Tafsir Surat At-Tahrim Ayat-12

12. وَمَرْيَمَ ٱبْنَتَ عِمْرَٰنَ ٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتْ مِنَ ٱلْقَٰنِتِينَ

wa maryamabnata ‘imrānallatī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhi mir rụḥinā wa ṣaddaqat bikalimāti rabbihā wa kutubihī wa kānat minal-qānitīn
12. dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.

Tafsir :

Perumpamaan kedua bagi orang-orang beriman yang Allah ﷻ sebutkan adalah Maryam binti Imran. Sebagian ulama seperti Al-Alusi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Maryam binti Imran yang tidak bersuami ini merupakan model ketiga dari perumpamaan yang Allah sebutkan dalam surah ini sebagai hiburan bagi sebagian para wanita yang tidak memiliki suami. Ayat ini menjadi hiburan bahwasanya mereka wanita-wanita yang tidak bersuami juga bisa menjadi wanita-wanita yang salehah dan mulia di sisi Allah. Demikian juga hiburan bagi para janda yang ditinggal oleh suami-suami mereka, baik karena cerai ataupun karena ditinggal mati, bahwa tanpa seorang suami pun mereka juga dapat menjadi wanita yang salehah.([1])

Di antara keistimewaan Maryam adalah apa yang Allah ﷻ sering ulang-ulang dalam beberapa ayat, dimana Allah ﷻ berfirman tentangnya,

الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا

Yang memelihara (menjaga) kemaluannya.” (QS. Al-Anbiya’ : 91)

Maryam dikenal sebagai wanita yang selalu menjauh dari laki-laki yang tidak halal baginya. Lihatlah bagaimana kisah tatkala Maryam didatangi oleh Jibril ‘alaihissalam, Allah ﷻ berfirman,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا، فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا، قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا، قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا، قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا، قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Alquran), ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitul Maqdis), lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. Dia (Maryam) berkata, ‘Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa’. Jibril berkata, ‘Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci’. Dia Maryam berkata, ‘Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina’. Jibril berkata, ‘Demikianlah Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan’.” (QS. Maryam : 16-21)

Ketika Maryam sedang beribadah kepada Allah, ternyata Allah mengirim Jibril dengan menjelma sebagai laki-laki yang sangat tampan. Tatkala Maryam melihat malaikat Jibril, dan dia tidak tahu bahwa laki-laki yang dia lihat adalah Jibril, maka Maryam takut dan langsung berlindung kepada Allah agar dia diselamatkan dari laki-laki tersebut. Tidak seperti sebagian wanita zaman sekarang yang ketika bertemu laki-laki yang tidak halal baginya, justru dia yang memulai pembicaraan dengan bertanya kepada laki-laki tersebut. Bahkan ada sebagian wanita yang justru lebih dahulu menggoda laki-laki, sampai-sampai laki-laki tersebut tertunduk malu. Wahai para wanita, jika Anda ingin masuk surga dan menjadi wanita salehah, jagalah kemaluan Anda dan jangan sembarang berbicara dengan laki-laki lain, apa lagi sampai menjalin hubungan yang tidak jelas terhadap laki-laki yang tidak halal bagi Anda. Ingatlah bahwa sekarang zaman fitnah, semua orang bisa bernostalgia dengan masa lalunya dan betapa sering fitnah sering bermula dari hal tersebut. Bahkan di zaman sekarang semua orang bisa menjalin hubungan yang haram dengan mudah dan tanpa ketahuan orang lain. Maka dari itu hendaknya seorang wanita berhati-hati terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah baginya seperti media sosial, dan jangan menjalin hubungan dengan laki-laki manapun yang tidak halal baginya baik di dunia maya (media sosial) maupun di dunia nyata.

Asiah binti Muzahim dan Maryam binti Imran adalah dua wanita spesial yang Allah jadikan perumpamaan bagi orang-orang beriman. Dan dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan, dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ: إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

Manusia (laki-laki) yang sempurna dari kalangan laki-laki banyak, dan tidak banyak manusia yang sempurna dari kalangan wanita kecuali Asiah istrinya Fir’aun dan Maryam binti Imran. Dan keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dibandingkan wanita-wanita lain adalah bagaikan keistimewaan makanan tsarid([2]) terhadap makanan yang lain.”([3])

Pada hadits ini juga terdapat keutamaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu dibandingkan wanita yang lain, yaitu ibarat makanan Tsarid. Para ulama mengatakan bahwa Tsarid merupakan makanan yang mencampurkan antara kelezatan dan gizi, serta mudah untuk ditelan dan dicerna. Demikianlah perumpamaan akan keutamaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, artinya dia adalah wanita yang salehah, cerdas, mudah diajak berbicara dengan Nabi ﷺ, mampu berbicara dengan baik, sehingga sangat dicintai oleh Nabi ﷺ.([4])

_______________________

Footnote :

([1]) Tafsir Al-Alusiy 14/358

([2])  Tsarid merupakan makanan favorit di zaman Nabi ﷺ. Tsarid merupakan makanan yang terbuat dari daging berkuah yang kemudian dicampur dengan roti

([3])  HR. Bukhari no. 3411

([4]) Tafsir Al-Alusiy 14/360