Tafsir Surat An-Najm Ayat-62

62. فَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ وَٱعْبُدُوا۟ ۩

fasjudụ lillāhi wa’budụ
62. Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

Tafsir :

Para ulama berbeda pendapat tentang ayat terakhir ini apakah ada sujud tilawah atau tidak. Dalam hadist yang sahih Nabi ﷺ  sewaktu di Mekah Nabi membaca surat ini dan beliau sujud kemudian orang-orang musyrikin pun ikut sujud. Terdapat dua pendapat yang menjelaskan kenapa mereka ikut sujud, yang pertama mereka ikut sujud karena setan ikut menyampaikan perkataan yang mereka dengar dimana setan berkata, “Sesungguhnya itu adalah sesembahan terdahulu yang diharapkan syafatnya”, dan ini adalah tambahan setan tatkala Nabi membaca surat ini([1]). Akan tetapi kisah ini di bathilkan oleh para ulama di antaranya syeikh Al-Albany yang mana beliau memilikii risalah khusus berkaitan tentang bathilnya hadist ini, namun sebagian ulama yang lain mensahihkan hadist tersebut.

Pendapat yang kedua tidak ada tambahan suara dari setan akan tetapi mereka mengikuti sujud Nabi ﷻ  karena terbawa lantunan dan isi dari surat tersebut. Kecuali Umayyah bin Kholaf yang tidak ikut sujud kemudian mengambil pasir dan menaruh di dahinya seraya berkata, “Ini sudah cukup bagiku”.

Nabi ﷻ  pernah sujud ketika membaca ini sewaktu di Makkah, adapun setelah hijrah ke Madinah para ulama berbeda pendapat, Imam malik berpendapat bahwa Nabi tidak pernah sujud lagi ketika membaca surat ini sehingga mereka menyimpulkan bahwa ayat ini bukan ayat sajdah, adapun Jumhur Ulama berpendapat bahwasanya ayat ini adalah ayat sajdah karena Nabiﷺ  pernah sujud sewaktu di Mekkah meskipun di Madinah tidak ada nukilan bahwa  Nabi ﷺ  sujud ketika membacanya, akan tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ  pernah sujud sewaktu di Makkah sudah cukup sehingga mereka menyimpulkan bahwasanya ketika seseorang membaca surat ini dan sampai pada ayat terakhir maka di sunnahkan bagi Imam untuk sujud tilawah begitu pula makmumnya([2]).

___________________

Footnote :

([1]) Lihat Tafsir Al Qurthuby 17/124.

([2]) Lihat At Tahrir 27/162.