadi batu, daun menjadi uang, kerikil menjadi emas, dan yang semisalnya. Sihir hanya mempermainkan khayalan dan penglihatan korbannya. Seandainya para penyihir Fir’aun mampu merubah suatu unsur menjadi unsur yang lain, tentu mereka lah yang seharusnya dengan mudahnya memimpin Mesir, dan tidak perlu tunduk di bawah kekuasaan Fir’aun.

Para ulama mengatakan bahwa salah satu faktor berimannya para penyihir, adalah dampak nasihat Nabi Musa ‘Alaihissalam kepada mereka sebelum berduel, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, yaitu ucapan beliau AS,

﴿وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍۚ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرٰى﴾

“Celakalah kamu! Janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab. Dan sungguh rugi orang yang mengada-adakan kedustaan!”

Dari sini kita belajar untuk jangan pernah meremehkan nasihat, walau nasehat itu singkat, walau tampaknya momen tersebut tidaklah pas untuk menasehati. Selama nasehat itu didasari keikhlasan dan ketulusan hati, in syaa Allah ia akan berbuah manis, cepat atau pun lambat.

Suatu hari Nabi ﷺ pernah bertemu seseorang yang bernama Suwaid bin Shamit, yang ketika itu sedang berada di Mekkah untuk melaksanakan haji dan umrah, Maka Rasulullah ﷺ pun mengajaknya untuk memeluk Islam. Suwaid pun menjawab, “Barangkali apa yang ada padamu sama seperti yang ada padaku.”

Mendengar itu, Rasulullah ﷺ berkata, “Memangnya apa yang ada padamu?”

Suwaid pun menjawab, “Hikmah Luqman.”

Nabi ﷺ berkata, “Coba tunjukkan kepadaku.”, lalu Suwaid pun menunjukkannya kepada Nabi ﷺ.

Setelah melihatnya, Rasulullah ﷺ pun bersabda,

إنَّ هَذَا لَكَلَامٌ حَسَنٌ، وَاَلَّذِي مَعِي أَفَضْلُ مِنْ هَذَا، قُرْآنٌ أَنْزَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيَّ، هُوَ هُدًى وَنُورٌ

“Sungguh ini memanglah ucapan yang baik, namun apa yang ada padaku jauh lebih baik dari ini. Yang aku bawakan kepadamu adalah Al-Qur’an yang Allah turunkan kepadaku sebagai petunjuk dan cahaya.”

Kemudian beliau membacakannya dan kembali mengajak Suwaid untuk memeluk Islam. Setelah beberapa saat mendengarkan, Suwaid berkata, “Sungguh ini memanglah perkataan yang baik”.

Kemudian Suwaid pun kembali ke Madinah, dan terbunuh di sana ketika berperang dengan suku Khazraj. Sebagian tokoh masyarakat kaumnya berkata, “Kami bersaksi bahwa ia terbunuh sebagai seorang muslim.”([2])

Suwaid bin Shamit RA berpisah dari Nabi Muhammad SAW dalam kondisi belum beriman, namun perlahan cahaya keislaman itu memasuki relung-relung hatinya, hingga akhirnya ia wafat dalam kondisi beriman.

Saya selalu ingat cerita seorang ulama yang keluar rumah di malam ke 27 Bulan Ramadhan, untuk salat di Masjid Nabawi. Di perjalanan, beliau melihat para pemuda yang sedang kongkow. Beliau tadinya ingin langsung pergi ke Masjid Nabawi, namun akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka sebentar, karena merasa bertanggung jawab atas agama mereka. Syaikh pun menghampiri dan menasihati mereka sesaat, dan mengingatkan mereka bahwa malam ini adalah malam yang amat mulia, sehingga seharusnya dihabiskan dengan ibadah. Setelah menyampaikan nasihat singkatnya, Syaikh pun berlalu meninggalkan mereka.

Beberapa tahun kemudian, ketika Syaikh sedang mengisi daurah, tiba-tiba ada seorang pemuda yang berpenampilan agamis menghampirinya dan berkata, “Wahai Syaikh, masih ingatkan engkau beberapa tahun lalu, kau pernah keluar untuk salat tahajud di Masjid Nabawi, lalu ada sekelompok pemuda yang kau nasihati? Saya adalah salah satu dari mereka.”

Subhanallah, betapa besarnya efek sebuah nasehat yang tulus!

_______
Footnote:

([1]) Lihat: at-Tahriir Wa at-Tanwiir (16/261).

([2]) Lihat: Siroh Ibn Hisyam (1/427) dari periwayatan Ibnu Ishaq dengan shighoh tahdits, sehingga sanadnya dihasankan oleh Dr. Akrom Dhiyaá al-Úmari (lihat As-Sirah an-Nabawiyah As-Shahihah 1/195)