Keutamaan Ramadan

Keutamaan Ramadan

Bulan Ramadan adalah bulan untuk berpuasa, shalat, dan membaca Al-Qur’an. Suatu bulan yang penuh dengan ampunan dan pembebasan dari api neraka. Dibulan tersebut pintu-pintu surga dibukakan, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dilipatkannya amalan kebajikan, dikabulkannya doa, dan diangkatnya derajat.

Berkaca kepada sikap para salaf terhadap bulan Ramadan, maka kita akan jumpai mereka memiliki perhatian yang besar terhadap bulan Ramadan. Hal ini terlihat dari riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali r dalam kitabnya Lathaif al-Ma’rif, bahwasanya para salaf dahulu selama setengah tahun berdoa untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadan dan setengah tahunnya berdoa agar amalnya di bulan Ramadan diterima oleh Allah ﷻ([1]).

Hal yang mendasari sikap para salaf tersebut tidak lain karena mereka paham betul tentang keutamaan dan kemuliaan Ramadan, sehingga mereka benar-benar bersemangat ingin berjumpa dengan bulan Ramadan, serta memaksimalkan waktu mereka di bulan Ramadan.

Demikianlah, apabila seseorang benar-benar serius untuk menyambut bulan Ramadan, maka sejauh itu pula Allah ﷻ akan memberi taufik kepadanya agar mengisi bulan Ramadan dengan semaksimal mungkin. Adapun bagi orang yang menyambut bulan Ramadan hanya sebagai rutinitas tahunan, maka tentu sikapnya akan biasa-biasa saja. Namun ingatlah bahwasanya Allah ﷻ Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya, sehingga Allah ﷻ pasti Maha Adil dalam memberikan balasan atas apa yang diusahakan oleh masing-masing hambanya di bulan Ramadan, baik bagi yang serius ataupun yang tidak serius.

Tentunya, kita tidak ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja tatkala mendapati bulan Ramadan. Kita tentu ingin mengikuti jejak para salaf yang sangat luar biasa ketika di bulan Ramadan. Oleh karena itu, kita perlu untuk membahas fikih yang berkaitan dengan bulan Ramadan dan keutamaan-keutamaannya, sehingga kita bisa berpuasa dan beribadah dengan maksimal sebagaimana para salaf dahulu.

Keutamaan bulan Ramadan

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan keutamaan dari bulan Ramadan. Di antaranya:

  1. Ramadan adalah bulan berkah

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مبارَكٌ

Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah.”([2])

Keberkahan, secara istilah maknanya adalah kebaikan yang banyak dan menetap.([3]) Maka, ketika Nabi Muhammad ﷺ menyifati bulan Ramadan dengan bulan yang penuh berkah, artinya kebaikan di bulan Ramadan sangatlah banyak.

  1. Pahala amalan dilipatgandakan

Jika dikatakan bahwa bulan Ramadan memiliki banyak kebaikan, maka di antara kebaikannya adalah pahala yang dilipatgandakan secara kualitas dan kuantitas. Inilah yang disepakati oleh para ulama meskipun syariat tidak menyebutkan secara pasti berapa kali lipat penggandaannya.

Di antara hal yang menunjukkan bahwa pahala di bulan Ramadan dilipatgandakan, seperti berumrah di bulan Ramadan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي

Sesungguhnya umrah di bulan Ramadan sebanding dengan haji atau seperti haji bersamaku.”([4])

Demikian pula dengan malam lailatulqadar, di mana Allah ﷻ berfirman,

﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾

Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3)

Dalil di atas ini menunjukkan bahwasanya pahala di bulan Ramadan dilipatgandakan. Terlebih lagi, Nabi Muhammad ﷺ lebih banyak beramal dan beribadah di bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Ibnu Abbas h menuturkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Nabi adalah orang yang paling dermawan dalam segala kebaikan. Dan kedermawanan beliau yang paling baik (puncaknya) adalah saat bulan Ramadan.”([5])

Oleh karena itu, setiap kita sudah seharusnya memperbanyak ibadah di bulan Ramadan. Tasbih, berinfak, membaca Al-Qur’an, dan berumrah di bulan Ramadan tidak akan sama nilainya jika dilakukan di selain bulan Ramadan.

  1. Puasa adalah ibadah khusus bagi Allah

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda, bahwasanya Allah ﷻ berfirman,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya.”([6])

Terdapat khilaf yang kuat di kalangan para ulama tentang firman Allah ﷻ “kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Aku”. Al-Hafizh Ibnu Hajar r menyebutkan dalam kitabnya Fath al-Bari sekitar sembilan pendapat tentang sebab puasa menjadi spesial di sisi Allah ﷻ([7]). Namun, ada dua pendapat yang kuat dalam hal ini, yaitu:

Pendapat pertama: Karena puasa tidak dimasuki oleh riya’. Berbeda dengan ibadah yang lain, seseorang tidaklah diketahui ia berpuasa kecuali ia menceritakannya. Adapun ibadah selain puasa, terlihat dengan kasat mata apabila dilakukan. Dari sini, pintu riya’ untuk masuk kepada puasa sangatlah kecil, sehingga ini menjadikan puasa bernilai besar di sisi Allah ﷻ apabila seseorang melakukannya ikhlas karena-Nya.

Pendapat kedua: Karena pahala puasa tidak terbatas. Ketika Allah ﷻ mengatakan “dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya”, ini menunjukkan bahwasanya pahala puasa spesial dan tidak sebagaimana ibadah yang lainnya. Oleh karenanya, dalam sebuah riwayat yang lain Nabi Muhammad r bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah berfirman, ‘Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku’.”([8])

Hal ini juga diperkuat dengan firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Kita tentu tahu bahwasanya dalam berpuasa ada tiga model kesabaran, yaitu sabar menjalankan ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian. Maka, orang yang berpuasa pasti ia bersabar, dan Allah ﷻ menyiapkan pahala tanpa batas bagi orang yang bersabar.

  1. Puasa menjadi penggugur dosa

Dalil akan hal ini banyak, di antaranya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.”([9])

Demikian pula sabda Nabi Muhammad ﷺ dalam Shahih al-Bukhari,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ، تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ

Fitnah (dosa) seseorang berkaitan dengan keluarganya, harta, anak dan tetangganya, akan terhapus oleh shalat, puasa, dan sedekah.”([10])

Demikian pula sabda Nabi Muhammad ﷺ yang sangat populer,

مَن صَامَ رَمَضَانَ، إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ.

Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”([11])

Puasa akan menjadi amalan yang bisa menggugurkan dosa-dosa seseorang apabila ia benar-benar meyakini bahwasanya puasa adalah syariat dari Allah ﷻ serta yakin bahwasanya Allah ﷻ akan memberikan pahala dan ganjaran atas puasa yang ia lakukan.

  1. Orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu ar-Rayyan

Di surga, ada satu pintu khusus bernama pintu ar-Rayyan, yang dikhususkan bagi orang-orang yang berpuasa. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لاَ يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ

Di surga ada delapan pintu, di antaranya ada pintu yang disebut dengan ar-Rayyan. Tidak ada yang bisa memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa.”([12])

Kata الرَّيَّانُ artinya adalah hilang dahaganya. Allah ﷻ tidak menamakan pintu surga tersebut dengan pintu puasa karena seakan-akan di surga masih ada puasa. Oleh karenanya dinamakan ar-Rayyan karena di surga tidak ada lagi puasa. ([13])

  1. Dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ

Apabila telah datang bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu surga, dan ditutup pintu-pintu neraka jahanam.”([14])

Dalam riwayat yang lain,

إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ

“Apabila bulan Ramadan datang, maka pintu-pintu langit dibuka sedangkan pintu-pintu jahanam ditutup.”([15])

Dalam riwayat yang lain,

إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ

Apabila Ramadan telah tiba, maka pintu-pintu rahmat akan dibuka, lalu pintu-pintu neraka ditutup.”([16])

Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama terkait makna hadits-hadits di atas. Di antara tafsir para ulama adalah ketika seseorang beribadah di bulan Ramadan, maka pintu-pintu langit terbuka sehingga amal sangat mudah untuk diterima. ([17]) Sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾

“Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)

Di antara tafsiran lain yaitu seseorang dimudahkan untuk masuk surga dengan beramal saleh di bulan Ramadan. ([18]) Kabar dibukanya pintu surga merupakan kabar gembira bagi setiap orang agar bersemangat beramal dengan sebanyak-banyaknya di bulan Ramadan.

  1. Setan dibelenggu

Di antara keutamaan bulan Ramadan adalah setan dibelenggu oleh Allah ﷻ. Hal ini diriwayatkan dalam banyak hadits, di antaranya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”([19])

Bagaimana mengompromikan keterangan bahwasanya setan-setan dibelenggu sementara masih ada orang yang bermaksiat di bulan Ramadan? Maka ada beberapa jawaban:

Pertama: Yang dibelenggu hanyalah gembong (pemimpin) para setan, sehingga para anak buahnya masih bisa menggoda([20]). Namun, ini menjadi indikasi betapa lemahnya iman seseorang yang masih bisa tergoda di bulan Ramadan, karena ia bisa terjerumus maksiat hanya dengan godaan dari anak buah setan.

Kedua: Aktivitas setan terbatas.([21]) Artinya, setan tidak leluasa menggoda manusia sehingga akhirnya maksiat berkurang di bulan Ramadan.

Ketiga: Maksiat disebabkan pula oleh faktor internal, yaitu diri sendiri.([22]) Artinya, karena keburukan jiwa seseoranglah yang menjadikan masih terus bermaksiat meskipun di bulan Ramadan. Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ dalam khutbahnya selalu menyebutkan,

وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا

Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kami.”

Demikian pula firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي﴾

“Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)

Maka apabila jiwa seseorang selama sebelas bulan lamanya telah dibimbing oleh setan, maka ketika setan dibelenggu pun ia sudah bisa bermaksiat sendiri disebabkan keburukan jiwanya.

Oleh karenanya, ini tentu menjadi ujian bagi kita semua, karena meskipun setan dibelenggu, namun maksiat tetap bisa terjadi. Maka hendaknya kita terus waspada dan banyak berlindung kepada Allah ﷻ dari keburukan jiwa.

  1. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari minyak kasturi

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ المِسْكِ

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada harumnya minyak kasturi.”([23])

Terdapat ikhtilaf di kalangan para ulama tentang apa maksud dari mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak kasturi. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa maknanya adalah pahala yang didapatkan seseorang sangat besar, bahkan lebih baik daripada minyak kasturi. Sebagian ulama yang lain menyebutkan bahwa maknanya adalah orang yang berpuasa akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dengan bau mulut yang wangi. Hal ini sebagaimana orang yang mati syahid dibangkitkan dengan luka yang masih tampak dan darah yang baunya wangi. Pendapat kedua ini adalah pendapat yang lebih kuat.([24])

  1. Ada seruan khusus untuk bersemangat beribadah dan meninggalkan maksiat

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَنَادَى مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ

Jika tiba waktu awal malam di bulan Ramadan maka setan-setan dan pemimpin-pemimpinnya dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada yang dibuka. Pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup, lalu ada penyeru yang berseru, ‘Wahai orang yang mencari kebaikan, teruskanlah. Hai orang yang mencari keburukan, berhentilah’.”([25])

Seruan ini kita rasakan ketika bulan Ramadan telah tiba. Tatkala bulan Ramadan tiba, ada rasa semangat dan rasa gembira untuk beramal saleh di bulan Ramadan. Adapun rasa ingin bermaksiat seketika itu juga berkurang. Hal ini tidak lain karena adanya penyeru yang Nabi Muhammad ﷺ telah kabarkan dalam sabdanya tersebut.

  1. Ada kesempatan terbebas dari neraka di setiap malam bulan Ramadan

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

Sesungguhnya Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam (bulan Ramadan).”([26])

Artinya, di salah satu malam-malam bulan Ramadan ada kesempatan bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah agar kita dicatat oleh Allah ﷻ sebagai orang yang dibebaskan dari api neraka. Jika nama kita dicatat sebagai orang yang terbebas dari api neraka menandakan bahwa kita akan masuk surga dengan izin Allah ﷻ.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menjauhi maksiat di setiap hari bulan Ramadan. Apabila ternyata kita tidak tercatat di malam pertama, maka masih ada malam kedua dan seterusnya. Jadi, kesempatan kita sangat besar, tinggal apakah kita mau memanfaatkan kesempatan tersebut atau tidak.

Dari sini pula, kita perlu meluruskan hadits yang banyak dibawakan oleh para dai di tanah air kita, yang menyebutkan bahwasanya Ramadan terbagi menjadi tiga bagian,

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Ramadan adalah bulan yang pertamanya adalah rahmat, pertengahan adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.”([27])

Hadits ini lemah dan bahkan dinilai munkar oleh sebagian ahli hadits. Hal ini dikarenakan hadits tersebut secara matan (konten) bertentangan dengan hadits sahih yang telah kita sebutkan di atas, dan juga sanadnya pun sendiri lemah.

Maka dari itu, yang benar bahwasanya seluruh malam di bulan Ramadan adalah kesempatan untuk terbebas dari api neraka. Kemudian, tiga perkara tersebut asalnya saling berkaitan dan tidak terpisahkan, karena yang namanya orang yang dirahmati maka pasti diampuni, dan orang yang diampuni maka pasti terbebas dari api neraka.

Melihat beberapa keutamaan bulan Ramadan ini, maka tentu menjadikan kita termotivasi untuk beribadah dengan semaksimal mungkin di bulan Ramadan. Terlebih lagi ketika kita menyadari bahwasanya masing-masing kita memiliki dosa yang begitu banyak, maka motivasi kita untuk bisa mendapatkan ampunan di bulan Ramadan menjadi sangat besar.

Oleh karena itu, ketika Allah ﷻ telah memberikan kepada seseorang seluruh kesempatan untuk mendapatkan seluruh keutamaan bulan Ramadan, kemudian ternyata ia masuk ke bulan Ramadan hingga selesai namun tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh ia adalah orang yang celaka. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ

Jibril berkata, ‘Celaka seorang hamba yang memasuki bulan Ramadan namun ia tidak diampuni’. Maka aku berkata, ‘Aamiin’.”([28])

Kenapa dia merugi? Karena ia tidak menggunakan kesempatannya dengan sebaik mungkin. Ia menyia-nyiakan waktunya selama di bulan Ramadan, ia tidak beribadah dengan baik, dan ia tidak bersemangat. Padahal, Allah ﷻ telah mengondisikan Ramadan dengan sedemikian rupa, namun ia tidak diampuni. Dengan demikian, ia adalah orang yang celaka.

Karya : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema : Bekal Puasa

___________

Footnote:

([1]) Lihat: Lathaif al-Ma’rif, karya Ibnu Rajab al-Hanbali (hlm. 148).
([2]) HR. Nasai No. 2106, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam ta’liqnya.
([3]) Lihat: Futuh al-Ghaib (11/166).
([4]) HR. Bukhari No. 1863.
([5]) HR. Bukhari No. 1902.
([6]) HR. Bukhari No. 1904.
([7]) Lihat: Fath al-Bari (4/107)
([8]) HR. Muslim No. 1151.
([9]) HR. Muslim No. 233.
([10]) HR. Bukhari No. 1895.
([11]) HR. Bukhari No. 2014 dan HR. Muslim No. 760.
([12]) HR. Bukhari No. 3257.
([13]) Lihat: Kasyf al-Musykil Karya Ibnul Jauzi (3/391-392).
([14]) HR. Bukhari No. 3277.
([15]) HR. Bukhari No. 1899.
([16]) HR. Muslim No. 1079.
([17]) Lihat: Majmu’ al-Fatawa (25/246)
([18]) Lihat: Al-Minhaj (7/188).
([19]) HR. Bukhari No. 1899 dan HR. Muslim No. 1079.
([20]) Lihat: Fath al-Bari (4/114).
([21]) Lihat: Majmu’ al-Fatawa (25/246)
([22]) Lihat: Al-Mufhim Lima Usykila Min Talkhis Kitab Muslim (3/136).
([23]) HR. Bukhari No. 1904.
([24]) Lihat: Fath al-Bari (4/105-106).
([25]) HR. Ibnu Majah No. 1642, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam ta’liqnya.
([26]) HR. Ibnu Majah No. 1642, HR. Tirmizi No. 682, dan yang lainnya, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam ta’liqnya.
([27]) HR. Ibnu Khuzaimah No. 1887, al-A’zhami mengatakan dalam ta’liqnya bahwa sanad hadits ini dha’if. Syekh al-Albani juga mendha’ifkannya dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah Wa al-Maudhu’ah (2/263), bahkan beliau mengatakan hadits ini munkar.
([28]) HR. Bukhari No. 646 dalam al-Adab al-Mufrad (hlm. 225), dinyatakan hasan shahih oleh Syekh al-Albani.