Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat-28

28. فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا۟ لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٍ

fa aujasa min-hum khīfah, qālụ lā takhaf, wa basysyarụhu bigulāmin ‘alīm
28. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).

Tafsir :

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ. فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk wajahnya sendiri seraya berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul. (QS. Adz-Dzariyat: 28-29)

Sarah, istri Nabi Ibrahim merasa kaget dengan menepuk kedua pipinya, saat dikabarkan bahwa dirinya akan memiliki seorang anak, yaitu Ishak.  Para ulama menyebutkan bahwa ketika para malaikat mengabarkan bakal memiliki anak, Sarah berusia sekitar sembilan puluh sembilan tahun. Secara logika, seorang wanita tidak akan memiliki anak dengan umur tersebut; karena dia telah jauh memasuki usia menopause. Sarah berteriak dan kaget karena selama itu dia telah merindukan agar dikaruniai seorang anak. Dengan perasaan tidak percayanya, akhirnya dia memukul-mukul wajahnya.

وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

“(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.”

Bagaimana mungkin dia memiliki seorang anak, sementara dia adalah seorang wanita yang sudah tua lagi mandul. ([1])

Ayat ini sekaligus menjadi dalil bahwa seorang perempuan lebih sulit untuk menahan diri dan emosinya ketika mendapatkan sesuatu, baik yang menggembirakan ataupun menyedihkan. Maka dari itu dengan sendirinya ekspresi-nya akan muncul, entah dengan suara ataupun dengan tangan. Nabi Ibrahim ketika dikabarkan akan memiliki anak, tentu dia merasa gembira. Namun, dia bersikap tenang. Adapun Sarah ketika dikabarkan akan memiliki anak, maka dia kaget dan berteriak kegirangan dan menepuk-nepuk wajahnya.([2])

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/47.

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/178 dan Ruh Al-Ma’aniy Li Al-Alusiy 14/15.