Tafsir Surat Al-Mulk Ayat-12

12. إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِٱلْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

innallażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi lahum magfiratuw wa ajrung kabīr
12. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

Tafsir :

Terdapat dua penafsiran di kalangan ulama tentang makna بِالْغَيْبِ. ([1])

  1. Tafsiran pertama, yaitu mereka takut terhadap hal-hal gaib yang Allah Subhanahu wa ta’ala telah kabarkan.

Di antara rasa takut tersebut adalah dia takut dengan alam barzakh, dia takut dengan padang mahsyar, dia takut dengan hisab, dia takut dengan mizan, dia takut dengan shirath, dia takut dengan neraka Jahannam. Ini semua adalah perkara yang gaib yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala kabarkan. Sehingga tatkala mereka takut dengan hal-hal gaib tersebut, mereka kemudian mempersiapkan diri mereka untuk bertemu dengan hal-hal gaib tersebut.

  1. Tafsiran kedua, yaitu mereka takut kepada Allah tatkala bersendirian.

Ada dua bukti mereka takut kepada Allah tatkala bersendirian. Pertama adalah mereka lebih semangat beribadah daripada tatkala mereka sedang bersama banyak orang. Ketika tidak ada yang melihat, merekapun bangun shalat malam, membaca Alquran, dan ibadah lain yang mereka kerjakan. Mereka adalah orang-orang yang mulia, karena mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tatkala bersendirian. Oleh karenanya mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan akan mendapat keutamaan yang besar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …. وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, …. (di antaranya yaitu) Seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sepi (sendiri) lalu ia meneteskan air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih)([2])

Kedua, mereka takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tatkala bersendirian adalah mereka tidak bermaksiat kepada Allah ketika bersendirian. Karena sebagian orang tidak takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tatkala bersendirian, sedangkan tatkala sedang bersam orang lain mereka tidak berani bermaksiat karena takut terlihat oleh orang lain. Ini menunjukkan bahwasanya tidak takut bermaksiat tatkala bersendirian. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ

Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka.” (QS. An-Nisa’ : 108)

Dan karena inilah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau mengatakan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam keadaan bersendirian dan tatkala terlihat oleh lain.”([3])

Kedua amalan ini yaitu semangat beribadah ketika bersendirian dan takut kepada Allah ketika bersendirian adalah amalan yang sangat agung, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan janji dengan mengatakan,

لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”

Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menyebutkan orang yang takut tatkala bersendirian tersebut beristighfar, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tatkala bersendirian maka dia mendapat ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan dapat pahala yang besar. ([4])

Oleh karenanya hendaknya seseorang bertakwa kepada Allah tatkala bersendirian. Zaman sekarang ini telah banyak sekali fitnah-fitnah yang bisa menjerumuskan seseorang dalam kemaksiatan. Jika seseorang bertakwa maka dia akan mendapatkan apa yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala janjikan.

_____________________

Footnote :

([1])  Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsir Al-Kitab Al-Aziz 5/340

([2])  HR. Bukhari no. 1423 dan HR. Muslim no. 1031

([3])  HR. Ibnu Hibban no. 1971 dan Shahihnya, diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i dan Imam Ahmad.

([4])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/179.