Tafsir Surat Al-Waqi’ah Ayat-22

22. وَحُورٌ عِينٌ

wa ḥụrun ‘īn
22. Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli

Tafsir :

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَحُورٌ عِينٌ، كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

“Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al-Waqi’ah : 22-23)

Di antara kenikmatan yang disediakan bagi As-Saabiquun adalah bidadari yang bermata indah. Sebagian menafsirkan bahwa bidadari tersebut disebut dengan حُورٌ عِينٌ karena lentiknya mata mereka dan menarik perhatian([1]). Dan tidak perlu kita jauh berbicara dengan mata bidadari, terkadang sebagian mata wanita di dunia saja sudah sangat menggoda bahkan meskipun mereka menggunakan cadar.

Saking indahnya bidadari tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala mengumpamakan mereka seperti mutiara yang tersimpan. Para ulama mengatakan bahwa maksud dari seperti mutiara yang tersimpan adalah bahwa bidadari tersebut belum pernah ada yang menyentuhnya. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah bidadari tersebut belum pernah ada makhluk Allah yang melihatnya. Sehingga tatkala bidadari tersebut dipersembahkan untuk penghuni surga, maka akan tampak bidadari tersebut bersih dan putih seperti mutiara yang tersimpan. Demikianlah sifat bidadari yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bagi As-Saabiquun.([2])

Kita manusia tentunya selalu ingin sesuatu yang spesial termasuk dalam hal wanita. Adapun jika wanita tersebut semua orang dapat melihatnya, semua orang bisa menyentuhnya, maka bagaimana mungkin dia bisa mulia? Sampai-sampai sebagian daerah mengatakan tentang ini bahwa ada wanita-wanita yang bis kota, yaitu mereka seperti bis yang setiap orang bisa naik. Kalau sudah demikian seorang wanita, maka siapa yang ingin wanita seperti itu? Karena pada hakikatnya laki-laki senantiasa ingin wanita yang mulia, terjaga, belum ada laki-laki yang haram menyentuhnya, bahkan mungkin kita ingin bahwa wanita tersebut belum ada yang pernah melihatnya.

_____________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 15/80

([2]) Lihat: Bahrul ‘Ulum Li As-Samarqandiy 3/392