Tafsir Surat Al-Qamar Ayat-25

25. أَءُلْقِىَ ٱلذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنۢ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

a ulqiyaż-żikru ‘alaihi mim baininā bal huwa każżābun asyir
25. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.

Tafsir :

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ، سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ

“(Mereka kaum Tsamuud berkata) ‘Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sungguh dia (Shalih) seorang yang sangat pendusta (dan) sombong’. Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta (dan) sombong itu.” (QS. Al-Qamar : 25-26)

Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa kaum Tsamud hasad kepada Nabi Shalih ‘alaihissalam karena wahyu bukan diturunkan kepada mereka, namun kepada Nabi Shalih ‘alaihissalam. Dan kita tahu bahwa hasad adalah di antara hal yang banyak menimbulkan masalah, hasad banyak menyebabkan tertolaknya kebenaran, contohnya adalah Iblis yang hasad kepada Nabi Adam ‘alaihissalam sehingga mereka tidak mau sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, orang-orang Yahudi yang hasad kepada orang-orang Arab sehingga mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kaum Tsamud yang hasad kepada Nabi Shalih ‘alaihissalam sehingga mereka tidak mau beriman. Dan disebutkan bahwa mereka membuat tuduhan bahwa Nabi Shalih ‘alaihissalam itu ingin jadi pemimpin namun beliau miskin, maka untuk bisa menjadi pemimpin di tengah mereka Nabi Shalih mengaku-ngaku sebagai Nabi. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa kelak mereka akan ketahui siapa yang pendusta lagi sombong di antara mereka (Nabi Shalih dan kaumnya), akan tetapi telah jelas bagi kita bahwa merekalah (kaum Tsamud) yang pendusta lagi sombong.

Sesungguhnya Al-Haq itu datang dengan dalil-dalil yang jelas, akan tetapi banyak orang menolaknya karena hasad. Di antara hal yang menyebabkannya adalah mereka khawatir jika kehilangan orang-orang yang mengikutinya sebelumnya, atau takut tidak dihormati lagi oleh kaumnya, dan sebab-sebab lain yang dibisikkan oleh Iblis sehingga akhirnya mereka menolak kebenaran tersebut. Oleh karena itu, orang-orang yang berdakwah di atas jalan sunnah memiliki dalil yang jelas, yaitu dengan Alquran, sunnah, dan perkataan para ulama. Akan tetapi meskipun demikian masih banyak orang lain yang menolak karena takut hal-hal yang mereka anggap halal akan jadi haram, sehingga akhirnya mereka tetap memilih dengan keyakinan mereka sebelumnya yang santai dengan perkara apa saja yang mereka inginkan.