Awas Jangan Sampai Tertipu!

Awas Jangan Sampai Tertipu!

Sebagian orang pada saat merasa telah mengamalkan tauhid dan menjauhi kesyirikan serta mengamalkan Al-Kitab dan As-Sunnah, bahkan mendakwahkannya maka mereka lalai dari mengamalkan akhlak yang mulia. Perasaan mereka bahwa mereka telah menguasai ilmu tauhid dengan baik telah memperdaya mereka dari memperhatikan pengamalan akhlak yang mulia. Mereka lalai dari menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka, atau  minimal mereka kurang dalam menunaikan hak-hak mereka. Namun, yang lebih menyedihkan lagi, bukan hanya kurang dalam menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka, bahkan mereka berbuat zalim kepada saudara-saudara mereka dengan lisan-lisan dan tulisan-tulisan mereka. Sungguh mereka telah menggabungkan antara dua keburukan yaitu kurang dalam menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka dan berbuat zalim.

Syaikh Al-Albani berkata, ”Tauhid ini telah kita pelajari, telah kita fahami dengan baik, serta telah kita realisasikan dalam aqidah kita. Akan tetapi, kesedihan telah memenuhi hatiku, aku merasa bahwasanya kita telah tertimpa penyakit ghurur (terpedaya) dengan diri sendiri. Ini terjadi pada saat kita telah sampai pada aqidah ini serta perkara-perkara yang merupakan konsekuensinya yang telah kita ketahui bersama seperti beramal dengan dasar Al-Kitab dan As-Sunnah dan tidak berhukum kepada selain Al-Kitab dan Sunnah Nabi r. Kita telah melaksanakan hal ini yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim, yaitu pemahaman yang benar terhadap tauhid dan beramal dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Ini berkaitan dengan fiqh yang mana kaum muslimin telah terpecah menjadi beragam madzhab dan telah menempuh jalan yang berbeda-beda seiring dengan berjalannya waktu yang panjang selama bertahun-tahun.”

Akan tetapi nampaknya –dan inilah yang telah aku ulang-ulang dalam banyak pengajian-  bahwasanya dunia Islam ini –dan termasuk di dalamnya adalah para salafiyin sendiri- telah lalai dari sisi-sisi yang sangat penting dari ajaran Islam yang telah dijadikan sebagai pola pikir kita secara umum dan mencakup seluruh sisi kehidupan. Di antara sisi penting tersebut adalah akhlak yang mulia dan istiqamah dalam menempuh jalan. Banyak dari kita yang tidak peduli dengan sisi ini, yaitu memperbaiki akhlak dan memperindah budi pekerti, padahal kita semua membaca dalam kitab-kitab sunnah yang shahih sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ السَّاهِرَ بِاللَّيْلِ الظَّامِىءِ بِالْهَوَاجِرِ

Sesungguhnya seseorang dengan akhlaknya yang mulia mencapai derajat orang yang bergadang (karena shalat malam) dan orang yang kehausan di siang yang panas (karena puasa).[1]

Kita juga membaca dalam Al-Qur’an Al-Karim bahwasanya bukanlah termasuk akhlak Islam adanya perselisihan diantara kaum muslimin -dan secara khusus adalah kita yaitu diantara para salafiyin- hanya karena perkara-perkara yang semestinya tidak sampai menimbulkan perselisihan dan pertikaian. Kita membaca firman Allah tentang hal ini:

وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. (QS. Al-Anfal (8): 46)[2]

Sebagian orang pada saat merasa telah menjalankan sunnah dengan baik, mereka mudah mengeluarkan orang lain dari sunnah hanya karena kesalahan-kesalahan yang masih dapat ditoleransi. Sebagian mereka meng-hajr saudara-saudara mereka sesama ahlus sunnah tanpa dalil yang jelas. Ini merupakan akhlak yang buruk. Syaikh Al-Albani berkata, “Dengarlah nas-nas hadits Nabi r yang berisi ancaman-ancaman yang berat bagi orang yang meng-hajr tanpa hak.

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيْسٍ فَيُغْفَرُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمَيْنِ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيٍئًا إِلاَّ مَنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis lalu pada dua hari tersebut diampuni seluruh hamba yang tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali orang yang antara ia dan saudaranya ada permusuhan maka dikatakan, “Tungguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai, tungguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai, tungguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai.[3]

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “diampuni seluruh hamba yang tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu apa pun, merupakan kabar yang menggembirakan, dan kita mengharapkan kebaikan dengan hadits ini karena kita adalah para da’i yang menyeru kepada tauhid, dan kitalah yang mengangkat bendera dakwah kepada tauhid dan memberantas kesyirikan dengan segala macam bentuknya. Oleh karena itu, kita menganggap kita langsung masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, sebagaimana istilah sekarang yaitu tanpa perlu “transit”, karena kita bertauhid kepada Allah dan sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. Namun, perkaranya tidaklah demikian. Cermatilah hadits ini, pahamilah, dan berusalah terapkan dan cocokkan dengan kehidupan kalian sehari-hari.

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيْسٍ فَيُغْفَرُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمَيْنِ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيٍئًا إِلاَّ مَنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis lalu pada dua hari tersebut diampuni seluruh hamba yang tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali orang yang antara ia dan saudaranya ada permusuhan maka dikatakan, “Tungguilah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai, tungguilah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai, tungguilah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai.”

Pada kata “tangguhkanlah kedua orang ini” yaitu tunggulah dahulu, sabarlah dahulu, janganlah (mencatat) ampunan bagi mereka sampai mereka berdua berdamai seperti disebutkan ayat berikut.

إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

Saling bersaudara yang duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS. Al-Hijr (15): 47)

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang lain

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرْفَعُ لَهُمْ صَلاَتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مَتَصَارِمَانِ

Tiga golongan yang tidak diangkat sejengkal pun shalat mereka ke atas kepala mereka, seorang lelaki yang mengimami sebuah kaum dan mereka benci kepadanya, seorang wanita yang bermalam dalam keadaan suaminya marah kepadanya, dan dua orang yang saling memutuskan hubungan.[4]

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “dan dua orang yang saling memutuskan hubungan” yaitu saling memutuskan hubungan dan saling meng-hajr.

Jika demikian maka saling memutuskan hubungan, saling meng-hajr, saling meninggalkan satu terhadap yang lainnya tanpa adanya sebab yang syar’i, tetapi hanya karena perbedaan pendapat.  Akibat buruk yang ditimbulkannya antara lain shalatnya tidak akan diangkat kepada Allah dan tidak diterima oleh Allah. Sebagaimana firman Allah:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya. (QS. Fathir (35): 10)

Shalat kedua orang yang saling meng-hajr ini tidaklah diangkat ke Allah dan tidak diterima.  Kebanyakan sikap saling memutuskan hubungan dan menghajr dikarenakan persangkaan-persangkaan serta dugaan-dugaan (yang buruk), yang terlintas di pikiran seseorang- terhadap saudaranya sesama muslim.[5]

Penulis: Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema: SEPENGGAL CATATAN PERJALANAN
DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA
(Mendulang Pelajaran Akhlaq dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizohulloh)

___________

Footnote:

[1] As-Silsilah Ash-Shahihah, No. 794.

[2] Diterjemahkan dari Silsilah Nuur ‘ala Ad-Darb, kaset No. 23.

[3] HR. Abu Dawud IV/279 No. 4.916 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; lihat Ghayat Al-Maram hadits No. 412.

[4] HR. Ibnu Majah I/311 No. 971 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykat Al-Mashabiih, No 1.128

[5] Diterjemahkan dari Silsilah Nuur ‘ala Ad-Darb, kaset No. 23.