Tafsir Surat Saba’ Ayat-23

23. وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ

wa lā tanfa’usy-syafā’atu ‘indahū illā liman ażina lah, ḥattā iżā fuzzi’a ‘ang qulụbihim qālụ māżā qāla rabbukum, qālul-ḥaqq, wa huwal-‘aliyyul-kabīr
23. Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Tafsir :

Allah ﷻ tidak sama dengan pemimpin-pemimpin di dunia. Di dunia ini banyak pemimpin yang membutuhkan bantuan dari yang lainnya, baik dari anak buahnya, menterinya, temannya, atau dari pemimpin yang lain. Pemimpin di dunia tidak bisa bergerak dengan sendirinya. Ketika dia membutuhkan bantuan dari yang lain maka orang-orang yang dekat dengannya memiliki kedudukan di sisinya sehingga mereka memberi syafaat tanpa harus meminta izin dari sang penguasa.

Adapun Allah ﷻ tidaklah demikian, karena Allah ﷻ tidak membutuhkan apa pun. Allah ﷻ adalah Ash-Shamad, yaitu Dzat yang tidak membutuhkan kepada siapa pun dan yang lainnya membutuhkan kepada-Nya. Oleh karenanya tidak ada yang bisa memberikan syafaat kecuali dengan izin Allah ﷻ.

Lihatlah ketika di padang mahsyar, para nabi tidak ada yang berani memberikan syafaat.  Di antaranya Nabi Adam dipuji-puji oleh manusia dengan berkata,

يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو البَشَرِ، خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ، وَأَمَرَ المَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، وَأَسْكَنَكَ الجَنَّةَ، أَلاَ تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلاَ تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ وَمَا بَلَغَنَا؟

“Wahai Adam, engkau adalah bapak seluruh manusia. Allah telah menciptakan engkau langsung dengan tangan-Nya dan meniupkan langsung ruh-Nya kepadamu, dan memerintahkan para malaikat sujud kepadamu, dan menempatkan kamu di surga. Tidakkah sebaiknya engkau memohon syafaat kepada Rabbmu untuk kami? Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami?”

Akan tetapi Nabi Adam ‘alaihissalam menjawab,

رَبِّي غَضِبَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلاَ يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَنَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ، نَفْسِي نَفْسِي

“Rabbku marah ada hari ini dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. Dia melarang aku mendekati pohon namun aku mendurhakai-Nya. diriku, diriku.” ([1])

Dahulu Adam melakukan sebuah dosa, Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an,

﴿ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ ﴾

“dan durhakalah Adam kepada Tuhan.” (QS. Thaha: 121)

Nabi Adam bertobat dan telah diampuni oleh Allah ﷻ, akan tetapi dia tetap tidak berani untuk meminta syafaat. Kemudian manusia pergi kepada nabi yang lain, akan tetapi mereka semua juga tidak bisa memberi syafaat. Hingga mereka sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan hanya beliau yang memiliki keberanian untuk meminta izin untuk memberi syafaat. Akan tetapi beliau tidak langsung memberi syafaat, beliau sujud dengan sujud yang lama di bawah Arsy. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا، لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِي

“Kemudian Allah membukakan untukku berupa pujian-pujian dan sanjungan atas-Nya yang belum pernah disampaikan pada seorang pun sebelumku.” ([2])

Allah ﷻ dipuji dengan pujian-pujian yang indah, dan Nabi Muhammad ﷺ memuji dengan pujian-pujian tersebut. Akan tetapi, Nabi Muhammad ﷺ tidak menguasai seluruh pujian-pujian tersebut karena sifat-sifat Allah ﷻ jauh lebih agung dari yang Nabi Muhammad ﷺ ketahui. Oleh karenanya beliau berkata,

لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“aku tidak mampu untuk memuji-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” ([3])

Namun, di padang mahsyar Nabi Muhammad ﷺ diajarkan untuk memuji Allah ﷻ dengan pujian-pujian yang sangat tinggi. Lalu Allah ﷻ berfirman,

يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah niscaya engkau akan diberikan dan mintalah syafaat maka engkau akan diberi syafaat.” ([4])

Intinya Nabi Muhammad ﷺ tidak bisa langsung memberi syafaat. Oleh karenanya Allah ﷻ menyebutkan setelahnya tentang malaikat. Malaikat adalah makhluk yang luar biasa, akan tetapi mereka tidak bisa memberi syafaat kecuali dengan izin Allah ﷻ.

Firman Allah ﷻ,

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

“Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu”

Maksud dari orang yang telah Allah ﷻ izinkan adalah:

  1. Kepada orang yang memberi syafaat (الشَّافِع)
  2. Kepada orang yang diberi syafaat (المَشْفُوْعُ لَه)

Keduanya harus mendapatkan izin dari Allah ﷻ ([5]), dan tidak mungkin keduanya diizinkan kecuali orang yang bertauhid. Oleh karenanya ketika Nabi Muhammad ﷺ ditanya, “Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?”. Beliau menjawab,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” ([6])

Beliau juga bersabda,

وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا

“Dan sesungguhnya aku menyembunyikan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. Dan insya Allah syafaatku akan didapati oleh umatku yang meninggal yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun.” ([7])

Firman Allah ﷻ,

﴿ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ﴾

“sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari jantung mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”

Terdapat dua pendapat tentang yang dimaksud dengan “mereka” dalam firman Allah عَنْ قُلُوبِهِمْ  “dari jantung mereka

Pertama: Mereka adalah kaum mukminin yang ingin mendapat syafaat (المَشْفُوْعُ لَهُمْ).

Maksudnya ketika Allah ﷻ mengizinkan para malaikat untuk memberi syafaat kepada orang-orang tertentu, kaum mukminin gelisah dan takut. Hal ini dikarenakan mereka tidak tahu apakah mereka akan mendapatkan syafaat atau tidak? Sampai-sampai hal tersebut membuat mereka pingsan. Ketika mereka sadar mereka bertanya kepada malaikat  tentang bagaimana keputusannya, apakah Allah ﷻ mengizinkan mereka mendapat syafaat atau tidak? Hal ini dikarenakan malaikat diberi izin untuk memberikan syafaat, jika mereka tidak diberikan izin maka tentunya mereka tidak bisa memberikan syafaat. Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى ﴾

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-Nya.” (QS. An-Najm: 26)

Inilah kegelisahan yang dirasakan oleh kaum mukminin. Ketika kegelisahan mereka dicabut, mereka pun bertanya kepada para malaikat apakah mereka mendapat syafaat atau tidak. Maka malaikat pun menjawab  bahwa mereka mendapatkannya.

Ditinjau dari tekstual ayat maka pendapat ini tidak diingkari.

 Kedua: Mereka adalah para malaikat([8])

Para malaikat ketika mendengar firman Allah ﷻ maka mereka akan pingsan. Setelah ketakutan mereka hilang, baru kemudian mereka bisa memberi syafaat. Ini adalah pendapat yang disampaikan oleh para ulama. Hal ini menunjukkan bahwa para malaikat ketika ingin memberi syafaat tidak serta merta langsung bisa memberikan. Mereka mengalami terlebih dahulu ketakutan dan kekhawatiran. Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ yang terlebih dahulu sujud ketika akan memberi syafaat. Begitu juga ketika di shirath para nabi berkata, ‘Ya Allah! selamatkan-selamatkan’. Nabi g bersabda

وَكَلاَمُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ

“Dan perkataan para rasul di hari itu, ‘Ya Allah! selamatkan-selamatkan’.” ([9])

Intinya ayat ini menjelaskan bahwa para malaikat di mana mereka adalah makhluk yang agung tidak serta merta bisa memberi syafaat. Padahal mereka adalah makhluk yang dekat dengan Allah ﷻ, tidak memiliki dosa, dan doa mereka dikabulkan, akan tetapi mereka memiliki rasa takut yang luar biasa.

Penafsiran manakah yang lebih benar? Syekh ‘Utsaimin dalam tafsirnya menguatkan pendapat yang kedua, berdalil dengan hadis Abu Hurairah. Akan tetapi, hadis tersebut konteksnya bersifat umum tidak berkaitan dengan syafaat, yaitu sabda Nabi Muhammad ﷺ

إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِي السَّمَاءِ، ضَرَبَتِ المَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ، فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الحَقَّ، وَهُوَ العَلِيُّ الكَبِيرُ

“Apabila Allah menetapkan satu perkara di atas langit maka para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan rantai yang berada di atas batu besar. Apabila telah dihilangkan rasa takut dari mereka, mereka berkata; ‘Apa yang difirmankan Rabb kita? ‘ mereka menjawab; ‘Al Haq, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.’” ([10])

Dua penafsiran ini adalah penafsiran yang kuat. Baik ditafsirkan dengan kaum mukminin yang merasa gelisah terlebih dahulu sebelum mereka mendapatkan syafaat atau ditafsirkan dengan malaikat yang merasa takut terlebih dahulu sebelum memberikan syafaat. Hal ini menunjukkan bahwa perkara syafaat bukanlah perkara yang mudah. Oleh karenanya tidak ada yang berani berbicara di hadapan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا ﴾

“maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thaha: 108)

Allah ﷻ berfirman,

﴿يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا﴾

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar (QS An-Naba’ : 38)

Jika datang seorang raja di dunia yang memiliki karismatik yang tinggi maka tidak ada seorang pun yang berani berbicara. Terlebih lagi Allah ﷻ yang menciptakan alam semesta.

Allah ﷻ menjelaskan semua ini dalam rangka membantah kaum musyrikin. Hal ini dikarenakan mereka berbuat kesyirikan dalam bentuk syafaat. Mereka mengatakan,

﴿ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ ﴾

“Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi-pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah” (QS. Yunus: 18).

Allah ﷻ ingin menjelaskan bahwa mereka tidak akan bisa mendapat syafaat dari dua sisi:

  1. Yang bisa diberikan syafaat adalah hanya orang yang diizinkan oleh Allah ﷻ, yaitu orang-orang yang bertauhid.
  2. Yang memberikan syafaat juga harus diizinkan oleh Allah ﷻ.

Sedangkan orang-orang musyrikin dalam perkara syafaat tidak memenuhi persyaratan sama sekali.

Ayat ini jika ditafsirkan kepada malaikat maka ini menunjukkan bahwa para malaikat memiliki jantung([11]). Tentunya jantung malaikat tidak sama dengan jantung manusia. Malaikat juga berpikir, berbicara, berdiskusi akan tetapi mereka tidak sama dengan manusia. Hal ini dikarenakan kita terbuat dari air mani yang kemudian tumbuh di rahim ibu, dan juga jantung kita terdapat sel-sel dan urat-urat. Adapun jantung malaikat maka kita tidak tahu bagaimananya, karena mereka terbuat dari cahaya.

Jika antara makhluk (manusia) dengan makhluk (malaikat) tidak memiliki kesamaan meskipun penamaannya sama, maka terlebih lagi antara makhluk dengan Tuhan. Jika kita tidak bisa membayangkan jantung malaikat seperti apa, maka jangan sampai kita membayangkan bagaimana Allah ﷻ. Allah ﷻ menyatakan bahwa diri-Nya memiliki wajah, tangan, dan kaki, akan tetapi semuanya tidak bisa kita bayangkan. Sehingga tidak benar perkataan sebagian orang yang mengataka bahwa jika kita menetapkan  Allah ﷻ memiliki wajah maka kita telah tasybih. Bagaimana mungkin ketika kita menetapkan Allah ﷻ memiliki tangan dikatakan kita telah melakukan tasybih? Sedangkan Allah ﷻ berfirman tentang keagungan tangan-Nya,

﴿ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴾

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67)

Bagaimana bisa kita menyamakan tangan Allah ﷻ dengan tangan manusia? Oleh karenanya, akidah Ahlusunah Waljamaah adalah mengimani seluruh sifat yang Allah ﷻ tetapkan di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis tanpa membayangkan bagaimananya.

_________________

Footnote :

([1]) HR. Bukhari No. 3340 dan Muslim No. 194.

([2]) HR. Bukhari No. 4712 dan Muslim No. 194.

([3]) HR. Muslim No. 486.

([4]) HR. Bukhari No. 4712 dan Muslim No. 194.

([5]) Lihat: Tafsir al-Baidhawi (4/246).

([6]) HR. Bukhari No. 99.

([7]) HR. Muslim No. 199.

([8]) Lihat: Tafsir Ibnu Athiyah (4/418).

([9]) HR. Bukhari No. 806.

([10]) HR. Bukhari No. 4800.

Lihat: Tafsir al-‘Utsaimin, surah Saba’ hlm. 166.

([11]) Lihat: Tafsir al-‘Utsaimin, surah Saba’ hlm. 173.