Tafsir Surat An-Najm Ayat-23

23. إِنْ هِىَ إِلَّآ أَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَٰنٍ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَمَا تَهْوَى ٱلْأَنفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلْهُدَىٰٓ

in hiya illā asmā`un sammaitumụhā antum wa ābā`ukum mā anzalallāhu bihā min sulṭān, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa mā tahwal-anfus, wa laqad jā`ahum mir rabbihimul-hudā
23. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

Tafsir :

Ini adalah pembeda antara aqidah yang benar dengan aqidah yang salah. Semua aqidah yang benar pasti ada dalilnya. Sebaliknya, aqidah yang salah, Allah tidak menurunkan dalilnya([1]). Maka, orang-orang yang beraqidah salah, pasti akan menyandarkan sesuatu dengan ‘katanya’ dan ‘katanya’. Ungkapan tersebut menunjukkan tidak ada dasarnya sama sekali. Orang islam tidak boleh meyakini itu semua, karena hal tersebut adalah keyakinan yang dilarang. Seorang muslim tidak boleh berkeyakinan seenaknya sendiri, semuanya (yang berkaitan dengan ibadah) harus disertai dengan dalil.

Allah menghardik orang-orang kafir, karena mereka menjadikan batu, lalu memahatnya, kemudian menyembahnya dan mereka sendiri yang menamakannya Tuhan([2]). Kasus mereka, sama halnya dengan berhala-berhala di zaman sekarang. Berhala tersebut tidak mampu, berbicara, tidak mampu melihat, tidak mampu mendengar.

Jika dibandingkan dengan Jibril, malaikat yang mulia, yang cerdas nan kuat, memiliki bentuk yang sangat indah. Salah satu makhluk Allah yang paling mulia saja tidak pantas untuk disembah. apalagi dengan sekedar batu yang mereka pahat lalu disembah. Terkadang, mereka memahatnya pun dengan bentuk yang aneh. Ada Tuhan yang berkepala empat, ada yang berbadan hewan, ada yang bertangan empat, bahkan bertangan delapan, berkepala manusia atau sebaliknya berkepala hewan dan berbadan manusia, ada juga yang berkepala manusia berhidung gajah. Sungguh seandainya kita disuruh berubah menjadi seperti bentuk-bentuk tersebut tentu kita tidak mau, maka apalagi kemudian dianggap sebagai Tuhan?.

Mereka menamakannya dengan nama-nama yang mereka pasang sebagai Tuhan yang pada hakekatnya adalah hanya sebongkah batu yang dipahat. Ini menjadi bantahan telak bagi orang kafir.([3])

____________________

Footnote :

 ([1]) Lihat: Bahr Al-‘Ulum Li As-Samarqandiy 3/362, Tafsir Al-Baghawiy 7/409, Tafsir Al-Qurthubiy 17/103 dan At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/108.

([2]) Lihat: Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyari 4/423.

([3]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 7/458.