Hal-Hal Yang Tidak Membatalkan Puasa

Hal-Hal Yang Tidak Membatalkan Puasa

1. Makan dan minum dalam keadaan lupa

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Barang siapa yang lupa sedang ia dalam keadaan berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena kala itu Allah yang memberi ia makan dan minum.” ([1])

2. Jimak dalam keadaan lupa

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa terdapat tiga pendapat ulama berkaitan masalah ini:

Pertama: Tidak wajib mengqada dan tidak wajib membayar kafarat. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah([2]) dan Imam Syafi’i([3]).

Kedua: Harus mengqada saja. Ini adalah pendapat Imam Malik.([4])

Ketiga: Harus mengqada dan kafarat. Ini adalah pendapat masyhur dari Imam Ahmad.([5])

Syaikhul Islam merajihkan pendapat pertama.([6]) Dan inilah pendapat yang kami pilih. Hal ini dikarenakan beberapa alasan:

  • Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أَفْطَرَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَلَا كَفَّارَةَ

“Barang siapa berbuka di bulan Ramadan karena lupa maka tidak ada qada dan kafarat baginya.” ([7])

Dalam hadits ini disebutkan secara umum “Barang siapa berbuka”, dan jimak termasuk salah satu yang membuat orang berbuka dari puasanya. ([8])

  • Kias terhadap orang yang makan dan minum karena lupa.([9])

3. Ihtilam/mimpi basah

Ihtilam adalah sesuatu yang tidak mampu seseorang untuk menghindarinya. Juga kita ketahui bahwasanya Allah ﷻ tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Allah ﷻ berfirman,

﴿لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا﴾

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dengan demikian, para ulama memfatwakan bahwa ihtilam tidak menyebabkan puasa seseorang menjadi batal. Al-Mawardi mengatakan hal ini sebagai ijmak,

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَغَيْرُهُ وَأَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّهُ إنْ احْتَلَمَ فِي اللَّيْلِ وَأَمْكَنَهُ الِاغْتِسَالُ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَمْ يَغْتَسِلْ وَأَصْبَحَ جُنُبًا بِالِاحْتِلَامِ أَوْ احْتَلَمَ فِي النَّهَارِ فَصَوْمُهُ صَحِيحٌ

“Al-Mawardi dan lainnya berkata, ‘Umat telah ijmak/sepakat bahwa seseorang jika ihtilam di waktu malam, dan memungkinkannya untuk mandi namun dia tidak mandi, sehingga dia menjadi seorang yang junub di waktu pagi, atau dia ihtilam di waktu siang, maka puasanya sah.” ([10])

4. Menelan apa yang ada di sela gigi

Ibnul Mundzir berkata,

وَأَجْمَعُوا عَلَى أَن لا شيءَ علَى الصَّائمِ فِيْمَا يَزْدَرِدُهُ مِمَا يَجْرِيْ مَعَ الرِّيْقِ مِمَا بَيْنَ أَسْنَانِه، فِيْمَا لَا يَقْدِرُ عَلَى الامْتِنَاعِ مِنْهُ

“Para ulama ijmak/sepakat bahwa tidak mengapa bagi orang yang berpuasa terhadap sesuatu di sela giginya yang tertelan bersama air liur, di mana dia tidak mampu untuk menghindarinya.” ([11])

5. Muntah

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنِ اسْتَقَاءَ عَامِدًا فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ , وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang sengaja menjadikan dirinya muntah, maka wajib mengqada puasanya. Dan barang siapa yang muntah tanpa disengaja maka tidak wajib qada baginya.” ([12])

6. Menelan air liur

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

لا يُفَطِّرُ ابْتِلاعُ الرِّيقِ إذا لم يَجْمَعْه، بغيرِ خِلافٍ نَعْلَمُه؛ لأنَّه لا يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ منه، أشْبَهَ غُبارَ الطّرِيقِ.

“Menelan air liur yang tidak dikumpulkan tidak membatalkan puasa tanpa ada ikhtilaf berdasarkan sepengetahuan kami. Hal ini dikarenakan tidak mungkin untuk menghindarinya, seperti debu yang beterbangan di jalan.” ([13])

7. Masuknya debu dan semisalnya ke tenggorokan

An-Nawawi rahimahullah berkata,

اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى أَنَّهُ لَوْ طَارَتْ ذُبَابَةٌ فَدَخَلَتْ جَوْفَهُ أَوْ وَصَلَ إلَيْهِ غُبَارُ الطَّرِيقِ أَوْ غَرْبَلَةُ الدَّقِيقِ بِغَيْرِ تَعَمُّدٍ لَمْ يُفْطِرْ

“Ulama mazhab kami sepakat bahwa jika ada lalat, debu, dan butiran tepung masuk ke dalam tubuh tanpa sengaja, maka ini tidak membatalkan.” ([14])

Al-Buhuti berkata,

وَلَا إنْ طَارَ إلَى حَلْقِهِ ذُبَابٌ أَوْ غُبَارُ طَرِيقٍ أَوْ نَخْلِ نَحْوِ دَقِيقٍ أَوْ دُخَانٍ بِلَا قَصْدٍ لِعَدَمِ إمْكَانِ الْحِرْزِ مِنْهُ … لَمْ يَفْسُدْ صَوْمُهَا

“Begitu juga jika ada lalat, debu, serangga sebesar tepung, atau asap yang terbang masuk ke dalam tenggorokannya tanpa sengaja karena dia tidak bisa menghindarinya, maka hal ini tidak membatalkan puasa.” ([15])

Karya : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema : Bekal Puasa

___________
Footnote:

([1]) HR. Bukhari No. 6669 dan Muslim No. 1155.

([2]) Lihat: Al-Binayah Syarh al-Bidayah (4/35).

([3]) Lihat: Al-Majmu’ (6/324).

([4]) Lihat: Al-Kafi Fi Fiqhi al-Madinah (1/343)

([5]) Lihat: Bidayah al-Abid, hlm. 65.

([6]) Lihat: Majmu’ al-Fatawa (25/226).

([7]) HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 3521. Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam kitabnya Irwa’ al-Ghalil (4/87).

([8]) Lihat: Subul as-Salam (2/160).

([9]) Lihat: Fath al-Bari (4/156).

([10]) Lihat: Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/308).

([11]) Al-Ijmak, Ibnul Mundzir, hlm. 49.

([12]) HR. Daruquthni dalam Sunannya No. 2273. Dinyatakan sahih oleh al-Arnauth dalam Takhrij Sunan ad-Druquthni.

([13]) Syarh al-Kabir (7/475).

([14]) Al-Majmu’ Syahr al-Muhdzdzab (6/327).

([15]) Syarh Muntaha al-Iradat (1/482).