Tafsir Surat Thaha Ayat-17

17. وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ

wa mā tilka biyamīnika yā mụsā
17. Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?

Tafsir:

Kemudian Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa! Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (QS. Thaha: 17-21)

Para ulama mengatakan bahwa kambingnya Nabi Musa AS kecil-kecil, sehingga mulut mereka tidak mampu untuk menjangkau daun yang berada di atas pohon. Maka Nabi Musa AS pun mencarikan dedaunan untuk kambing-kambing tersebut dengan cara memukulkan tongkatnya di pohon, atau mengaitkan ujung tongkatnya yang melengkung di dahan kemudian menggoyang-goyangkannya agar daun-daunnya berjatuhan, atau menarik dan menjatuhkan daun tersebut langsung dengan tongkatnya.

Allah ﷻ tentu Mahatahu tentang apa yang ada di tangan kanan Nabi Musa AS, akan tetapi Allah ﷻ tetap bertanya, dengan tujuan hikmah-Nya sendiri. Berikut sebagian hikmah yang berusaha disimpulkan oleh para ulama, terkait pertanyaan ini:

Pertama: Untuk membuat Nabi Musa AS menoleh dan memperhatikan kembali tongkat yang ia bawa, sehingga beliau benar-benar memastikan bahwa tongkat yang biasa ia bawa itu tidaklah berubah, ia masih berupa tongkat dari kayu biasa. Jadi Nabi Musa AS benar-benar yakin bahwa apa yang akan Allah ﷻ tunjukkan padanya, berupa perubahan tongkatnya menjadi ular, adalah benar-benar mukjizat dari Allah ﷻ Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Dan juga, agar dengan menyaksikan tongkat kayunya yang setelah dilempar tiba-tiba seketika berubah menjadi ular, dan ketika ditangkap seketika menjadi tongkat kayu kembali, beliau AS semakin yakin bahwa Hari Kiamat yang baru saja disebutkan sebelumnya, dengan segala kejadian luar biasa yang akan terjadi padanya, adalah sangat mudah bagi Allah ﷻ. Menerbitkan matahari seketika dari barat, menggulung langit-langit, melipat-lipat bumi yang berlapis-lapis, menerbangkan gunung-gunung bak kapas, dan selainnya, adalah hal yang amat mudah bagi Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia.” (QS. An-Nahl: 40)

Kedua: Nabi Musa AS ketika itu datang sendiri di tengah-tengah gelapnya malam yang dingin, serta meninggalkan keluarganya yang kedinginan di arah lainnya. Ini tentu mempengaruhi mental Nabi Musa AS ketika itu, terlebih ketika tiba-tiba beliau AS tahu bahwa cahaya tersebut adalah cahaya Allah ﷻ, dan bahwa Ia ﷻ akan berbicara langsung denganNya. Pertanyaan tentang tongkat Nabi Musa AS ini, sebagai bentuk kelembutan Allah ﷻ kepada beliau AS, untuk menghangatkan suasana ketika itu, dan menumbuhkan ketenangan dalam hati beliau AS. Terlebih tongkat tersebut adalah benda yang disukai dan banyak membantu Nabi Musa AS selama ini, dan seseorang pasti senang jika lawan bicaranya memperhatikan hal-hal yang ia anggap berharga nan penting.

Ini adalah pelajaran bagi para pendakwah, agar terlebih dahulu memberikan pendahuluan yang menenangkan dan menggembirakan audiens yang hadir, dan agar ia tidak langsung masuk kepada inti materinya.

Ketiga: Ia sebagai isyarat agar Nabi Musa AS semakin terlatih dengan tongkatnya, yang kelak akan menjadi perantara berbagai mukjizat yang Allah ﷻ anugerahkan kepada beliau AS, seperti berubah menjadi ular, membelah lautan, dan mengeluarkan mata air dari bebatuan. Karenanya disebutkan bahwa di kali pertama, Nabi Musa AS tampak terkejut dan ketakutan melihat apa yang terjadi dengan tongkatnya. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ﴾

“dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang kecil, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.” (QS. An-Naml: 10)

Lalu bagaimana cara kita menggabungkan dua ayat ini? Para ulama mengatakan dalam menggabungkan dua ayat ini, bahwasanya ular tersebut ukurannya besar akan tetapi gerakannya lincah seperti ular yang kecil.

Terkait ucapan Nabi Musa AS, bahwa ada beberapa kegunaan lain dari tongkatnya, maka tidak ada dalil yang sahih nan jelas yang menyebutkan kegunaan-kegunaan lain tersebut secara spesifik. Namun, beberapa ulama([1]) mencoba menyebutkan beberapa kegunaan yang masuk akal, seperti sebagai sutrah shalat, untuk menggiring hewan, alat untuk membantu berjalan di medan yang sulit, untuk memeriksa sesuatu yang terkesan berbahaya dari kejauhan, untuk bernaung dengan mengikatkan kain padanya, untuk menjauhkan benda yang dekat dan mendekatkan benda yang jauh, untuk menutup pintu, menghalau hewan-hewan yang mengganggu, dan seterusnya.

Sebagian ahli tafsir lainnya membawakan kisah-kisah Isra’iliyyat yang tidak diketahui kevalidannya terkait hal ini, seperti tongkat tersebut di malam hari dapat berubah menjadi lampu, tongkatnya dapat dengan sendirinya menjaga kambing Nabi Musa AS ketika beliau beristirahat, tongkatnya jika ditancapkan ke tanah dapat seketika berubah menjadi pohon yang rindang naungannya, dan lain sebagainya. Semua keterangan ini tidaklah boleh diyakini kebenarannya, sampai terjelaskan kevalidan kisah-kisah tersebut([2]). Terlebih lagi, faktanya Nabi Musa AS terkaget ketika pertama kali melihat tongkatnya berubah menjadi ular. Ini menunjukkan bahwa tidak pernah ada hal ajaib yang sebelumnya terjadi pada tongkat tersebut.

Footnote

________

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/188

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/279