Tafsir Surat Saba’ Ayat-15

15. لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِى مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

laqad kāna lisaba`in fī maskanihim āyah, jannatāni ‘ay yamīniw wa syimāl, kulụ mir rizqi rabbikum wasykurụ lah, baldatun ṭayyibatuw wa rabbun gafụr
15. Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Tafsir :

Pada ayat ini Allah ﷻ berkisah tentang penduduk negeri Saba’, yaitu suatu negeri (di kota Ma’rib di Yaman) di mana Allah ﷻ memberikan banyak kenikmatan, tetapi kemudian mereka berbuat kekufuran kepada Allah ﷻ. Mereka tidak bersyukur kepada Allah ﷻ dengan kenikmatan tersebut. Namun sebaliknya, mereka bertambah kufur kepada Allah ﷻ.([1])

Sebelumnya Allah ﷻ telah berkisah tentang Nabi Dawud ‘alaihissalam dan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, di mana keduanya merupakan hamba yang bersyukur kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Jika Nabi Dawud ‘alaihissalam dan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam merupakan contoh dari hamba-hamba yang bersyukur atas kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepada mereka. Allah ﷻ juga memberikan contoh tentang kaum Saba’, di mana mereka diberikan kenikmatan, tetapi tidak bersyukur kepada Allah ﷻ. Dikarenakan mereka kufur kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ menggantikannya dengan kesengsaraan.([2])

Saba’ merupakan nama suatu negeri atau suatu kabilah. Saba’ disebut dengan nama negeri, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,

وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan.” (QS. An-Naml: 22)

Ini merupakan perkataan Hud-hud kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, ketika ia datang dari Saba’, di mana menunjukkan bahwa Saba’ adalah sebuah negeri.

Adapun Saba’ memiliki arti suatu suku atau bangsa adalah sebagaimana firman Allah ﷻ,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ

Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka.” (QS. Saba’: 15)

Ayat ini menjelaskan bahwa Saba’ yang dimaksud di dalam ayat ini adalah nama suatu suku atau kabilah. ([3])

Bangsa Arab terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. العَرَبُ البَائِدَةُ Al-‘Arab Al-Ba’idah adalah kaum Arab yang telah punah dan sudah tidak jelas lagi silsilahnya, seperti suku ‘Ad kaum Nabi Hud ‘alaihissalam dan Tsamud kaum Nabi Salih ‘alaihissalam.
  2. العَرَبُ العَارِبَة Al-‘Arab Al-‘Aaribah adalah kaum Arab asli. Mereka disebut dengan Qahthan dan banyak suku yang berasal darinya, di antaranya adalah Saba’ dan Himyar. Jadi, Saba’ merupakan suku Arab asli, di mana lokasinya berada di Ma’rib.
  3. العَرَبُ الْمُسْتَعْرِبَة Al-‘Arab Al-Musta’ribah (campuran) adalah kaum Arab dari keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam yang menikah dengan wanita dari suku Jurhum. Suku Jurhum merupakan kaum Arab asli, sedangkan Nabi Ismail ‘alaihissalam bukan dari suku Arab asli. Oleh karenanya, kaum Arab ini disebut dengan kaum Arab al-Musta’ribah / campuran. Secara umum kaum Arab ini terdiri dari dua kabilah, yaitu kabilah Mudhar dan kabilah Rabi’ah. Di dalam kabilah Mudhar ada banyak kabilah, di antaranya Tamim, Kinanah (darinya Quraisy dan lahir Nabi Muhammad ﷺ) dan Qais. ([4])

Allah menceritakan kisah Saba’ -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh as-Sa’di rahimahullah- bagaimana kaum Saba’ diberikan banyak kenikmatan. Namun, kenikmatan tersebut tidak bertahan lama, karena setelah itu semuanya berubah menjadi kesengsaraan. Akibatnya mereka pergi dari negeri mereka. Mereka meninggalkan lokasi Ma’rib dan tercerai berai, ada yang menuju Yaman, Oman, San’a, Arab Saudi -di antara mereka merupakan suku al-Khazraj yang kemudian menjadi kaum al-Anshar- maupun ke Syam.

Allah ﷻ menceritakan mereka sehingga menjadi kisah yang sangat masyhur. Allah ﷻ menceritakannya sebagai bentuk kasih sayang Allah ﷻ. Tentunya hal itu pernah terjadi dan terdengar secara turun temurun. Allah ﷻ mengukuhkan cerita tersebut di dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi kaum yang datang kemudian.

Seandainya kita berasal dari negeri Ma’rib, kemudian Al-Qur’an menceritakan tentang negeri kita, yaitu Ma’rib. Tentu saja, hal itu akan menjadi nasihat khusus bagi kita, bagaimana dahulu merupakan negeri yang penuh dengan keindahan, perdamaian dan kenyamanan, tetapi kemudian Allah ﷻ menggantikannya dengan kerusakan dan keburukan.([5])

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:%D8%AD%D8%B1%D9%88%D8%A8_%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AF%D8%A9.svg

https://fr.wikipedia.org/wiki/Fichier:First_Fitna_Map,_Ali-Muawiya_Phase.png

Diriwayatkan dari Farwah bin Musaik al-Muradi berkata,

وَأُنْزِلَ فِي سَبَإٍ مَا أُنْزِلَ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا سَبَأٌ، أَرْضٌ أَوْ امْرَأَةٌ؟ قَالَ: لَيْسَ بِأَرْضٍ وَلَا امْرَأَةٍ، وَلَكِنَّهُ رَجُلٌ وَلَدَ عَشْرَةً مِنَ العَرَبِ فَتَيَامَنَ مِنْهُمْ سِتَّةٌ، وَتَشَاءَمَ مِنْهُمْ أَرْبَعَةٌ. فَأَمَّا الَّذِينَ تَشَاءَمُوا فَلَخْمٌ، وَجُذَامُ، وَغَسَّانُ، وَعَامِلَةُ، وَأَمَّا الَّذِينَ تَيَامَنُوا: فَالأزْدُ، وَالأَشْعَرِيُّونَ، وَحِمْيَرٌ، وَمَذْحِجٌ، وَأنْمَارٌ، وَكِنْدَةُ “. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا أَنْمَارٌ؟ قَالَ: الَّذِينَ مِنْهُمْ خَثْعَمُ، وَبَجِيلَة

Setelah diturunkan surat Saba’ ada seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu Saba’, nama tempat atau seorang wanita?’. Beliau bersabda, ‘Saba’ bukanlah nama tempat atau seorang wanita, tetapi dia adalah seorang lelaki yang melahirkan sepuluh orang Arab. Enam orang dari mereka menuju ke arah kanan (Yaman -pent), sedangkan empat orang dari mereka menuju arah kiri (Arab Saudi dan Syam -pent). Adapun yang ke arah kiri adalah (suku) Lakhm, Judzam, Ghassan, ‘Amilah. Adapun yang menuju ke arah kanan adalah al-Azdu, al-Asy’ariyun, Himyar, Madzhij, Anmar dan Kindah’. ”([6])

Saba’ adalah nama seorang lelaki dan ada banyak suku yang berasal darinya. Di dalam hadis ini menjelaskan 10 nama-nama dari keturunan Saba’. Namun, ada yang menyebutkan khilaf nama di antara mereka, di antaranya ada yang bernama Bajilah dan seterusnya. Suku Lakhm merupakan kakek dari suku al-Khazraj. Ada juga yang mengatakan bahwa suku al-Khazraj berasal dari al-Azd.([7])

Di antara yang terkenal dari Saba’ adalah ratu Bilqis. Berdasarkan berita yang dibawa oleh Hud-hud kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ. إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ . وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar. Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah. (QS. An-Naml: 22-24)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa Bilqis akhirnya memeluk agama Islam. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. An-Naml: 44)

Disebutkan bahwa sejak zaman Bilqis masuk ke dalam agama Islam, orang-orang Saba’ pun ikut memeluk agama Islam. Setelah itu, Allah ﷻ memberikan berbagai macam kenikmatan kepada mereka. Di antaranya adalah sebagaimana disebutkan di dalam ayat ini bahwa Allah ﷻ menghamparkan kesuburan tanah di dalam negeri tersebut, kedamaian dan karunia yang begitu banyak. Allah ﷻ berfirman,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 15)

Ada tiga qiraah di dalam ayat ini, di antaranya:

  • فِي مَسْكَنِهِمْ ‘tempat tinggal mereka’. Ada dua pendapat, di antaranya ada yang menerangkan bahwa yang dimaksud adalah ‘tempat mereka tinggal’ dan ada yang menjelaskan bahwa maksudnya adalah ‘perbuatan tinggalnya mereka’ (dalam hal ini الْمَسْكَن adalah mashdar yang maknanya adalah السُّكْنَى “tinggalnya”).
  • فِي مَسْكِنِهِمْ tempat tinggal mereka mengikuti wazn مَسْجِدٌ.
  • فِي مَسَاكِنِهِمْ tempat-tempat tinggal mereka, artinya mereka memiliki banyak tempat tinggal, tidak hanya satu saja.([8])

آيَةٌ ‘kekuasaan Tuhan’ dan جَنَّتَانِ ‘dua kebun’ yang berkedudukan sebagai badal dari lafal آيَةٌ.([9])

Di antara tanda kebesaran Allah ﷻ yang ada pada negeri Saba’ adalah terdapat dua kebun yang indah dan subur di sebelah kanan dan kiri yang menyerupai surga. Mereka memiliki sebuah bendungan yang menampung air. Apalagi pada saat turun hujan, banyak air hujan yang mengalir dan berkumpul di dalam bendungan tersebut.([10])

Para ulama menyebutkan bahwa yang membuat bendungan tersebut adalah ratu Bilqis. Ada juga menyebutkan bahwa ratu Bilqis hanya merapikannya saja([11]). Dari bendungan tersebut mereka mengalirkan airnya menuju kebun-kebun mereka yang ada di sebelah kanan dan kiri bendungan tersebut. Mereka mengairi kebun-kebun mereka hingga membuat kebun-kebun tersebut subur dan menghasilkan buah-buahan dan pemandangan yang sangat indah. Sampai-sampai disebutkan bahwa di tempat tinggal mereka ada tanda kekuasaan Allah ﷻ.

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa di antara tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ tersebut di antaranya adalah:

  • Jika tiba musim dingin, maka cuacanya tidak terlalu dingin. Begitu juga jika tiba musim panas, maka cuacanya tidak terlalu panas.
  • Tidak ada hama dan binatang-binatang berbisa atau pengganggu yang merusak tanaman dan kebun-kebun mereka. Dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir bahwa saking subur dan indahnya kebun tersebut, jika ada seseorang yang datang ke tempat tersebut, sedangkan ada kutu di badan atau bajunya, maka jika dia tertidur di kebun tersebut, kutu yang ada di badannya akan musnah. Negeri tersebut telah menjadi tanda kebesaran Allah ﷻ.

Sejak ratu Bilqis masih beribadah menyembah matahari, dia dalam keadaan kaya raya. Al-Qur’an telah menjelaskan tentang kehidupan kerajaan Bilqis di dalam firman Allah ﷻ,

وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

Dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar.(QS. An-Naml: 23)

Bahkan, ketika Bilqis dipanggil oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, ternyata dia mengirimkan banyak hadiah kepada beliau ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

“Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.” (QS. An-Naml: 35)

Setelah ratu Bilqis beserta pangikutnya beriman kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ pun menambah rezeki dan karunia-Nya kepada mereka. Allah ﷻ menyiapkan kepada mereka negeri yang sangat nyaman. Jika tiba musim dingin, cuacanya tidak terlalu dingin. Jika tiba musim panas, maka cuacanya pun tidak terlalu panas dan tidak ada hama maupun hewan pengganggu kebun mereka.

  • Kebun-kebun yang subur. Para ulama menyebutkan bahwa mereka mendapati musim panen sebanyak tiga kali di dalam satu tahun([12]). Bahkan, jika ada wanita yang berjalan di kebun-kebun tersebut dengan membawa keranjang di atas kepalanya, maka dia akan mendapati keranjang tersebut penuh dengan buah-buahan. Hal itu disebabkan saking suburnya kebun tersebut, sehingga buah-buahan yang matang pun saling berjatuhan tanpa bersusah payah untuk dipetik. ([13])

Oleh karenanya, Allah ﷻ menyebut kenikmatan yang diberikan kepada kaum Saba’ sebagai آيَةٌ ‘tanda kebesaran Tuhan’. Kebun tersebut tidak hanya sekedar subur, tetapi ada sesuatu yang sangat menakjubkan di dalam kebun tersebut, sehingga menjadi tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ. Inilah di antara kenikmatan yang mereka rasakan.

 

 

Firman Allah ﷻ,

كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ

Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya.” (QS. Saba’: 15)

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang mengucapkan perkataan tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa perkataan merupakan لِسَانِ الْحَالِ, artinya agar merekan makan dan menikmati rezeki dari Allah ﷻ. ([14]) Ada juga yang menyebutkan bahwa yang mengatakan adalah para rasul. Allah ﷻ telah mengutus para rasul kepada mereka. Ada yang berpendapat bahwa Allah ﷻ mengutus kepada mereka sebanyak 13 rasul/nabi. ([15])

Para rasul memerintahkan mereka untuk bersyukur dengan memakan dan menikmati rezeki yang telah diberikan kepada mereka dan bersyukur dengan beramal saleh. Ada juga yang berpendapat bahwa yang mengatakan adalah orang-orang saleh di antara mereka atau kondisi-kondisi dari mereka yang mendorong agar mereka makan menikmati karunia dan rezeki yang baik-baik dan bersyukur sekaligus ingat tentang nikmat-nikmat yang baik dari Allah ﷻ. ([16])

Firman Allah ﷻ,

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

(Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 15)

Negeri yang baik diberikan karunia dan buah-buahan yang banyak, tidak ada hama dan hewan perusak disertai dengan Rabb yang Maha Pengampun. وَرَبٌّ غَفُورٌ Rabb Yang Maha Pengampun, artinya selama mereka bersyukur, meskipun terkadang kalian beramal saleh diikuti dengan kekurangan dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, sejatinya Allah ﷻ Maha Pengampun. ([17])

Sejatinya di antara sebab Allah ﷻ mengampuni dosa-dosa kita adalah karena kita banyak bersyukur kepada Allah ﷻ. Meskipun seorang hamba memiliki dosa-dosa karena kemaksiatan, tetapi Allah ﷻ mengampuninya karena dia banyak bersyukur atas kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepadanya dan selama rasa syukurnya mendominasi dari pada dosanya. Oleh karenanya, Allah ﷻ berfirman,

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147)

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir As-Sa’di, (hlm. 677).

([2]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/165).

([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/166).

([4]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (8/233) dan at-Tahrir wa at-Tanwir (8/215).

([5]) Tafsir As-Sa’di, (hlm. 677).

([6]) HR. At-Tirmidzi No. 3222, hadis hasan gharib dan dinyatakan hasan sahih oleh al-Albani.

([7]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/283).

([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/283).

([9]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/166).

([10]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/284).

([11]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/286).

([12]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/167).

([13]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/284).

([14]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/167).

([15]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/285).

([16]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/284).

([17]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/284).